Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Makan siang bersama


__ADS_3

Mendengar pemberitahuan soal wanita yang mencari dirinya. Tentu membuat Rania penasaran.


"Siapa namanya? Apa dia menyebut namanya?" tanya Rania penasaran.


"Maaf, Bu... Aku tidak sempat menanyakan namanya. Karena wanita itu pergi dengan tergesa, hingga ia lupa tidak menyebut namanya saat terakhir kali ke sini" jelas Melly.


"Hem... Baiklah, lupakan saja soal wanita itu dan kembali lah bekerja..!" Jawa Rania, ia membuka kembali berkas-berkas laporan selama dirinya tidak ada di butik.


Melly kembali bekerja, merapikan beberapa baju yang akan di display di patung.


Waktu sudah semakin siang, jarum jam menunjukkan pada angka dua belas.


Setelah selesai membuat beberapa sketsa gaun yang akan di desainnya, sesekali Rania menatap jam yang menempel di dinding.


Jam tangan khusus pemberian Zein beberapa bulan lalu hanya di simpan di dalam lemari oleh Rania. Ia memang tidak suka dengan benda apapun menempel di pergelangan tangannya, karena itu membuatnya jadi tidak nyaman.


Cukup lama Rania menunggu panggilan dari suaminya, berharap Zein menepati janjinya untuk makan siang bersamanya. Namun setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Rania penasaran dan mencoba menghubungi suaminya lebih dulu.


Saat ia memanggil suaminya dan menunggu jawaban dari suaminya, terdengar sebuah ponsel dengan nada dering yang sama dengan ponsel milik suaminya, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Mendadak penasaran karena suara nada dering itu semakin dekat dengannya.


Dan benar saja, Zein rupanya sudah sampai di butiknya dan kini berada tepat di depan meja kerjanya berdiri sambil memperlihatkan paper bag berisi makanan untuk mereka nikmati saat makan siang.


Melihat suaminya berdiri di depannya sambil memperlihatkan paper bag berisi makanan, Rania hanya tersenyum malu.


"Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Rania.


"Sejak kau menghubungiku." balas Zein sambil tersenyum.


Zein menarik kursi lalu duduk di atasnya, meletakkan makanan tersebut di atas meja kerja. Keduanya duduk saling berhadapan.


"Ayo kita makan...! Nanti keburu dingin." pinta Zein pada Rania.


Rania mengangguk seraya berkata. "Aku pikir kau tidak akan datang karena sibuk."


"Tidak ada kesibukan apapun yang bisa mengalahkan ajakanmu." balas Zein menggoda.


"Hahahah.. " Rania tertawa setiap kali mendengar rayuan suaminya.


Sambil membuka box makanan, Rania sesekali menceritakan beberapa hal.


"Sayang... Melly bilang, beberapa hari lalu ada seorang wanita yang datang ke sini dan menanyakanku." dengan antusias Rania menceritakan pada Zein.


"Lalu?" tanya Zein dengan wajah yang ikut antusias.


"Itulah masalahnya, sayangnya Melly tidak menanyakan namanya dan dia pun tidak memberitahukan namanya." jelas Rania sambil melahap makanannya.


"Hem... Aneh sekali." jawab Zein singkat.


"Entahlah..." timpal Rania.

__ADS_1


Zein membukakan tutup botol air mineral yang khusus ia beli untuk Rania lalu memberikannya pada Rania yang tampak ingin minum.


"Sudah... Jangan di pikirkan, itu bukan hal yang penting. Mungkin saja itu teman lamamu." kata Zein mengingatkan.


Rania mengangguk.


Setelah keduanya menghabiskan makan siang mereka. Zein beranjak dari duduknya lalu segera kembali ke kantornya karena masih banyak pekerjaan di kantornya, dan juga ada beberapa meeting yang harus ia hadiri.


" Sayang... Aku kembali ke kantor lagi ya? Kemungkinan aku akan pulang telat. Pulanglah lebih dulu dan jangan menungguku, pukul tiga sore Pak Surya akan datang ke butik dan mengantarmu pulang ke rumah." jelas Zein sebelum pergi dari butiknya.


