
Akhirnya keduanya sampai di bandara, di sela-sela menunggu keberangkatan. Keduanya menikmati sarapan pagi di sebuah kafe yang berada di dalam bandara.
"Sayang... Makanlah, nanti keburu dingin." pinta Zein pada istrinya yang saat itu belum memulai makan karena memikirkan sesuatu.
Entah kenapa pikiran Rania tertuju pada Rey, ia memikirkan apakah kali ini Rey akan pulang ke jakarta lagi dengan pesawat yang sama? Dalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab tentang ketakutan dan kegelisahan yang menyelimutinya tentang mantan kekasihnya itu, apa yang akan direncanakan mantan kekasihnya setelah mereka pulang? Namun pikiran lainnya memintanya agar tetap tenang dan bahagia menjalani kehidupan pernikahan dengan suaminya. Suaminya pasti akan memberikan perlindungan yang jauh lebih baik dari sebelumnya kalau-kalau Rey mengganggu mereka lagi.
"Sayang..." Zein memanggil Rania sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya, lalu menatap wajah istrinya yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
Rania tidak menjawab panggilan dari suaminya karena tidak mendengar akibat pikirannya yang sedang melamun.
"Sayang... Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Zein untuk kedua kalinya sembari menatap wajah istrinya.
"Eh... Bukan apa-apa sayang, aku hanya sedikit gugup naik pesawat." balas Rania menepis pertanyaan suaminya.
"Hem... Ya sudah, cepat makan, sebentar lagi pesawat kita akan segera berangkat." ucap Zein sembari tersenyum.
"Yah..." Rania mengangguk lalu memakan makanan yang ada di depannya.
Zein menatap wajah istrinya. Apa yang sedang kau pikirkan Rania? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Batin Zein penuh selidik.
Tidak lama setelah mereka makan, duduk bersantai sejenak setelah makan, kemudian peringatan keberangkatan pesawat mereka sudah berbunyi.
"Sayang... Ayo pergi sekarang." ucap Zein sembari meraih tangan Rania.
Rania mulai beranjak dari duduknya dan kini mereka berjalan menuju pesawat dengan bergandengan tangan. Di ikuti juga dengan para pengawal mereka yang mengikuti dari belakang.
Setelah kurang dari satu jam perjalanan mereka di dalam pesawat. Akhirnya mereka sampai juga di bandara.
Mereka sudah disambut dengan orang yang menjemput mereka di sana. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah mereka.
Setelah satu jam perjalanan dari bandara menuju rumahnya, akhirnya Zein dan Rania sampai juga di rumah tercintanya.
"Selamat siang Nyonya?" sapa Bibi Ros.
"Siang Bi." balas Rania tersenyum.
Begitupun dengan para pelayan lainnya, mereka turut menyambut kedatangan tuan dan Nyonya yang baru saja pergi berlibur.
Zein dan Rania kini sudah berada di kamar mereka. Rania merebahkan dirinya di atas kasur, di ikuti dengan Zein yang juga ikut merebahkan dirinya di atas kasur. Keduanya pun beristirahat untuk sejenak menghilangkan lelah dalam perjalanan.
🍀Keesokan harinya🍀
Seperti biasa pagi-pagi Zein akan kembali beraktivitas memulai kerjanya.
"Sayang, hari ini aku ke butik yah?" tanya Rania dengan wajah manisnya di sela-sela makan pagi mereka.
"Hem... Apa harus hari ini?" tanya Zein dengan suara lembut, lalu meletakkan gelas di atas meja setelah meminumnya.
"Tentu saja, lagi pula aku sudah rindu dengan tempat itu." balas Rania tersenyum.
"Baiklah, tapi ingat jangan nakal yah?" timpal Zein sembari memperingatkan.
"Tentu saja." balas Rania tersenyum senang.
Zein melirik ke arah pergelangan tangan Rania, jam tangan pemberiannya masih melingkar di sana. Ia tersenyum dan merasa lega meski harus membiarkan wanita yang dicintainya pergi dari rumah. Karena jam tangan tersebut mampu mendeteksi keberadaannya di manapun ia berada.
Kali ini Zein memang berlebihan dalam memperlakukan istrinya, kejadian demi kejadian yang selalu menimpa istrinya adalah alasan kenapa ia harus melakukan pengawasan lebih terhadap istrinya, bukan karena takut istrinya selingkuh atau apapun. Namun fakta kalau mantan kekasih istrinya pernah melakukan tindakan kriminal adalah salah satu alasan terbesarnya memberikan pengawasan lebih terhadap istrinya.
