Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Tersesat lagi


__ADS_3

"Sayang... Apa kita sebaiknya foto pernikahan ulang?" usul Rania.


Melihat tidak ada satupun foto pernikahan mereka yang memperlihatkan aura bahagia di wajah Rania, sempat membuat Rania berpikir untuk melakukan foto ulang pernikahan mereka.


"Hem... Kenapa tiba-tiba sekali sayang?" tanya Zein penasaran.


"Hehehe... Entahlah, aku tidak suka saja melihat foto-foto pernikahan ini. Kesannya aku tidak cantik." jawab Rania tertawa.


"Bagiku... Tersenyum atau marah, kau tetap cantik sayang. Tidak ada masalah dalam foto pernikahan kita." balas Zein sembari menatap wajah istrinya. "Tapi, kalau kau ingin sekali melakukan foto pernikahan ulang, tidak masalah, kita bisa melakukannya setelah pulang dari sini." imbuhnya.


"Kenapa harus menunggu pulang sayang? Bukankah kita bisa melakukannya di sini? Lagi pula di sini cukup menarik." usul Rania.


"Hahah... Baiklah, sayang, apapun yang kau mau aku akan ikuti." sahut Zein setuju.


Setelah beberapa jam bersantai, Rania pun merasa tubuhnya mulai lelah, akhirnya ia tidur sebentar demi melepas rasa lelahnya.


"Sayang... Istirahatlah, nanti malam kita akan makan malam." Zein meminta Rania untuk istirahat.


"Yah... Aku juga merasa ngantuk." jawabnya sembari menguap.


Rania bergegas mendekati kasur dan merebahkan dirinya di atas kasur. Tanpa menunggu waktu yang lama, akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.


Sementara menunggu Rania bangun, Zein pun keluar dari kamarnya untuk memeriksa beberapa laporan tentang perkembangan hotel miliknya yang baru beberapa tahun di jalankannya.


Tentu saja para pengawal pribadinya tetap berjaga di depan kamar untuk menjadi Rania agar tidak keluar tanpa sepengetahuan dirinya. Zein tahu benar karakter istrinya yang tidak bisa diam dan terlalu penasaran.


Kemudian Zein bertemu dengan manager di salah satu hotel miliknya itu. Ia berbincang cukup lama dengan manager tersebut, dan setelah memeriksa semuanya aman dan tidak ada masalah, serta mengalami kemajuan beberapa bulan terakhir cukup membuatnya merasa lega.


Sementara itu, setelah istirahat beberapa jam, akhirnya Rania bangun dari tidurnya, tiba-tiba perutnya terasa lapar, tanpa perlu memanggil pelayan untuk memberikannya makan, makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja makan.


Dengan segera Rania mendekati meja makan tersebut dan mencoba beberapa makanan yang tersedia di atas meja. Namun, menyadari suaminya tidak ada, Rania pun mencoba mengubungi suaminya. Belum sempat ia memanggil suaminya lewat ponselnya, tiba-tiba suaminya justru menghubunginya lebih dulu.


Eh... Baru saja mau aku telepon. Sudah menghubungi duluan... Sepertinya dia kangen. Batin Rania percaya diri.


Dengan segera Rania pun menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


"Ya... Sayang." ucapnya.


"Sayang... Apa kau sudah makan?" tanya Zein dari seberang telepon.


"Hem... Belum, baru saja mau memintamu datang dan menemaniku makan." balas Rania.


"Oh... Kau tidak perlu menungguku, sayang, makan saja duluan. Aku ada urusan sebentar. Tunggu aku dan jangan pergi kemana-mana ataupun keluar dari hotel. Kalau kau bosan, kau boleh berkeliling hotel sambil di temani pengawal." sahut Zein.


"Hem... Memangnya kau mau ke mana sayang? Kita kan baru sampai dan belum berkeliling mengunjungi tempat wisata." balas Rania dengan nada kecewa.


"Besok kita akan berkeliling ya sayang, hari ini kau istirahat saja dan berkeliling hotel, nanti malam baru kita keluar." Zein memberi penjelasan.


"Ya sudah." balas Rania singkat.


"Terimakasih, sayang, atas pengertiannya... Muach." balas Zein dari seberang telepon sembari mendaratkan kecupan lewat ponselnya.


Kemudian Zein pun mengakhiri panggilannya.


Maaf sayang... Jika aku terlalu sibuk dan tidak benar-benar menemanimu berlibur. Batin Zein menyesal.


