
Selepas maghrib, aku menemani Sari yang sedang melakukan panggilan video dengan kakak dan mamahnya, ketika terdengar pintu luar di ketok, di iringi sebuah teriakan.
"Boss...jadi nggak ke rumah Haji Obi ?!"
Terdengar suara teriakan Aceng dari luar.
"Yank aku pamit sebentar yah..." Ucapku sambil mengecup ubun ubun kepala Sari yang tentu saja bisa di lihat oleh keluarganya dari video hp mereka.
"Iya jangan lama lama yah...!" Ujar Sari sambil menatapku.
"Dek memang mau kemana Agung...?" Tanya Mbak Wati ikut nimbrung kepo dalam video call nya.
"Mau cari janda muda mbak...doain yah biar dapat hehehe." Pamitku menggoda calon kakak iparku itu, tentu saja dengan Sari yang auto melotot kan matanya padaku.
"Awas yah macam macam...bisa tak sunat dua kali nanti burungmu...!!!" Teriak Mbak Wati dari hp.
"Bukan cuma di sunat mbak, kalo perlu di mutilasi sekalian trus di jadiin umpan anjing jalanan." Tukas Sari keras.
"Wuihh sadisnya...dah aku pamit yah sayank, di tungguin sama si sengkek tuh." Ujarku sembari sekali lagi mencium rambut kepala dan juga pipi kekasihku itu.
"Nanti kalo kelamaan minta saja Dewi buat nemenin kamu yank." Ujarku lagi menambahkan.
Sesaat kemudian dengan naik motor bebek milik Aceng, kami pergi ke tempat kediaman Haji Obi yang berada di kampung sebelah yang hanya terpisah jarak satu bulak persawahan sepanjang setengah kilo saja dari Krajan.
Sampai di kediaman Haji Obi kebetulan beliaunya sedang berada di teras pendopo rumahnya bersama seorang anak perempuannya yang tinggal bersama beliau saja karena aku dengar dari Aceng bahwa istri beliau belum lama telah meninggal dunia saat wabah penyakit beberapa waktu silam. Meski begitu Haji Obi memiliki beberapa anak yang sudah mapan dan tinggal di tempat lain.
"Mikum Haji...!!!" Ujar Aceng tanpa basa basi begitu kami turun dari motor.
"Hei Ceng... walaikumsalam...!!! kemari lah kalian !!" Jawab beliau.
__ADS_1
"Bukankah tadi Pak Haji pengen tau yang mana Agung ini saya bawa orangnya...." Ujar Aceng sangat santai meski berbicara dengan orang yang jauh lebih tua darinya.
Aku pun segera menghampiri pria yang sudah berusia senja itu kemudian menyalim tangan beliau lalu bersalaman dengan anak perempuan beliau dengan hanya saling menangkupkan kedua telapak tangan kami di depan dada kami masing masing, untuk menghormati dia yang berbusana syar'i.
"Sini sini duduk dulu..!! Neng tolong bikinin minum buat tamu kita yah...!!" Ujar Haji Obi.
"Baik pah.." Jawab perempuan yang belum aku ketahui namanya itu yang jelas parasnya sangat cantik jelita.
Kami segera duduk di kursi kosong di hadapan Haji Obi, setelah anak perempuan beliau pergi masuk ke dalam rumah.
"Jadi gimana, ada perlu apa ini ?" Ujar Haji Obi seolah tak ingin basa basi lagi.
"Yang tadi siang Pak Haji...tawaran dari Pak Haji memang di terima oleh kawanku ini, tapi dia hanya mampu membayar 750 juta saja Pak Haji, kalo Pak Haji masih bersedia kami sudah siapkan uang pembayarannya." Tutur Aceng lugas dan jelas.
"Wah kok masih turun lagi seh padahal itu harusnya satu M lebih loh nilainya." Ujar Haji Obi.
"Yah gimana lagi Haji kan tadi saja baru bayar penggilingan padi juga trus duitnya juga sebenarnya lagi buat modal ngisi toko dulu." Kata Aceng beretorika, wow pandai sekali dia negosiasi hehehe.
"Iya gapapa Pak Haji yang penting Pak Hajinya ridho dan ikhlas melepas sawahnya, biar kami juga dapat berkah nantinya." Ujar Aceng lagi.
