
Akhirnya Ronald dan David sampai di rumah Zein di minggu pagi.
Sementara itu, Zein yang begitu kelelahan masih terbaring di atas kasur lembutnya.
Rania sudah bangun dari pagi. Dan seperti biasa ia sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya yang masih tidur. Tiba-tiba Bibi Ros datang menghampiri Rania yang saat itu tengah asik menata garnis di atas piring secantik mungkin.
"Permisi, Nyonya... Di luar ada tamu sedang menunggu tuan, Zein." Ucap Bibi Ros pelan.
"Tamu? Siapa Bi?" Rania bertanya penasaran.
Siapa yang datang sepagi ini kalau bukan anggota keluarganya? Karena sebelumnya tidak pernah ada yang datang bertamu sepagi ini, apa lagi di hari libur seperti ini. Pikirnya.
"Tolong tanyakan namanya, Bi." perintah Rania.
"Baik, Nyonya." Bibi Ros mengangguk dan bergegas pergi.
Rania saat itu masih sibuk menata makanan di atas piring, merasa tanggung untuk di tinggal sehingga meminta pelayanannya untuk memastikan siapa tamu tersebut.
Tidak lama Bibi Ros datang lagi.
"Nyonya... Katanya namanya David." ucap Bibi Ros.
Saat itu Ronald sedang berada di mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, jadi Bibi Ros tidak tahu kalau ada Ronald. Jika dia melihat Ronald tentu sudah mengenalinya dan mempersilahkannya masuk. Namun yang terlihat hanya David yang sedang berdiri di depan pintu rumah.
Mendengar nama David, Rania mencoba mengingat, dan setelah beberapa detik Rania mulai mengingatnya, bahwa David adalah teman dari suaminya yang semalam datang.
Rania meletakkan garnis terakhir yang ada di tangannya untuk di hias di atas piring lalu mengelap tangannya dengan tisu. "Baiklah, suruh dia masuk Bi." ucap Rania.
"Baik, Nyonya." Bibi Ros mengangguk dan segera menemui David untuk mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
Rania pun segera pergi ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur.
Begitu sampai di kamar, ternyata suaminya masih tidur pulas di balik selimut tebal dan memeluk bantal guling dengan posisi meringkuk.
Rania pun mendekati suaminya dan duduk di tepi kasur sembari menyentuh lembut pipi suaminya.
"Sayang... Bangun, ini sudah pagi." Rania mencoba membangunkan suaminya dengan sentuhan tangan lembutnya di pipi suaminya.
Namun Zein hanya bergumam. Hmmm... Masih ngantuk.
Rania tersenyum simpul mendengar gumaman suaminya.
"Tapi, di luar ada temanmu, sayang." Bisik Rania di telinga suaminya hingga membuat suaminya bergidik terasa geli.
Namun Zein tetap belum sadar sepenuhnya dari tidurnya. Walau ia tampak bergidik geli akibat bisikan istrinya, ia tetap memejamkan matanya dan tidak menghiraukan ucapan istrinya.
Akhirnya Rania mengeluarkan senjata ampuhnya dalam membangunkan suaminya.
Cup, Rania mengecup singkat bibir suaminya.
Meski merasakan kelembutan bibir Rania dan mulai sadar dari tidurnya, namun Zein dengan sengaja tidak bergeming dari tidurnya.
Akhirnya Rania pun mulai kehabisan cara untuk membangunkan suaminya.
Pfttt... Baiklah... Ini cara terakhir. Batin Rania sembari menghela napas dalam-dalam.
Rania merebahkan tubuhnya tepat di samping suaminya, lalu menyentuh dengan sangat lembut bagian leher suaminya dengan tangan lembutnya, mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah suaminya dan mulai memajukan bibirnya hingga menyentuh bibir suaminya.
Saat kedua bibir mereka sudah saling bersentuhan.
Zein sudah merasakan debaran di dadanya. Walau hal itu sering dilakukannya setelah menikah bersama istrinya, tetap saja jantungnya selalu berdebar saat mereka bermesraan di atas ranjang.
Namun Zein berusaha menahan hasratnya untuk tidak melakukan gerakan apapun menimpali istrinya. Ia ingin merasakan seberapa nikmat istrinya dalam melakukan ciuman untuknya.
