OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 57 Saudara Sampai Mati


__ADS_3

Selepas kepergian empat pekerja dari Eterna yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, Dewi dan Sari juga berpamitan untuk kembali ke rumah dengan alasan mau menyiapkan makan malam buat kami.


Kini tinggal kami berenam saja yang masih berlama lama duduk di dalam bangunan mirip gazebo yang sengaja di buat Aceng untuk warung kopi dalam angan angannya.


"Besok siapa yang nemanin aku ke Tanah Abang?" Tanyaku.


Beberapa saat kemudian suasana langsung senyap, mereka semua hanya berdiam diri.


"Kamu kan bossnya kenapa harus nawarin segala Gung...langsung tunjuk saja siapa yang ingin kamu bawa ?" Tukas Aceng yang memang ada benarnya juga.


"Baiklah besok Mas Suranto dan Mas Doni ikut bersamaku, Aceng besok cari dagangan ke Bandung sesuai rencana kita kemarin, kalo bisa kamu ajak Imas untuk membantu kamu Ceng ! Mas Trimo dan Riko di sini barangkali sudah ada barang dari Jawa yang datang." Ujarku membagi tugas di antara kami.


"Nah gitu kan enak !" Ujar Aceng lagi.


"Boss kalo memang ada barang yang datang besok gimana?" Tanya Trimo.


"Langsung saja bawa ke gudang dulu di lantai atas nanti kuncinya aku serahkan ke mas berdua, salah satu dari kalian nanti mengecek barang barang itu terutama jumlahnya sesuai apa tidak gitu lalu serahkan saja pada Sari atau Dewi setelahnya." Ujarku menjelaskan.


"Baiklah boss di mengerti." Ujar Trimo, sementara Riko yang memang agak pendiam orangnya hanya mengangguk anggukan kepala saja.


"Ya sudah kalo mau istirahat sekarang boleh nanti yang penting setelah maghrib kumpul di rumah untuk makan malam okey.." Ujarku sambil tersenyum.


Mereka hanya tersenyum namun tak menanggapi apapun.


"Boss mulai malam ini apa sebaiknya kami tidur disini saja, pertama untuk jaga kan apalagi tempat ini sudah ada inventarisnya, mobil juga di sini semua." Ujar Doni.


"Baiklah terserah saja gimana baiknya, atur saja boleh dua di sini dua yang lain istirahat di rumah atau bagaimana terserah kalian saja. Eh itu yang pertama trus yang kedua apa mas?" Ujarku menanggapi.


"Yang kedua apa yah? ya cuma gitu aza sih boss untuk keamanan." Ujar Doni sambil tertawa kecil.


"Halah bilang aza mau ngecengin cewek yang rambutnya di cat merah tadi siang pas beli es kan ?" Ujar Riko menyindir Doni yang membuat kami semua serempak tertawa terbahak bahak.


"Wah hebat baru datang aza sudah dapat gebetan." Ujarku sambil tersenyum dan menatap Doni.


Sementara Doni yang paham menjadi bahan tertawaan hanya ikut cengengesan saja sama sekali tak menunjukkan emosinya.


"Eh cewek berambut merah yang mana sih orangnya?" Tanyaku tiba tiba ikut kepo.

__ADS_1


"Itu tuh si Yanah janda muda baru anaknya Ceu Yeyen." Tukas Aceng ikut menyahut.


"Oh yang jualan es doger di sebelah?" Tanyaku lagi.


"Nah itu tau." Kata Aceng.


"Ya sudahlah pokoknya terserah saja atur aza gimana baiknya, sudah yah aku mau pulang mandi nanti abis maghrib jangan lupa makan malam di rumah, jangan nggak datang soalnya Sari bisa ngambek." Ujarku.


"Okelah boss, meski sebenarnya kami bisa masak makanan buat kami sendiri boss, daripada ngrepotin boss terus." Ujar Suranto.


"Masak? memang ada alatnya apa ?" Tanyaku.


"Lah memang kamu belum tau Gung, mereka bawa kompor segala loh kesini." Ujar Aceng yang mengetahuinya karena tadi pagi dialah yang mengantar mereka ke rumah akomodasi yang aku sediakan buat mereka.


"Hehehe iya sih boss bahkan magic com juga ada kami bawa kok, termasuk ketel air dan panci serta penggorengan, makanya itu boss kami tidak naik bus kesininya, ribet bawa barang gituan." Ujar Trimo.


"Untungnya kebetulan juga adik ipar Suranto sedang ada di rumah mau mengantar kita ya sudah kan." Ujar Riko menambahkan.


"Trus tadi Mas Arman di kasih ongkos berapa?" Tanyaku.


"Iya deh baguslah. Tar buat beli beras aku kasih deh kalo mau masak sendiri." Ujarku.


"Ga perlu lah boss kami sudah bawa sendiri kok beras dari rumah." Kata Doni, sementara yang lain hanya tersenyum, termasuk Aceng yang menatap empat tangan besi dengan kagum.


