
Entah kenapa jantung Rania berdebar ketika hampir saja Zein menciumnya karena kakinya terpeleset. Sebaliknya, jantung Zein berdebar sangat kencang dan tak beraturan. Hingga Rania bisa merasakan pergerakan jantung yang begitu cepat. Untuk seketika mereka diam dan hanyut dalam keadaan. Menyadari ada yang tidak beres dengan jantungnya, Rania segera mendorong Zein, namun kekuatan ditangannya belum kembali maksimal. Zein yang masih terpaku akan wajah cantik Rania dari dekat, ia terus menindih di atas tubuh Rania.
Bolehkan aku mencium-mu? Batin Zein penuh hasrat.
Sementara itu Rania merasa sudah semakin berat menopang tubuh besar Zein. "Zein.... Bangun! Kau sangat berat." Ucap Rania dengan napas yang terengah.
Kemudian Zein segera bangun. "Ma... Maafkan aku Rania, sepertinya bekas tumpahan makanan dan minuman tadi, masih tertinggal di lantai." Ucap Zein terbata.
Rania tampak diam untuk sementara waktu. Masih tidak menyangka kenapa jantungnya berdebar dengan cepat ketika berada sedekar itu dengan Zein. Tapi ia mencoba menepisnya. "Ti... Tidak apa-apa Zein." kata Rania pelan.
Zein berlalu dan kembali ke sofa untuk menenangkan jantungnya yang masih saja berdebar dan tak mau berhenti. Berjalan menuju sofa dengan tangan kanan menegang dada. Sementara itu Rania yang tampak kikuk juga bingung.
*keesokan harinya*
Seperti biasa Zein meninggalkan Rania pagi-pagi sekali untuk urusan kantor.
Sementara itu Rania yang masih tertidur pulas, terbangun dan melihat memo yang isinya sama seperti kemarin.
Hmmmm... Apa dia benar-benar gila kerja? Rania membatin. Kemudian ia mulai menggerakkan kedua kakinya dan menggunakan tongkat. Ia tidak ingin berlama-lama di kursi roda. Tangannya mulai meraih tongkat. Namun tiba-tiba Dokter Viona datang dan membantu memapahnya berdiri.
"Dokter... Aku ingin coba memakai tongkat dan melatih berjalan." kata Rania sembari tersenyum.
"Tentu saja nyonya, silahkan berlatih berjalan dengan tongkat." Tegas Dokter Viona sembari senyum.
"Dok, kira-kira sampai kapan aku bisa berjalab normal lagi?" Tanya Rania.
"Sebenarnya besok juga sudah bisa berjalan normal lagi, apa lagi jika hari ini nyonya melatih berjalan. Bisa jadi akan lebih cepat." Dokter Viona menjelaskan.
"Aku juga merasakan sudah agak lebih baik dok, makanya aku ingin berjalan jalan." Ucap Rania tersenyum.
Mereka hanyut dalam pembicaraan sederhana. Sampai waktu hampir menjelang sore. "Dok, sepertinya aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat lagi." Kata Rania senang. "Benarkah? Cobalah berjalan tanpa menggunakan tongkat!!" Viona membalas.
Dan Rania mulai bisa berjalan tanpa tongkat, walau belum bisa berjalan dengan normal.
Senja mulai hilang ditelan gelapnya malam. Rania duduk menekuk kedua kakinya dan membuat lingkaran dengan kedua tangannya yang mengikat kedua lututnya, menempelkan dagunya di atas lutut. termenung di sofa yang menghadap kaca besar. Sesekali matanya terpejam. Ingatan lalu, kerap kali membuatnya gusar.
*Enam Tahun lalu*
Seorang laki-laki yang masih remaja, dengan setelan sekolah yang masih menempel ditubuhnya. Ya, dia adalah Rey Savian.
Menggendong seorang gadis yang masih berseragam sekolah terbujur kaku dipinggir jalan, seluruh tubuhnya bersimbah darah.
Kecelakaan maut bus sekolah yang menyebabkan 60 siswa-siswi terluka parah, beberapa di antaranya meninggal ditempat. Dan sisanya terluka parah, Rania adalah termasuk di antaranya yang terluka parah. Kepalnya terbentur hingga membuatnya mengalami kehilangan beberapa ingatannya di masa kecil. Ia hanya bisa mengingat ingatan di atas usia 10 tahun.
