Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Menyelidiki part 2


__ADS_3

Akhirnya David pun bergegas pergi untuk menemui Zein di tempat yang sudah di tentukan dalam obrolan di telepon sebelumnya.


Melihat David tengok kanan dan kiri mencari dirinya, Zein pun melambaikan tangannya ke atas.


David mulai menyadari saat melihat lambaian tangan Zein di sudut sana lalu menghampirinya, ia pun tersenyum menyambut lambaian tangan Zein yang sudah menunggunya.


David pun duduk di bangku, tepat di depan Zein duduk. Hanya terhalang meja bundar saja di depan mereka, di depannya sudah ada minuman favoritnya.


"Zein, apa kau tahu...?" ucap David serius, sembari menempelkan kedua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya ke arah Zein.


"Minumlah, kau pasti haus." Zein meminta David untuk meminum jus strawbery kesukaan David.


David pun meminum jus yang ada di depannya lalu kembali melanjutkan perkataannya yang terputus.


"Zein... Aku melihat laki-laki yang telah menyakiti istrimu sebelum aku datang ke sini." lanjutnya.


Sontak pernyataan David membuat Zein terkejut hingga ia membuka matanya lebar-lebar dengan tatapan tajam.


"Lalu... Apa kau menangkapnya?" tanya Zein penasaran.


Mendengar jawaban dari Zein membuat nyali David menciut dan tubuhnya seketika terlihat lemas lalu menghela napas.


"Itulah bodohnya aku... Aku terlambat menyadarinya hingga akhirnya kehilangan jejaknya lagi." jawab David lemas.


"Kau... Benar-benar teman yang tidak bisa di andalkan." balas Zein sembari menggelengkan kepalanya.


David tersenyum terpaksa, lalu meminum kembali jus yang ada di depannya.


"Kau sendiri... Ada perlu apa memanggilku?" tanya David sembari meletakkan kembali jusnya di atas meja.


"Tentu saja untuk menanyakan perihal kejadian tadi pagi... Kau pikir untuk apa lagi aku memanggilmu? Cih... Kau bahkan tidak bisa di andalkan." Zein berdecak sambil memandang sinis ke arah David.


"Kau sendiri... Seharusnya kau bisa menjaga istrimu dengan baik dan tidak meninggalkannya...!" timpal David membela diri.


Ucapan David cukup merobek hati Zein, ia menyadari atas keteledorannya dalam menjaga istrinya.


"Kau benar, aku memang payah..." balas Zein dengan wajah masam. "Kau tidak tahu saja bagaimana sifat istriku yang begitu penasaran dan keras kepala." sambungnya lagi.


Keras kepala...? Hmmm... Yang ku lihat darinya adalah wanita pemberani, aku bahkan masih sempat melihatnya menendang alat vital milik laki-laki itu... Hahaha... Dia wanita yang cantik dan menarik. Batin David tertawa membayangkan kejadian saat Rania menendang bagian sensitif milik laki-laki itu.


"Hey... Apa yang sedang kau bayangkan?" Zein memecah lamunan David tentang Rania.


"Hahaha... Tidak ada." David menepis bayangan tentang Rania yang selalu muncul di pikirannya sejak kejadian pagi tadi.


"Begitu orang suruhanku datang, kau harus menjelaskan bagaimana ciri-ciri wajah laki-laki brengsek yang sudah menyakiti istriku." ucap Zein dengan nada serius.


"Wah... Dengan uang dan kekuasaan, semuanya tampak begitu mudah yah? Hanya tinggal memerintahkan orang datang dan mengurusnya." timpal David.


"Cih... Bicara apa kau ini? Lagi pula tanpa penjelasan darimu pun aku bisa melakukannya, karena Resort ini sudah menutup akses keluar dan masuk para pengunjung, dengan begitu aku bisa menahan laki-laki itu keluar dari sini hidup-hidup." jelas Zein.


"Cih... Kata-katamu barusan cukup mencengangkan, selama berteman denganmu, aku baru mendengar kalimat menakutkan darimu, Zein." David berdecak.


Seolah laki-laki yang ada di hadapannya berubah jadi sosok yang pemarah.


Wajar saja jika Zein marah kali ini, jelas kejadian ini akan mengganggu mental istrinya setelah melalui banyak kejadian-kejadian mengerikan sebelumnya akibat perbuatan mantan kekasihnya yang belum bisa move on dari istrinya. Di tambah lagi kejadian itu terulang saat dirinya dan Rania yang seharusnya menikmati waktu berduaan mereka.


