
Pada akhirnya Agung menjadi pontang panting menghadapi jurus jurus yang semakin rumit, yang dimainkan Pandan Wangi. Kemudian beberapa pukulan mulai sering bersarang bahkan diantaranya ada yang begitu telak hingga membuat Agung limbung dan beberapa kali jatuh walaupun dengan berusaha secepatnya ia bangkit.
"Cukup...Pandan Wangi !" Ujar Agung Sedayu.
Pandan Wangi hanya tersenyum dan lalu menyeka keringat yang membasahi bagian wajah dan lehernya yang mulus seperti pualam.
"Wangi apakah kau sudah mengenal jurus jurus yang diperagakan oleh anak muda ini ?" Tanya Agung Sedayu pada Pandan Wangi.
"Iya kakang. Sepertinya jurus anak muda ini seperti jurus perguruan kakang sendiri meskipun telah banyak mengalami perubahan terutama pada kuda kuda dan serangan bawah." Ujar Pandan Wangi sementara Agung Sedayu hanya mengangguk.
"Mirah bagaimana pendapatmu ?" Tanya Agung Sedayu pada perempuan di sebelahnya.
"Iya kakang sama seperti mbokayu aku juga melihat kemiripan jurus anak itu dengan jurus perguruan windu jati." Jawab Sekar Mirah.
"Anak muda, sepertinya kita memang dari aliran perguruan yang sama entah itu dimana karang sejagat itu." Ujar Agung Sedayu sambil tersenyum.
"Sejujurnya saya belum mengerti maksud tuan dengan perguruan yang sama karena saya belum pernah melihat jurus jurus yang tuan punya." Kata Agung lugas apa adanya.
Ia memang sama sekali belum menyadari bahwa orang yang sedang berada di hadapannya itu adalah seorang priyagung yang menjadi garda terdepan berdirinya Mataram.
Agung Sedayu hanya tersenyum sesaat.
"Baiklah anak muda sekarang lihatlah !" Kata Agung Sedayu sambil dengan sangat ringannya melenting ke depan beberapa depa.
Agung kemudian melihat sebuah peragaan jurus jurus yang lengkap dari dasar sampai beberapa jurus akhir yang penuh dengan gerakan rumit dan ditambah gerakan dari senjata cambuk yang mengayun berputar mengerikan.
Agung terpana dengan peragaan jurus jurus yang sangat sempurna dan serasi dalam tiap-tiap gerakannya selalu memiliki arti dalam menyerang maupun bertahan.
Belum juga hilang rasa kekaguman itu Agung melihat sebuah putaran cambuk yang sangat cepat lalu di hentak begitu saja kemudian sebuah sinar biru kemerahan bagaikan kilat keluar dengan cepatnya menghantam sebuah tebing yang langsung menghancurkan dinding tebing batu itu yang gemuruhnya begitu dahsyat terdengar.
__ADS_1
Saking terpukaunya dengan apa yang terlihat di hadapannya itu Agung hanya bisa bengong saat menyaksikan pertunjukan dahsyat sebuah kekuatan yang mempunyai daya hancur yang begitu kuat hanya dari kekuatan yang dikeluarkan oleh satu orang saja.
"Bagaimana anak muda apakah kau sudah melihat jurus yang ku peragakan tadi, gimana pendapatmu?" Tanya Agung Sedayu yang kini hampir seluruh tubuhnya telah bersimbah keringat.
"Rumit tuan, sejujurnya memang ada beberapa gerakan dasar yang mirip tapi hanya sebatas di awal awal saja selanjutnya saya sama sekali kurang mampu memahaminya." Jawab Agung apa adanya.
Meskipun begitu ia paham jurus yang di peragakan oleh Agung Sedayu itu adalah yang paling sempurna yang pernah dilihatnya.
"Baiklah anak muda setidaknya kau mampu mengamati bahwa ilmu yang kamu miliki itu sudah tidak utuh lagi asalkan kau selalu melatihnya setidaknya kau bisa meningkatkan lagi batasan yang ada padamu." Ujar Agung Sedayu memberikan nasehatnya.
"Trimakasih tuan." Jawab Agung sambil menjurai hormat.
Namun begitu ia berposisi kembali seperti semula ketiga orang di hadapannya itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas apapun dan Agung kembali menemukan keadaan dirinya di tempatnya sebenarnya yaitu di sendang panguripan tempatnya melakukan lelaku.
