Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Perbincangan bersama Tania


__ADS_3

Pertanyaan Tania yang tidak sengaja membuatnya terpaksa mengingat kembali masa lalunya bersama Rey.


"Kalau kakak tidak bersama dengan cinta pertama kakak? Lalu kak Zein cinta ke berapa bagi kakak?" entah kenapa, Tania begitu ingin membahas soal percintaan dengan kakaknya pada hari itu.


Rania menghela napas untuk sesaat, meraih sebuah bantal kecil yang ada di samping sofa dan mendekapnya.


"Zein adalah cinta kedua setelah cinta pertama kakak berakhir dan tak berujung." jawab Rania dengan tatapan kosong. "Tapi... Meski Zein adalah cinta kedua kakak, dia juga cinta terakhir yang menutup dan mengunci hati kakak rapat-rapat." lanjutnya.


Mendengar jawaban dari kakaknya, Tania yang mendengarkan penuh penghayatan itu seolah tersentuh.


"Uuuh... So sweet sekali sih kak." Tania menyanjung kakaknya dengan ekspresi wajah tersenyum.


Rania menatap wajah Tania dan di tatapnya dengan wajah polos yang baru saja mengenal cinta.


"Perjalanan-mu masih sangat panjang, Tania... Jika kau jatuh cinta pada usiamu saat ini, saran kakak... Jangan terlalu mencintainya...! Sebab kau tidak akan tahu, hatimu akan berakhir pada cinta yang ke berapa?" Rania seolah memperingatkan adiknya agar tidak terlalu serius menanggapi perasaan cintanya.


"Kali ini aku tidak setuju dengan pernyataan kakak...!! Cinta itu harus di jalani dan di rasakan dengan sepenuh hati kak, bukan setengah hati dan terkesan main-main." Tania membantah peringatan dari Rania.


"Tania... Kau ini masih belum tahu apa-apa tentang cinta, sekarang kau boleh mengatakan ini, tapi suatu saat ketika kau menjalaninya, kau akan mengerti maksud dari ucapan kakak." balas Rania dengan nada tegas.


"Meski aku belum mengerti dan tahu banget artinya cinta... Tapi aku yakin, cinta pertamaku akan menjadi cinta terakhirku juga." ucap Tania dengan penuh keyakinan.


"Ya semoga saja..." balas Rania. "Tapi, ngomong-ngomong... Siapa sih orang yang berhasil membuatmu jatuh cinta?" Rania bertanya karena penasaran.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Tania bingung harus menjawab apa? Tidak mungkin ia mengatakan dengan jujur soal perasaannya pada Ronald, bahkan ia sendiri tidak yakin tentang perasaannya saat ini. Entah itu cinta atau hanya sebatas rasa tertarik.


"Entahlah kak... Aku sendiri belum yakin atas perasaanku saat ini. Aku tidak tahu apa arti dari perasaanku saat ini? Aku sendiri masih menerka-nerka." balas Tania dengan wajah penuh keraguan.


"Jika kau tidak yakin... Sebaiknya jangan terlalu dipikirkan...!" Rania memberikan saran.


"Bagaimana aku tidak memikirkan? Aku bahkan tidak bisa berhenti memikirkannya... Apa lagi saat aku bertemu dengannya." sahut Tania.


Bertemu...? Siapa sebenarnya laki-laki yang di sukai oleh Tania? Rania semakin penasaran.


"Tania... Apa pagi ini kau bertemu dengan laki-laki itu?" Rania bertanya dengan pertanyaan menjebak.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan kakaknya, Tania sadar bahwa itu pertanyaan menjebak.


Jangan-jangan kakak tahu laki-laki yang aku maksud...? Tania membatin penuh rasa cemas.


Rania menatap dalam mata Tania yang terlihat bingung dan menyembunyikan sesuatu darinya.


"Heheh... Apa maksud pertanyaan kakak? Aku tidak mengerti." jawab Tania berlagak bingung.


Rania masih menatap dalam wajah Tania, seolah mendesak jawaban dari Tania.


Beruntungnya, sebelum Tania menjawab. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.


