
Perjalanan pulang selalu lebih cepat dari saat berangkat memang terbukti benar, apalagi aku memilih jalur tol dari pada jalan raya yang memberikan efisiensi waktu tempuh yang berkurang hingga lebih dari separuhnya.
Meski begitu aku baru sampai di rumah setelah waktu maghrib hampir usai, bareng dengan bapak dan Anis yang baru habis pulang dari masjid.
"Widih yang baru abis jelong jelong...mana oleh olehnya?" Ujar Anis sembari menghampiriku untuk menyalim tanganku.
"Kok sampai gelap gini baru pulang nak, oya gimana mamahnya Sari ?" Tanya bapak saat aku menyalim tangan beliau.
"Sudah mendingan pak, orang cuma kelelahan saja kok sama maag nya kambuh." Jawabku tak panjang lebar.
"Mas mana ayam bakarnya? tadi sudah ku wa kan." Tukas Anis, aku sendiri melihat progres pembangunan rumah kami yang saat ini sedang finishing pondasi.
"Yah dek...mas lupa lagian tadi ga tau klo kamu minta ayam bakar." Jawabku sambil menghampiri Anis lalu kami masuk ke dalam rumah bedeng menyusul bapak yang sudah masuk duluan.
"Memang dari siang ngapain aza seh mas tadi? hp mas tidak aktif mulu." Ujar Anis terlihat kecewa, sambil bersungut ia melemparkan peranti shalatnya ke arah tempat tidurnya.
"Ya sudah beli bakso aza dulu ke tempatnya Paiman dek mau kan...ayam nya besok lagi yah." Ujarku tak mau ribet sambil mengeluarkan duit sisa makan prasmanan tadi yang ku taruh di saku celanaku.
Aku hanya pasrah dan tersenyum saja saat adikku itu segera merebut semua sisa uang itu dari tanganku.
"Lamaaa...." Ujarnya menggerutu lalu kembali keluar rumah tanpa berucap lagi.
"Mas Farhan sudah pulang belum pak?" Tanyaku sembari duduk di kursi di depan bapak.
"Belum kayaknya, bocah itu aneh memangnya pinter cari istri tapi sikapnya semaunya sendiri." Ujar bapak.
"Semaunya gimana pak maksudnya?" Tanyaku.
"Ya di mana mana yang namanya pengantin baru itu kan maunya sama sama, lah dia malah ninggal istrinya kan aneh." Ujar bapak menjelaskan maksudnya, ah andai bapak tau tadi aku bahkan sudah melakukan dengan Mbak Sari.
__ADS_1
"Tadi memang kemana saja nak? orang pln tadi datang katanya kamu ingin tambah daya." Kata bapak.
"Iya pak aku baru daftar pasang daya baru kemarin tumben responnya cepat biasanya sebulan baru ada respon." Ujarku menjawab bapak sekaligus berusaha mengalihkan pokok pembicaraan dengan bapak.
Namun bapak tetap kekeh menanyakan waktu yang ku habiskan tadi seharian, mau tak mau aku kemudian menjelaskan semuanya ke bapak meski terpaksa berbohong soal air terjun bidadari dan hubungan cinta ku dengan Mbak Sari di hotel, yang semuanya aku sensor.
Tak lama kemudian Anis datang dengan dua kresek kantong plastik di tangannya, lalu di letakkan di meja yang ada di depan kami, kemudian tanpa banyak cakap menyiapkan segala keperluan buat makan kami.
"Mas basonya tinggal yang baso urat saja gapapa kan baso telur puyuhnya abis soalnya." Ujarnya, ketika Anis sudah selesai mempersiapkan perlengkapan makan malam kami.
"Iya seadanya ga usah mikirin yang ga ada." Jawabku.
"Sudah ayo makan !" Ujar bapak mendahului kami sekaligus memulai acara makan malam bersama kami di tempat darurat yang sebentar lagi juga akan tinggal kenangan saja, karena bapak sudah berniat ingin melelang gebyok kayu jati tua itu ke juragan furniture antik yang masih terhitung ada hubungan saudara dengan kami dari pihak ibuku.
Selesai makan aku masih duduk dan ngobrol dengan bapak sebelum pamit ingin ke mobil untuk beristirahat, sementara Anis memilih tak membuang waktu dengan mengerjakan pr dari sekolahnya meski besok dia libur sekolah karena hari minggu.
"Gung kudengar pasir merapi naik harga, kalo misalnya mau gunakan campuran pasir kali woro biasa gapapa loh." Ujar Kang Bejo sesaat sebelum bangkit untuk menyambut Anis dan Bude Marni yang terlihat berat membawa kiriman jatah sarapan untuknya dan anggotanya.
