
Aku menghela nafas panjang sejenak, meski aku memang sangat kecewa saat ini tapi aku tetap menyadari bahwa di sini posisiku bukanlah siapa siapa. Mas Farhan lah yang berhak atas Mbak Sari bukan aku yang tak tau diri ini. Mas Farhan adalah suami sah Mbak Sari, lah aku siapa aku.
Aku akhirnya membuka pintu ketika kedua suami istri itu mendekati mobilku. Sambil menjinjing dua buah plastik besar berisi mulai dari susu sampai biskuit dan aneka makanan lainnya.
"Bagaimana kabar ibuk mbak?" Tanyaku bersopan santun.
"Sudah baik kok mas, itu bawa apa? mari masuk dulu mas !" Ujar Mbak Sari menanggapi, sementara kulihat Mas Farhan hanya tersenyum sinis.
Ku serahkan apa yang kubawa pada Mbak Sari dan dia menerimanya sambil tersenyum manis sekali kemudian langsung membawanya ke dalam rumahnya.
"Sudah ngga kerasan kau hidup di Jepang?" Ujar Mas Farhan terasa nyelekit di pertemuan kami yang pertama setelah beberapa tahun.
Sepupuku yang satu ini memang sebelas dua belas dengan Pakde Joyo ayahnya yang kalo bicara membawa silet di mulutnya.
"Apa kabarmu mas?" Tanyaku ramah meski ia melihatku dengan tatapan sinis.
"Baik. Tapi ngapain kamu kesini?" Tanya Mas Farhan kasar.
"Aku sudah janji ingin jemput Mbak Sari sebelumnya jadi aku cuma menepati janji saja." Jawabku.
"Sari tak akan pulang ke Tawangsari lagi. Aku akan membawanya ikut bersamaku." Ujar Mas Farhan membuatku terkejut. Aku berusaha untuk tenang.
"Oh jadi kau bermaksud mengajak Mbak Sari ke Surabaya kah mas?" Tanyaku.
"Ngapain ke Surabaya... aku aza kerjanya di Semarang kok." Jawabnya dengan jumawa entah apa maksudnya.
"Jadi selama ini kau tak pernah kerja ke Surabaya mas? Ujarku.
"Ya kenapa? masalah buat lu?" Tanyanya sinis.
"Ah nggak... hanya aneh saja kau kerja di Semarang tapi nitipin istrimu yang jelas jelas rumah tinggalnya di Semarang ke Tawangsari yang jelas jelas membuat Mbak Sari tersiksa. Apa kau tau mas kalo Bude Marni sering bermasalah dengan Mbak Sari?" Ujarku.
"Ya aku tau karena itu sekarang, Sari tak akan tinggal bersama mamak lagi, lagipula tadi pagi mamak telpon aku di suruh bawa Sari pergi dan ternyata alesannya aku tau sekarang, karena kamu kan?" Ujar Mas Farhan benar benar menohok.
"Apa katamu? enak saja ngomong asal jeplak saja mulutmu mas, harusnya dalam hal ini kau lah yang pantas di salahkan karena tak mampu mengakomodasi kepentingan istrimu karena kamu terlalu tolol, giliran ada yang perhatian kalian semua cari kambing hitamkan aku, enak bener." Balasku tak kalah pedas.
__ADS_1
Aku kini paham Bude Marni lah di balik kedatangan Farhan kesini bersamaan dengan aku, namun satu yang pasti Mbak Sari tak akan pernah bertemu denganku lagi karena Bude Marni sudah terang terangan mengusirnya dengan menyuruh Mas Farhan membawanya.
"Baiklah kurasa ga ada gunanya aku berlama lama di sini, biarlah aku menemui Mbak Sari dan mamanya dulu untuk sekedar berpamitan." Ujarku melunak sementara Mas Farhan tetap menatapku dengan ketus dan sinis.
Tanpa menunggu persetujuan darinya aku kemudian melangkah memasuki teras rumah yang bermodel panggung itu, namun aku langsung melihat Mbak Sari yang tengah berdiri di balik pintu tengah dengan lelehan air mata mengalir di pipinya.
"Mbak ternyata bude tak menginginkan kehadiran mbak lagi, jadi aku mohon pamit yah tapi jangan khawatir jika suami mbak yang tolol itu mengabaikan mbak, jangan sungkan hubungi aku." Ujarku sengaja ku buat agak keras biar Mas Farhan mendengar.
Mbak Sari terdiam namun jelas tangisnya semakin gencar meski tak bersuara. aku pun segera bergegas menemui mama Mbak Sari yang kulihat tiduran di salah satu ruangan kamar dalam rumah itu. Seperti Mbak Sari ternyata beliau pun juga ikut menangis.
