
"Kalo gitu saya tinggal dulu yah, nanti misalnya butuh apapun tinggal bilang sama Aceng saja." Ujarku.
"Iya Ak siyap...!" Ujar mereka serempak.
"Ceng tolong bilang sama Teh Yanah nanti makan siangnya supaya mamang mamang ini di jatah, juga kopi dan rokok barangkali." Ujarku pada Aceng.
"Sudah biar aku saja yang ngaturnya.." Sahut Aceng agak gemas mungkin karena aku terlalu banyak mengaturnya.
"Hehehe ya sudah aku tinggal dulu yah, mau bantu bantu di dalam." Ujarku ramah lalu aku berlalu menuju toko bersamaan dengan datangnya mobil carry pengangkut material dari toko bangunan.
Di parkiran aku lihat sudah agak pepat dengan kendaraan pengunjung, aku lihat ruang office juga terlihat kosong, mungkin Sari ikut bantu penjualan.
Baru saja aku hendak melangkah pergi ke bank, Dewi berteriak memanggilku.
"Boss...!!!" Ujar Dewi sambil melambaikan tangannya padaku, lalu berlari keluar dari meja kerjanya dan menghampiriku.
"Gung tadi kamu ingin tambah tenaga penjualan kan ? nih orangnya sudah ada dua orang disini, mereka temanku juga sama seperti yang lain." Ujar Dewi setelah berada di dekatku.
"Kamu sudah menjelaskan peraturannya belum juga tentang bayaran nya ?" Tanyaku.
"Semalam sudah dan mereka semua setuju, dan justru karena itu mereka langsung berinisiatif kesini meski aku bilang untuk nunggu info." Ujar Dewi
"Tapi kami setuju dengan mereka kan Dew ?" Tanyaku lagi sementara Dewi langsung mengangguk,
"Suruh mereka menemui aku di office sekarang kalo gitu." Ujarku lalu aku melangkah ke ruang office ku.
Namun baru juga akan masuk ke dalam kulihat mobil truk box telah masuk ke dalam area halaman toko yang karena ada jalan ke atasnya jadi terlihat cukup sempit.
Untungnya kulihat Aceng dengan sigap mengaturnya dan segera mengarahkan untuk langsung naik ke atas di mana gudang barang berada, hingga tak membuat rumit parkiran yang semakin pepat saja.
"Selamat pagi Ak !" Ucap seorang dari dua orang gadis berparas manis cantik sambil tersenyum padaku.
Seketika perhatianku teralihkan langsung pada mereka.
"Eh selamat pagi, kalian temannya Dewi ?" Ujarku sambil menatap mereka dengan seksama, karena sepertinya aku tidak asing dengan salah satunya terutama gadis yang rambutnya terlihat agak pirang bekas semiran.
"Benar Ak, kami bermaksud melamar kerjaan di A&S COLLECTION sebagai tenaga penjualan." Ujar salah satu dari mereka yang rambutnya agak pirang.
"Baiklah mari silahkan masuk dulu !" Ujarku sambil membawa mereka masuk ke ruang office yang jadi tampak tidak terlalu luas karena barang barang di dalamnya.
"Silahkan duduk disini saja yah gapapa kan ?" Ujarku dengan ramah kepada mereka.
__ADS_1
"Trimakasih Ak." Ujar mereka bareng.
Kemudian kami duduk di sofa dengan aku memposisikan duduk berseberangan dengan dua gadis berparas manis cantik yang kedua duanya sangat enak di pandang mata itu.
"Oh iya kenalkan dulu yah saya owner tempat ini namaku Agung, dan kalian...maaf ?" Ujarku.
"Nama saya Siti Alizah Ak, biasa di panggil Izah." Ujar gadis manis berambut panjang yang di kuncir rapi.
"Oh iya Izah rumahnya di Babakan yah ?" Tanyaku mencoba menebak, karena seingat ku cewek ini pernah membeli jamu pada ibuku dulu.
Dan ternyata mereka berdua saling tersenyum semringah sembari menganggukkan kepala.
"Kalo yang satunya?" Tanyaku.
"Suciwati Ak kebetulan kami berdua adalah saudara sepupu." Jawab gadis berambut agak pirang itu ramah dengan senyum menyenangkan.
"Perasaan aku juga pernah bertemu dengan Suci loh, maaf apakah Suci pernah kerja di Jepang ?" Tanyaku yang membuat mereka agak terkejut seolah mendapat surprise.
"Memang benar Ak, saya pernah kerja di sebuah klub malam di Tokyo tapi hanya selama tiga bulan saja." Jawab Suciwati tampak tidak terlalu senang.
"Kenapa hanya singkat saja bukankah bayarannya cukup lumayan ?" Tanyaku.
"Lalu kamu kabur begitu ?" Tanyaku, mulai tertarik mengenal sosok cewek ini.
"Pada awalnya saya berniat begitu Ak, tapi karena saya tau peluang saya untuk kabur sangat kecil jadi saya menemui boss klub itu terang terangan mengundurkan diri dengan alasan terinfeksi penyakit menular." Ujarnya terlihat jujur apa adanya.
Aku tertegun dengan penjelasan dari cewek ini, ternyata otaknya cerdas juga mampu berpikir seperti itu, aku bisa bayangkan akibat apa yang menimpanya seandainya dia kabur.