"Kau tidak tahu kejadian sebelumnya yang menimpa istriku jauh lebih buruk dari ini Vid, jika kau tahu, kau akan terkejut. Mungkin karena itulah aku harus bersikap lebih hati-hati lagi dan sedikit kejam." jelas Zein dengan wajah merah padam.


Tidak perlu kau jelaskan, wajahmu sudah cukup menjawab seberapa dalam kejadian ini memukul hatimu. Batin David menerka.


"Umm... Kalau boleh tahu, memangnya kejadian apa sebelumnya? Apa kalian memiliki banyak musuh?" tanya David penasaran. Lalu menyandarkan tubuhnya di punggung kursi dan melipat kedua tangannya di dada.


"Sejak kapan aku punya musuh?" jawab Zein dengan nada kesal dengan pertanyaan yang di layangkan temannya itu.


"Hahaha... Santai saja, aku kan hanya bertanya." timpal David sembari tertawa meledek.


"Ceritanya cukup panjang, lain kali aku akan ceritakan dan tidak sekarang. Sekarang aku hanya ingin menangkap hidup-hidup orang yang sudah menyakiti istriku, terlebih membuat wajahnya terluka. Untung saja bukan kau pelakunya, kalau tidak..." ucap Zein terputus ketika David menyela ucapannya. "Kalau tidak kenapa?" sela David dengan wajah menantang.


"Mungkin aku sudah membunuhmu saat itu juga." ucap Zein mengancam.


"Hahaha... Kau yakin, Zein? Aku tidak yakin dengan ucapanmu." balas David meragukan.


"Oh ya... Di mana kau melihat laki-laki itu?" tanya Zein dengan wajah serius sambil menggertakkan giginya.


Tadi itu... Aku melihatnya keluar tidak jauh dari kamar...? Ah... Tidak mungkin. Batin David membayangkan pertemuan terakhirnya dengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Hey... Apa lagi yang kau bayangkan? Apa kau sedang mengarang cerita? Kau tidak sedang membohongiku dengan semua ucapanmu itu kan?" perkataan Zein membuyarkan lamunan David.


Aku harus selidiki lebih dulu sebelum memberitahukan pada Zein di mana aku melihat laki-laki itu. Apa mungkin...? David membatin penuh selidik.


"Oh.. Tadi aku tidak sengaja tabrakan dengannya di jalan saat akan menemuimu." jelas David menutupi kalau-kalau dugaannya salah.


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba ponsel milik Zein berbunyi.


Dengan segera Zein menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Ya... Apa kau sudah datang?" tanya Zein pada Ronald.


"Ya, tuan. Aku sudah di depan kamar tuan saat ini." jawab Ronald.


"Baiklah... Tunggu sebentar, aku akan menemuimu." balas Zein singkat, lalu mematikan ponselnya dan menaruhnya di dalam saku celananya.


Zein segera bangkit dari duduknya, begitupun dengan David.


"Apa kau akan pergi?" tanya David.


"Ya, aku akan menemui Ronald dan yang lainnya." jawab Zein.


Siapa Ronald? Apa salah satu orang kepercayaannya? Batin David.


"Baiklah, aku juga akan kembali ke kamarku. Ada hal yang ingin aku lakukan." ucap David.


"Tadinya aku berharap kau ikut denganku untuk memberikan sedikit penjelasan pada mereka, agar mereka bisa lebih mudah menemukan pelaku." jelas David.


"Oh... Sementara aku kembali ke kamarku dulu, setelah itu... Aku akan datang ke tempatmu." jelas David sembari menepuk bahu Zein.


"Oke baiklah, jika sangat mendesak, aku akan menghubungimu, kau tidak keberatan kan?" ucap Zein tegas.


"Hahaha... Tentu saja, nasib menjadi seorang saksi." timpal David sembari tertawa.


Keduanya pun berjalan terpisah.


Sementara itu, di dalam kamar, Rania tampak sudah sadarkan diri dan memanggil nama suaminya.


Mendengar suara Rania memanggil nama Zein dari dalam kamar. Surya pun bingung harus berbuat apa. Sementara itu di sampingnya ada Ronald beserta para pengawalnya yang juga sedang berdiri di depan kamar.


"Apa perintah tuan Zein sebelum pergi?" tanya Ronald dengan tegas.