"Iya, sayang." jawab Rania sambil tersenyum.


Zein tersenyum membalas senyuman Rania, mengusap lembut perut Rania, mengecup kening Rania dan pergi meninggalkan Rania.


Zein sudah meninggalkan butik, Rania pun kembali melanjutkan pekerjaan, meneruskan sketsa yang belum ia selesaikan.


"Mel, bisa tolong ambilkan air putih...!" perintah Rania.


Dibutuhkan konsentrasi dan imajinasi tinggi saat membuat sketsa, hingga membuatnya harus memerintahkan Melly mengambilkan air putih saat dirinya haus.


"Baik, Bu." jawab Melly seraya berjalan ke belakang untuk mengambil air putih.


Rania masih sangat serius membuat sketsa.


Sampai pada pukul setengah tiga, ia mulai merasa lelah duduk di atas kursi empuknya. Ia berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Lalu berjalan-jalan sebentar untuk melihat beberapa gaun yang sudah di ganti dengan gaun yang baru oleh Melly dan di display di patung.


Langkahnya kemudian berhenti pada satu gaun.


Melly langsung menjawab. "Iya, Bu." berlari mendekati Rania.


Saat Melly sudah berada di depan Rania.


"Aku tidak suka melihat gaun ini, tolong di ganti ya...!" perintah Rania.


Begitulah suasana hati Rania saat ini, selalu sesuka hatinya mengubah apapun yang menurutnya tidak enak di pandang.


"Baik,Bu." jawab Melly singkat.


Dengan segera, Melly langsung melepaskan gaun tersebut dari patung dan menggantinya dengan gaun yang lain.


Setelah selesai di ganti, Rania kembali ke meja kerjanya untuk merapikan beberapa berkas untuk ia bawa pulang.


Di sela-sela kegiatannya merapikan berkas, sesekali ia melirik ke area parkir depan butiknya, terlihat mobil suaminya baru saja sampai. Lalu Pak Surya keluar dari mobil untuk menjemput Rania.


Belum sempat Pak Surya masuk ke dalam butik, Rania sudah lebih dulu keluar dan menemuinya.


"Selamat sore, Nyonya." sapa Pak Surya dengan sopan.


"Siang Pak." jawab Rania sambil tersenyum.

__ADS_1


Pak Surya membukakan pintu mobil lalu Rania pun segera masuk ke dalam.


Setelah beberapa saat ia berada di dalam mobil, tiba-tiba Zein menghubunginya.


Ada apa menghubungiku? Apa ingin memastikanku pulang...? Rania membatin.


Dengan segera Rania menekan tombol hijau di layar ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut.


"Iya sayang... Ada apa?" tanya Rania.


"Tidak apa-apa, apa kau sudah berada di. Mobil bersama Pak Surya?" tanya Zein memastikan.


"He'em..." jawab Rania dengan nada lemas.


"Loh... Kok jawabnya lemas gitu?" sahut Zein dari seberang telepon.


Hoaaammm


Tiba-tiba Rania menguap.


"Sayang apa kau mengantuk?" tanya Zein.


"Sepertinya... Mungkin karena selama beberapa minggu di rumah sudah terbiasa tidur siang, dan hari ini tidak tidur siang." balas Rania menjelaskan.


"Tuh... Kan, kau pasti kelelahan, sudah aku bilang untuk diam di rumah." balas Zein dengan nada sedikit cemas.


"Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedikit mengantuk." balas Rania.


"Baiklah, setelah sampai di rumah, segera istirahat...!" perintah Zein.


"Iya, sayang." balas Rania singkat.


Panggilan singkat itu pun berakhir.


Selama dalam perjalanan, karena terlalu lelah membuat sketsa, akhirnya Rania tidak bisa menahan rasa kantuk yang menggelayuti matanya, membuatnya tertidur di dalam mobil hingga sampai.


Zein pun segera berangkat bersama Ronald untuk menghadiri meeting di luar kantor bersama rekan bisnisnya.


Bersambung\=\=\=>


Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.

__ADS_1


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2