OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 104 Makin Nakal


__ADS_3

"Mbak Sari, saya ke office dulu yah ?" Ujar Imas tak lama setelah kepergian Tyas.


"Iya Teh... silahkan !" Jawab Sari ramah namun setelah itu menatapku dengan tajam.


Imas hanya tersenyum dan mengangguk saja padaku sebelum dia berlalu ke office.


"Nah setelah ini, siapa lagi cewek cewek cantik yang mengaku kenal denganmu mas, aku ingin tau sejauh mana kau tebar pesona sebelum aku bejek bejek wajahmu yang sok kegantengan itu." Kata Sari sangat ketus dan dingin sebelum berlalu meninggalkan aku sendirian yang termangu mangu.


Beberapa saat setelah itu aku masih duduk terbengong sebelum mataku menangkap basah Doni, Roni dan Dion yang memandangku dengan pandangan meledek di sertai senyum yang meremehkan.


"Hoiii...ngapain senyum senyum ?!! meledek aku kalian ?" Ujarku agak keras yang membuat mereka bertiga langsung menciut seperti tikus curut.


"Ah nggak kok boss...kita nggak ngeledek boss.." Ujar Roni sambil menahan senyumnya.


"Nggak bisa ! aku tau kalian ngeledek aku kan, sini kalian !" Ujarku.


"Kami nggak ngeledek boss, sumpah boss." Ujar Dion tampak tegang.


"Siniiii !!!!!!" Ujarku semakin keras, membuat mereka bertiga melangkah menghampiriku dengan gontai.


Aku menatap mereka dengan tatapan mataku yang tajam dan garang, meskipun dalam hati aku ingin tertawa ngakak melihat nyali mereka yang menciut.


"Ambil posisi push up lalu lakukan 50 kali tanpa jeda !" Ujarku enteng.


"Tapi boss ?" Ujar Roni memelas.


"Cepatlah ! atau kalian kuberi pesangon sekarang." Ujarku santai namun jelas terdengar sangat kejam bagi mereka.


Akhirnya tanpa bicara lagi mereka bertiga langsung mengambil posisi push up di tempat seadanya di sela sela kendaraan yang terparkir. Doni jelas sangat mampu melakukan push up 50 kali bahkan dia melakukannya dengan cepat dan tanpa jeda, lain ceritanya dengan Dion dan Roni yang tampak sangat tersiksa meskipun mereka terus berusaha hingga keringat dan peluh segera membanjiri tubuh mereka.


"Mas !!!" Ujar Sari memanggilku dari depan pintu toko.


"Iya Sayank...ada apa ?" Jawabku.


"Ngapain seh di situ terus katanya mau makan ?" Ujar Sari sambil melangkah mendekat padaku, namun segera tersenyum saat melihat Roni dan Dion sedang terengah engah berusaha melakukan push up sebanyak yang ku minta hingga baju mereka kotor oleh debu karena tangan mereka tak kuat menahan beban.


Namun baru sampai hitungan ke empat puluh mereka berdua sudah benar benar tak mampu mengangkat beban badan mereka sendiri.


"Sudah sudah kalian berdirilah !" Ujarku pada Roni dan Dion.


"Maaf boss...kami benar benar sudah nggak kuat." Ujar Roni dengan napas masih terengah engah ngos ngosan, sementara wajah mereka berdua menjadi terlihat lebih pucat.

__ADS_1


"Makanya kalau kemampuan baru segitu saja jangan berani berani ngeledek orang, bikin malu saja." Ujarku sambil mengeluarkan dompetku.


"Nih buat beli air ganti keringat kalian !" Ujarku sambil memberikan mereka bertiga masing masing uang lima puluh ribuan.


Mereka langsung menerimanya dengan senyum semringah seakan mendapatkan suntikan tenaga baru.


"Makasih boss, lain kali kami takkan berani meledek boss." Ujar Dion sambil meraih tanganku dan menciumnya membuatku jadi agak sungkan juga dengan tindakan semacam itu.


"Iya iya...lain kali kalian harus banyak berlatih yah, sebab jika ketahuan meledek lagi aku akan meminta push up bukan 50 kali tapi 100 kali, mengerti kan ?" Ujarku.


"Iya boss sangat mengerti." Ujar Roni yang tampaknya benar benar kapok.


"Bersihkan diri kalian dulu lalu kembali bekerja !" Kataku, sebelum aku kemudian berlalu sambil menarik tangan Sari yang hanya senyum senyum.


"Jangan terlalu kejam mas !" Bisik kekasihku itu sambil tersenyum.