"Sayang... Aku bawa mobil sendiri yah? Soalnya aku mau ke rumah ibu dulu sebelum ke butik, aku mau memberikan sedikit oleh-oleh dari Singapura untuk mereka." tanya Rania sembari menatap manja wajah suaminya.
"Ya sudah... Kau boleh pergi ke tempat ibu, tapi... Kau tidak boleh menyetir mobil sendiri, biar nanti di antar oleh salah satu pengawalmu." balas Zein.
Peffft... Tidak bisakah aku menyetir mobilku sendiri? Ternyata menikah tidak sebebas dulu. Batin Rania kesal.
Rania mulai kesal dengan setiap kebijakan yang di berikan suaminya akhir-akhir ini. Bagaimanapun, dulu Rania adalah wanita yang mandiri dan terbiasa melakukan segalanya sendiri tanpa aturan hidup dari siapa pun, bahkan orang tuanya dulu tidak pernah melarangnya dalam melakukan hal apapun termasuk urusan pribadinya. Wajar saja, jika Rania kini merasa terganggu dengan aturan-aturan yang di berikan suaminya untuk dirinya meski demi kebaikannya.
Lalu Zein beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Sementara itu Rania masih duduk dengan wajah kesalnya.
Cup...
Zein mengecup kening istrinya sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor untuk bekerja.
"Semoga harimu indah, sayang." bisik Zein di telinga Rania.
Rania diam dan tak menjawab ucapan suaminya.
Setelah suaminya pergi, Rania pun beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke rumah orang tuanya.
Dengan membawa beberapa paper bag yang ada di tangannya yang berisi benda yang sengaja di belinya saat berada di Singapura, untuk di bagikan pada orang tua dan adiknya, ia pun segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir tepat di depan pintu rumahnya.
Tidak lama ia pun sampai di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Begitu melihat Rania datang, ibunya yang saat itu sedang berada diluar menyiram bunga, terlihat senang
"Ibu..." Teriak Rania sembari berjalan cepat mendekat ibunya dan memeluknya.
Ibunya menyambut hangat pelukan dari anaknya yang sudah lama tidak di peluknya setelah menikah.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah?" tanya Rania sembari menggandeng lengan ibunya.
"Baik, bagaimana dengan suamimu, Ran?" ibunya bertanya balik.
"Baik juga bu." balas Rania tersenyum.
"Syukurlah... Ya sudah, ayo masuk." ucap ibunya.
Lalu keduanya pun berjalan menuju rumahnya yang tidak jauh dari taman depan rumahnya.
"Ayah ke mana bu?" tanya Rania.
Rania menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, terutama ruang tengah, tempat di mana mereka berkumpul bersama saat masih bersama.
"Ayahmu berangkat kerja pagi-pagi sekali hari ini." jawab ibunya.
"Hem... Begitu, oh ya bu... Ini ada oleh-oleh untuk ibu, ayah dan Tania." ucap Rania sembari menyerahkan paper bag yang ada di di tangannya.
"Wah... Apa ini?" tanya ibunya penasaran sembari membuka isi di dalamnya.
"Buka saja bu." jawab Rania sembari berjalan menuju kamarnya.
"Bu, aku ke atas sebentar yah." ucap Rania sembari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ya." balas ibunya singkat.
Begitu sudah sampai di kamarnya, matanya kini mulai menyapu seluruh ruangan itu. Ruangan yang sudah lama tidak di tempatinya semenjak menikah itu masih terlihat rapih dan bersih, karena pelayan di rumah itu merapikannya setiap hari hingga tak berdebu sedikitpun.
Kamar ini masih begitu rapih dan bersih. Batin Rania tersenyum.
Lalu matanya tidak sengaja melihat sebuah bingkai foto kecil terpasang di atas meja sudut kamarnya. Rania pun melangkahkan kakinya mendekati meja tersebut, melihat lebih dekat foto masa kecilnya.
Ia terkejut begitu menyadari bahwa di dalam foto tersebut ia mengenakan jepit rambut yang menempel di rambutnya dengan warna dan model yang sama seperti jepit rambut yang ada di dalam kotak kaca berukuran kecil yang ada di kamar suaminya. Semakin di lihat dan di cermati, jepit rambut yang di kenakannya memang sama persis dengan yang ada di kamar suaminya.
