
Ketiga orang yang jauh lebih sepuh dariku itu tampak antusias dan dari sorot matanya memancarkan pengharapan mereka, tentu saja setiap orang mendambakan kehidupan hari esok yang lebih baik.
"Insyaallah kami takkan mengecewakan boss, jika boss tetap mempercayai kami untuk ikut mengelola penggilingan ini." Ujar Mang Ujang yang dari ketiga orang itu dialah yang paling terlihat sepuh dari yang lain dalam arti usia yang sebenarnya.
"Iya pak begitupun saya juga tak ingin mengecewakan bapak bapak semua, mohon doanya saja semoga rencana ini segera bisa di realisasikan dalam waktu dekat." Ujarku.
"Aminnnnnn....!!!!" Ujar bapak bapak itu serempak dan terlihat semringah.
"Baiklah pak saya mohon diri dulu untuk kembali ke toko karena tadi saya pamitnya cuma sebentar." Ujarku ramah.
"Baik boss, kami doakan semoga usaha Mas Boss berhasil semuanya." Ujar Mang Darom.
"Iya pak begitu juga sebaliknya doa kebaikan yang sama buat bapak bapak semua." Kataku sebelum aku benar benar pergi meninggalkan penggilingan.
Pantas saja Pak Haji Obi lebih merelakan tempat itu untuk di lepaskan karena setelah aku baca pembukuan tempat itu, hasilnya bahkan jauh dari ekspetasiku sebelumnya.
Meskipun saat musim panen pendapatan tempat itu cukup bisa di andalkan namun saat musim paceklik gini bahkan Mang Ujang harus mondar mandir hanya untuk cari sekarung dua karung gabah yang butuh di giling.
Sampai di toko, aku cukup terkejut dengan halaman parkiran yang telah di penuhi oleh kendaraan bermotor yang di dominasi roda dua. Aku lihat ke dalam toko yang kini telah pepat dengan barang dagangan yang tertata rapi, telah penuh sesak dengan pengunjung.
Semua karyawan terlihat sibuk tak ada yang menganggur bahkan Sari dan juga Imas ikut terjun membantu tugas anak buah Dewi yang terlihat keteter melayani pengunjung.
Aku ingin tertawa melihat Riko dan Suranto yang hari ini juga di tarik jadi asisten Dewi untuk ikut membantu pengemasan terlihat telah mandi keringat, sementara Dewi pun tak kalah sibuk tangannya begitu terampil mengoperasikan mesin kasir.
"Mas !!! Sini bantuin !" Ujar Sari sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku segera bergegas menghampiri kekasihku itu dengan melewati orang orang berkerumun yang dengan sendirinya memberikan jalan padaku.
"Butuh bantuan Ibu Boss ?" Tanyaku sambil tersenyum setelah berada di dekatnya.
"Ya sudah bantu melayani ibu itu kasihan beliau sudah nunggu lama." Ujar Sari lirih.
"Oke boss." Jawabku, lalu ku hampiri ibu ibu yang sudah cukup sepuh.
"Selamat pagi ibu boleh saya bantu ?" Tanyaku sopan pada ibu ibu itu.
"Oh iya Ak, maaf saya butuh samping tapak kebo apakah ada di sini ?" Ujarnya sambil melihat etalase tumpukan kain panjang yang memenuhi rak.
"Oh tentu ibu, ada banyak, ibu kersa yang premium atau yang standar saja samping tapak kebo nya ?" Tanyaku lagi.
"Kalo yang premium Ak harganya berapa ?" Tanya Ibu itu lagi.
"Yang premium dari batik danar 240 ribu ibu jenisnya batik tulis halus dengan kain kwalitas premium, kalo yang dari batik unggul 170 ribu ibu." Ujarku sambil menunjukkan dua buah kain panjang yang harga pasarannya di pusat sandang di atas 270 ribuan.
Ibu itu melihat dan meraba dua kain itu bergantian.
__ADS_1
"Apakah di sini harganya pas nak ?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Iya ibu, maaf harganya sudah sangat pas karena kalo di kurangi 10 ribu saja itu sudah merupakan modalnya." Ujarku.
"Baiklah nak aku ambil dua duanya saja." Ujar Ibu itu sambil tersenyum.
"Baik ibu akan segera saya kemas, tapi barangkali Ibu masih ada kebutuhan yang lain baju batik buat bapak mungkin ?" Tanyaku sopan.
"Kebutuhan seh banyak nak tapi hari ini cukup dulu saja nak, mungkin besok bisa kesini lagi." Ujar beliau.
"Baiklah kalo begitu ibu terimakasih banyak, mari saya bantu antar ke kasir biar ibu nggak perlu repot antrian." Ujarku ramah.
"Kalo gitu tolong bayarkan sekalian yah nak !" Ujar ibu itu, aku hanya mengangguk menyetujui.
Ibu itu lalu mengambil dompet di tasnya dan memberikan lima lembar uang ratusan ribu padaku. Aku meneliti uang uang itu sejenak dengan jariku sebagai bentuk sikap hati hati saja terhadap uang palsu.