Rey saat itu tidak terluka parah dan hanya luka sedikit dibeberapa bagian tubuhnya, berusaha mengangkat dan menggendong tubuh Rania meski langkahnya tergopoh. Beberapa mobil ambulan berjejer mengangkut korban kecelakaan. Rey satu mobil ambulan dengan Rania menuju Rumah Sakit terdekat.
Rania dan Rey memang satu sekolah. Tapi Rania yang terlalu kutu buku dan kurang bergaul membuatnya tidak terlihat di mata Rey yang saat itu adalah seorang ketua Osis.
Setelah kecelakaan itu, Rania dinyatakan sembuh total.
Namun Rupanya Rania masih mengingat dengan jelas wajah Rey yang saat itu menggendongnya dan menyelamatkannya dari kecelakaan. Ia mengingat dengan jelas wajah Rey, sampai memenuhi ingatannya. Setelah ia sembuh dari luka. Ia berusaha mencari Rey untuk berterimakasih. Langkahnya terhenti di sudut tangga. Ya, Rey duduk di sana dengan sepotong buku komik membuatnya tertawa-tawa sendiri ketika membacanya. Namun langkah kaki Rania nampaknya terlalu keras hingga membuatnya berhenti tertawa untuk sejenak.
__ADS_1
"Te... Terimakasih." Setelah mengucapkan kata terimakasih dengan terbata, belum sempat Rey melihat wajahnya, Rania berlari kencang hingga membuatnya menabrak salah seorang temannya dan menumpahkan minuman hingga mengotori kemeja putihnya.
Rey berusaha mendekati Rania, namun Rania justru berlari dan menghilang.
Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi di mana ya? Batin Rey penasaran.
Rey hanya mengingat tas yang dikenakan Rania saat itu. Tak ingin repot, Rey pun mau menggubrisnya. Hingga pertemuan kedua terjadi di gerbang sekolah.
"Hey... Kau yang kemarin bilang terimakasih, bukan?" Tanya Rey pada Rania yang saat itu tampak malu dan diam.
"I... Iya." Jawab Rania singkat, berjalan cepar menuju kelas.
"Hey... Aku belum selesai bicara!" Teriak Rey kesal.
Namun Rania tak menghiraukannya, justru berjalan sangat cepat meninggalkan Rey yang mengejarnya. Kemudian masuk ke dalam kelas. Rey hanya melihat Rania memasuki sebuah kelas.
Oh dia di kelas itu. Batin Rey puas, lain waktu ia akan menemui Rania perihal ucapan yang membuatnya bertanya-tanya.
*keesokan harinya*
Hari itu adalah jadwal pemeriksaan Osis. Ketika Rey memasuki kelas Rania, Rey berharap bisa menyita barang bawaan terlarang yang Rania bawa. Seperti hand phone. Tapi sayangnya, Rey tak menemukan satupun hal yang melanggar dari Rania hingga membuatnya kesal.
*keesokan harinya*
Rey sengaja menunggu Rania di depan gerbang. Namun Rania tak kunjung datang dalam beberapa hari. Membuatnya semakin penasaran dan mencari tahu pada temen sekelas Rania. Kemudian ia tahu, bahwa Rania sedang sakit dan di rawat di Rumah sakit.
Nampaknya kalimat terimakasih yang di ucapkan Rania waktu membuatnya terusik. Hingga membuatnya ingin tahu lebih dalam.
Tiba-tiba Rania membuka matanya dan menyadari Rey yang sedang berdiri memandangnya, sontak membuat Rania terkejut.
"Kau sudah sadar rupanya?" Tanya Rey sembari menarik kedua sudut bibirnya.
"Bagaimana kau ada di sini?" Tanya Rania lirih menahan sakit di kepalanya.
"Kau tidak perlu tahu, aku hanya ingin tahu, apa maksud ucapan-mu waktu itu?" Rey bertanya lagi dengan tatapan memaksa.
Kenapa matanya begitu menakutkan? Rasanya sangat berbeda jauh ketika ia menggendongku saat itu! Rania membatin, mengingat saat dirinya di gendong Rey saat kecelakaan beberapa bulan lalu.
