OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 17 Kau Jual Aku Beli


__ADS_3

Segera bergegas aku ke sumur untuk membersihkan tubuh, dan merapikan diri ala kadarnya setelahnya. Lalu ku temui bapak yang sudah kembali dari rumah Mbak Suminah, beliau sedang mengambil sarapan nasi pecel yang tadi aku beli.


"Pak gimana Mbak Suminah kersa bikin makanan buat yang kerja?" Tanyaku.


"Iya nak tapi dia minta 500 sehari buat sediain makan pagi dan siang." Jawab bapak sambil mengunyah makanannya.


"Iya pak sanggupi saja, kasih langsung saja buat nanti siang dan beberapa hari kedepan. Duitnya yang kemarin masih kan pak?" Tanyaku.


"Iya masih, sudah gampang itu nanti bapak yang ngaturnya." Jawab bapak.


"Iya pak kalo gitu saya pamit dulu pak." Ujarku sambil mengambil lengan bapak dan mencium punggung tangan beliau karena jari tangannya kotor oleh makanan.


"Kamu kok sibuk terus tiap hari...ya sudah hati hati !" Ujar bapak, aku hanya nyengir tersenyum lalu bergegas pergi ke padepokan Kyai Danuri.


Sampai di padepokan ternyata empat tangan besi saudaraku telah tiba dan sedang berbincang dengan Kyai Danuri. Tanpa basa-basi aku lalu berucap salam dan segera bergabung bersama mereka.


"Memang sudah mau berangkat boss?" Tanya Trimo.


"Belum mas, masih finishing tempat usahanya kalo rumah tinggal kalian nanti sudah jadi kok, kali ini aku butuh bantuan kalian untuk mencari calon istriku yang kini di culik orang." Ujarku dan mereka semua langsung terkejut tak terkecuali guruku yang langsung tegang raut mukanya setelah tadi terlihat semringah.


Aku pun lalu menceritakan beberapa pokok masalah yang ku hadapi pada mereka.


Hp ku berdering notif pesan instan, sejenak aku minta ijin untuk membukanya, dan ternyata benar saja aku di kirim gambar Mbak Sari yang dalam kondisi terikat kaki dan tangannya serta mulutnya di tutup dengan lakban.


sebentar kemudian sebuah pesan masuk lagi berbunyi "Sediakan uang 500 juta nanti sore atau dia kami jual ke mucikari."

__ADS_1


Aku geram, lalu ku pencet panggil ke nomor itu.


"Gimana sudah bisa berpikir?" Kudengar suara seseorang yang sangat ku kenal sedang berbicara dan itu Mas Farhan suami gila yang menculik istrinya sendiri.


"Iya ada katakan saja dimana kita bisa bertukar." Ujarku mencoba tenang.


"Transfer saja sekarang duitnya kalo ada. kau ga perlu repot." Ujar Mas Farhan ketus.


"Ney..ney...ney ...ada uang ada barang." Ujarku diplomatis meski saat ini emosiku sudah hampir bisa membuat air satu panci mendidih.


"Kamu pikir kamu siapa berani beraninya tawar menawar kamu hanya sampah pemeras tak tau diri dan pebinor hina keparat." Ujar Mas Farhan justru mulai terpancing emosinya.


"Sudahlah katakan saja tempatnya dimana kita bisa bertukar, hanya saja aku ingin Mbak Sari tak ternoda sedikitpun, ada luka segores saja uangmu hilang." Ujarku memprovokasinya.


"Bangsat kamu...baik temui aku di depan gerbang satu masuk pelabuhan tanjung mas tak lebih dari jam 5 sore nanti, lebih dari itu kau hanya akan menemui Sari sebagai seorang tuna susila hahahaa." Kata Mas Farhan yang segera aku tutup dan non aktifkan hp ku.


"Guru kami pamit sekarang, mohon doa restu dari guru." Ujarku lalu menyalim tangan beliau, di ikuti oleh empat tangan besi yang melakukan hal yang sama.


"Baiklah hati hatilah tapi aku punya firasat yang baik buat kalian, meski begitu kalian tetap harus hati hati." Ujar Kyai Danuri memberikan pesan pesannya pada kami.