Akhirnya Rania mulai ******* bibir suaminya dengan gerakan yang sangat lembut dan sesekali menggigitnya pelan lalu mengeluarkan napas tersengalnya hingga tanpa sadar membuat hasrat suaminya kian memuncak.
Zein sudah tidak tahan lagi menahannya. Saat Rania sudah mulai lelah dan kehabisan napas karena melakukan ciuman lebih dulu dan mencoba mengakhiri ciumannya, tiba-tiba Zein menahannya dengan menarik kembali kepala istrinya dan memegangnya dengan kuat lalu ******* bibir Rania tanpa ampun.
Belum puas ******* dan menggigit bibir istrinya, Zein menelusuri leher istrinya, menjilatinya dan menghisapnya layaknya sebuah permen.
Awh... Rania mulai mendesah akibat jilatan suaminya yang memenuhi lehernya. "Sayang, di luar ada tamu yang sedang menunggumu." di tengah-tengah serangan yang dilakukan suaminya secara membabi buta, Rania mencoba menyampaikan maksudnya.
Namun, kenikmatan yang dirasakan Zein saat itu tidak membuatnya mendengar dengan baik, ia tetap melanjutkan aksinya. Rania tampak tidak berdaya dengan kekuatan suaminya setiap kali melakukan serangan hingga membuatnya larut dalam kenikmatan tersebut. Dan akhirnya terjadilah serangan yang kesekian kalinya hingga membuat Rania tak berdaya di buatnya.
Setelah Zein merasa puas dan hasratnya tersalurkan. Ia pun melepaskan tubuh istrinya dan beristirahat untuk sejenak, begitupun dengar Rania. Ia tampak kelelahan dan tak berdaya dibuatnya.
Rania tampak menatap langit-langit atap kamarnya, sementara itu Zein masih memalingkan tubuhnya dan memeluk tubuh Rania sembari memejamkan mata.
"Sayang... Terimakasih untuk vitamin yang kau berikan padaku di awal pagi ini." Bisik Zein sembari tersenyum.
Vitamin? Apa maksudnya? Rania bingung mencerna kalimat suaminya yang terdengar aneh.
Kapan ia memberikan vitamin pada suaminya? Pikirnya.
Pfffft... Rania menghela napas sembari memanyunkan bibirnya.
"Sayang jangan mencoba menggodaku lagi..! Kalau kau tidak ingin kita menghabiskan waktu di kamar seharian." Zein mengancam.
__ADS_1
Cih... Siapa yang menggoda? Jika suara napasku saja di anggapnya menggodanya? Lalu bagaimana jika aku sengaja menggodanya dengan suara desahan-ku? Ah... Suamiku memang aneh. Rania menggerutu dalam hati.
Serangan yang dilakukan suaminya seolah menghipnotis Rania hingga ia lupa apa tujuannya datang ke kamar?
Tuh kan... Aku jadi lupa deh, tujuanku kan untuk membangunkannya, bukan malah berakhir seperti ini. Batin Rania.
Saat Rania sudah mengingatnya, ia pun langsung mengatakannya.
"Sayang, di bawah ada David yang sedang menunggumu." ujar Rania.
"Apa? David? Untuk apa dia datang sepagi ini?" tanya Zein penasaran.
"Entahlah... Aku belum sempat bertemu dan menyapanya. Bibi Ros yang menyambutnya, lalu aku ke atas untuk memberitahumu. Tapi... Kau malah... " jelas Rania. "Kau yang memulainya sayang." Zein memotong ucapan Rania sembari mencubit hidung Rania dengan manja.
"Habisnya kamu gak bangun-bangun sih." Rania membela.
"Hahaha... Lain kali lakukan cara ini lagi ya... Kalau aku susah di bangunin." Zein merayu.
"Ih enak ajah..." Rania meledek dengan menjulurkan lidahnya.
"Tuh kan mulai lagi?" goda Zein.
"Udah ah... Cepat temui David di bawah." desak Rania.
"Iya... Iya... Aku akan turun dan menemuinya." jawab David tersenyum.
Zein beranjak dari atas ranjang dan segera membersihkan tubuhnya. Sementara itu Rania masih terdiam di atas ranjang selama menunggu suaminya selesai mandi.
Rania beranjak dari atas ranjang, membungkus tubuhnya yang telanjang dengan selimut dan berjalan mendekati cermin.