Sebagai orang yang memiliki banyak bisnis dan perusahaan yang tersebar di berbagai negara terutama bagian Asia. Cukup membuat Zein sibuk dan kerap kali harus menemani beberapa rekan bisnisnya ketika bertemu secara sengaja maupun tidak di sengaja.


Karena perutnya sudah berbunyi dan terasa lapar, tanpa menunggu waktu lama, Rania segera menyantap makanan yang ada di atas meja. Begitu selesai makan, ia pun berencana untuk berjalan-jalan di area hotel.


Sembari menunggu suaminya kembali setelah selesai dengan urusannya. Rania berkeliling hotel, di hotel milik suaminya terdapat taman di belakang hotel, saat malam hari, nuansa lampu yang menampakkan cahayanya begitu terlihat indah. Sesekali Rania duduk di kursi taman, di sana ada banyak orang, ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan, ada jg keluarga yang sedang berkumpul menikmati malam, ada juga yang sendirian duduk menikmati malam, sama halnya dengan Rania. Saat itu ia hanya duduk sendirian dan di temani beberapa pengawalnya saja.


Saat itu sudah pukul tujuh malam, Rania belum mendapati suaminya kembali dari urusannya.


Ya, Zein masih sibuk dengan sebagian pekerjaannya yang jarang sekali di kerjakan, begitu dia datang ke hotel, ada saja orang yang ingin bertemu dan membicarakan seputar bisnis maupun beberapa pegawainya yang berbincang mengenai perkembangan hotel miliknya.


Rania sudah mulai bosan duduk diam di taman, akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari hotel sebentar saja.


Begitu ia mau keluar, tiba-tiba pengawalnya menahannya dan melarang tanpa seizin dari. Zein.


"Maaf Nyonya, anda tidak boleh keluar tanpa izin dari tuan." ucap salah seorang pengawalnya.


Sial... Kenapa susah sekali keluar tanpa mereka, aku risih sekali jika harus keluar bersama mereka. Batin Rania kesal.

__ADS_1


Pffttt... Rania menghela napas.


Akhirnya ia kembali ke taman dan duduk di atas kursi dengan wajah kecewa dan kesal.


Sepanjang ia duduk, otaknya berpikir, bagaimana caranya agar bisa keluar tanpa mereka mengikutinya?


Akhirnya Rania pun menemukan caranya.


"Aku mau ke toilet." ucap Rania.


Kemudian pengawalnya mengikutinya dari belakang.


"Apa kau akan terus mengikutiku sampai ke dalam toilet?" tanya Rania dengan nada kesal, begitu sudah sampai di depan toilet wanita.


Mendengar ucapan Rania, pengawalnya pun diam dan menunggunya dengan jarak yang sedikit menjauh dari depan toilet wanita.


Kemudian Rania pun keluar dengan berjalan santai dan menundukkan wajahnya melewati pengawalnya tanpa sweater yang tadi di kenakannya. Sweaternya dilepas dan ditinggalkan begitu saja di dekat toilet, sehingga pengawalnya tidak menyadari dirinya sudah keluar.


Argh... Akhirnya aku bebas dari mereka. Batinnya senang.


Rania berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut kota yang selalu ramai meski di malam hari. Sepanjang jalan ia menikmati setiap keindahan kota tersebut. Kini matanya tertuju pada street food yang begitu menggoda selera makannya. Ada banyak sekali jenis makanan dari berbagai jenis di sana, banyak orang berlalu lalang juga di sana, mulai dari anak kecil bersama orang tuanya, para remaja dan para lansia, tidak sedikit pula para lansia yang sudah menggunakan kursi roda.


Rania berhenti di depan toko makanan yang menjual berbagai macam sosis bakar, sosis bakar adalah salah satu makanan favoritnya. Ia selalu tergoda dengan makanan yang bernama sosis bakar dan semua jenis sea food bakar.


Begitu ia merogoh kantung celananya, yang ia dapatkan hanya lembaran uang rupiah.


Yah... Mana bisa ini digunakan di sini? Batinnya kecewa.


Rania lupa tidak menukarkan uangnya dulu di money changer. Atau meminta uang sedikit saja pada suaminya sebelum pergi, tapi jika ia meminta pada suaminya, tentu saja suaminya tidak akan mengizinkannya keluar sendirian.


Akhirnya Rania hanya diam berdiri dan menelan ludahnya dengan raut wajah kecewa karena tidak bisa menikmati makanan yang terlanjur membuatnya berselera.


