Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Menjelang hari pernikahan


__ADS_3

*1 bulan kemudian.


"Rania,,, Apa yang kamu lakukan sepagi ini dengan pakaian rapih? Besok adalah hari pernikahanmu!" Tanya ibunya kesal.


"Aku mau ke butik bu, ada yang harus aku urus di sana." Tegas Rania


Dengan terburu-buru Ia berlari kecil menuju mobilnya pergi ke butik miliknya. Entah apa yang ada di pikirannya? Padahal besok adalah hari pernikahannya dengan Zein, tapi dia tetap bekerja seolah tak ada yang spesial.


Tak ada perasaan apapun yang di rasakan Rania kecuali mati rasa. hatinya sudah terlalu lelah dan terkuras memikirkan soal pernikahannya dengan Zein selama sebulan terakhir ini. Ia hanya mencoba membahagiakan orang tuanya. Karena ia tahu, yang di cintai tak pernah kembali. Dan tak akan mungkin kembali. Baginya kehidupan hanyalah soal menjalani saja, tak perlu ada banyak harapan. Itu terlalu sia-sia, baginya cinta tak lebih dari kebodohan.


Sesampainya di butik, Rania langsung menuju ruang kerjanya dan meletakkan tasnya di atas meja dan menyandarkan dirinya di kursi dengan menghela napas cukup panjang.


Hhhhhhh... Apa benar besok aku akan menikah dengannya? Laki-laki itu sangat kaku seperti kanebo. Gerutu Rania


Lalu ia menjulurkan kedua tangannya dan meletakkan kedua tangan dan kepalanya bersandar di atas meja. Tak sengaja tangan kanannya menyentuh kertas memo berukuran kecil. Ia kembali bangun duduk, melihat dan membaca tulisan yang tertera di memo tersebut. "Masih ada waktu, jika kau ragu, kau boleh membatalkannya." di akhir kalimat, terdapat inisial huruf Z dan tak lupa emoji senyum.

__ADS_1


Siapa pengirimnya? Mungkinkah Zein? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari awal ia mengatakan ini? Lelucon macam apa sebenarnya ini? Batin Rania kesal sambil bertanya-tanya bagaiman memo ini bisa ada di atas mejanya?


"Mell,,, " Teriak Rania, memanggil melly. Asisten pribadinya di kantor.


Melly bergegas menghampiri Rania dan bertanya."Ada apa bu?"


"Bagaiman memo ini bisa ada di atas meja saya mell? Apa kamu tahu siapa yang menaruhnya? Tanya Rania pada melly.


"Itu,,, itu tadi ada laki-laki yang menitipkan ini padaku dan memintaku meletakkannya di atas meja ibu." Jawab melly cepat.


"Hmmm... Gimana ya bu. Dia pakai jas berwarna hitam, badannya tinggi dan wajahnya tampan." Jawab Melly tersipu malu.


"Sepertinya aku tahu siapa orangnya, tapi dia tidak setampan yang kau katakan barusan." Rania menepis kata tampan yang di ucapkan melly.


"Hehehe" Melly tertawa kecil mendengar ucapan Rania.

__ADS_1


Tapi dia memang tampan, apa lagi jika tersenyum. Hmmm... Gumam melly yang masih terpesona dengan ketampanan dan keramahan Zein.


"Mell, jika kamu di jodohkan oleh orang tuamu menikah dengan laki-laki yang tidak kamu sukai, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rania.


"Aku tidak mau menerimanya bu, untuk apa menikah dengan orang yang tidak kita cintai? Itu sama saja dengan menjatuhkan diri kita ke dalam jurang" tegas melly.


Kenapa terdengar sangat mengerikan sih? Batin Rania sedikit takut.


Apa mungkin bu Rania di jodohkan dan tidak mencintai calon suaminya? Batin melly penuh tanya.


Tiba-tiba terdengar bunyi hand phone dari ponsel Rania. "Ah,,, ibu ada apa?" Tanya Rania kebingungan mendapati ibunya menelepon di luar jam biasanya.


"Kenapa kamu pergi ke kantor? Besok adalah hari pernikahanmu dengan Zein, sebaiknya kamu pulang saja dan istirahat di rumah." Perintah ibunya.


"Sebentar lagi aku akan pulang bu, ibu tunggu saja di rumah dan jangan terlalu cemas!" Jawab Rania meyakinkan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2