
Setelah seorang pelukis handal itu membuat sketsa wajah yang mirip sekali dengan pelaku. Ronald memutuskan untuk mencetak sketsa wajah pelaku lebih banyak untuk sebuah pencarian yang dilakukan secara bersamaan dan menyebar. Tentunya dengan bantuan pemilik Resort agar mengerahkan para pekerjanya untuk membantu pencarian. Karena jika hanya mengandalkan orang-orang Zein tidak akan cukup. Dan terakhir adalah rencana penggeledahan secara sopan pada setiap kamar.
Kemudian Zein pun segera menghubungi Yina. Membuka layar ponselnya dan memanggil Yina dari ponsel.
"Ya, Zein. Ada apa?" jawab Yina dari seberang telepon.
"Aku ingin meminta bantuanmu lagi, tolong perintahkan para pekerjamu di Resort ini untuk membantuku mencari pelaku." tanpa basa-basi Zein langsung bicara pada intinya.
"Oh... Tentu saja, Zein. Aku akan memerintahkan pegawaiku untuk mencari pelaku sekarang juga." balas Yina tertawa kecil.
"Oh ya... Nanti aku akan berikan selembaran kertas yang berisi sketsa wajah pelaku. Kau bisa bagikan pada mereka. Aku minta lakukan dengan segera...!" perintah Zein dengan tegas.
"Oke." balas Yina singkat.
"Terimakasih, Yina." ucap Zein.
"Oke sama-sama, Zein." jawab Yina dari seberang telepon lalu mengakhiri panggilan itu.
Zein kembali pada rencana yang di buat oleh Ronald.
"Baiklah kita lakukan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik." perintah Zein dengan segera.
Kemudian sebagian pengawal yang sengaja di bawa Ronald pun mulai mencari dan menyusuri setiap sudut Resort itu. Termasuk para pegawai yang diperintahkan Yina.
Zein tidak ikut mencari, ia lebih memilih menemani istrinya yang saat itu lebih membutuhkan dirinya.
Sementara mereka mencari dan menyusuri setiap sudut Resort termasuk Ronald. Zein memutuskan untuk masuk ke kamar dan menemui Rania.
Kini mereka semua sudah pergi melakukan pencarian hanya tersisa beberapa pengawal untuk berjaga di depan pintu kamar.
Saat Zein mulai bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke dalam kamar, David yang saat itu masih berada bersama Zein tiba-tiba menahan langkah Zein untuk membuka pintu kamar. "Zein... Tunggu sebentar." David menahan langkah Zein dengan memegang lengan Zein. "Ada apa Vid?" tanya Zein bingung.
"Apa yang akan kau lakukan jika pelaku itu tertangkap?" tanya David dengan tatapan serius menunggu jawaban dari temannya.
"Pertanyaan macam apa itu, Vid? Tentu saja aku akan menjebloskannya ke dalam penjara dan menahannya seumur hidup di dalam penjara." jawab Zein dengan tegas.
"Lalu... Bagaimana jika ini murni bukan tindak pelecehan seksual yang di lakukan oleh pelaku terhadap istrimu? Melainkan... Ada otak di balik kejadian ini. Misalnya musuhmu? Apa kau akan memenjarakan otak di balik kejadian ini juga?" tanya David sekali lagi.
"Hey... David, ada apa denganmu? Kenapa kau bertanya yang sudah pasti jawabannya adalah sama dengan yang pertama ku katakan?" tanya Zein curiga dan menatap tajam wajah David.
Seketika David tertegun dan mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Yina beberapa waktu lalu sebelum dirinya menemui Zein.
__ADS_1
🍀 Flas back on 🍀
David menemui Yina terlebih dahulu untuk meyakinkan dugaannya sebelum akhirnya dirinya menemui Zein.
"Hay... Yina, apa kau sibuk?" David menyapa Yina yang saat itu sedang berbicara dengan salah seorang resepsionis Resort.
"Oh... Hay, Vid." balas Yina tersenyum sembari mendekat ke arah David yang saat itu sedang berdiri.
"Apa kau sibuk?" tanya David diiringi senyum andalannya yang mampu memikat para wanita yang melihatnya.
"Ah... Tidak juga. Ada apa, Vid?" tanya Yina lagi sambil tersenyum.
"Begini... Aku harus menghubungi seseorang sekarang juga, tapi ponselku rusak karena terjatuh cukup keras." balas David mencari alasan.
"Oh tentu saja... Kau boleh memakai ponselku." Yina memberikan ponsel miliknya pada David.