Aku mau mengambil kemudi ketika Suranto menarik tanganku.


"Boss biar aku yang bawa mobilnya, mengemudi dengan pikiran kalut kurang baik." Ujarnya, aku mengangguk lalu memberikan kontak mobil padanya.


"Pelabuhan tanjung mas." Ujarku saat Suranto menatapku. Dan setelahnya aku lebih banyak diam meski empat tangan besi banyak berkelakar.

__ADS_1


Aku tak habis pikir betapa liciknya pikiran keluarga budeku itu. Mungkin mereka sudah cerita ke Farhan soal Mas Harno yang akan ku tagih atas uang yang di gelapkan olehnya. Dan Mas Farhan ganti mencoba memeras ku dengan memanfaatkan kelemahan ku atas istrinya. Baiklah Mas aku akan membeli tunai semua yang kau jual padaku.


Suranto melajukan mobil dengan cepatnya setelah kami memasuki jalan tol.


"Boss aku tak punya kartu e toll." Bisik Suranto, aku pun merogoh dompetku lalu mengambil sebuah kartu flazz dan memberikan padanya.


"Simpan saja buat seterusnya mas." Ujarku dan Suranto mengangguk semringah.


Karena lewat jalan tol terus tanpa terputus kami sudah sampai di gerbang pelabuhan bahkan sebelum tengah hari, membuatku memutuskan untuk mencari tempat makan siang kami dulu. Dan tak di sangka aku bertemu dengan orang orangnya Farhan ketika tak sengaja mendengar mereka bercakap cakap, ketika kami sama sama sedang masuk ke rumah makan.


"Sayang sekali tak bisa icip icip dulu, perempuan itu cantik sekali, sayang kalo di jadiin ***** saja." Kudengar pria berhidung pesek dengan hampir sekujur tangannya penuh bercak bercak seperti kudis itu berbicara.


"Katanya wanita itu dari Ambarawa kan, berani benar Farhan bermain main dengan orang sana." Ujar pria satunya lagi yang terlihat lebih kalem penampilannya.


Aku segera mengkode empat tangan besi untuk mengawasi kedua orang itu sementara aku memesan makanan. Namun tak di sangka lagi pria yang lebih muda dan berpenampilan kalem dan berperawakan lebih rapi dari pria satunya itu melenggang menuju toilet setelah mereka memesan makanan.


Jujur saja firasat ku tak enak soal pria muda yang mungkin sebaya saja denganku itu, membuatku diam diam memutuskan mengikutinya. Dia ternyata terus berlalu sampai belakang tempat itu dan terlihat akan menelpon seseorang.


"Mas tolong aku, pindahkan dulu perempuan itu ke gudang bekas pabrik ku, aku benar benar ingin memakainya dulu." Ujarnya.


Ah sayang sekali aku tak bisa mendengar jelas orang yang berbicara di hp dari jarak segini. Tapi ku lihat pria muda itu tertawa tawa gembira, sebelum ku dengar ucapannya.


"Jangan khawatir mas nanti gantian ku berikan istri Arno kepadamu hahahaaa.." Ujar pria muda itu, lalu menutup telpon dan bergegas kembali, aku pun buru buru menyelinap dan kembali membuntutinya.


"Yan, aku di panggil bossku nanti makanan ku tolong kau bawakan ke gudang saja yah." Ujar pria muda itu pada temannya yang masih duduk menunggu pesanan makanannya.

__ADS_1


Pria muda itu lalu berlalu tanpa menunggu jawaban dari temannya yang berhidung pesek itu, mungkin ia tak menyangka bahwa aku telah menguncinya, aku memberi kode angka satu untuk meminta salah seorang saja dari empat tangan besi untuk mengikuti aku.


Ternyata dekat saja pria muda itu berjalan menuju sebuah bangunan yang cukup besar namun sudah rusak terbengkalai di sana sini. Kulihat pria muda itu semakin berjalan cepat menyelinap di antara rumpun rumpun liar dan pohon pohon pisang yang banyak tumbuh di sekitar tempat itu.


__ADS_2