Cih... Banyak sekali tanda merah ini? Bagaimana aku menutupinya? Batin Rania berdecak begitu melihat seluruh bagian lehernya di penuhi dengan bekas gigitan suaminya.
Tiba-tiba Zein keluar dari kamar mandi.
Melihat istrinya sedang berkaca di depan cermin, Zein pun tersenyum gemas.
"Bagaimana gigitanku? Keren kan?" Ledek Zein.
Cih... Keren apanya? Batin Rania sembari memandangi lehernya yang penuh dengan tanda merah.
"Sayang... Aku menunggumu di kamar saja ya." usul Rania.
"Memangnya kau kenapa, sayang? Apa kamu sudah sarapan?" tanya Zein.
"Bukan itu, lihatlah... Seluruh leherku penuh dengan gigitanmu. Bagaimana aku menutupinya?" jawab Rania dengan bibir manyunnya.
Pffft... Baiklah. Batin Rania pasrah.
Rania bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu Zein bergegas menemui Ronald dan David.
🍀Obrolan selama menunggu Zein🍀
Sementara itu di ruang tengah tampak Ronald dan David sedang duduk di atas sofa dengan hidangan makanan dan minuman yang sudah disiapkan Bibi Ros.
"Haish... Sedang apa mereka? Kenapa lama sekali? Ini sudah satu jam setelah kita duduk menunggu mereka di dalam." ucap David sembari melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ronald hanya diam tak menimpali ucapan David, ia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas seraya menarik kedua sudut bibirnya ke bawah.
David penasaran dan mendekati Ronald, kini ia sudah duduk di samping Ronald seraya berbisik. "Pasti mereka sedang wik wik nih"
Mendengar bisikan David membuat Ronald terkejut dan berdesir. Sontak membuat Ronald refleks mendorong tubuh David dari sampingnya hingga membuat tubuh David tersentak dan menyentuh lengan sofa.
"Brengsek... Kenapa tiba-tiba kau mendorongku?" David memaki Ronald karena sudah mengejutkannya.
"Kau yang membuatku terkejut dengan ucapanmu... Hey David, diam dan jangan bicara yang tidak penting." Ronald memperingatkan sembari meraih secangkir kopi dan meneguknya perlahan.
David melirik wajah Ronald yang tegang kala itu dengan seringai liciknya. "Hahahah... Kau pasti belum pernah melakukan itu yah?" ucap David sembari menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Brengsek... Diam atau aku menembakmu." ancam Ronald sembari menyibak jasnya dan meraih senjata api yang selalu di bawanya kemanapun ia pergi.
"Hahaha... Ups..." David meledek dan mengangkat kedua tangannya. "Cih... Seorang yang sangar sepertimu ternyata belum pernah begituan." ledeknya lagi sembari menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kau sendiri... Memangnya sudah pernah?" tanya Ronald penasaran dengan suara pelan.
"Cih... Tentu saja aku sudah pernah." jawab David dengan bangganya.
"Wah... Apa kau sudah menikah?" ujar Ronald dengan tatapan serius menatap wajah David dan bersiap mendengar jawaban dari David.
David meraih secangkir kopi dan menyesapnya. "Agghh... Nikmatnya." ucap David setelah menyesap secangkir kopi lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Ronald masih serius menatap wajah David dan penasaran ingin mendengar jawabannya.
"Apa menurutmu aku terlihat sudah menikah?" David balik bertanya sembari memegang wajahnya memperlihatkan wajah tampannya.
"Aku bertanya kenapa kau malah tanya balik?" Ronald mulai kesal.
Melihat Ronald mulai kesal, David pun mulai bercerita.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku belum menikah." ucap David lemas.
"Lalu? Kenapa kau bilang sudah pernah melakukan itu? Ronald bingung.
"Hem... Aku melakukannya dengan cinta pertamaku." jelas David dengan ekspresi wajah mulai sedih.
"Lalu?" tanya Ronald yang semakin penasaran.
"Lalu terjadilah." jawab David singkat.
"Lalu?" tanya Ronald lagi.
"Lalu dia pergi begitu saja setelah melakukan itu. Hiks..." jelas David dengan wajah yang semakin terlihat menyedihkan.
"Lalu?" tanya Ronald lagi.
"Lalu... Lalu... Dari tadi kau selalu bertanya lalu, tidak ada pertanyaan lain apa?" bentak David.