"Ga usah lah Kang, pasir tetap pasir merapi saja ga usah ada campuran soal harga biarlah kita yang menyesuaikan." Ujarku mungkin terdengar sombong namun sebenarnya aku hanya ingin rumah yang ku bangun ini benar benar rumah yang terbaik kwalitasnya.
"Ya sudah sipp lah klo gitu. hoii sarapan sarapan!!!" Ujar Kang Bejo sambil berteriak memanggil teman temannya yang kemudian secara serentak mendatanginya.
Bude Marni sendiri tak banyak tanya tentang keadaan besannya yang di rawat, bahkan sama sekali tak bertanya tentang Mbak Sari atau khawatir menantunya itu gimana gimana, jadi aku pun cuek meski sebenarnya aku merasa berdosa karena telah mengkhianati anaknya.
Pagi menjelang siang, aku segera bersiap untuk pergi ke tempat Kyai Danuri karena beliau memintaku datang hari minggu tempo hari yang lalu.
"Pak aku pamit dulu mau ke tempat Kyai Danuri." Pamitku pada bapakku yang saat itu bantu bantu merancang besi bersama beberapa anak buah Kang Bejo.
"Kang Bejo saya pamit dulu yah." Ujarku sambil melambaikan tangan pada Kang Bejo yang berada di sudut lain.
__ADS_1
"Mau apel yow Gung..hahahaa?" Jawab Kang Bejo.
"Iya kang.... ngapelin janda muda yang ketemu aku kemarin." Balasku bergurau membuat semuanya jadi heboh dan aku hanya tertawa tawa saja.
Sejam waktu yang harus tersita untuk menempuh perjalanan menuju tempat guruku itu. Dan saat sampai di kediaman beliau kulihat Kyai Danuri tengah bercakap cakap dengan beberapa orang pria yang rata rata muda mungkin sebaya denganku.
"Asalamualaikum...!!!" Ujarku mengucap salam dan menjurai hormat.
"Walaikumsalam !!" Jawab mereka serempak, kulihat ternyata empat orang pemuda itu berdiri dan memburai hormat padaku. Aku pun menyalami mereka sambil mengenalkan diri dengan menyebut namaku dan sebaliknya mereka juga menyebut nama masing masing setelah aku menyalim buku tangan Kyai Danuri sebelumnya.
Mereka mengenalkan dirinya Trimo yang paling bongsor lalu Suranto yang agak juling kemudian Andi yang berambut kriwil dan Riko yang satu giginya ompong. Semua terlihat berwajah lugu namun badan mereka terlihat kekar semua.
"Sama seperti dirimu nak mereka juga sudah sabuk hitam semua di sini bedanya mereka hanya menekuni satu ilmu dariku tidak bercampur ilmu dari Hartomo." Ujar Kyai Danuri entah sengaja atau tidak tapi aku merasa tersindir.
"Mereka semua kemenakanku, putra putra dari saudara istriku. Mungkin kau bisa mengandalkan mereka dan jangan terpedaya oleh tampang mereka karena mereka hampir bisa mengerjakan pekerjaan apapun." Ujar Kyai Danuri menambahkan.
"Apakah kau pernah dengar gerombolan gegedug yang meresahkan daerah Pengging beberapa waktu lalu mereka lah yang memberantasnya dan membuat gerombolan itu jera." Lanjut Kyai Danuri.
Kulihat sekilas keempat orang itu tampak tak terkesan apapun dengan pujian dari Kyai Danuri, wajah mereka tetap datar dan dingin.
"Baik guru terimakasih atas bantuan guru mengenalkan keempat saudara buatku. Dan buat Mas Trimo, Mas Suranto, Mas Andi dan Mas Riko saya harap kita akan jadi saudara dekat dan bekerja bersama di waktu waktu mendatang, sekali lagi terimakasih banyak." Ujarku.
"Sama sama Mas Agung kami merasa terhormat di pilih oleh Paman Danuri dari sekian banyak murid muridnya untuk bekerja bersama Mas Agung, dan semoga Mas Agung berkenan menerima kami apa adanya." Ujar Trimo sangat sopan terdengar.
"Tentu mas.. selanjutnya kita bukan saja akan bekerja bersama tapi bersaudara dan berbagi susah maupun senang , tapi masalahnya kita akan merantau ke tempat lain apakah ada yang keberatan?" Ujarku sambil tersenyum ramah.
"Tidak masalah." Jawab mereka berempat serempak.
"Baiklah mulai saat ini kita akan bersaudara, dan biarlah guru yang menjadi saksi karena beliaulah yang menyatukan kita. Bagaimana?" Tanyaku yang langsung di sambut dengan anggukan kepala oleh mereka semua.
__ADS_1