
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Rania duduk bersandar di di kursi mobil, matanya menatap ke arah jendela kaca mobil. Memperhatikan setiap sudut jalan dengan santai.
Namun matanya menjadi awas, ketika melihat pemandangan seorang gadis kecil yang sedang berdiri di tepi jalan sambil menjilati es krim dengan nikmat.
Mobilnya terus berjalan maju hingga pandangannya pada gadis kecil tersebut mulai menghilang.
"Sayang... Apa yang kau lihat?" tanya Zein dengan penasaran begitu melihat istrinya tiba-tiba menggeser duduknya, dari menyandarkan tubuh di punggung kursi beralih mendekati kaca jendela dan menempelkan kedua tangannya di sisi kaca mobil, seperti baru saja melihat suatu kejadian.
"Tidak apa-apa..." jawab Rania lemas.
Rania lalu menggeser kembali tubuhnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di punggung kursi mobil.
Zein menggelengkan kepalanya untuk sesaat. Dari ekspresi wajah istrinya, sudah bisa ditebak bahwa ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
"Sayang..." panggil Zein dengan nada lembut.
Belum sempat Zein meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Rania menyela.
"Sayang... Boleh aku minta sesuatu?" ucap Rania dengan wajah memelas sembari menempelkan kedua telapak tangannya seperti memohon.
"Tentu saja, sayang... Katakan saja." balas Zein sembari tersenyum manis.
"Tadi aku liat anak kecil makan es krim, sepertinya enak..." jawab Rania sembari tersenyum malu.
"Astaga... Sayang, aku pikir apa? Jadi ternyata yang tadi membuatmu serius menatap jendela kaca karena itu?" sahut Zein dengan nada terkejut sembari tersenyum geli.
Rania mengangguk malu-malu.
"Hahah..." Zein tertawa kecil.
"Kok malah tertawa sih?" tanya Rania dengan wajah heran.
"Sayang... Untuk hal sekecil ini, kau tidak perlu merasa malu ataupun sungkan...! Kau ini yah... Kadang-kadang membuatku gemas." jelas Zein sembari mencubit pipi istrinya.
"Bukan begitu, sayang... Masalahnya, akhir-akhir ini aku terlalu sering merepotkanmu." Rania memasang wajah seolah bersalah.
Meski Rania sangat merepotkan akhir-akhir ini dengan sikap aneh dan juga emosi yang labil. Namun ada sisi manis dari dirinya, ia juga orang yang sadar akan perlakuan dan sering kali merasa tidak enak jika sikapnya itu di rasa berlebihan.
Begitu mendengar jawaban dari istrinya, tiba-tiba Zein memeluk hangat tubuh mungil istrinya dan membelai rambutnya yang pendek sebahu.
"Sayang... Apapun yang kau mau, sekalipun itu sulit untuk di dapatkan, selagi aku mampu mendapatkan dan membelikannya untukmu, itu tidak jadi masalah untukku meski aku harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Kamu adalah segalanya bagiku." ucap Zein dengan nada penuh penegasan. "terlebih saat ini ada anakku di dalam perutmu." lanjutnya sambil mengelus perut Rania.
Seketika Rania mendongakkan wajahnya ke atas dan di tatapnya wajah suaminya yang begitu teduh. Ada raut wajah yang begitu sendu, tatapan mata yang begitu tulus dan aura bahagia terpancar di wajah suaminya.
Ternyata sebahagia itu Zein memilikinya? Pikir Rania.
Perasaan Rania saat mendengar ucapan suaminya barusan, benar-benar membuatnya meleleh hingga membuatnya merasa berpikir bahwa ia adalah wanita paling beruntung di dunia ini. Bisa mendapatkan suami yang begitu tulus menyayanginya dan juga mendapatkan bonus mertua yang baik dan sayang.
"Pak Surya... Jika ada mini market terdekat di tepi jalan, kits menepi ya...!" perintah Zein pada supir pribadinya.
"Baik, Tuan." balas Pak Surya.
Keduanya asik dalam pelukan yang hangat untuk beberapa menit sebelum akhirnya mobil yang di tumpanginya mulai menepi dan berhenti di tepi jalan, tepatnya di depan mini market.
