Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Sarapan pagi bersama


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda di rumah Zein, dimana hanya ada Zein dan Rania serta beberapa pelayan di rumah. Rania dan juga Zein tidak terikat apapun dalam sebuah pekerjaan, sehingga mereka tidak harus mengambil cuti untuk bulan madu setelah menikah. Karena mereka sama-sama menjadi bos di tempat mereka bekerja. Bedanya Zein lebih unggul karena memiliki lebih dari satu perusahaan yang sangat berkembang di bawah kepemimpinannya. Belum lagi usaha kecilnya, yaitu beberapa kafe dan pusat perbelanjaan (mall) yang tersebar luas di berbagai kota.


Sarapan pagi sudah tersaji di meja makan. Ada banyak menu yang bisa dinikmati.


Zein yang sudah lebih awal duduk di meja makan, memerintahkan salah satu pelayannya untuk memanggil Rania yang masih berada di kamar.


Tok..tok..tok..


Begitu mendengar suara ketukan pintu, Rania yang sedang berdandan di depan cermin bergegas membukanya.


"Bibi, ada apa?" Tanya Rania.


"Itu nyonya... Tuan Zein menyuruh bibi memanggil nyonya untuk segera turun dan sarapan pagi." Jawab salah satu pelayan sambil menundukkan kepala pertanda memberi hormat.


"Ah.. Iya sebentar lagi aku turun bi." Tegas Rania, lalu menutup kembali pintu kamarnya.


Kira-kira hari pertama di rumah ini, mau melakukan apa yah? Hmm.. Sudahlah biar aku ikuti Zein saja. Pikir Rania penasaran.


Kemudian ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu hingga matanya tertuju pada Zein yang sedang menatapnya. Dengan segera ia duduk di samping Zein.


"Rania, makanlah!" Ucap Zein sambil melempar senyum tipis.


"Hmm... Iya?" Jawab Rania singkat.


"Ini...!" Zein menyodorkan beberapa stiker di samping tangan Rania. Stiker yang menunjukkan beberapa tempat wisata untuk bisa dipilih oleh Rania.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Rania sedikit penasaran disertai gerakan mata melirik ke arah stiker.


"Lihat saja..! Silahkan kau pilih sesuka hatimu, tempat mana saja yang ingin kau kunjungi!" Jelas Zein sambil melirik dan melempar senyum tipis.


Dengan penasaran, Rania melirik kemudian mengambilnya dan melihat isi dari stiker itu.


Apa... Inikan, apa ini artinya dia berusaha mengajakku untuk pergi berbulan madu? Rania terkejut, melihat isi dari stiker yang dipegangnya adalah beberapa tempat wisata ke luar negeri.


"Kau hanya tinggal memilih..! Aku yang akan mengurus segalanya." Ucap Zein lembut.


"Tapi, Aku tidak bisa memilih satupun di antara ini, Zein." Ucap Rania dengan nada lembut.


"Kenapa?" Jawab Zein singkat, memalingkan wajahnya ke arah Rania sambil mengernyitkan dahi.


"Karena aku tidak memerlukan semua ini." Ucap Rania pelan.


"Kita?" Rania bertanya dengan wajah sedikit bingung.


"Tentu saja" Ucap Zein santai sambil menarik tipis bibirnya.


"Apa maksudmu Zein? Aku benar-benar bingung. Kenapa tidak katakan saja inti dari semua ini?" Ucap Rania tergesa.


"Jika kamu bingung, aku akan lebih bingung darimu. Rania, aku tidak sedang berbicara dengan anak kecil yang harus dijelaskan bukan?" Jawab Zein tegas sambil menghela napas. Ada raut kesal di wajahnya.


Kenapa dia? Apa dia salah makan? Kenapa nada bicaranya jadi tinggi seperti itu? Hmmm... Dasar aneh. Gerutu Rania penuh kekesalan.

__ADS_1


"Aku tidak butuh ini dan tidak mau pergi..!" Ucap Rania singkat, sambil menggeser kembali stiker yang diberikan Zein untuknya.


"Kalau begitu, aku akan pergi dengan orang lain." Ucap Zein kesal.


"Kau akan pergi dengan siapa?" Tanya Rania penasaran.


"Entahlah, bisa dengan sekertarisku, teman perempuanku atau siapapun yang mau. Karena aku yakin tidak akan ada yang mampu menolak untuk ini." Jawab Zein sambil mengernyitkan dahi dan mengangkat kedua bahunya. Padahal ia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali Rania.


Rania terdiam untuk beberapa saat, Berusaha mencerna kalimat yang ia dengar dari mulut Zein. Seolah tidak percaya dengan yang dikatakan barusan oleh Zein. Dalam benaknya, Zein hampir tidak pernah terlihat cacat sikap sedikitpun, Zein tidak pernah menyinggung atau pun berbicara hal yang tidak masuk di akal seperti yang barusan dikatakan.


"Sepertinya aku sudah kenyang, aku ingin ke kamar sebentar." Tanpa membalas perkataan terakhir Zein. Rania bergegas pergi menuju kamar dan berlalu meninggalkan Zein yang saat itu masih duduk di meja makan.


Sementara itu, Zein tetap duduk di meja makan dengan posisi menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di bawah dagu sambil berpikir. Ada perasaan bersalah atas sikapnya barusan pada Rania.


Sikap tegasnya pada Rania bukanlah tanpa alasan, meski harus menyakiti dan menyinggung Rania. Zein sadar bahwa ia tidak memiliki tempat di hati Rania sedikitpun. Itu sebabnya ia harus bersikap sedikit lebih tegas pada Rania demi upaya mendapatkan sedikit tempat di hati Rania, setidaknya dengan melakukan pendekatan lebih dekat meski terkesan memaksa.


Bersambung.


Tolong dukung aku yah biar makin semangat nulisnya, dengan cara:


➡️klik suka


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)

__ADS_1


➡️terakhir beri sedikit vote dan tip.


Terimakasih semuanya. 🤗


__ADS_2