"Tuan, Zein memerintahkan agar membuka pintu kamar begitu Nyonya memanggil." jelas Surya.


"Kalau begitu, ikuti saja perintahnya dan buka pintunya." balas Ronald.


Surya pun mulai membuka pintu itu, namun belum sempat Surya membuka pintunya. Tiba-tiba terdengar suara Zein yang mengagetkan semuanya.


"Apa yang terjadi? Apa Nyonya sudah sadarkan diri?" tanya Zein yang saat itu masih berjalan dan mulai sampai di depan pintu kamar.


Surya pun terkejut mendengarnya.


"I... Itu, tuan. Nyonya memanggil nama tuan dari dalam kamar." jelas Surya sambil menundukkan kepalanya.


Begitupun dengan Ronald dan yang lainnya, mereka ikut menundukkan kepala dengan sopan begitu Zein sampai.


"Benarkah...? Rania memanggilku?" tanya Zein tertawa senang, lalu bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


Sementara Zein masuk ke dalam kamar, mereka menunggu di luar kamar.


Zein mendekati Rania yang sudah duduk menyandar di punggung kasur lalu duduk di tepi kasur dan merangkul tubuh istrinya.


"Sayang... Jangan banyak bergerak dulu. Apa tubuhmu merasa sakit?" tanya Zein sambil menyentuh pipi istrinya.


"Tidak, Zein... Hanya saja bekas luka tembak di perutku sedikit terasa sakit. Dan... Ahw...." Rania merintih kesakitan begitu ia menggerakkan mulutnya untuk berbicara sambil menyentuh pipinya yang juga masih terasa sakit.


"Sayang... Apa pipimu juga sakit?" tanya Zein dengan tatapan sendu melihat kondisi istrinya saat ini dan Rania hanya mengangguk.


Lalu Zein memeluk tubuh mungil istrinya dengan melingkarkan kedua tangannya di punggung Rania, begitupun dengan Rania, ia menyadarkan kepalanya di bahu suaminya. Seolah itu dapat meringankan jiwanya yang terguncang.


Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu lolos dan berkeliaran di luar sana setelah menyakitimu. Dia akan menanggung hukuman atas perbuatannya. Zein bergumam.


"Sayang... Bisakah kau menjelaskan bagaimana ciri-ciri laki-laki itu pada mereka?" tanya Zein dengan suara lembut.


Sontak Rania terkejut dengan ucapan suaminya dan menggeser kepalanya lalu di tatapnya wajah suaminya dalam-dalam.

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu, sayang...?" tanya Rania terkejut.


"Orang-orangku sudah ada di luar termasuk Ronald, mereka akan menyelidiki kasus ini, kau hanya perlu menjelaskan bagaimana ciri-ciri wajah laki-laki yang sudah menyakitmu, sayang." jelas Zein.


Alih-alih memberi penjelasan, Rania justru memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Melihat ekspresi Rania yang tiba-tiba meringkuk memeluk tubuhnya, membuat Zein terkejut.


"Sayang... Kau kenapa? Kau tidak perlu takut, ada aku di sini." ucap Zein, berusaha menenangkan Rania yang terlihat takut.


"A... Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, Zein. Aku benci setiap kali mengingatnya. Aku benci dengan hidupku... Kenapa aku selalu mendapat perlakuan buruk seperti ini... Hiks." jelas Rania sambil terisak tangis.


Jangankan untuk memberi penjelasan, bahkan untuk mengingat wajah laki-laki yang sudah menyakitinya tadi pagi saja sudah membuatnya tertekan. Mengingat wajah laki-laki yang menyakitinya tadi pagi sama saja membuka luka lamanya tentang perlakuan kasar mantan kekasihnya dulu yang bernama Rey.


Mendengar ucapan Rania, Zein sangat mengerti akan kondisi jiwanya saat ini. Akhirnya Zein memutuskan untuk meminta keterangan dari David saja dan membiarkan Rania menenangkan dirinya untuk sementara waktu.


"Baiklah, sayang... Apa kau lapar?" tanya Zein, lalu Rania menggelengkan kepalanya meski perutnya tidak bisa berbohong hingga menimbulkan bunyi kruyuk pertanda lapar.


"Nah... Kau tidak bisa berbohong sayang. Perutmu tidak bisa berbohong." goda Zein sembari melirik ke arah perut Rania.


