
Setelah keduanya berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju kafe terdekat untuk makan siang bersama.
Di tengah-tengah perjalanan Tania merasa ada yang mengganjal di hatinya sejak pertemuannya dengan Evelin tadi di kampus. Tania pikir, Ronald harus tahu soal keberadaan Evelin yang ternyata satu kampus dengannya. Sebab ia pikir, intensitas pertemuan mereka nantinya akan semakin sering, bagaimana jika sampai Evelin tahu soal hubungannya dengan Ronald? Bukankah Ronald memintanya untuk merahasiakan hubungannya dari orang-orang terdekatnya.
"Kak..." panggil Tania dengan wajah bingung.
Ronald fokus pada mobil yang saat ini di kendarainya.
"Haisssh... Aku tidak suka dengan panggilan itu." jawab Ronald kesal.
Tania menoleh wajahnya dan melihat ekspresi kesal di wahai Ronald. Meski Ronald tidak melihatnya karena hanya fokus pada jalanan di depan.
"Lalu aku harus memanggil apa?" tanya Tania dengan wajah bingung seraya mengangkat kedua telapak tangannya.
"Entahlah... Yang jelas aku tidak ingin mendengar kau memanggilku dengan sebutan itu lagi...! Kecuali di depan orang-orang terdekat kita. Saat berdua seperti ini, kau harus memanggilku dengan sebutan manis." jawab Ronald sambil menahan senyum karena malu mengatakan itu pada Tania.
Heh... Dasar laki-laki aneh. Batin Tania kesal.
"Baiklah, kalau gitu aku akan memberikan beberapa pilihan. Kakak pilih saja sendiri nantinya." balas Tania.
Ronald mengangguk setuju.
"Pertama, mas, bagaimana?" tanya Tania dengan wajah tidak yakin.
Ronald menggelengkan kepalanya.
"Tania, meskipun aku orang jawa, adakah panggilan lain yang lebih manis di dengar? " Ronald menolak mentah-mentah usul dari Tania.
"Loh... Memangnya kenapa? Tidak masalah lah." jelas Tania.
"Sebutkan yang lain, intinya aku tidak suka dengan panggilan seperti barang berkilau berwarna kuning yang ada di setiap toko emas." jelas Ronald.
"Hahah... Bagaimana mungkin kakak bisa berpikir seperti itu?" jawab Tania sembari tertawa mendengar jawaban yang menurutnya terdengar lucu.
"Siapa yang memintamu tertawa?" ucap Ronald tegas.
Cih... Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada laki-laki macam ini? Selera humornya buruk sekali. Batin Tania berdecak heran.
"Ya sudah... Bagaimana kalau aa?" usul Tania.
"orang sudah tidak selalu memanggil kekasihnya dengan sebutan aa, Tania...! Ada kalanya mereka memberi panggilan dengan panggilan manis lainnya." Jawa Ronald sambil tersenyum terpaksa.
"Ya sudah... Bagaimana jika abang?" usul Tania.
"Meskipun aku bukan orang betawi, bisakah kau memberi usul panggilan yang lebih manis dan romantis? " Jawab Ronald menolak.
"Lalu kakak mau aku panggil apa sih? Semua ususku di tolak mentah-mentah." kali ini, Tania mengeraskan suaranya.
"Siapa yang menyuruhmu berteriak?" tanya Ronald dengan tatapan tajam.
Huuuh... Dasar laki-laki aneh. Batin Tania kesal.
"Hem... Iya maaf, lalu kakak mau aku memanggil dengan sebutan apa? Aku terserah kakak aja deh." kali ini ucapan Tania begitu terdengar manis dan lembut.
"Pikirkan saja sendiri, tidak perlu sekarang, sebentar lagi kita sampai." balas Ronald sembari memarkir mobilnya.
Astaga... Kenapa harus serepot ini sih, untuk sebuah panggilan saja? Sampai harus di pikirkan di lain waktu...!! Batin Tania heran.
Ya, sejak merek pacaran. Memang ada saja hal-hal aneh yang mewarnai hubungan mereka.
Sikap aneh Ronald jadi terlihat, dan sikap pemarah Tania pun mulai terlihat, tanpa di sadari sesekali keduanya saling memperlihatkan sifat asli mereka saat berdua.
Begitu sudah sampai di sebuah kafe.
Saat Tania hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba suara Ronald menghentikan gerakannya dengan tiba-tiba.