Ini benar-benar sama... Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku sedalam ini, Zein? Kau bahkan masih menyimpan benda ini di kamarmu. Itu artinya...? Batin Rania menangis begitu tahu kenyataan bahwa suaminya adalah laki-laki yang mencintainya sejak ia masih kecil.
Rania tidak pernah menyangka bahwa ia bisa dicintai sedalam itu oleh suaminya, pantas saja ia merasa Zein begitu menyayanginya dan cenderung mengekangnya. Itu semua karena suaminya begitu mencintainya dan mencemaskannya.
Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.
Ya, ketukan itu berasal dari ibunya, tidak lama setelah mengetuk pintu, ibunya membuka pintu lalu masuk ke dalam, berjalan mendekati Rania yang saat itu masih tertegun memandangi foto dirinya.
"Rania, apa yang kau lihat?"tanya ibunya sembari berjalan mendekati Rania yang membelakanginya.
Dengan suara sedikit serak karena habis menangis, Rania pun menjawab pertanyaan ibunya. "Bukan apa-apa bu, hanya foto masa kecilku saja." balasnya lirih.
Begitu melihat Rania sedang memandangi foto masa kecilnya, ibunya menghela napas untuk sejenak. "Apa kamu merindukan masa kecilmu Rania?" tanya ibunya.
Ibunya berpikir bahwa Rania sedang teringat masa kecilnya karena melihat foto masa kecilnya.
"Bukan itu bu..." jawab Rania sembari berjalan mendekati kasur, lalu duduk di tepi kasur.
"Lalu apa?" ibunya bertanya lagi dan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
Kini keduanya duduk berdekatan di atas kasur.
"Rania... Apa rumah tanggamu bahagia?" tanya ibunya sembari memegang telapak tangan Rania dan menatap wajahnya.
Saat itu Rania terlihat habis menangis, ibunya berpikir bahwa mungkin saja Rania menangis setelah melihat foto dirinya saat masih kecil dan kini ia sudah berumah tangga, bahkan ibunya tahu bahwa pernikahannya saat itu tanpa dasar cinta.
Rania diam dan tak menjawab pertanyaan ibunya. Ia masih termenung dan memandangi jepit rambut di dalam foto tersebut.
"Rania... Kehidupan pernikahan memang terkadang penuh dengan cobaan, ibu mengerti akan perasaanmu yang menikah tanpa rasa cinta, tapi... Kalau kau tahu, suatu saat kau akan benar-benar mencintai suamimu, dan ibu mohon... Hiduplah dengan bahagia bersama suamimu saat ini, Zein adalah laki-laki yang baik dan setia." jelas ibunya sembari memegang bahu Rania.
Mendengar ucapan ibunya, Rania justru semakin terharu dan membuatnya sedih, perkataan ibunya memang benar, suaminya adalah laki-laki yang sangat baik dan setia, meski sebelumnya ia merasa bersalah karena telah memperlakukan suaminya dengan sangat buruk, namun tidak sekalipun Zein memarahinya bahkan menyakitinya.
Tanpa sadar, Rania meneteskan air matanya di depan ibunya, ia sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya di depan ibunya.
"Rania... Kenapa kamu menangis?" tanya ibunya dengan wajah cemas.
"Bu... Apa Zein mengenalku dari kecil?" tanya Rania dengan suara serak.
"Ya, Zein mengenalmu sejak kecil, kalian begitu dekat dan akrab saat itu." balas ibunya meyakinkan.
"Apa ini alasan ibu dan ayah memaksaku menikah dengannya pada saat itu?" tanya Rania masih dengan suara serak menahan tangis.
__ADS_1
Untuk sejenak, ibunya diam, lalu di tatapnya wajah anak perempuannya itu.
"Rania... Orang tua tidak akan salah memilih, kami tidak akan menjodohkanmu dengan laki-laki yang tidak baik." jawab ibunya.
Perkataan ibunya barusan seolah membenarkan pertanyaannya.
Air matanya kini semakin tidak terbendung, menetes dengan deras dan membasahi pipinya.
"Ibu benar... Dia adalah laki-laki yang sangat baik dan perhatian." ucap Rania sembari memeluk tubuh ibunya.