Begitu sudah berhenti.
"Sayang... Biar aku yang turun dan membelikannya untukmu, kau diam di dalam mobil saja...!" kata Zein.
__ADS_1
Rania mengangguk setuju sembari tersenyum.
Jarang sekali Rania bersikap lembut dan penurut. Biasanya ia selalu membantah dan bertentangan dengan suaminya saat melakukan sesuatu.
Namun kala itu, Rania tampak berbeda dan sedikit lembut. Ucapan Zein tadi benar-benar membuatnya merasa tersentuh hingga ke dalam hatinya. Ia bahkan tidak habis pikir, bagaimana mungkin suaminya masih sangat lembut dan perhatian dalam memperlakukan, padahal jika Rania mengingat kembali saat awal pernikahan, ia benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri dan merasa bersalah pada suaminya karena telah berlaku buruk pada saat itu.
Perlakuan buruk yang ia berikan pada suaminya bahkan hingga beberapa bulan dan selama itu bahkan sampai detik ini, suaminya tidak pernah berubah sikap padanya, justru ia merasakan aura kasih sayang yang semakin dalam dari suaminya.
Selama menunggu suaminya di dalam mobil, Rania benar-benar larut dalam lamunannya yang jahat di masa lalu kepada suaminya.
Di tengah-tengah lamunannya tiba-tiba Zein masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya lagi, sembari memegang bahu Rania hingga menyadarkan lamunannya.
"Sayang... Kau sedang memikirkan apa lagi?" tanya Zein sembari menatap wajah Rania yang tengah melamun.
"Eh... Sayang, bukan apa-apa kok. Aku hanya merasa senang karena kau sudah mau repot-repot ke luar dan membelikan es krim ini." jawab Rania sembari tersenyum.
Zein tahu, itu hanyalah jawaban peralihan atas lamunannya saja. Namun Zein tak mau banyak bertanya. Ia lebih suka melihat istrinya tersenyum apa lagi saat istrinya sedang cerewet dan keras kepala, meski terkesan buruk, namun Zein sangat menyukainya, karena saat itulah, Rania jadi terlihat menggemaskan di matanya.
Melihat dua buah es krim di tangan suaminya, Rania pun langsung meraihnya. Rania langsung membuka salah satu es krim tersebut begitu mobil sudah berjalan dan melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk pulang ke rumah.
Emmmmm... Kenapa es krim ini enak sekali? Rania bergumam.
"Sayang... Apa es krim nya enak?" tanya Zein sembari tersenyum menatap wajahnya yang terlihat begitu menikmati es krim yang di genggam di tangannya.
Rania mengangguk, ia tak sempat untuk bersuara meski hanya menjawab Ya. Ia terlalu menikmati es krim tersebut. Biasanya saat dirinya menginginkan makanan untuk di makan, ia hanya mencicipinya sedikit saja lalu menyisakannya. Namun kali ini ia benar-benar menikmati dan menghabiskannya.
Setelah es krim pertama habis, Rania kembali melirik mata ke arah Zein yang sedang memegang satu es krim yang tersisa.
"Wah... Kau benar-benar menghabiskannya, sayang." ucap Zein dengan wajah terkejut disertai senyum.
Zein memberikan lagi es krim yang sudah mulai mencair tersebut pada istrinya.
"Nih... Habiskanlah." kata Zein sembari meminta Rania untuk menghabiskannya.
Zein ingat pesan deket Gea. Bahwa Rania boleh makan es krim dengan jumlah yang wajar jika ia mau. Ada banyak kandungan baik di dalam es krim, salah satunya adalah kalsium yang baik untuk pertumbuhan anaknya di masa perkembangan.
Tidak lama, mereka pun sampai di rumah mereka. Rania sudah selesai makan es krim lalu membasuh kedua tangannya yang tampak lengket karena sisa-sisa es krim yang menempel di tangannya.
Malam harinya.
Saat itu bulan di langit sedang purnama, terlihat cahaya yang begitu terang dan indah. Rania memandangi langit dengan penuh kedamaian untuk beberapa saat. Dalam keheningan malam itu, tidak sekalipun Rania mengingat mantan kekasihnya dulu yaitu Rey. Ia justru sedang membayangkan kehidupannya bersama Zein di waktu mendatang saat bayi di perutnya lahir.