Sesaat setelah mendengar ucapan suaminya, Rania memegang bagian perutnya lalu tersenyum menahan malu dengan wajah merah merona.


Tadi pagi sebelum berangkat ke Resort, Rania hanya mengisi perutnya dengan selembar roti tawar isi selai coklat. Dan setelahnya sampai sore belum mengisi perutnya lagi.


Kemudian Zein pun beranjak dari duduknya dan mengecup lembut kening Rania sebelum berdiri.


"Sayang... Aku akan meminta orang Resort membuatkan bubur untukmu. Diam di kamar dan jangan ke mana-mana sementara aku keluar sebentar untuk mengurus semua ini, mengerti...!!"


Zein meminta Rania untuk tetap diam di kamar dengan nada penekanan. Rania pun mengangguk setuju.


Sementara itu, Zein pergi menemui Ronald di depan kamar untuk menjelaskan perihal kejadian tadi pagi dan menutup pintu kamarnya.


Beberapa pengawal tampak berjaga di depan kamar untuk menjaga Rania.


Zein dan Ronald duduk di bangku depan kamar.


"Tuan, bagaimana kejadiannya?" tanya Ronald.


"Sebentar, aku akan menghubungi temanku yang merupakan saksi dari kejadian ini, hanya dia dan istriku yang tahu wajah laki-laki brengsek itu. Namun tampaknya istriku sedang tidak ingin bicara dan membahas kejadian itu. Jadi... Aku akan meminta temanku untuk datang ke sini." Zein menjelaskan perihal kejadian itu.


Sementara itu ia membuka ponselnya dan mencoba menghubungi David.


"Ya, Zein... Apa aku perlu datang sekarang?" tanya David dari seberang telepon.


"Ya... Cepatlah datang." jawab Zein tegas.


"Baik, aku akan segera ke sana." sahut David dari seberang telepon, mengakhiri panggilan itu dan bergegas pergi untuk menemui Zein.


Saat sudah sampai di tempat Zein menunggunya. David pun menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi termasuk menjelaskan ciri-ciri wajah laki-laki itu pada seorang pelukis wajah profesional.


Ya, selain membawa para pengawal, Ronald juga datang dengan membawa seorang pelukis wajah untuk menggambar wajah pelaku.


Hanya dengan menyebutkan ciri-ciri mata, hidung, rambut, pipi, Bibir, warna kulit dan bentuk wajah dari pengakuan David saja, pelukis itu sudah mendapatkan gambar yang mirip dengan wajah pelaku tanpa melihat gambarnya.


"Apa seperti ini wajahnya?" tanya pelukis wajah tersebut sembari menyodorkan kertas di atas meja pada David yang duduk di sampingnya.


"Aih... Benar, tidak salah lagi, wajahnya mirip sekali dengan lukisan ini." jawab David sembari berdecak kagum.


Mendengar ucapan David cukup membuat perasaan Zein lega, karena setidaknya ia mendapatkan titik terang untuk bisa menemukan laki-laki itu dan menangkapnya.


"Lalu... Apa rencanamu Ron? Aku sudah meminta pemilik Resort untuk menutup akses keluar dan masuk untuk para pengunjung agar memudahkan kalian untuk menemukan orang itu." melirik ke arah Ronald.


"Jika akses keluar masuk Resort ini sudah di tutup, seharusnya dia tidak akan bisa lolos dari tempat ini dan masih berada di sini." jelas Ronald sambil berpikir. "Namun, jika melihat kejadian itu terjadi sudah satu jam berlalu, kemungkinan orang itu sudah pergi, terlebih jika pelaku memiliki koneksi yang cukup kuat. Meski demikian, bagaimana pun dia meloloskan diri... orang jahat selalu punya cara untuk kabur dan menyelamatkan dirinya walau sesaat." sambungnya lagi.


Mendengar penjelasan dari Ronald yang cukup masuk akal, cukup membuat mereka yang mendengarnya setuju dengan penjelasan yang di sampaikan oleh Ronald termasuk David.


Untuk sesaat David mengingat pertemuannya dengan laki-laki itu sebelum melarikan diri, jelas ia melihat laki-laki itu keluar dari arah sana. Terlebih ketika ia memastikan dugaannya dengan menemui Yina sebelum datang menemui Zein.


*Bersambung.


Jangan lupa


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE.


TERIMAKASIH sudah setia membaca NYT.🤗

__ADS_1


__ADS_2