"Diam...! Biar aku yang membukakan pintu untuk mu." ucap Ronald sambil keluar dari dalam mobil, berlari untuk membukakan pintu untuk Tania.
Astaga... Untuk hal seperti ini saja, dia selalu mengagetkanku dengan setiap ucapannya itu. Tania membatin penuh heran.
Begitu Ronald sudah membukakan pintu mobil, Tania pun segera keluar. Keduanya berjalan berdampingan, namun Ronald tidak menggandeng tangan Tania.
Kenapa dia tidak menggandeng tanganku...? Bukankah dia selalu ingin memperlakukanku seperti seorang putri...? Sama halnya saat ia menahanku membuka pintu mobil sendiri. Cih... Dia benar-benar aneh. Lagi-lagi Tania hanya bisa membatin.
Ya, hampir dalam kebersamaannya bersama Ronald, Tania selalu membatin tanpa bersuara. Karena saat ia bicara dan menolaknya, sudah di pastikan keduanya akan saling beradu mulut.
Demi menghindari hal itu, Tania lah yang akhirnya mengalah.
"Tania kau mau makan apa?" tanya Ronald dengan nada lembut.
"Hem... Aku tidak tahu makanan apa yang paling enak di sini. Aku ikut kakak aja." jawab Tania sederhana.
"Pilih apa saja...! Aku ikut dengan pilihanmu." ucap Ronald sambil menyodorkan menu pada Tania.
Cih... Kenapa sekarang dia jadi menyebalkan seperti ini. Batin Tania bingung.
"Baiklah... Kita pesan ini saja." jawab Tania sembari menunjuk sebuah menu.
"Tapi aku tidak suka itu... Kau bisa pilih yang lain." perintah Ronald.
"Tapi aku mau itu kak, kalau kakak mau yang lain, pilih saja yang lain tidak perlu mengikuti seleraku." balas Tania.
"Hari pertama kita kencan, kita harus makan dengan makanan yang sama." ucap Ronald.
Hahaha... Aturan dari mana itu? Batin Tania semakin heran.
"Oh ya... Masa sih kak? Kok aku baru denger yah." jawab Tania meledek.
"Hey... Jangan meledekku seperti itu!!" ucap Ronald.
"Kalau gitu terserah kakak saja lah..." Tania pasrah.
"Tidak bisa, kau yang harus memutuskan." balas Ronald.
"Hem... Hem... Pelayan." Tania berteriak memanggil pelayan.
__ADS_1
Apa yang dia mau lakukan? Batin Ronald bingung.
Dengan segera seorang pelayan datang menghampiri mereka, berdiri tepat di depan Tania.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pelayan tersebut.
"Ya... Tentu saja ada, menurut anda... Kami harus makan menu yang mana ya?" tanya Tania dengan wajah menahan kesal sambil melirik ke arah Ronald.
Ronald hanya diam sambil menahan tawa saat mendengar ucapan Tania barusan pada salah seorang pelayan.
Tentu saja pelayan itu pun heran dan terkejut mendengar pertanyaan yang baru pertama kali ia dengar dari seorang pelanggan di kafe selama ia bekerja di sana.
Dengan wajah bingung pelayan tersebut mencoba memberi saran.
"Bagaimana jika anda mencoba menu yang ini...? Ini adalah menu terbaik di kafe kami." usul pelayan tersebut sambil menunjukkan menu makanan tersebut pada Tania.
"Aaaa... Iya benar, aku setuju, tolong buatkan untuk kami." jawab Tania setuju.
"Baik, Nona." jawab pelayan tersebut sambil berjalan meninggalkan mereka dengan menggelengkan kepalanya penuh heran.
Sepertinya mereka pasangan yang aneh. Gumam pelayan tersebut.
Ronald hanya tersenyum melihat raut wajah kesal di wajah Tania saat ini, seolah merasa puas dengan apa yang di lakukannya pada Tania hingga membuat Tania kesal.
Saat Tania sedang kesal, ada aura tersendiri yang memikat Ronald. Itulah sebabnya sesekali ia ingin membuat Tania kesal dan ia bisa melihat wajah kesal Tania yang begitu memikat hatinya.
Sebenernya yang ia lakukan barusan, dari membahas nama panggilan sampai memesan makanan. Hanyalah akal-akalannya untuk membuat Tania kesal.