Sementara itu, setelah sudah menunggu selama setengah jam di depan toilet wanita, pengawal tersebut merasa tidak yakin dan curiga apa Rania benar-benar masih berada di dalam.


Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk mengecek ke dalam toilet, sebagian wanita yang berlalu lalang keluar dan masuk ke dalam toilet tampak memperhatikan si pengawal, tidak sedikit juga yang melihat dengan tatapan sinis. Jelas saja mereka tidak suka ada laki-laki masuk ke dalam toilet.


Begitu sudah memeriksa semua toilet dan tidak mendapati Rania berada di dalam, hanya menemukan sweater yang di kenakan Rania, pengawal tersebut pun bergegas keluar dengan membawa sweater yang ditinggalkan Rania di dalam toilet.


Pengawal tersebut langsung mencari tuannya dan melaporkan atas hilangnya Rania.


Begitu melihat panggilan dari salah seorang pengawalnya, Zein yang saat itu sedang berbincang dengan salah seorang temannya berbisnis pun segera menerima panggilan tersebut, pasti ada hubungannya dengan Rania, pikirnya.


"Ya... Ada apa." tanya Zein dengan nada cemas.


"Tu... Tuan, Nyonya menghilang." kata pengawal tersebut dengan suara terbata dari balik ponselnya.


"Apa? Bagaimana bisa kalian kehilangan dia?" balas Zein dengan nada yang sedikit tinggi hingga mengagetkan teman bisnisnya yang sedang duduk bersamanya.


Mendengar pernyataan dari pengawal tersebut, Zein segera beranjak dari duduknya dan berlari mencari istrinya.


Rania...!! Kenapa kau tidak bisa di atur sih? Kau pikir mudah keluar di negeri orang tanpa uang dolar yang kau miliki dan tanpa pengetahuan. Kau benar-benar ceroboh. Zein membatin dengan kesal.


Lalu Zein berusaha menghubungi Rania, namun sayangnya Lagi-lagi Rania tidak membawa ponselnya dan meninggalkannya di dalam kamar hotel.


Rania... Kau benar-benar tidak bisa dipercaya, selalu saja ceroboh meninggalkan ponsel selama bepergian, apa gunanya ponsel jika selalu ditinggalkan? Batin Zein kesal.


Akhirnya Zein pun mengecek rekaman CCTV di hotelnya. Dalam rekaman tersebut terlihat Rania terakhir kali keluar dari dalam toilet lalu keluar melalui pintu depan hotel, dan berjalan ke arah sebelah kanan. Dan setelah itu, tidak ada lagi hasil rekaman yang menunjukkan di mana Rania tepatnya pergi. Kamera CCTV yang terpasang di hotel miliknya memang hanya menjangkau area dalam dan luar sekitarnya saja. Tidak menjangkau jarak yang terlalu jauh.


Cih... Kemana perginya? Batin Zein semakin diliputi rasa kesal dan cemas.


Masalahnya ini bukan negaranya berasal, yang bisa dengan lebih mudah melacak keberadaannya. Ini adalah negara yang sangat ketat dengan peraturan, bagaimana jika ia tertangkap polisi dan tidak bisa menunjukkan identitasnya. Kali ini Zein benar-benar dibuat kesal oleh istrinya.


Dengan segera Zein dan para pengawalnya serta banyak di antara pegawainya juga yang ikut mencari keberadaan Rania.


Sementara itu, Rania tampak masih berkeliling mengelilingi street food yang begitu membuatnya menggugah selera, namun ia hanya bisa memandanginya tanpa bisa memakannya. Dari sekian banyaknya toko yang menjual berbagai macam pernak pernik hingga pakaian, Rania hanya tertarik memandangi street food.


Setelah mulai lelah berjalan - jalan, Rania pun akhirnya duduk di atas kursi di dekat keramaian yang tidak jauh dari street food. Seketika ia diam dan berpikir untuk pulang ke hotel, tapi ia tidak bisa mengingat dengan jelas ke mana ia harus berjalan untuk bisa kembali? Tanpa di sadari, ia sudah berjalan terlalu jauh dan melupakan arah jalan pulang.


Pffft... Di mana ini? Aku bahkan lupa tidak membawa ponselku. Batin Rania bingung.


Rania tampak bingung dan hanya berdiam diri di sana, ia bahkan tidak mengingat nama hotel yang di tinggalinya.


Dengan apa ia bisa menghubungi suaminya? Ponselnya saja tertinggal di kamar hotel, nama hotelnya saja ia tidak ingat, rasa bingung kini semakin menggelayuti dirinya. Sesekali ia mencari wajah-wajah orang Indonesia yang berlalu-lalang.