"Baiklah tapi nanti makan malam tetap di rumah dulu yah, aku nggak ingin Sari jadi kecewa jika kalian nggak datang, dan nanti nanti nggak usah jaga jarak lagi padanya maafkan aku seperti aku, Sari juga sudah menganggap kalian semua saudaranya sendiri, dia sangat mengagumi kalian semua terutama sejak kalian membantunya saat dia di culik kemarin itu." Ujarku yang membuat empat tangan besi terdiam dan menundukkan kepala mereka.


"Maaf boss, bukan maksud kami untuk jaga jarak tapi kami hanya..." Ujar Suranto.


"Tak enak padaku jika aku cemburu kan ?" Tanyaku dan mereka semua langsung terdiam.


"Khusus untuk kalian aku akan meredam sifatku yang satu itu.... karena aku percaya kalian, kita adalah saudara dan akan begitu seterusnya bukankah begitu?" Ujarku.


"Iya boss..!!" Jawab mereka serempak.


"Baiklah aku pulang dulu ! kalian juga istirahatlah sejenak masih ada sedikit waktu sebelum maghrib. Oh ya mulai saat ini tempat ini tanggung jawab kalian berempat yah." Ujarku lagi.


"Okey boss....!!!" Jawab mereka kompak.

__ADS_1


"Ya sudah yuk Ceng..!" Ajak ku ke Aceng.


"Tunggu tunggu tos dulu donk... bukankah kita semua saudara." Ujar Aceng sambil tersenyum tengil.


Lalu aceng mengepalkan tangannya dan menjorokkan ke depan yang kemudian kami mengikutinya mengadukan kepalan tangan kami semua di tengah.


"Gung kamu bilang saudara gitu yah dan kita berlima akan jawab sampai mati yess sambil menarik tangan kita bareng.. okey ?" Ujar Aceng.


"Siyapp..." Jawab kami serempak.


"Saudara...!!!" Ujarku.


"Sampai Matiii Yesssss.....!!!" Jawab mereka berlima mantab.


Sesudah itu kami tertawa ngakak bersama sebelum aku dan Aceng pergi dengan membawa mobilku karena kebetulan Aceng juga tidak membawa motornya.


Setidaknya hatiku sedikit lega bahwa kesalahpahaman kecil tadi pagi telah selesai dengan baik. Dan Sari juga ikut senang meski sikapnya hanya biasa saja saat aku ceritakan kondisi empat tangan besi yang ternyata telah membawa perbekalan mereka sendiri.


"Yank, kok sepertinya kamu tidak begitu senang? bukankah empat tangan besi sudah janji tak akan menjaga jarak dari kamu lagi." Ujarku pada kekasihku itu yang masih sibuk membuat makan malam kami.


"Aku senang kok mas, tapi senang aku itu lebih kepada hubungan pertemanan kalian yang lebih baik itu aza." Jawabnya.


"Cuma itu saja? Tapi bukankah kamu sedih tadi saat empat tangan besi jaga jarak dari kamu ?" Tanyaku.


"Ah nggak juga tuh biasa saja, terserah juga empat tangan besi mau jaga jarak denganku jika persahabatan kalian tetap baik." Jawabnya.


"Lah kok gitu, tapi bukankah kamu ngefans banget yah sama mereka, katamu kan mereka baik trus asyik bcandanya bikin kamu slalu senang." Ujarku.


"Stop...maksud aku itu mas aku itu enjoy aza dengan sikap mereka selama mereka slalu baik dan setia sama kamu, soal mereka asyik dan suka becanda itu hanya sebatas nilai positif saja, aku nggak pernah masukin perasaan apapun sama mereka kecuali sahabat..tidak lebih." Kata Sari sambil menatapku.


"Tapi kamu kelihatan ngefans sama mereka sejak mereka membantu menyelamatkan kamu pas di culik kemarin itu. Kok sekarang jadi gitu?" Ujarku bingung dengan sikap kekasihku ini.


"Mas, dengar yah...please tolong dengar baik baik, aku memang sangat berterimakasih pada empat tangan besi karena membantu kamu menyelamatkan aku kemarin, tapi bukan berarti aku menganggap mereka pahlawanku yang harus aku sanjung dan junjung tinggi kan, bagiku pahlawanku ya cuma kamu saja mas cintaku, lagipula kan kemarin kamu juga bayar mereka kan untuk membantu kamu." Ujar Sari sambil mengakhiri perkataannya dengan mengecup bibirku.


"Jadi bener nih kamu nggak sedih kalo di cuekin empat tangan besi ?" Ujarku lagi menggodanya.


"Lah itu terserah mereka donk mau baik atau cuekin aku itu hak mereka, tapi kalo memang mau cuek sama aku yah siap siap saja gaji mereka aku potong." Ujar Sari sambil tersenyum meledekku.

__ADS_1


__ADS_2