Ya, Ronald tidak akan ke kanak-kanakan seperti itu. Ia memiliki sikap yang hangat meski terkadang selalu terlihat kaku di depan Tania. Namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat menyayangi Tania lebih dari apapun.
Satu-satunya wanita yang saat ini ia cintai, ia miliki dan akan ia jaga sampai akhir kisahnya bersama Tania.
Tidak lama makanan yang mereka pesan berdasarkan pilihan pelayan tadi, datang dan di hidangkan di atas meja makan mereka.
Makanan Apa ini? Batin Tania heran melihat beberapa menu yang tidak di kenalnya.
Sama halnya dengan Tania, Ronald pun merasa heran dengan beberapa menu di atas meja. Namun kali ini Ronald tidak akan membuat Tania kesal lagi, sudah cukup baginya mamandangi wajah kesal Tania sebelumnya. Kali ini ia ingin melihat senyum Tania yang baginya sangat manis semanis gula aren.
Ronald mencoba untuk memberikan suapan pertamanya pada Tania.
Saat Tania hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba Ronald menghalanginya.
"Coba ini dulu." mengulurkan tangannya pada mulut Tania.
Meksi terlihat malu-malu, pada akhirnya Tania menerima suapan darinya.
"Bagaimana? Apa rasanya enak?" tanya Ronald dengan wajah penasaran.
Tania menganggukkan kepalanya seraya melempar senyum pada Ronald.
Nah... Akhirnya dia senyum juga. Batin Ronald puas saat melihat senyum manis dari bibir Tania yang begitu di nantinya setelah beberapa menit mamasang wajah cemberut.
Setelah Ronald memberikan suapan pertamanya pada Tania, kini giliran Tania yang memberikan suapan pada Ronald.
"Kak... Coba ini!! " ucap Tania.
"Emmm... Ini enak sekali." jawab Ronald seolah ingin memberikan penilaian pada Tania soal rasa masakan tersebut, padahal makanan tersebut mereka pesan dari sebuah kafe, tapi seolah-olah mereka lah yang membuatnya.
Namanya juga pasangan kekasih yang baru saja di landa cinta. Apapun teras enak dan indah.
Setelah mereka selesai makan siang bersama, terlebih waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Akhirnya Ronald memutuskan untuk mengantar Tania ke kampus kembali dan dia pun akan kembali ke kantor.
"Tania, ayo kita pulang... Aku masih ada pekerjaan dan ada meeting juga di kantor." jelas Ronald.
"Ah... Iya kak." Tania mengangguk.
Begitu sudah sampai kampus, Tania berjalan meninggalkan Ronald. Lalu Ronald pun segera memacu mobilnya menuju kantor.
Sesampainya di kantor. Ronald langsung memeriksa berkas dan membawanya ke ruang kerja Zein untuk di periksa dan di tanda tangani.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di balik pintu.
Zein tahu bahwa ketukan itu berasal dari Ronald.
"Masuk...!" Zein memerintahkan Ronald untuk masuk.
Ronald pun membuka pintu lalu masuk ke dalam, berjalan mendekati Zein yang saat itu sedang duduk di kursi sambil memeriksa berkas.
"Tuan... Ini berkas-berkas yang perlu di cek dan di tanda tangani." Ronald menyodorkan berkas tersebut di atas meja.
"Ya... Taruh saja dulu, Ron. Aku masih sibuk dengan beberapa berkas ini." jelas Zein.
"Baik, Tuan." jawab Ronald dengan sopan.
"Ron... Ada berapa meeting lagi hari ini?" tanya Zein.
"Hari ini masih ada dua kali meeting lagi, Tuan. Dan kedua meeting tersebut dilakukan di luar kantor." jelas Ronald.
"Hem... Baiklah, kira-kira selesai jam berapa kita hari ini?" tanya Zein kembali.
"Kemungkinan kita akan selesai sampai malam, Tuan." jelas Ronald.
"Begitu... Baiklah, kau boleh keluar, Ron." balas Zein.
Sayang... Maafkan aku, aku harus pulang malam lagi hari ini. Batin Zein yang sangat merindukan istrinya di rumah.
Ronald kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.
Hari sudah semakin gelap, waktu menunjukkan pukul 18:00.
Zein dan Ronald tengah berada di luar dalam urusan meeting bersama rekan bisnisnya.
Sementara itu di rumah Rania.
__ADS_1
Rania tampak sedang duduk di sofa sambil membaca buku. Sesekali ia teringat pada suaminya yang belum pulang hingga pukul 19:00. Ada rasa cemas yang kian menggelayutinya saat itu.