Perlahan aku cium buku tangan beliau lalu berucap doa untuk kesehatan beliau kemudian aku berpamitan untuk segera mohon diri. Dan mama Mbak Sari hanya mengangguk sembari berlinang air mata.
"Ibuk hanya bisa mengucapkan terimakasih nak.." Ucap beliau lirih sambil tergugu dalam isak tangisnya.
Aku mengangguk lalu bangkit dan beranjak.
"Ibuk slalu jaga kesehatan yah, saya mohon diri dan maaf jika kedatangan saya membuat repot Ibuk sekeluarga." Ujarku kemudian lalu berlalu dan di hadang Mbak Sari yang tiba tiba saja menghambur memeluk aku.
Aku terkejut namun aku terdiam dan hanya bisa membiarkan dada ku jadi tempat Mbak Sari menuangkan segala emosinya. Sementara itu kulihat Mas Farhan menatap aku dengan tatapan mata nyalang dan penuh kebencian.
"Mas Farhan kasar sekali kamu." Hardikku pada sepupuku itu.
"Tutup mulutmu brengsek. Pergi sana !!! segera lah enyah dari sini." Ujar Mas Farhan sangat kasar padaku.
"Kamu yang pergi brengsek !!!" Tiba tiba Mbak Sari berteriak keras membuat kami semua terkejut. Aku lihat Mbak Sari menatap Mas Farhan dengan penuh kebencian.
"Ambarsari apa maksud kamu? aku ini suami kamu." Ujar Mas Farhan sambil memegang kedua lengan Mbak Sari.
"Kalo gitu ceraikan aku sekarang juga, aku sudah tidak mau jadi istrimu." Ujar Mbak Sari lagi lagi membuat kami semua terkejut, aku sendiri tertegun tak menyangka akan seperti ini jadinya.
"Ambarsari jangan gila kamu.." Ujar Mas Farhan berusaha meredam emosi hati istrinya.
"Buat apa lagi mempertahankan hubungan, ibumu sama sekali tak menyukai aku dan kamu apa pernah kau memperhatikan aku, baru nikah saja langsung di tinggal pergi, pernikahan macam apa itu." Ujar Mbak Sari ketus menumpahkan uneg-uneg hatinya.
"Maaf Sari soal itu aku akui aku khilaf tapi kan aku kerja demi dirimu juga sayank..." Ujar Mas Farhan dengan nada bicara yang lembut.
__ADS_1
"Maaf mas, aku tetap ingin kau ceraikan aku." Balas Mbak Sari dingin.
"Tapi kenapa sayank? bukankah soal itu nanti bisa aku benahi, aku janji akan lebih perhatian padamu." Ujar Mas Farhan berusaha untuk membujuk Mbak Sari.
"Percuma mas Ibumu sama sekali tak menyukai aku dan lagipula..." Ujar Mbak Sari lalu terdiam.
"Lagipula apa sayank?" Tanya Mas Farhan lembut.
"Aku sudah tak mencintaimu lagi mas, maafkan aku." Ujar Mbak Sari.
Mas Farhan tampak shock, sesaat ia tertegun dan bengong sebelum menoleh padaku dengan tatapan mata nyalang seakan hendak membunuhku.
"Pasti gara gara bajingan Agung itu kan?" Ujar Mas Farhan keras.
Aku diam terhenyak bingung mau berucap apa, dalam hal ini suka atau tidak aku memang bersalah, tapi haruskah aku terang terangan melawan saudaraku sendiri.
"Hei monyet kenapa kamu tidak pergi juga !!!" Ujar Mas Farhan kembali menghardik dan mengusirku seakan aku ini hanyalah binatang hina. Namun aku hanya bisa diam.
"Sudahlah mas ga usah menyalahkan siapapun karena ini urusan kita, biar tidak berlarut segera ceraikan aku saja alasannya sudah jelas kan." Ujar Mbak Sari.
"Jawab jujur apakah kalian telah berkhianat di belakangku?" Tanya Mas Farhan lirih.
Sejenak kemudian baik Mbak Sari atau aku hanya terbungkam, hingga Mas Farhan kembali mengulang pertanyaan yang sama. Aku tau kalo Farhan tak akan berhenti sebelum ia mendapat jawabannya.
"Iya mas aku memang telah mengkhianati kamu."
Akulah yang akhirnya menjawabnya, dan sedetik kemudian.
Bughhhh.....
wajahku di terpa oleh pukulan kepalan tangan Mas Farhan dengan kerasnya, namun aku tak bergeming karena bagiku pukulan seperti itu ibarat usapan tangan saja, beberapa kali Mas Farhan terus memukuliku namun aku hanya diam tak bergeming, sebelum ia menghentikan karena Mbak Sari yang berteriak histeris.
"Awas kau Nyet....!!" Ujar Mas Farhan sambil menunjuk ke arah mukaku.
"
__ADS_1