
Setelah Rey beserta para pengawalnya pergi meninggalkan butiknya. Rania masih tertegun, tubuhnya lemas, hatinya hancur berkeping-keping, pipinya masih basah karena linangan air mata yang terus mengalir dari dalam matanya.
Sementara itu, melly bergegas menghampiri dan merangkul Rania yang masih terlihat menangis. Meski ada rasa penasaran dibenak melly tentang si Rey, namun ia tahu dan mengerti etika. Jadi, dia tak ingin bertanya dan mengeluarkan suara sepatah katapun.
Awas saja jika kau berani melakukan ini padaku? Kau laki-laki yang kejam dan tak berhati. Mencampakkan-ku sekian tahun dan kini memperlakukanku seenaknya. Batinnya kesal.
Trdttt...trdttt... Tiba-tiba smart phone milikinya berbunyi dan bergetar, di rogohnya saku celana dan dilihatnya sebuah kontak nomor dengan nama (Zein), ya, panggilan itu dari suaminya, Zein Arka. Ia ragu menerima atau menolak panggilan itu, sementara suaranya pasti berbeda karena terlalu lama menangis. Hmm... Hmm... Ia mengetes suara dan setelah di rasa suaranya sudah lebih baik, ia pun menekan tombol berwarna hijau.
"Ha... Halo Zein." diangkatnya panggilan itu dengan suara pelan.
"Rania, apa kau sudah tidak sibuk?" Tanya Zein malu-malu.
"Tidak juga, kenapa Zein?" sahut Rania.
"Hari ini tidak banyak pekerjaan di kantor, jadi aku bisa pulang lebih awal, rencana ingin mengajakmu makan keluar cari makan." kata Zein diseberang telepon.
"Emmm... Baiklah Zein." Rania menyetujui permintaan Zein. Mendengar itu, Zein pun tampak gembira dan tersenyum sendiri di ruang kantor yang hanya ada dirinya.
"Zein... Hati-hati di jalan." ucap Rania seolah perduli pada suaminya yang bahkan dulu begitu tidak perduli pada suaminya.
Dia bilang hati-hati, apa aku tidak salah dengar? Batin Zein tidak percaya, untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat yang menandakan kepedulian terhadapnya.
__ADS_1
"Iya, terima kasih Rania, aku akan menjemputmu, sampai bertemu nanti sore!!" ucap Zein yang terdengar begitu semangat di seberang telepon.
"Iya." kata Rania, mengakhiri panggilan itu.
Setelah mengakhiri sambungannya dengan Zein, ia bergegas ke toilet untuk mencuci wajahnya yang memerah dan kedua matanya yang terlihat sembab karena menangis.
Apa sebenarnya maumu Rey? Kau pergi sesukamu dan datang lagi sesukamu dengan mengancamku seperti ini. Gerutunya kesal disertai gebrakan tangannya di atas wastafel, menekan tombol wastafel dan menadahkan air di kedua tangannya lalu membasuh wajahnya dan mengusapkannya berkali-kali.
Setelah selesai, ia berjalan menghampiri melly yang saat itu sedang berdiri di dalam butik memperhatikan area luar butik yang hampir seluruhnya di desain menggunakan kaca transparan, hingga memperlihatkan bagian dalam butik yang penuh dengan gaun-gaun dan dress cantik yang terpasang pada beberapa manekin.
"Mell, temani saya sampai Tuan Zein datang ya!! Setelah itu kau boleh menutup butik ini dan kau bisa pulang." ucapnya pelan seraya memegang bahu melly.
Kemudian ia berjalan menuju ruang kerjanya, duduk di kursi dan menyandarkan dirinya di kursi goyang, memejamkan kedua matanya dan sesekali menghela napas panjang.
Setiap kali mengingat kalimat yang diucapkan Rey (aku akan merebutmu kembali darinya). tubuhnya serasa lemas dan jantungnya serasa ditarik, dalam benaknya, ada banyak ketakutan terhadap Rey, takut jika sampai Rey mencoba menghancurkan rumah tangganya dengan Zein, takut jika sampai Rey berbuat jahat pada Zein.
Karena jika sampai itu terjadi, Rania tidak akan pernah rela dan membiarkan Zein disakiti oleh Rey, melihat betapa ucapan Rey sangat menakutinya, rasanya bukan tidak mungkin Rey akan melakukan hal buruk pada Zein. Karena bagaimanapun Zein teramat baik dimatanya, bahkan tanpa sadar, dirinya sudah mulai membuka hati untuk Zein karena kelembutan sikap Zein.
Tin... Tin...
Suara klakson mobil diluar butik cukup membuyarkan lamunannya yang menakutkan tentang Rey. Dengan segera ia berjalan keluar dan benar saja, ia mendapati Zein yang sedang membuka pintu mobil, lalu keluar dan berdiri melambaikan tangan padanya dengan tatapan sumringah disertai senyum mengembang, bak seseorang yang sedang di mabuk cinta karena perlahan wanita yang dicintainya mulai bersikap baik padanya.
__ADS_1
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.
Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.
Terimakasih. 🤗😊
__ADS_1