
Laki-laki itu terpental jauh hingga tersungkur. Seolah masih belum puas, seseorang yang telah melayangkan tendangan itu mengejar laki-laki itu untuk memukulnya lagi, namun sayangnya laki-laki itu berlari terlalu cepat hingga tak bisa di kejar.
Dengan segera, laki-laki yang menolong Rania itu kembali mendekati Rania yang tampak ketakutan padanya.
Rania mundur perlahan berusaha menjauh dari laki-laki yang barusan menolongnya.
"Ja... Jangan takut padaku, aku tidak akan berbuat jahat padamu." ucap laki-laki itu meyakinkan Rania yang tampak ketakutan.
"Si... Siapa kau?" tanya Rania, masih dengan tubuh gemetar.
"Aku David... Kebetulan aku sedang berjalan-jalan di sini dan melihatmu sedang di ganggu. Tolong jangan takut...! Izinkan aku membantu dan mengantarmu pulang." pinta David sambil terus mendekati Rania.
Tidak begitu lama setelah David mendekat, tiba-tiba Rania jatuh pingsan. Akhirnya David mengangkat tubuh Rania dan menggendongnya.
Baru beberapa langkah David menggendong Rania, tiba-tiba Zein datang menghampirinya.
"David... Sedang apa kau...?" tanya Zein dengan tatapan tajam lalu melirik istrinya yang tidak sadarkan diri dalam gendongan David.
"Zein..." belum sempat David meneruskan kata-katanya.
Zein langsung melayangkan pukulannya pada wajah David lalu mengambil paksa Rania dari tangan David, menggendongnya dan membawanya dengan segera.
Sementara itu David masih kebingungan kenapa tiba-tiba Zein memukul wajahnya? Sembari memegangi pipinya yang kesakitan akibat pukulan yang di layangkan temannya secara membabi buta tanpa mau mendengar penjelasannya, David mengusap darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.
"Sayang... Bangunlah, ini aku, kenapa kau pergi sendirian? Dasar keras kepala." sambil berjalan cepat, Zein terus saja memanggil Rania dengan sebutan sayang.
Sayang, batin David.
Mendengar Zein menyebut Rania dengan panggilan sayang, akhirnya David mengerti alasan Zein memukulnya tiba-tiba. Rupanya Zein telah salah paham padanya. Namun David tetap mengikuti Zein dari belakang setelah tahu, bahwa wanita yang baru saja di bantunya adalah istri dari Zein, temannya sendiri.
Rupanya wanita itu adalah istrinya, siapa yang melakukan tindakan keji seperti itu pada seorang wanita? Terlebih wanita itu adalah istri dari seorang pengusaha kaya raya seperti Zein. Pikir David.
David terus mengikuti Zein dari belakang.
Hingga akhirnya Zein sampai di kamarnya, meletakkan Rania di atas kasur lalu menyelimuti tubuh Rania. Kemudian zein membuka ponselnya lalu menghubungi Yina. Begitu Yina menjawab panggilannya. "Cepat bawakan dokter ke kamarku sekarang juga...!" dengan terburu-buru Zein meminta Yina untuk segera membawakan dokter untuknya lalu mengakhiri panggilannya.
Menyadari Zein tampak marah dan memintanya untuk segera memanggil dokter, Yina pun langsung memerintahkan dokter untuk datang ke kamar Zein.
__ADS_1
Sementara itu, David masih berada di luar kamar Zein menunggu kabar dari Zein tentang kondisi istrinya.
Di dalam kamar, Zein tampak sangat khawatir dengan kondisi Rania. Sampai tidak sadar ia meneteskan air mata di kasur.
Kenapa kejadian buruk selalu menimpamu...? Tidak bisakah kita hidup bahagia tanpa halangan apapun? Batin Zein penuh kecewa.
Zein kecewa pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Kejadian demi kejadian buruk selalu menimpa Rania semenjak mereka menikah. Terlebih Rania pernah tertembak karena menghalau peluru yang seharusnya mengenai dirinya.
Sayang... Bangunlah, aku mohon. Jangan biarkan aku tersiksa dengan perasaan bersalahku karena tidak mampu menjagamu. Zein terus membatin dan menyalahkan dirinya sendiri. Siapa orang yang beraninya melakukan ini padamu? David? Ataukah Rey**? Zein berusaha menebak siapa otak di balik kejadian ini?
Tidak lama, akhirnya dokter datang dan mengetuk pintu.
"Masuk." perintah Zein dari dalam kamar.
Kemudian dokter beserta asistennya pun segera masuk dengan membawa peralatan medis.
"Permisi tuan, bisa saya periksa kondisi Nyonya?" ucap dokter itu dengan sopan.
"Silahkan Dok, cepat periksa istriku dan tolong lakukan sebaik mungkin!" sahut Zein dengan nada panik.