David pun meraih ponsel yang di berikan Yina lalu dengan segera menggeser layar ponselnya, namun sbelumnya, ia melirik wajah Yina. Seolah memberi tanda bahwa dirinya perlu privasi.
"Oh... Ya, silakan. Aku akan ke dalam sebentar." Yina meninggalkan David dan ponselnya tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun pada David yang meminjam ponselnya secara tiba-tiba.
Karena selama berteman di kampus yang sama, mereka bertiga tidak ada rahasia satu sama lainnya dan sudah terbiasa saling meminjam ponsel satu sama lainnya.
Dengan segera David pun menggeser layar ponselnya dan membuka beberapa pesan singkat terakhir Yina maupun panggilan terakhirnya di ponsel miliknya.
Dari sekian daftar panggilan terakhir di ponsel milik Yina, David menemukan satu kontak tanpa nama, jiwa penasarannya semakin dalam hingga akhirnya ia beralih untuk melihat pesan singkat yang masuk di ponsel milik Yina dan tidak lupa melihat waktu panggilan terakhir Yina.
Waktu panggilan ini... Sepertinya sama saat kita sedang berkumpul di kafe beberapa waktu lalu, aku ingat sekali, dia sempat menerima panggilan dari seseorang saat itu. Batin David menerka.
Ia beralih melihat pesan, ada satu pesan singkat yang juga memiliki kesamaan nomor dengan panggilan terakhir Yina. Ia semakin penasaran dan dengan segera ia membaca pesan itu.
Isi pesan itu: Maaf, aku tidak berhasil karena seseorang datang dan membantunya. Aku akan kembali mengambil sisanya.
Sejenak David diam dan mencerna isi pesan yang dilihatnya di ponsel Yina.
Mungkinkah Yina...? Batin David seolah tidak percaya.
Namun entah kenapa dugaannya begitu meyakinkan hingga akhirnya ia screenshot isi pesan singkat itu lalu mengirimnya ke ponsel miliknya dan menghapal nomor kontak itu dalam ingatannya.
Dengan cepat ia menghapus foto screenshot barusan di ponsel Yina dan berlagak menghubungi temannya.
Tidak lama Yina pun kembali dan melihat David masih berbicara dengan seseorang menggunakan ponselnya.
__ADS_1
Begitu melihat Yina datang, David pun segera mengakhiri panggilannya dan memberikan ponsel itu pada Yina. "Terimakasih, Yina." ucap David sembari tersenyum lalu memberikan ponsel yang di pinjamnya dari Yina.
"Sama-sama, Vid." balas Yina tersenyum lalu meraih ponselnya.
Setelah itu, David pun beranjak pergi meninggalkan Yina untuk kemudian menemui Zein.
Begitu David pergi, Yina penasaran dan melihat ponselnya. Siapa yang di hubungi David barusan.
Oh... Ternyata David menghubungi dia. Batin Yina lega karena sebelumnya cukup penasaran.
Tanpa menaruh rasa curiga pada David, Yina pun kembali melakukan aktivitasnya.
🍀 Flas back Off 🍀
Zein menatap tajam ke arah David dengan tatapan penuh selidik.
"Jangan-jangan... Kau mengetahui sesuatu?" Zein mendekatkan wajahnya pada wajah David dengan pertanyaan curiga.
"Hahaha... Apa yang kau pikirkan? Kau pikir aku menyembunyikan sesuatu darimu? Untuk apa? Tidak ada untungnya." jawab David menepis rasa curiga temannya itu.
"Jika tidak ada yang kau sembunyikan, alangkah baiknya jika kau bergabung dengan mereka untuk menemukan pelaku itu dan menangkapnya hidup-hidup untukku." pinta Zein dengan senyum getir.
"Baiklah... Ini tidak gratis." goda David sembari menyipitkan matanya.
"Hahaha... Katakan saja apa yang kau minta pada Ronald, jika berhasil menemukan pelaku itu." balas Zein tertawa begitupun dengan David lalu bergegas pergi.
Sementara itu, Zein masuk ke dalam untuk melihat kondisi Rania.
Zein mendekati Rania yang saat itu sedang duduk melamun menatap jendela kaca sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung kasur.
"Sayang... Kenapa tidak tidur?" tanya Zein saat sudah duduk di samping istrinya.
"Aku tidak bisa tidur." jawab Rania pelan.
Tidak lama setelah Zein duduk di atas kasur bersama istrinya. Tiba tiba terdengar suara ketukan dibalik pintu.
*Bersambung.
Jangan lupa dukung author
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca NYT.🤗