"Dew, pulangin 90 yah !" Kataku sambil menyerahkan duit yang ku pegang pada Dewi.
Aku mengemas dua kain mahal itu dengan sebuah tas kain motif batik bermerk batik unggul, dan tak lupa menyelipkan sebuah sapu tangan batik halus.
"Ibu ini barang belanjaan ibu, dan ini kembaliannya, trimakasih banyak ibu sudah berbelanja di toko kami." Ujarku ramah sambil menyerahkan barang beserta uang kembalian pada ibu itu.
Semakin siang tokoku semakin ramai pengunjung hingga terpaksa karyawan menunda jam makan siangnya imbas ramainya pengunjung.
Namun aku memaksa mereka bergiliran mengambil waktu makan dan istirahat sejenak untuk sembahyang ketika waktu tengah hari telah tergelincir, masing masing dua orang bergiliran.
Hari ini dari awal sampai kami terpaksa memutuskan tutup toko jam delapan malam karena kami semua sudah benar benar kelelahan melayani pengunjung yang terus saja berdatangan tanpa henti.
Aceng yang juga nyaris tak bisa beranjak dari lantai dua tempat gerai alas kaki dan tas dan barang barang lainnya selain busana justru malah tersenyum semringah meskipun wajahnya tampak kelelahan.
"Luar biasa bro....ini belum resmi buka padahal tapi kita sudah babak belur kaya gini." Ujar Aceng sambil menyalakan korek untuk membakar batang rokok yang sudah nempel di mulutnya.
Saat ini kami berada di teras toko menunggui Dewi yang masih sibuk menghitung pendapatan. Sementara Sari di bantu Imas sedang membuat perubahan data inventaris.
Sementara tiga orang dari empat tangan besi sedang membaringkan badan mereka di atas sebuah karpet yang mereka gelar di basecamp mereka.
Doni tentu saja orang yang menghilang dari empat tangan besi karena tugas mengantar pulang Teh Yanah terlanjur melekat kepadanya.
Aku hanya berharap mereka tidak sisip dan melakukan kesalahan yang mungkin akan mereka sesali di kemudian hari.
"Kurasa kita perlu nambah karyawan penjualan lagi Ceng." Ujarku sambil bersandar di tiang penyangga.
"Iya aku setuju." Katanya.
"Kalo gitu minta Dewi untuk cari anak buah dia dua atau tiga orang lagi gapapa." Ujarku.
__ADS_1
"Mungkin lebih Gung, soalnya jika aku ataupun empat tangan besi kebetulan keluar untuk belanja mereka akan sangat kerepotan." Kata Aceng terdengar masuk akal.
"Baiklah, kalo gitu terserah butuhnya berapa, oh iya tadi aku sudah cek pembukuan penggilingan." Ujarku.
"Lalu apa katamu ?" Tanya Aceng.
"Parah, kita harus melakukan terobosan baru." Ujarku.
"Maksud kamu gimana ?" Tanya Aceng lagi.
"Kita harus mulai produksi dan sekaligus menjual beras untuk profit." Ujarku.
"Caranya gimana ?" Tanya Aceng mulai serius kepo.
"Kita beli gabah di tempat tempat yang sedang panen lalu mencari tempat yang bersedia menampung beras produksi kita." Kataku.
"Kita perlu gudang beras kalo gitu." Ujar Aceng.
"Tentu kita akan segera membuatnya." Kataku.
"Kapan ?" Tanya Aceng.
"Setelah aku kembali dari kampung nanti." Jawabku.
"Kamu mau pulkam lagi bro ? kita baru saja mulai dan sudah akan kau tinggalkan, apa kamu sedang ngelantur." Ujar Aceng.
"Ya mau gimana lagi, karena itu aku akan sedikit memaksamu untuk mengambil tugasku." Ujarku.
"Sari juga ikut pulang kah ?" Tanya Aceng.
"Soal itu gimana pendapatmu Ceng ?" Kataku justru balik bertanya.
"Ya nggak tau." Ujarnya.
Baru saja aku akan berucap, terdengar pintu office di buka, bersamaan Dewi yang juga sudah keluar dari tempat kerjanya.
"Gimana Nyil dapat berapa income kita hari ini ?" Tanya Aceng pada adik semata wayangnya itu dengan panggilan kesayangan waktu kanak kanak, dimana Dewi sangat suka di panggil Unyil yang merupakan tokoh favoritnya.
"Coba tebak dapat berapa Ak kita ?" Ujar Dewi balik bertanya.
"Ya nggak tau kan kamu yang ngitungnya." Tukas Aceng.
"Lima ratus dapat nggak Dew ?" Tanyaku.
"Totalnya tujuh ratus sembilan puluh enam juta delapan ratus enam puluh lima ribu rupiah." Ujar Dewi sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"Wow....Amazing ini baru uji coba loh belum promosi masiv segala...mantab nih." Kata Aceng dengan wajah bangga.
"Yuk kita pulang !" Ujar Sari yang entah kenapa sekarang begitu akrab dengan Imas, mereka pun baru saja terlibat obrolan entah apa karena hanya kasak kusuk meski andai aku mau aku mampu mendengarnya dengan jelas.