"Tapi kamu nggak terinfeksi beneran kan ?" Tanyaku bercanda saja, karena aku tau gadis ini sehat bisa terlihat dari bagian bagian tubuhnya semuanya sangat fit dan segar.
"Ya nggak lah Ak, amit amit ih..." Jawabnya sangat menyenangkan gayanya, membuatku tersenyum.
"Boleh kulihat amplop yang kalian bawa itu, bukankah itu surat lamaran kerja kalian." Ujarku.
"Tentu Ak silahkan, kami semua hanya lulusan SMA saja Ak nggak ada yang istimewa tapi kami siap untuk bekerja keras." Ujar cewek yang rambutnya panjang di kuncir rapi.
Mereka lalu menyerahkan amplop yang mereka pegang padaku.
"Trimakasih banyak, sebenarnya kalian sudah di terima sejak awal karena kita memang butuh tenaga penjualan meski begitu surat lamaran kalian akan tetap kami pelajari dan menjadi hak kami untuk menyimpannya, kalian tidak keberatan kan ?" Tanyaku.
"Tidak Ak !!" Jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Tentang salary sudah di jelaskan Dewi belum ?" Tanyaku
"Sudah Ak..!" Jawab mereka serempak.
"Lalu pendapat kalian dengan salary segitu menurut kalian gimana ?" Tanyaku lagi.
"Kami setuju Ak, trimakasih banyak." Jawab mereka.
"Soal waktu dan jam kerja bagaimana kalian juga setuju ?" Tanyaku.
"Kami setuju semuanya Ak." Jawab mereka kompak.
"Karena ini toko bukan pabrik jadi memang tak mengenal hari libur selain hari besar dan hari hari tertentu saja jadi jika kalian ingin hari libur kalian akan mendapatkan jatah libur 4 hari dalam sebulan, tapi jika yang sebulan itu tak pernah libur maka kalian akan mendapatkan bonus premi hadir dan bonus kinerja full. Namun jika sehari saja ada liburnya dengan sendirinya premi hadirnya hangus meski masih ada bonus kinerja selain gaji pokok yang di sesuaikan dengan UMK. Bisa di pahami kan ?" Tanyaku.
"Bisa Ak." Jawab mereka serempak.
"Kalo begitu kapan bisa mulai bekerja ?" Tanyaku.
"Sekarang bisa Ak." Jawab mereka.
"Baiklah silahkan selamat bergabung dan bekerja dengan niat mencari nafkah dengan jalan yang halal yah, dan satu lagi karena kalian merupakan tenaga penjualan maka akan di tuntut sikap ramahnya yah, Tapi jika ada yang melecehkan pekerjaan kalian silahkan laporkan ke kami kita bisa memprosesnya kalo perlu secara hukum." Ujarku lagi.
"Siyap Ak... trimakasih banyak." Jawab mereka kompak dan serempak sambil tersenyum manis menawan.
Wow tempat ini bakalan jadi surga buat empat tangan besi ini, kata kata yang menggelitik pikiranku saat ini. Bagaimana tidak tokoku kini di dominasi dengan perempuan perempuan berparas rupawan.
Aku bergegas menyusul Aceng ke gudang dimana distributor batik sekar tanjung sedang membongkar muatan yang bernilai hampir satu milyar. Namun ketika aku tiba di atas, bongkar muat itu sudah hampir selesai.
Aku lalu mengecek sejenak kertas yang di sodorkan Aceng padaku, dan memintanya memberi jamuan buat dua orang distributor dari batik sekar tanjung itu di pantry Teh Yanah.
Setelah beramah tamah sebentar dengan kedua orang distributor itu aku berpamitan ke bawah, sementara Aceng masih menemani kedua orang itu sekaligus memberi mereka jamuan untuk sekedar makan dan minum ringan.
Seperti hari kemarin hampir semua anggota toko ini sangat sibuk bahkan kulihat dua cewek baru anggota kami itu terlihat luwes melayani pengunjung meski masing masing mereka masih di bantu oleh Rasti dan Aliyah yang notabene juga teman dekat mereka.
Kali ini yang paling keteter justru bagian kasir hingga antrian orang yang akan membayar belanjaan mereka begitu panjang. Doni yang kemarin mondar mandir untuk mengambil stok dari gudang kini ikut membantu pengemasan karena Riko terlihat kewalahan.
Sementara untuk lantai dua, Imas menerapkan sistem ambil sendiri lalu bayar di kasir bawah. Sari sendiri lebih banyak berkutat di bagian busana yang seakan merupakan sepotong kue baginya karena pengalamannya bekerja di sebuah butik.
Melihat suasana terlihat kondusif karena sepertinya mereka telah belajar banyak dari hari kemarin sehingga kali ini tak terlihat kewalahan meskipun pengunjung toko kami terus berdatangan tanpa henti.
Aku memutuskan untuk pergi ke bank lokal cabang himbara yang telah cukup lama membuka kantornya di tempat ini yang meskipun hanya sebuah kampung tapi menjadi pusat perdagangan bagi kawasan sekitarnya, justru karena mayoritas penghuninya berprofesi sebagai pedagang.
__ADS_1