"Aku hanya ingin berterimakasih. Itu saja." Jawab Rania sinis.
"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bohongi? Mana ada orang bilang terimakasih tanpa sebab? Apa kau melihatku di dalam mimpimu, lalu menolongmu, dan itu sebabnya kau berterimakasih padaku?" Ucap Rey penuh kekesalan.
Dalam kondisi Rania yang masih sakit di rumah sakit, nampaknya tak membuat Rey kasihan dengan tetap berkata keras di depan Rania.
Rey memang tidak jahat, namun Rey memiliki sifat yang cenderung pemarah. Apa lagi jika dirinya merasa terusik. Jelas, ucapan Rania saat itu membuatnya terusik selama beberapa hari.
Dasar cewek aneh. Ucap Rey, lalu pergi meninggalkan Rania.
Dia pikir bisa mengerjai-ku dan membuatku penasaran begini? Siapa dia? Beraninya dia!! Rey membatin penuh kekesalan.
Beberapa hari berlalu. Rania pun sudah kembali ke sekolah seperti biasanya. Namun ia terkejut mendapati Rey yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Berpura-pura tidak melihat adalah cara terbaik bagi Rania saat itu. Namun sayangnya Rey tidka melepaskannya begitu saja. Rey justru menarik tas Rania dari belakang dan membuat Rania menghentikan langkahnya.
"Apa kau lupa ingatan?" Tanya Rey, sembari menunjukkan wajahnya di depan wajah Rania.
Rania tidak bisa berkutik, bingung harus berbuat apa. Selamat pagi pak. Ucap Rania, kemudian dengan segera Rey melepaskan tas Rania yang dipegangnya. Dan dengan segera juga, Rania pergi meninggalkan Rey. Hatinya puas karena bisa membodohi Rey.
Sial, beraninya dia menipuku!! Batin Rey penuh amarah.
Tidak berhenti di situ. Rey sengaja mengikuti Rania pulang sekolah. Kebetulan Rania tidak dijemput pulang oleh supir pribadi ayahnya. Dia pun terpaksa naik angkot dua kali.
Rania tidak sadar, Rey mengikutinya dari belakang angkot. Sampai ketika ia turun dari angkot dan berjalan menuju angkot selanjutnya. Namun hari sudah mulai gelap, disebuah halte, Rania yang duduk sambil menunggu angkot. Tiba-tiba dua orang pria seusianya berusaha menggodanya, belum sempat menyentuh wajah Rania, Rey memegang tangan dua pria itu dan memukulnya dengan sangat keras. Keduanya pun berlarian tunggang langgang meninggalkan Rania.
Masih merasa takut, Rania diam dan tak. Menyadari pria yang menolongnya barusan adalah Rey, pria yang sama yang pernah menolongnya ketika kecelakaan lalu.
"Hey... Kau." Ucap Rey keras.
Kemudian Rania menengok ke arah Rey dan menyadari Rey yang telah menolongnya. Ia pun hanya bisa diam. Dalam benaknya, apa Rey tercipta untuknya? Beberapa kali Rey menolongnya. Kemudian ia tersadar.
"Sebetulnya aku ingin marah padamu, tapi ini sudah gelap. Sebaiknya ikut denganku. Biar ku antar kau pulang!" Ucap Rey sembari mengangkat helm.
Tanpa penolakan, Rania mengiyakan ajakan Rey untuk pulang bersama naik motor.
Sepanjang perjalanan, Rania hanya terdiam. Berada di atas motor dengan udara yang meniup rambutnya. Membuatnya melayang, tidak habis pikir dibuat Rey, Rey yang selalu membuatnya terkesima.
Sejak saat itulah keduanya semakin dekat hingga akhirnya menjalin cinta.
Namun Cinta Rania hilang bersama dengan kepergian Rey yang pergi tanpa kabar sejak kelulusan sekolah.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu terdengar dibalik pintu, membuyarkan lamunan Rania tentang masa lalunya. Menyadarkan Rania tentang kenyataannya saat ini, menjadi istri dari Zein Arka. Mengharuskannya melupakan masa lalunya dan membuka diri untuk Zein.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya. Karena dukungan kalian sangat berarti buatku.
Terimakasih. 🤗😊
__ADS_1