Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Pergi nonton


__ADS_3

Sial... Lihat saja nanti..!! Kau pikir, aku akan membiarkanmu begitu saja. Batin Ronald mengancam.


Sementara itu di rumah orang tua Tania.


"Ibu..." Teriak Tania begitu sudah berada di dalam rumahnya dan menyapa ibunya yang saat itu sedang berada di dapur, memasak untuk makan malam.


Melihat ibunya tengah asik memasak di dapur untuk makan malam mereka, Tania pun memeluk ibunya dari belakang secara tiba-tiba sembari meletakkan dagunya di bahu kanan ibunya.


"Eh... Kenapa ini anak gadis ibu tiba-tiba begitu manja?" ucap ibunya dengan wajah heran sembari menoleh wajahnya untuk ke arah Tania yang membelakanginya.


"Ibu masak apa?" Tania bertanya dengan nada manja sembari bergelayutan di bahu ibunya yang sedang sibuk memasak.


"Lihat saja sendiri...!" balas ibunya.


Melihat ibunya sedang mengolah tumis acar dan beberapa menu lainnya yang biasa mereka makan. Tania pun hanya memanyunkan bibirnya seraya menggeser tubuhnya lalu berbalik menyender di tepi meja dapur sambil menatap wajah ibunya.


Melihat anaknya sedikit berbeda, ibunya pun mulai menghentikan kegiatan memasaknya dengan mengecilkan sedikit apa kompornya.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanya ibunya sembari menatap wajah Tania.


"Bu... Sebentar lagi, ibu akan menjadi seorang nenek." balas Tania dengan wajah sumringah dan senyum bahagia.


Mendengar ucapan Tania, jelas saja membuat ibunya terkejut bukan main.


"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda, bukan?" tanya ibunya sekali lagi demi memastikan kebenarannya.


Sebab, Tania adalah anak gadisnya yang sering sekali mengerjai ibunya dan termasuk anak yang usil.


"Jika ibu tidak percaya, temui saja kakak langsung." balas Tania sembari meraih tempe goreng yang ada di atas meja dapur lalu melahapnya.


Mendengar ucapan Tania barusan, akhirnya ibunya pun mempercayainya.


Seolah tidak sabar dan ingin mendengar langsung dari mulut Rania, belum sempat mematikan api yang masih menyala di kompor, ibunya langsung berjalan cepat menuju ruang tengah dan meraih ponselnya untuk segera menghubungi Rania.


Cih... Ibu... Ibu... Lihat saja, dia bahkan tidak mematikan apinya. Bagaimana jika rumah ini kebakaran? Gerutu Tania sembari mematikan kompor lalu menyusul ibunya.


Melihat ibunya sedang serius, akhirnya Tania pun bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Aku ke kamar ya bu...!" setengah teriak, Tania berjalan menuju tangga.


"Ya, istirahatlah." balas ibunya yang saat itu tengah duduk dia atas sofa sembari memegang ponsel yang menempel di telinganya, menunggu Rania mengangkat panggilannya.


Tidak berapa lama, Rania pun menerima panggilan dari ibunya lewat ponsel.


Rania: Iya bu... Apa kabar?


Ibunya: kabar ibu baik, Rania... Ibu dengar tentang kehamilanmu dari Tania, apa itu benar?


Rania: Ah... Iya bu, itu benar.


Ibunya: syukurlah... Ibu sangat senang dan terharu mendengarnya. Kau harus jaga kesehatnmu dan jangan terlalu lelah, Rania.


Rania: Hehehe... Iya bu. Ibu tidak perlu cemas, di sini ada Zein yang selalu mengingatkanku.


Ibunya: syukurlah, Ibu jadi lebih tenang sekarang.

__ADS_1


Rania: Iya bu, terimakasih untuk perhatiannya.


Ibunya: kapan-kapan ibu akan berkunjung menemuimu.


Rania: Tentu saja... Datanglah kapanpun ibu mau, jika tidak ada yang mengantar, bilang saja padaku bu...! Nanti akan aku suruh orang rumah untuk menjemput ibu.


Ibunya: Tidak perlu, Rania... Ibu bisa naik taksi jika pun tidak ada yang bisa mengantar ibu.


Rania: Hem... Baiklah, terserah ibu saja.


Ibunya: ya sudah... Kamu istirahat dan jaga kesehatan ya sayang.


Rania: Iya bu...Terimakasih.


Panggilan telepon antara Rania dan ibunya pun berakhir.


Sementara itu di tempat Zein.


"Sayang... Habis telponan sama siapa?" tanya Zein pada Rania yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.


"Oh... Ini, barusan ibu telepon." jawab Rania singkat sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


"Lalu...? Apa kata ibu?" tanya Zein dengan serius sembari berjalan mendekati Rania yang saat itu sedang duduk di tepi kasur.


"Bukan apa-apa... Ibu hanya ingin memastikan soal kehamilanku saja sih." balas Rania datar.


"Oh... Mungkin Tania sudah memberitahukan pada Ibu soal kehamilanmu." sahut Zein.