Sejenak fokus pikirannya terbagi karena memikirkan kejadian barusan yang seolah begitu nyata dan membuat tenaganya cukup banyak tergerus, namun hanya sekejap saja Agung segera kembali fokus pada amalannya.
Betapapun Ia ingin menyingkirkan gambaran gambaran yang memenuhi benak pikirannya namun peristiwa aneh pertemuannya dengan ketiga orang terakhir, tetap begitu menyita perhatiannya.
"Kamu Wik, ngagetin aza." Ujar Imas jutek.
"Hihihi maaf kaget yah? kau kenapa dari pagi mukanya kusut bener kaya orang kurang vitamin aza. Oh iya gimana Pak Haji sudah mendingan kan?" Kata Dewi yang sahabatnya dari semenjak sekolah SMP sudah sangat akrab itu.
"Bukan kaget tapi jantungku yang mau copot tau. Alhamdulillah sudah kok." Timpal Imas yang kembali fokus pada kerjaannya menyusun pembukuan.
"Iya maaf maaf, eh barang dari jawa kapan datangnya itu sudah pada PO pelanggan yang dari Tasik dan Cilamaya." Ujar Dewi.
"Kata Mbak Sari sih harusnya hari ini pengiriman, Aceng belum kesini Wik ?" Tanya Imas.
"Tau yak, tadi katanya mau ke Karawang ngambil baja buat bikin gudang beras di penggilingan. Tau sudah pulang apa belum." Jawab Dewi.
__ADS_1
"Eh Im, bantuin ngitung yuk ! capek aku." Lanjut Dewi.
"Lah ini memang sudah mau tutup, belum juga isya." Ujar Imas tanpa menatap Dewi.
"Ya gimana, semuanya kayaknya pada kurang semangat gitu." Jawab Dewi.
"Ya namanya juga nggak ada bossnya Wik. Ditambah Suci juga belum masuk sampai sekarang, btw Agung kapan emang kesininya Wik kamu sudah ada info belum ?" Tanya Imas.
"Boro boro, orang hp nya saja nggak aktif." Jawab Dewi.
"Kamu sudah tanyain ke Mbak Sari belum ?" Ujar Imas.
"Kalo nanyain masalah Agung dia hanya jawab minta doanya supaya urusan Mas Agung dilancarkan gitu saja ngga ada yang lain lagi, sementara kalo nanya kesininya kapan jawabnya nunggu Mas Agung dulu." Jawab Dewi dengan hati gemas.
Nimas hanya terdiam, namun sebenarnya lah hatinya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Agung, bagaimana juga dirinya sangat merindukan pria itu, bahkan kini rasa rindunya sudah terlalu akut justru karena sama sekali tak ada koneksi.
Mungkin sudah ratusan kali Imas mencoba menghubungi Agung namun seperti kata Dewi, sepertinya Agung sengaja menonaktifkan hp nya.
Sementara itu di sebuah tempat pinggiran Karawang yang sudah dekat dari pantai, Aceng yang di temani Mamat sohib proyeknya tengah berasyik masyuk di sebuah gubug remang remang di pinggiran jalan yang menuju Tempuran.
Beberapa saat tadi Aceng tak sengaja melihat Sariyah, istri dari Johan temannya yang tinggal di desa sebelah Krajan sedang nongki di depan sebuah warung bertuliskan cafe bulan.
Aceng menghentikan mobil carry gerobak yang dibawanya dari toko lalu mendekati wanita yang berstatus istri salah seorang temannya itu.
Sudah lama Aceng memang tertarik dengan wanita paruh baya yang bodinya masih terlihat yahud dengan polesan riasan cukup glamour meski juga membuat wanita itu terlihat semakin cantik.
Pada akhirnya Aceng berhasil membawanya masuk di bilik kamar sempit setelah beberapa saat menemaninya minum sebotol bir.
Dalam pada itu, kembali ke gua sendang panguripan yang tersembunyi dari dunia luar itu, Agung kembali merasa perubahan suhu ekstrem atas tubuhnya namun justru tenaganya malah mengalami peningkatan pesat sehingga ia dapat kembali dengan jelas membayangkan gerakan gerakan ilmu silat yang di peragakan oleh Agung Sedayu.
__ADS_1
Halusinasi kini sama sekali tak mengganggunya lagi, justru semakin membuatnya antusias tatkala benaknya penuh dengan demo pertunjukan seni beladiri berkualitas mahakarya yang susah ditemui bandingannya itu.