"Gara gara kamu juga kan." Jawabku lirih.


"Kok aku..." Ujar Sari tak terima.


"Kamu terlalu banyak ngambek Sayank...lumayan bikin pening kepalaku jadinya." Ujarku


"Ya sudah gapapa, memang kenapa ?" Tanyaku.


"Ya memangnya kamu mau makan di temani Imas Yank...?" Ujar Sari, sepertinya tingkat kecurigaannya pada setiap cewek sudah berada di tingkat akut.


"Ya kalo gitu kamu temani donk, atau kalo nggak juga gapapa lagian aku juga belum lapar banget kok." Kataku.


Sebenarnya lah saat ini aku sudah mulai mengurangi porsi makan ku untuk persiapan puasa pati geni ku yang akan ku lakukan delapan hari lagi dengan di tambah selama tiga hari sebelumnya aku harus menjalani puasa biasa untuk membuka meridien tubuhku, maka total puasa yang akan kulakukan adalah selama sepuluh hari.


Namun semakin dekat waktuku untuk berprihatin ternyata godaan yang datang justru semakin gencar dan langsung ke titik lemahku yaitu godaan perempuan, yang mana godaan ini selalu jadi kelemahan terbesarku.


"Ya sudah ayo... daripada kamu nggak makan sama sekali mas." Ujar Sari sambil menarik tanganku kembali ke office.


"Sudahlah Sayank nggak usah aku juga belum lapar kok, ayo kita ke dalam saja siapa tau ada yang butuh bantuan." Ujarku menolak permintaan Sari agar aku segera makan siang.


"Ya sudah, tapi kalo sudah lapar buruan segera makan yah mas !" Kata Sari, aku hanya mengangguk.


Setelah Sari masuk ke dalam toko dan membantu melayani pengunjung yang terus saja berdatangan dan memadati toko.


Tiba tiba terbesit dalam pikiranku untuk melatih pernafasan di kolam renang lagi.

__ADS_1


"Mas Riko aku pamit sebentar !" Ujarku pada Riko yang kulihat semakin menikmati perannya sebagai tukang packing.


"Kemana boss ?" Tanyanya.


"Kedepan doank." Jawabku sembari melangkah pergi menuju parkiran mobilku.


Baru saja hendak membuka pintu mobil, hp ku berdering dan kulihat sebuah panggilan suara dari nomor baru lewat aplikasi pesan instan.


"Halo Asalamualaikum ! dengan siapa dimana ?" Tanyaku sopan.


"Ak...coba tebak ini siapa ?" Ujar seorang cewek yang tentu sudah aku kenal, Tyas.


"Teteh dapat nomerku dari mana ?" Tanyaku heran.


"Dari adikku kenapa? ga boleh ?" Ujarnya.


"Hehehe boleh donk, apa seh yang nggak boleh buat Teteh. Btw Teteh sekarang ada dimana ?" Tanyaku.


"Di Pwd Ak, kenapa mau nyusul? sini atuh !" Ujar Tyas terdengar sangat bersahaja.


"Oke, tunggu yah !" Jawabku.


"Eh, beneran nggak nih ? aku nunggu beneran loh." Ujar Tyas.


"Ya udah tunggu aza nih aku mau jalan sekarang." Ujarku, lalu ku matikan panggilan.


Segera aku melajukan mobilku ke arah timur, dengan jalanan yang sudah mulus rata tak butuh lama bagiku untuk mencapai sebuah kota distrik kecil yang cukup maju pesat sebagai pusat kuliner dan perdagangan untuk daerah sekitarnya.


Dengan sebuah aplikasi pelacak besutan perusahaan startup asal negeri sakura, mudah bagiku untuk menemukan posisi nomor telepon yang telah terhubung dengan hp ku.


Tyas sedang berada di sebelah warung bakso depan pasar yang cukup ramai di kunjungi pelanggannya. Bahkan sampai saat aku parkirkan mobilku di samping mobil putih polos miliknya pun Tyas tampak belum menyadarinya.


Aku ingin tertawa saat melihatnya tampak kesal sambil bolak balik memperhatikan jam tangannya.


"Hai Teh, kelamaan yah ?" Ujarku mengagetkannya karena aku menepuk lengannya meski kulakukan dengan pelan saja.


"Hai..Ak...kapan sampainya kok aku nggak tau? hihihi." Ujar Tyas sambil tersenyum.


"Ada kali lima menit, aku ngajentul disini Teh." Ujarku bohong.


"Masa seh Ak hihihi, Eh ngebaso yuk !" Ujar Tyas semringah.

__ADS_1


__ADS_2