__ADS_1


Tidak sedikit orang Indonesia yang berada di negeri tersebut mulai dari berbagai macam profesi. Ia ingin sekali menyapa dan bertanya sesama orang Indonesia, kalau-kalau bisa membantunya kembali ke hotel tempatnya menginap. Namun, setelah di pikir, ia tidak tahu nama hotel dan jalannya, jadi terasa percuma saja untuk bertanya. Orang pintar sekalipun tidak akan bisa membantunya menemukan tempat tanpa tahu nama jalan dan tempatnya.


Kemudian seorang perempuan berwajah Indonesia datang dan duduk di samping Rania duduk.


"Hai... Boleh duduk di sini?" sapa perempuan tersebut dengan ramah.


Mendengar ia berbicara dengan bahasa indonesia, Rania pun membalasnya dengan senang hati.


"Tentu saja, silahkan..." jawab Rania tersenyum.


"Kau sendirian di sini? Atau sedang menunggu seseorang?" tanya perempuan tersebut.


"Hem... Sebenernya aku datang bersama suamiku ke sini untuk berlibur, tapi aku pergi keluar sendirian tanpa suamiku dan akhirnya aku tersesat di sini." balas Rania dengan nada lemas.


"Oh begitu... Kau tinggal di mana? Biar aku antar pulang." ucap wanita tersebut.


Wanita tersebut berusaha menawarkan bantuan pada Rania.


"Itu dia masalahnya... Aku lupa nama tempatnya." jawab Rania.


"hem... Susah juga ya kalau begitu." balas wanita tersebut.


"Oh ya... Nama kamu siapa?" tanya Rania bersemangat.


"Panggil saja Merry." balas wanita tersebut.


"Oh oke... Namaku Rania." balas Rania singkat. "Oh ya... Apa kau tinggal di sini?" imbuhnya.


"Enggak sih... Aku tinggal di indonesia, hanya sesekali kali saja aku ke sini dalam urusan bisnis." jelasnya sembari tersenyum.


"Hem... Begitu." sahut Rania.


"Ngomong-ngomong... Apa kau tidak ingin makan? Aku sedikit lapar, kita cari makanan yuk..." usul Merry.


"Heheh... Gimana yah, aku gak punya uang dolar, apa aku boleh menukarnya dengan uangmu?" tanya Rania sembari tertawa kecil.


"Hahaha... Sudahlah, biar aku yang traktir." balas Merry sembari tertawa.


"Benarkah? Ah... Baiklah kalau begitu." Rania tampak senang dan bersemangat.


Kemudian Rania dan Merry beranjak dari duduknya, keduanya berjalan mendekati salah satu tempat jajanan yang menjual sosis dan berbagi macam sea food bakar.


"Kau mau makan apa, Rania?" tanya Merry.


"Aku mau sosis bakar dan juga cumi bakar." jawab Rania tersenyum sembari membayangkan betapa nikmatnya makanan-makanan yang ada di depannya saat ini.


"Baiklah, aku juga pesan yang sama." balas Merry tersenyum.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah siap untuk di santap.


Kemudian keduanya duduk di kursi dan menikmati makanan mereka sembari berbincang.


"Oh ya... Apa kau baru pertama datang ke sini?" tanya Merry sembari menyantap sosis bakarnya.


"Yah... Ini kali pertama aku datang ke tempat ini." jawab Rania sembari meletakkan sosis bakar di tangannya ke atas piring, lalu meraih secangkir teh tarik hangat.


Teh tarik hangat adalah minuman yang cukup populer di sana dan rata-rata di minum oleh sebagian orang.


"Um... Teh tariknya enak sekali." ucap Rania.


"Ya itu juga salah stau minuman favoritku saat berkunjung ke sini." timpal Merry.


"Oh ya... Lain kali kau harus mencoba makanan favorit di sini bersamaku." ucap Merry sembari menatap wajah Rania.


"Ah... Tentu saja, lain kali kita bertemu lagi, bagaimana?" balas Rania tersenyum.


Malam itu, Rania dan Merry tampak asik berbincang satu sama lain menikmati makan mereka di salah satu street food terkenal di kota tersebut.


Di sela-sela makan mereka sembari gelak tawa, tiba-tiba terdengar suara ke arahnya. "Apa kau senang?" tanya laki-laki tersebut.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa dukung author ya

__ADS_1


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Terimakasih.


__ADS_2