OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 19 Jangan Ganggu Dia Lagi


__ADS_3

Kulihat jam tanganku sudah pukul 1 siang, brarti aku masih ada waktu buat bergegas, setelah memastikan ke empat preman itu terkapar pingsan. Segera aku berlari menghampiri Mbak Sari yang masih meronta ronta sambil menatapku.


Bergegas ku lepas ikatan tangan dan kakinya dan membuka lakban yang menutup mulutnya, Mbak Sari meringis sesaat sebelum memelukku erat erat dan menangis tersedu-sedu.


"Sudah ayo kita harus segera bergegas sebelum mereka bangun." Bisikku menenangkan Mbak Sari yang terlihat sangat pucat wajahnya.


"Boss ada mobil datang..." Bisik Andi.


Aku pun segera menggendong Mbak Sari dan membawanya keluar buru buru lewat belakang yang memang terbuka lebar karena pintunya rusak.


"Hubungi yang lain mas katakan posisi kita, Mas Suranto suruh bawa mobil jemput kita." Ujarku tanpa menoleh karena fokus berjalan cepat sambil menggendong Mbak Sari yang meski cukup ringan bagiku tapi lumayan juga menambah beban.


Kami sudah menyelinap bersembunyi di balik semak semak perdu ketika kami mendengar teriakan teriakan dari dalam gudang bekas itu.


"Turunkan aku mas, aku masih kuat jalan sendiri." Bisik Mbak Sari di telingaku lalu menempelkan bibirnya di pipiku.


"Sebentar mbak jangan banyak gerak dulu, kita masih belum keluar dari tempat ini." Jawabku berbisik sambil menatap wajah Mbak Sari yang sudah tak terlalu pucat lagi lalu menatap pagar tembok yang cukup tinggi itu.


Namun akhirnya Mbak Sari lepas dari gendonganku ketika aku jongkok bersembunyi di balik pohon akasia yang tumbuh besar di belakang gudang bekas ini. Mbak Sari sesekali kulihat menatap Andi dengan wajah tanda tanya.


"Dia kawan kita mbak, namanya Mas Andi dan masih ada tiga orang lagi kawan kita yang saat ini masih di luar." Ujarku lirih.


"Salam kenal mbak namaku Andi." Ujar Andi sambil tersenyum pada Mbak Sari lalu berbisik mengatakan kalo ketiga kawan kami sudah menunggu di sisi jalan di dekat jalan kami masuk ke lokasi ini.


Aku sendiri sebenarnya berpikir untuk menyelesaikan sekalian gerombolan Mas Farhan untuk memberi efek jera padanya, karena kalo hanya seperti ini aku khawatir akan jadi bom waktu di belakang hari.


"Mbak teman Mas Farhan kira kira berapa banyak, mbak tau nggak?" Tanyaku lirih pada Mbak Sari.


"Ya yang tadi itu mas, mereka semua yang nyulik aku saat aku dalam perjalanan ke rawa pagi tadi." Jawab Mbak Sari tampak sudah tidak terlalu tegang lagi.


"Mbak sempat di sakiti mereka?" Tanyaku lagi. Mbak Sari mengangguk.


"Mereka dua kali menamparku, dan bahkan lelaki yang badannya gede itu beberapa kali memaksa menciumi pipiku." Ujar Mbak Sari jujur, entah kenapa aku menjadi merasa marah dan tak terima.


"Harusnya tadi dia ku bunuh saja." Gumamku, namun kulihat Mbak Sari hanya tersenyum.


"Mas aku lapar..." Ujarnya manja.


"Iya mbak begitu kita keluar kita akan cari makan, tapi memang Mas Farhan diam saja ketika mbak di cium oleh si brengsek itu." Tanyaku.

__ADS_1


"Dia hanya cuek, dan malah tertawa tawa menyebalkan, mas tau ngga masa aku di bilang akan jadi sumber uang buatnya." Ujar Mbak Sari geram.


Terlihat ada dendam di tatapan matanya yang indah itu. Sebelum tangannya mengusap pipiku yang lalu ku genggam dan ku cium tangannya itu dengan lembut.


"Kurasa mereka sudah pergi, mari kita tinggalkan tempat ini." Ujarku dan baik Andi ataupun Mbak Sari mengangguk setuju.


"Apa ngga kita selesaikan sekalian saja boss." Bisik Andi bertanya padaku.


"Gampang lah mereka hanya remahan saja sepertinya kapanpun kita bisa mengatasinya." Ujarku meremehkan Mas Farhan.


"Tapi nanti kalo Istri boss di culik lagi gimana?" Tanya Andi lagi.


"Ya di cari lagi." Ujarku sembarangan dan terdengar setengah bercanda, hingga kurasakan lenganku terasa sedikit sakit karena cubitan kecil.


Aku hanya tersenyum sambil menatap Mbak Sari yang justru cemberut menatapku juga. Hingga Andi pun ikut tersenyum saat melihat kami.


"Naiklah dulu mas aku akan mengawasi !" Ujarku pada Andi yang kemudian dengan sigap melompat menggapai pagar tembok yang penuh dengan lumut kering itu.


"Aman..." Ujar Andi lirih sambil mengawasi sekitarnya.


"Mbak pegang erat pundakku yah jangan sampai lepas !" Bisikku pada Mbak Sari yang kemudian ia mengangguk dan melakukan perintahku.