Kemudian ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya.
Tidak lama panggilannya pun tersambung.
Zein : Iya sayang.
Rania : sayang... Apa kau masih sibuk di kantor?
Zein : saat ini aku sedang ada meeting di luar bersama Ronald, sayang. Kau tidur duluan saja...! Kemungkinan aku akan sampai ke rumah lebih malam.
Rania : Hem... Baiklah, hati-hati ya, sayang.
Zein : iya sayang, terima kasih.
Rania : daaah... Muaaach.
Kecupan yang Rania lemparkan melalui ponselnya untuk suaminya sekaligus menajdi akhir dari perbincangan dirinya dan suaminya di telepon.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam di hari sabtu, Zein dan Ronald baru saja menyelesaikan meeting mereka bersama rekan kerja mereka.
Seharusnya, jika mereka menyelesaikan pekerjaan mereka lebih awal. Ronald bisa melewati malam minggu pertamanya dengan Tania.
Namun sayangnya, waktu sudah terlalu larut malam hingga membuat Ronald menahan diri dari dan tidak keluar malam mingguan bersama Tania.
Meski demikian, Ronald berencana akan pergi kencan esok hari bersama Tania.
Ronald mengirimkan pesan singkat pada Tania.
Ronald : besok apa kau sibuk?
Tania : tidak, kenapa kak?
Ronald : bagaimana jika kita pergi besok?
Tania : boleh.
Ronald : kau mau kita pergi ke mana?
Tania : kemana saja, asal bersama kakak, aku senang.
Ya, sesekali Tania pun bisa merayu.
Ronald : hahaha... Sudah pandai merayu ya sekarang.
Tania : itu bukan rayuan kak, tapi sungguhan.
Ronald : ya...ya...ya...
Tania : hahahah
Ronald : kau sedang apa?
Tania : sedang memikirkan kakak.
Ronald : duuuh... Belajar merayu di mana sih?
Tania : dari kak David.
Ronald : hem... (sambil mengirim emoticon marah)
Tania : hahaha...
Begitulah Tania dan Ronald menghabiskan malam minggu mereka di rumah.
Sementara itu, saat Zein sudah sampai di rumah. Rania sudah tidur karena kelelahan menunggu suaminya pulang.
Zein langsung membuka bajunya dan membersihkan dirinya begitu sampai rumah.
Setelah selesai mandi. Zein berjalan duduk di tepi kasur sambil memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur.
Namun sepertinya malam itu Rania tidak bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa kali ia menggeser tubuhnya, miring ke kiri lali miring ke kanan dan begitu seterusnya.
Melihat istrinya tampak susah tidur, Zein akhirnya berinisiatif untuk memijat tubuh istrinya.
Merasakan pijatan yang hangat dan terasa lebih enak, tiba-tiba Rania membuka matanya. Begitu ia lihat suaminya sedang duduk di sampingnya sambil memijat tubuhnya. Rania langsung tersenyum dan bangun dari tidurnya.
"Eh... Sayang jangan bergerak, kau mau apa? Biar aku ambilkan." tanya Zein sambil tersenyum.
"Aku mau duduk." balas Rania.
Kemudian Zein membantu mengangkat tubuh Rania untuk bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuh Rania di punggung kasur.
Di usia kehamilan yang sudah menginjak usia sembilan bulan, tentu saja cukup membuat Rania kesusahan dalam bergerak. Untuk bangun saja, ia membutuhkan bantuan dari orang lain termasuk suaminya.
Setelah Zein membantunya bangun dan menyandarkan tubuh Rania di punggung kasur. Tiba-tiba Rania memeluk tubuh suaminya.
Entah itu hanya ingin menghibur dirinya yang sedang melewati masa-masa sulitnya atau memang karena ia benar-benar merindukan suaminya yang akhir-akhir ini pulang hingga larut malam.
"Sabar ya sayang." Zein berusaha menenangkan istrinya sambil memeluk hangat tubuh istrinya.
Rania hanya mengangguk lalu tersenyum.
Dalam pelukan suaminya beberapa menit akhirnya Rania kembali tertidur.
Zein meletakkan tubuh Rania di atas bantal dengan sangat hati-hati. Agar Rania tidak bangun.
Bersambung \=\=\=>
Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
__ADS_1
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Terimakasih. 🙏🏻