"Ya... Itu sudah pasti, dia itu tidak bisa menyimpan rahasia." balas Rania sembari memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu sayang... Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan anakku jika harus menggembar gemborkan kehamilanku." jawab Rania sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Teori dari mana itu?" tanya Zein terkejut mendengar alasan Rania ingin merahasiakan kehamilannya.


"Itu yang aku dengar dari orang dulu." jawab Rania.


"Sayang... Jangan percaya, itu hanyalah mitos orang dulu. Berpikirlah positif, maka segalanya akan berjalan dengan baik." Zein memberi penjelasan.


Mendengar ucapan suaminya, Rania pun mengangguk lalu tersenyum.


"Ya sudah... Sekarang, istirahatlah...!" buruk Zein, "Kau pasti lelah seharian ini." lanjutnya sembari merebahkan tubuh istrinya di kasur lalu menyelimutinya dengan selimut hangat.


Waktu menunjukkan pukul enam sore, menandakan hari yang sudah mulai gelap. Terang berganti gelap, menjadikan waktu istirahat bagi sebagian orang.


Di tempat Rania.


Tania duduk menyandar di punggung kasur sembari melipat kedua kakinya yang terbungkus selimut tebal dan melingkarkan kedua tangannya di atas lututnya.


Pergi... Tidak?


Pergi... Tidak?


Pergi... Tidak?


Begitulah isi di kepala Tania saat itu. Ia bingung harus memutuskan apa? Menolak di waktu yang sudah terlanjur begini juga membuatnya merasa tidak enak pada David yang begitu antusias mengajaknya nonton.

__ADS_1


Selama berpikir, waktu menunjukkan pukul 18:30. Itu artinya waktu sudah semakin mendekati malam. Ia tidak tahu jam berapa tepatnya David akan menjemputnya? Karena tidak ada kepastian kapan waktunya.


Dan pada akhirnya, jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Tanpa ragu, akhirnya Tania bergegas membuka lemari pakaiannya, tanpa perlu memilih pakaian apa yang akan dia gunakan, Tania meraih kaos polos berwarna hitam dan celana jeans berwarna navy.


Dengan segera ia mengganti pakaiannya, duduk di atas kursi, menyisir rambut panjangnya di depan cermin lalu menggulung dan mengikatnya hingga membentuk bulatan di atas kepala.


Tanpa memoles wajahnya, Tania hanya menempelkan bedak tipis-tipis dan mengoleskan lip gloss berwarna pink muda.


Tidak perlu waktu lama bagi Tania untuk bersiap hanya untuk menyaksikan film di bioskop, terlebih ia hanya pergi dengan David dan bukan dengan orang yang spesial. Pikirnya.


Tidak lama setelah ia selesai berdandan, terdengar suara klakson mobil di luar.


Dengan segera Tania berlari menuruni anak tangga untuk segera menemui David.


Ia tidak ingin orang tuanya tahu, apa lagi jika ibunya sampai tahu, bisa panjang urusannya, ibunya akan bertanya secara detail padanya.


"Bu... Malam ini aku akan makan malam di luar bersama temanku." ucap Tania sembari memeluk tubuh ibunya, mencium pipi kiri dan kanannya lalu berlari menuju pintu gerbang.


"Tapi... Sayang, kau pergi dengan siapa?" tanya ibunya setengah teriak.


"Ibu tidak perlu khawatir, kak Rania juga mengenal temanku... Dadah." balas Tania sembari melambaikan tangan.


Hem... Anak itu, dasar. Gerutu ibunya.


Sementara itu David tampak berada di depan gerbang menunggu Tania datang menemuinya.


"Kak David." Tania memanggil David begitu sudah berada di luar gerbang rumahnya.


"Tania..." balas David sambil memandangi Tania dari atas hingga bawah.


Apa se**simpel ini gayanya saat sedang berkencan? Batin David heran.


Pasalnya, dari sekian wanita yang pernah di dekati dan di pacarinya. Hampir semuanya berpenampilan feminim bahkan seksi saat di ajak kencan olehnya. Sangat jauh berbeda dengan wanita yang saat ini ada di depannya.


Meski demikian, penampilan Tania tetap cantik dan menarik di mata David. Membuat David semakin penasaran pada gadis cuek dan sederhana yang ada di hadapannya saat itu.


"Ada apa kak? Apa penampilanku terlihat aneh?" suara Tania membuyarkan lamunan David saat itu.


"Aih... Tidak sama sekali, kau tetap cantik di mataku." balas David sembari tersenyum.


Tania melirik heran begitu mendengar jawaban dari David yang menyebut dirinya cantik.


"Ayo masuk...! Nanti kau masuk angin, di luar sangat dingin." pinta David sembari membuka pintu mobil dan mempersilahkan Tania masuk ke dalam mobil miliknya.


Tania pun langsung masuk ke dalam mobil, disusul dengan David.


Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil. David pun segera memacu mobilnya.


Tampak sebuah mobil yang berada di belakang mobil David mencoba mengikuti mobil yang sedang di Kendarai oleh David saat itu, namun David tidak menyadarinya.


Bersambung\=\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH. 🙏🏻


__ADS_2