Zein berdiri di samping dokter yang sedang memeriksa Rania. Kemudian dokter menyuntikkan obat penenang dan pereda sakit di tubuh Rania.
"Sejauh ini kondisi Nyonya baik-baik saja, hanya saja..." jelas dokter itu, belum sempat dokter menjelaskan kondisi Rania, Zein langsung memotong kalimatnya. "Hanya saja kenapa Dok?" tanya Zein cemas.
"Hanya saja saat ini Nyonya mengalami sedikit stres yang mungkin di sebabkan beberapa kejadian buruk yang menimpanya beberapa hari terakhir ini, maaf... Tuan, ini hanya kesimpulan saya." jelas dokter itu.
Seketika Zein tertunduk diam, memikirkan kejadian-kejadian terakhir yang di alami Rania memang cukup menguras pikirannya dan mengguncang jiwanya.
Jika benar semua ini adalah ulahmu... Akan ku beri pelajaran kau Rey. Tunggu saja kedatanganku. Batin Zein penuh selidik dan mencurigai Rey.
"Terimakasih, Dok..." ucap Zein singkat.
Lalu dokter pun segera keluar dari kamar.
Sementara itu, di luar tampak David dan juga Yina sedang menunggu di luar.
"David... Kenapa dengan wajahmu?" Yina terkejut melihat bekas darah di sudut bibir David dan mencoba memegang pipi David yang terlihat membengkak.
__ADS_1
Namun David menghindarinya. "Aaargh... Tidak apa-apa, ini hal biasa yang terjadi pada laki-laki, seperti tidak tahu laki-laki saja." jawab David sambil memegangi bibirnya yang terasa nyeri.
Ahh... Sakit sekali, pukulan ini mengingatkanku pada tokoh bernama samson. Batin David merintih kesakitan. Ia tak ingin menunjukkan rasa sakitnya di depan seorang perempuan termasuk Yina.
Tidak lama setelah dokter keluar dari kamar. Zein bergegas keluar dan mendapati David dan juga Yina sedang berdiri di luar kamarnya.
"Kalian..." belum sempat Zein meneruskan kalimatnya, Yina memotong. "Zein, bagaimana keadaan istrimu saat ini?" tanya Yina penasaran.
Begitupun dengan David, David hanya mengangguk seolah ingin mendengar jawaban dari Zein.
"Oh ya... Bagaimana bisa kau ada di sana pada saat itu?" tanya Zein sembari melemparkan pandangan ke arah David.
Yina tampak terkejut mendengar ucapan Zein. Namun ia hanya diam dan berusaha mendengarkan mereka. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi, melihat David juga terluka.
"Sebenarnya kau salah paham, Zein... Jadi saat itu aku melihat istrimu sedang di ganggu oleh seorang laki-laki bertubuh besar. Dan aku menendangnya hingga ia terpental, namun sayangnya ketika aku berusaha mengejarnya, dia lari dan menghilang. Lalu aku kembali dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada istrimu, belum sempat istrimu menjawab, dia sudah pingsan lebih dulu. Nah... Sebab itulah, aku menggendongnya. Tapi tiba kau datang dan memukulku. Haishhh... Rasanya ini masih terasa sakit."
Jelas David sembari memperagakan tubuhnya saat kejadian, lalu setelah selesai menjelaskan, ia baru menyadari bahwa bibirnya masih terasa sakit akibat pukulan Zein padanya dan memegangi bibirnya.
Mendengar penjelasan dari David, Zein merasa bersalah padanya. "Ma... Maafkan aku Vid, sudah salah paham padamu. Aku terlalu takut dan tidak bisa berpikir jernih ketika melihat istriku dalam kondisi seperti itu." Zein meminta maaf pada David.
Jika bukan David... Lalu siapa pelaku di balik kejadian tadi? Satu-satunya dugaan adalah Rey. Sayangnya... David tidak berhasil menangkap pelaku tadi yang seharusnya menjadi kunci untuk bisa mengetahui otak dari kejadian ini. Besok akan aku selidiki.
Zein membatin mempertanyakan siapa otak di balik kejadian ini.
"Tidak apa-apa, Zein... Aku paham." timpal David sambil tersenyum.
Zein pun menepuk bahu David seraya berkata. "Terimakasih Vid, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada istriku jika kau terlambat datang." lalu tersenyum.
David ikut tersenyum melihat Zein tersenyum padanya. "Sudahlah... Sebaiknya kau istirahat dan jaga istrimu." bujuk David.
"Umm... Kalau begitu aku juga akan kembali, Zein." ucap Yina tergesa.
"Ah... Iya, sebaiknya kalian istirahat...!" ucap Zein.
"Oh ya... Terimakasih juga untukmu yang sudah membantuku." Sambung Zein pada Yina.
"I... Iya sama-sama, Zein." jawab Yina tergesa lalu pergi bersama David.
__ADS_1
🌴Bersambung🌴