Meski pada akhirnya aku berhasil memanjat sampai dahan pertama, untuk kemudian berhenti sejenak lalu meniti dahan itu sambil menggendong Mbak Sari hingga sampai dekat pagar masih ada jarak selangkah aku minta bantuan Andi untuk memegangi Mbak Sari yang ku minta melangkah duluan.


Akhirnya kami bisa melewati pagar setinggi kira kira hampir tiga meter itu dan turun dengan selamat meski tanganku sedikit berdarah karena goresan permukaan kasar tembok pagar saat aku turun sambil menggendong Mbak Sari.


"Alhamdulillah aman sekarang...." Gumamku bersyukur karena pada akhirnya bisa menyelesaikan tugasku dengan baik.


Mbak Sari mengangguk senang lalu kembali memposisikan tubuhnya di gendonganku lagi, sambil tersenyum.


"Memang ga mau jalan sendiri ?" Tanyaku, Mbak Sari tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan bahkan Andi pun ikut tersenyum.


"Aku nyaman di gendong kamu gini mas." Ujar Mbak Sari terdengar manja dan lembut, setelahnya ia lalu merapatkan pipinya dengan pipiku dan sesekali menciumi pipiku dengan bibirnya, tanpa merasa sungkan pada Andi yang entah mengapa juga hanya cuek saja melihat kemesraan kami.


"Eh mas itu siapa...apakah dia mati ?" Ujar Mbak Sari ketika melihat sosok tubuh tergeletak tak sadarkan diri di dekat gerumbul perdu.


"Biarlah mbak, dia bagian orang orang tadi kok." Ujarku.


"Mas ternyata bisa kejam juga yah..." Ujar Mbak Sari sambil mendaratkan ciuman bibirnya lagi ke pipiku.

__ADS_1


"Kalo gini terus bisa ku bawa ke hotel dulu loh mbak." Bisikku.


"Hayooo siapa takut." Jawabnya, justru semakin bertubi tubi menciumi pipiku.


Namun kami terkejut ketika hampir keluar dari gang sempit itu, ternyata Mas Farhan dan kawan kawannya sudah berdiri menunggu kami.


"Oh pantesan ternyata pahlawan kesiangan nya sudah datang lebih awal rupanya." Ujar Mas Farhan sinis.


Terhitung ada sekitar 15 orang sekarang yang mengerubungi kami, termasuk pria hidung pesek yang kami temui di rumah makan tadi.


"Mana duitku...!" Ujar Mas Farhan sambil melotot matanya kepadaku.


"Duit untuk apa? apa aku pernah berhutang padamu?" Ujarku santai sambil menurunkan Mbak Sari yang kini kembali terlihat tegang ketakutan.


"Dia sampai sekarang masih istriku, apa kau pikir bisa mengambilnya begitu saja tanpa memberikan kompensasi pada ku...dasar tolol..anak monyet !!" Ujar Mas Farhan membentak.


"Aku akan kasih kompensasi setelah kau menceraikannya dan berjanji tak akan pernah mengusiknya lagi bagaimana?" Jawabku tetap tenang.


Kulihat ketiga temanku yang lain pun sudah bersiap gabung dengan kami, tanpa di curigai sedikitpun oleh Mas Farhan dan gerombolannya.


"Maaf sekarang aku sudah memutuskan untuk menjual Ambarsari, kepada temanku yang akan membelinya 100 juta buat wanita ****** itu. Cuihh aku pun sudah tak sudi bersamanya lagi." Ujar Mas Farhan kasar.


Aku menatap Andi sesaat dan dia mengangguk pasti.


"Apa menurutmu istrimu itu kacang goreng, hingga kau berniat menjualnya murah meriah begitu mas?" Ujarku masih mencoba diplomasi.


"Itu urusanku mau jual berapa karena wanita itu bahkan sudah tak berharga sama sekali bagiku. Jadi cepat berikan dia padaku, atau jangan salahkan aku jika Lik Marno hanya akan menjumpai mayatmu saja." Ujar Mas Farhan kali ini berhasil membuat emosiku naik ke puncak.


"Bagaimana kalo sebaliknya mas?" Ujarku.


"Kamu memang anak monyet...Kawan kawan ayo kita habisi dia...!!" Ujar Mas Farhan sambil mengangkat tangannya memberi aba aba.


Mereka yang mengepung akhirnya mulai merangsek, namun belum sempat berbuat, mereka di kagetkan oleh ketiga orang yang tiba tiba saja menerjang ke arah kelompok kawanan preman itu.


Aku dan Andi juga tak berlama lama bergabung berkelahi bersama anggota empat tangan besi yang akhirnya aku paham kenapa mereka di juluki seperti itu. Dalam waktu singkat saja kawanan itu telah pontang panting, sementara aku yang khusus menghadapi Mas Farhan yang di bantu dua orang kawannya yang mengeroyokku tak butuh waktu lama pula untuk membekuk mereka.


Bahkan Mas Farhan sampai tak berdaya ku buat babak belur wajahnya.


"Ceraikan Mbak Sari, dan jangan pernah berpikir untuk mengganggunya lagi jika kau masih ingin hidup lama." Ujarku mengancam kakak sepupuku itu sambil ku cekik lehernya, sebelum mendorong dan membuatnya terhempas lalu terkapar.

__ADS_1


__ADS_2