Rania membayangkan kehidupan keluarga yang sangat menyenangkan, dalam bayangannya, ia berlari-lari di taman rumahnya dan menghabiskan banyak waktu di taman setiap sore. Bercanda ria dan saling tertawa bahagia.
Sampai Zein datang dan membuyarkan lamunannya, duduk di sampingnya lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Sayang... Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Zein sembari menyandarkan dagunya di bahu Rania.
Rania tersenyum simpul seraya berkata.
"Aku membayangkan kehidupan keluarga kita yang begitu bahagia bersama anak-anak kita nantinya... Kau berlari dan saling mengejar anak-anak kita dengan gelak tawa." Rania menjelaskan tentang lamunannya barusan.
"Tentu saja sayang... Kehidupan keluarga kita nanti akan jauh lebih indah bersama anak-anak kita kelak." Zein meyakinkan lamunan Rania seolah akan terjadi demikian.
Yah... Manusia memang selalu penuh dengan keinginan yang baik dan mulus, namun terlepas dari semua keinginan manusia. Manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan lah penentu segalanya.
"Sayang... Ini sudah malam, istirahatlah." ucap Zein mengingatkan.
__ADS_1
Zein menggendong tubuh Rania dan meletakkannya di atas kasur. Membaringkan tubuh mungil istrinya dan menyelimutinya dengan selimut tebal dan hangat. Setelah itu, ia pun segera naik ke atas ranjang dan Membaringkan tubuhnya, tepat di samping istrinya.
Tidak lama, keduanya pun terlelap dalam tidur yang nyenyak.
Keesokan harinya.
Senin pagi yang cerah saat itu benar-benar menampakkan semburat cahaya penuh energi.
"Sayang..." panggil Zein dengan nada lembut sembari membelai rambut istrinya.
Mendengar panggilan tersebut, Rania pun mulai membuka matanya yang rapat.
Di lihatnya wajah suaminya dengan tatapan mesra disertai senyum termanisnya, Rania ikut tersenyum lalu membuka matanya lebar-lebar.
Rania menggeser tubuhnya mendekati Zein dan mendaratkan kecupan singkatnya di bibir suaminya lalu bergegas bangun dari tidurnya.
Zein hanya tersenyum senang melihat perlakuan istrinya barusan.
Kemudian Rania langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, begitupun dengan Zein yang bergantian membersihkan tubuhnya.
Sudah beberapa hari selama Rania hamil, dia memang tidak pernah berada di dapur meski untuk sekedar membuat sarapan suaminya. Aroma masakan di dapur yang cukup menyengat, kerap kali membuatnya merasa mual hingga muntah.
Saat Rania bangun tidur dan sudah rapi, ia dan suaminya akan turun bersama ke bawah lalu duduk di kursi makan yang sudah tersedia banyak makanan untuk di pilih.
Tidak lama keduanya pun duduk sambil menikmati sarapan pagi di ruang makan.
Di sela-sela waktu makan mereka, tiba-tiba Rania bertanya soal rencana liburan mereka.
"Sayang..." panggil Rania lembut.
"Ya... Ada apa, sayang?" tanya Zein dengan lembut sembari memotong sandwich lalu memasukkannya ke mulutnya.
"Bagaimana jika liburan kita nanti... Kita ajak Tania dan Ronald." Rania memberi saran.
Jadi kita mau liburan berdua apa liburan keluarga sih? Batin Zein bingung.
Ya, bukan Rania memang kalau tidak memberikan kejutan dengan ide-ide anehnya.
"Aku pikir kita akan liburan berdua saja, sayang..." balas Zein.
"Tadinya aku pikir juga begitu, sayang.. Tapi setelah aku pikir-pikir, lebih seru kalau kita pergi bersama beberapa orang. Pasti akan sangat menyenangkan." bujuk Rania sembari tersenyum.
"Ya... Coba nanti aku tanya Ronald di kantor, apakah dia bisa ikut atau tidak." balas Zein santai.
Saat ini, lebih baik menuruti apapun yang di inginkan istrinya. Pikir Zein.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1