"Ya terus aku harus tanya apa? Bener dong...! Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya?" tanya Ronald dengan suara pelan.
"Rasanya..." David sedang membayangkan kejadian yang sudah lama itu.
"Rasanya bagaimana?" desak Ronald semakin penasaran sembari menepuk paha David.
"Aw..." David berteriak, pukulan Ronald cukup mengagetkannya hingga ia berteriak.
Beberapa pelayan tampak menatap mereka penuh heran, lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Hey... Kecilkan suaramu! Kau tidak lihat mereka memperhatikan kita?" Bisik Ronald.
"Kau yang membuatku berteriak, brengsek..." timpal David kesal.
"Ya sudah lanjutkan ceritamu..! Bagaimana rasanya?" desak Ronald yang begitu penasaran.
"Arghhhh... Rasanya sulit dijelaskan, kau coba saja dengan pacarmu." timpal David.
Mendengar ucapan David barusan membuat Ronald seketika diam dan termenung.
Melihat Ronald tampak diam, David pun penasaran. "Hey... Jangan bilang kau tidak punya pacar?" tanya David dengan seringai licik.
"Sialan... Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Ronald mendorong wajah David.
"Cih... Ternyata kau lebih menyedihkan dariku." David berdecak.
"Apa hebatnya memiliki pacar?" Ronald menepis hinaan yang terlontar dari David.
"Ah... Sudahlah, aku malas membahas hal ini, membuatku mengingatnya saja." David kesal.
"Hah... Baiklah, lanjutkan yang tadi, lalu apa yang terjadi setelah kalian melakukan itu?" tanya Ronald.
"Pffft..." David menghela napas. "Setelah itu aku dan dia berpisah, dia mencampakan-ku begitu saja dan menikah dengan laki-laki lain." sambungnya.
"Hem... Jadi begitu akhir kisahnya, aku kasihan pada wanita itu." celetuk Ronald.
"Hey... Seharusnya kau lebih kasihan padaku." bentak David.
"Tentu saja wanita itu yang paling di rugikan." timpal Ronald sembari menggebrak meja.
"Jika dia tidak menikah dengan laki-laki itu, aku pasti sudah menikahinya dan mendapatkan anak yang cantik dan juga tampan seperti diriku." bela David dengan percaya diri.
"Ya sudah cari saja wanita lain, masih banyak wanita di luar sana yang akan tertarik pada wajah standar-mu itu." Ledek Ronald sembari melempar tawa liciknya.
"Cih... Tetap saja dialah wanita yang paling aku cintai, sampai saat ini aku belum bisa jatuh cinta pada wanita lain selain dia." ujar David dengan wajah sedihnya.
Meski David dikenal sebagai playboy dengan hobinya yang berganti wanita seminggu sekali. Wajah tampannya mampu menghipnotis para wanita cantik. Namun, faktanya, ia tidak pernah menggunakan hatinya dalam mengencani setiap wanita yang didekatinya. Ia juga tidak pernah meniduri wanita lain selain cinta pertamanya, ia hanya mencium dan mencumbunya saja, setelah puas dan bosan ia akan meninggalkannya begitu saja. wanita-wanita yang dikencaninya hanya sebagai pelampiasannya saja untuk menemaninya yang kesepian setelah ditinggal menikah oleh wanita yang dicintainya.
"Sudahlah, kita ini senasib, kau tidak perlu lebay dalam hal cinta." Ronald mencoba menghibur David yang tampak sedih mengingat dan membuka luka lamanya.
"Kau bicara seperti itu karena kau belum pernah jatuh cinta dan merasakan indahnya setiap pertemuan dengan wanita yang kita cintai." ucap David dengan tatapan kosong membayangkan masa lalunya yang indah.
"Cih... Dasar kau bucin." celetuk Ronald.
"Apa kau bilang? Kau bilang aku bucin? Hey... Dengar yah, suatu saat kau akan lebih bucin dariku." David mengancam namun terdengar seperti kutukan bagi Ronald.
"Jangan bicara sembarangan kau, cabut kata-katamu barusan...!" Ronald tampak marah sembari melempar bantal ke wajah David.
Sett...
Namun sayangnya lemparannya meleset hingga tertangkap oleh Zein yang berdiri di belakang David.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa untuk terus dukung author ya
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
Terimakasih. 🤗
__ADS_1