Mendengar ucapan Rania barusan membuat ibunya bahagia, akhirnya apa yang diharapkan mereka sebagai orang tua menjadi kenyataan, putri sulungnya kini hidup bahagia dalam pernikahannya.
"Apa sekarang kau mencintainya?" tanya ibunya penasaran.
Karena ia tahu, putri sulungnya tidak mencintai laki-laki yang dijodohkannya pada saat itu.
"Ya Bu... Kini aku bisa menerimanya dengan tulus." jawab Rania tersenyum.
"Syukurlah... Jika ayahmu tahu, dia pasti akan senang mendengarnya." balas ibunya. "Kau tahu Rania? Ayahmu selalu memikirkanmu, ia takut kau tidak bahagia menikah dengan Zein, ia juga merasa bersalah karena memaksamu menikah dengan Zein." imbuhnya.
"Benarkah...? Aku benar-benar merindukan ayah bu." balas Rania dengan nada manja.
"Datanglah bersama suamimu di hari libur jika ada waktu luang." ucap ibunya sembari tersenyum.
"Ya bu, lain kali aku akan datang bersama suamiku, ayah pasti senang melihat kedekatan kami." balas Rania tersenyum.
Ibunya hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.
"Oh ya... Apa kau sudah hamil?" tanya ibunya dengan wajah penasaran sembari memegang perut Rania.
Rania menggelengkan kepalanya. "Belum Bu."
"Bagaimana mungkin? Bukankah kalian menikah sudah beberapa bulan? Kau tidak bermaksud menunda kehamilan kan?" ibunya memberondong pertanyaan begitu mendengar jawaban dari Rania yang masih belum hamil juga.
"Tentu saja tidak bu... Aku tidak setega itu menghalangi calon bayiku untuk lahir ke dunia." balas Rania meyakinkan ibunya yang tampak cemas.
"Lalu? Apa kau sudah memeriksanya?" tanya ibunya lagi dengan wajah yang semakin penasaran.
"Belum bu, aku pikir kami juga belum terlalu lama menikah, pernikahan kami baru beberapa bulan, biarkan saja sampai waktunya tiba." balas Rania.
Rania tidak bisa mengatakan pada ibunya bahwa malam pertamanya baru di lakukannya seminggu terakhir.
"Ya sudah... Kamu harus sabar, yang terpenting kamu tidak boleh terlalu lelah dalam beraktivitas dan juga menghindari stres." balas ibunya tersenyum.
"Iya bu... Oh ya, aku harus segera pergi bu." ucap Rania di sela-sela obrolan mereka.
"Memangnya mau ke mana? Buru-buru sekali, bukankah kamu tidak ada kesibukan?" tanya ibunya heran.
"Mulai hari ini dan besok aku akan kembali sibuk bu." balas Rania.
"Hem... Sibuk apa?" tanya ibunya dengan wajah penasaran.
"Aku akan membuka kembali butikku bu." balas Rania.
"Untuk apa Rania? Bukankah suamimu sudah memberimu lebih dari cukup?" balas ibunya.
"Berdiam diri di rumah justru akan membuatku bosan dan stres bu, lebih baik aku melakukan sedikit kegiatan demi mengisi waktu di sela-sela menunggu kehadiran seorang anak dalam pernikahan kami." jelas Rania meyakinkan ibunya.
"Ya, kamu benar Rania, ya sudah... Ibu akan mendukungmu selagi itu baik buatmu." balas ibunya sembari tersenyum.
Rania beranjak dari duduknya sembari membawa bingkai foto masa kecilnya dan membawanya ke rumah.
"Aku akan membawanya bu." ucap Rania.
"Bawa saja." balas ibunya tersenyum.
Lalu keduanya berjalan menuruni tangga.
"Aku pulang ya bu, jaga kesehatan dan baik-baik ya bu." ucap Rania sebelum pergi meninggalkan ibunya, lalu memeluk tubuh ibunya.
"Tentu saja, kau juga jaga kesehatan dan sampaikan salam ibu buat suamimu ya." balas ibunya sembari tersenyum.
"Baik bu." balas Rania singkat, sembari melambaikan tangan pada ibunya menuju mobilnya.
Kemudian Rania melanjutkan perjalanannya menuju butik miliknya yang tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
__ADS_1
Terimakasih.