Tok tok tok


Mendengar suara ketukan di balik pintu, Rania pun bangkit dari sofa, berjalan mendekati pintu untuk segera membuka pintu.


Begitu pintu di buka, sudah ada Bibi Ros yang sedang berdiri dengan membawa semangkuk bubur sayuran,air putih dan beberapa macam buah segar.


"Selamat pagi, Nyonya, Bibi bawa sarapan pagi untuk Nyonya." kata Bibi Ros dan tak lupa menyapa.


"Iya Bi... Biar aku bawa." balas Rania sembari meraih nampan berisi makanan tersebut.


Seperti biasa, Bibi Ros memang di perintahkan untuk mengawasi Rania saat makan, terlebih saat sekarang ini tidak ada Zein di rumah.


Tania hanya memperhatikan Rania dan Bibi Ros dari jauh.


"Tentu saja Bi... Silahkan." jawab Rania dengan suara lembut lalu tersenyum.


Bagaimana pun Rania tidak bisa membenci Bibi Ros karena untuk saat ini privasinya sedikit terganggu. Karena yang Bibi Ros lakukan tentu juga atas dasar perintah suaminya. Meskipun sangat tidak nyaman sekali di lihat dan di perhatikan saat kita sedang menikmati makan.


Rania berjalan mendekati sofa, duduk dan mulai melahap bubur buatan Bi Ros, meski masih merasa mual, Rania berusaha menelannya demi anak di dalam kandungannya. Setelah memakan lima sendok bubur, karena sudah mual, ia menyisahkannya, meraih potongan buah apel dan pisang walau hanya beberapa potongan kecil.


Tania yang duduk di samping Rania merasa sedikit heran, apa setiap kakaknya makan selalu di temani dan di awasi oleh Bibi Ros? Pikir Tania.


Setelah selesai, Rania pun menyerahkan mangkuk nampan tersebut pada Bibi Ros dan seperti biasa, Bibi Ros baru akan keluar jika Rania sudah memakan makanan tersebut walau sedikit.

__ADS_1


Bibi Ros pun segera turun untuk memberikan laporan pada Zein.


Drrrt... Drttt...


Suara ponsel Zein berbunyi, Zein yang masih berada di dalam bandara menunggu jam keberangkatannya langsung merogoh ponselnya yang tersimpan di dalam saku jas nya.


Telepon rumah... Pasti laporan dari Bibi Ros. Batin Zein.


"Iya Bi... Nyonya makan berapa sendok hari ini? Tanya Zein dari dalam ponselnya.


"Hari ini Nyonya makan sebanyak lima sendok, Tuan." balas Bibi Ros.


"Baiklah, itu sudah lebih baik dari sebelumnya." sahut Zein. "Oh ya... Apa dokter Gea sudah datang ke rumah?" tanya Zein penasaran.


Pasalnya, Zein sudah meminta dokter ahli kandungan yaitu dokter Gea untuk berada di rumahnya menjaga kesehatan Rania selama dirinya di Singapura.


"Belum, Tuan... Mungkin sedang dalam perjalanan, Tuan." jawab Bibi Ros.


"Hem... Begitu, ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa dengan Nyonya, segera kabari aku ya Bi..!" pinta Zein dengan nada tegas.


Setelah pembicaraan di telepon selesai. Bibi Ros pun kembali bertugas.


Sementara itu di kamar Rania.


"Kak... Apa setiap kali kakak makan, Bibi Ros selalu berada di sini untuk mengawasi kakak?" Tania bertanya penuh rasa heran.


"Sebenarnya kakak makan di kamar seperti ini... Baru semenjak kakak hamil aja dek, sebelumnya kakak dan Zein makan di ruang makan. Semenjak hamil, kakak jadi malas makan di bawah. Jadi, Bibi Ros selalu datang ke kamar mengantar makanan dan memastikan kakak benar-benar memakannya, karena kakak tidak mau makan sebelumnya. Makanya Zein memerintahkannya seperti itu." Rania menjelaskan.


Mendengar penjelasan dari kakaknya, Tania pun mulai mengerti.


"Hem...begitu, aku mengerti." Tania mengangguk.


Bersambung\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


TERIMAKASIH. 🙏🏻


__ADS_2