"Iya iya iya .. hehehe kamu memang pintar Ceng... oh iya bukankah sawah itu nantinya yang nggarap juga bapakmu kan Ceng ?" Balas Pak Haji Obi.
"Ya begitulah mungkin kira kira Pak Haji, terserah yang punya sawahnya saja. Oh iya ini cek pembayarannya Haji, biar saya bikin kwitansi nya dulu." Ujar Aceng sembari merogoh sesuatu dari balik jaket kulitnya.
"Baiklah sebentar yah...!!" Ujar Pak Haji Obi lalu berusaha beranjak berdiri sambil memegangi pinggangnya lalu melangkah dengan sedikit tertatih.
Tak lama setelah itu dari balik pintu rumah keluar anak perempuan Pak Haji Obi dengan nampan di tangannya yang berisi tiga cangkir kopi kemungkinan.
"Silahkan di minum Ak..." Ujar perempuan itu sambil melirik ke arahku.
__ADS_1
"Trimakasih Eteh...maaf jadi merepotkan." Ujarku.
"Minum kopi bikinan cewek cakep pasti di jamin menyegarkan ya nggak cuy ?" Ujar Aceng yang membuat perempuan itu tertawa terkekeh sembari melangkah pergi masuk ke dalam namun keluar lagi dengan membawa dua buah piring di tangan kiri dan kanannya yang ternyata berisi gorengan yang masih hangat.
"Wuih mantap, ga perlu malu teh keluarin semua saja pasti di jamin habis nanti hahaha." Ujar Aceng sangat santai, sementara perempuan itu hanya tertawa dan tersenyum saja, apalagi saat Aceng tak ragu untuk segera mencomot hidangan yang di bawanya.
"Gung...ayo makan cimplung ini enak sekali, ga usah malu malu kalo perut kita ingin di isi." Ujar Aceng benar benar santai, namun justru membuat kami serempak tertawa.
"Baiklah maaf Teh, saya ikut cicipin yah." Ujarku sambil tersenyum.
"Oh iya Ak...sok wae atuh..." Jawab perempuan cantik itu sambil tersenyum manis saat menatapku.
"Enak Teh...benar kok mantab ini." Kataku setelah menyelesaikan sepotong goreng cimplung alias nangka yang di goreng dengan tepung terigu yang rasanya manis dan gurih jadi satu.
Pak Haji tergopoh keluar dari rumah dengan membawa beberapa buku sertifikat di tangannya.
"Nah ini sertifikat sawah itu Ceng, kamu periksa dulu takutnya ketukar dengan sertifikat yang lain. jumlah luas total sawah dalam sertifikat ini ada satu hektar sepuluh are yang terbagi dalam tiga sertifikat." Ujar Pak Haji Obi sambil menyerahkan sertifikat sertifikat itu pada Aceng yang segera memeriksanya.
"Iya Pak Haji sudah benar ini." Ujar Aceng.
"Itu kalo panen sedang bagus bisa dapat delapan ton gabah." Ujar Pak Haji sambil menatapku.
"Trimakasih Pak Haji mudah mudahan menjadi berkah buat kami dan juga buat Pak Haji sekeluarga." Ujarku ramah.
"Iya...nak...tapi sebenarnya masih ada satu hal yang Pak Haji risaukan dan sampai sekarang belum juga terpecahkan." Ujar Pak Haji Obi sembari menghela napas kemudian menatapku.
"Maaf Pak Haji kalo boleh tau hal apakah yang membuat Pak Haji risau ?" Tanyaku sopan.
"Anak bungsuku ini sampai sekarang belum laku juga padahal kalo di lihat apa kurangnya anakku ini ya kan cantik iya pintar ngaji iya pintar masak iya lulusan sarjana pula, tap sampai sekarang belum juga ada yang mau itu bagaimana...?" Ujar Pak Haji yang membuat aku dan Aceng serempak menatap perempuan cantik jelita yang duduk di sebelah Pak Haji Obi itu yang kini hanya menundukkan wajahnya dalam dalam.
__ADS_1
"Aku jomblo kenapa nggak di tawarkan ke saya saja Pak Haji." Ujar Aceng entah serius apa bercanda.
Pak Haji menatap Aceng lalu tertawa kecil.