
Mbak Sari berlari menghampiriku setelah tadi aku menyuruhnya bersembunyi di dalam mobil. Dia memeluk tubuhku dan menahan tanganku yang masih ingin menghajar beberapa preman yang kini hampir semuanya sudah tak berdaya.
"Mas...cukup mas...tak perlu mas membunuh mereka." Ujar Mbak Sari sembari berlinang air mata saat menyaksikan Mas Farhan dan kawan kawannya sudah terkapar tak berdaya.
"Boss...polisi, sebaiknya kita segera pergi..." Bisik Andi , dan memang benar kami semua telah mendengar sayup-sayup suara sirine mobil polisi yang meraung raung.
"Baiklah mari mbak kita pergi.." Ujarku lalu melirik ke arah Suranto yang ternyata paham akan maksudku.
Dia memberikan kontak mobil padaku, lalu mereka berempat duduk di kabin penumpang, sementara aku kembali mengemudi dan Mbak Sari duduk di sampingku. Aku segera melajukan mobilku, ke arah barat, perlahan saja beriringan dengan kendaraan kendaraan besar yang keluar masuk pelabuhan.
Jalan raya yang kami lalui sebenarnya berujung pada jalur pantura, yang setelah aku ambil kiri akan berujung kembali ke jalan tol lagi, namun kali ini aku memilih melalui daerah Ngaliyan untuk transit makan siang yang telat buat aku dan Andi serta bahkan Mbak Sari yang kelihatannya belum makan dari pagi.
Di jalan depan sebuah kampus universitas islam negeri, tepatnya di sebuah rumah makan aku belokkan kendaraan lalu berhenti.
"Kita makan lagi boss?" Ujar Trimo.
"Kita? Elu bertiga doank keles...." Sahut Andi langsung, mungkin ia saat ini pun merasa sangat kelaparan seperti aku juga dan Mbak Sari yang bahkan sudah terlihat sangat lesu.
"Maaf tadi yang bayar makanan siapa?" Tanyaku.
"Trimo boss." Jawab Riko alias si juling.
Aku berikan empat lembar uang nominal ratusan pada Trimo.
"Kalo ada sisa beli camilan buat kalian bertiga, tapi maaf kami bertiga mau makan dulu di sini gapapa nunggu sebentar." Ujarku.
"Siyap boss, itu si Andi juga sudah rese kalo lagi kelaparan." Jawab Trimo sambil tersenyum. aku hanya tersenyum saja tak berucap lagi, namun segera merangkul pundak Mbak Sari yang terus berada di dekatku.
Rupanya restoran yang kami masuki ini, restoran makanan laut yang di ruang dalamnya sudah tak terlalu ramai karena dari sekian banyak bangku kursi yang berjajar rapi hanya dua bangku saja yang terisi itupun hanya satu dua orang saja. Hal yang wajar mengingat ini sudah bukan jam makan siang lagi.
Aku dan Andi tampak kebingungan memilih menu makanan buat kami karena aku memang kurang suka makanan laut.
"Boss kita salah masuk restoran." Bisik Andi, aku hanya bengong namun Mbak Sari justru tersenyum.
"Biar aku saja yang milih menunya kalian pasti suka." Ujar Mbak Sari, aku dan Andi serempak menganggukkan kepala.
"Mereka bertiga kira kira ngapain ya boss?" Ujar Andi menanyakan saudara saudaranya, ketika kami masih menunggu pesanan makanan yang kami pesan.
__ADS_1
"Paling beli es, tadi kulihat ada es selendang mayang di depan." Jawabku.
"Mas aku juga mau es selendang mayang." Bisik Mbak Sari lirih.
"Oh tentu mbak boss apapun yang kau inginkan pasti aku kabulkan kok."Jawabku membuatnya tersenyum.
Setelahnya kami tak banyak ucap lagi setelah pesanan makanan kami datang, kami benar benar fokus mengisi perut yang rasanya bukan keroncongan lagi tapi mendendangkan musik cadas yang meraung raung tak jelas.
Setelah perut kenyang aku membayar di kasir bersama Sari yang slalu nempel padaku, sementara Andi ngacir keluar duluan alasannya mau merokok dulu.
"Mereka semua teman temanmu mas?" Tanya Mbak Sari saat kami masih berada di dalam ruangan restoran.
"Iya mbak, tepatnya mereka nanti dan seterusnya akan kerja sama aku di Subang." Jawabku.
"Mereka tampaknya orang baik semua." Kata Mbak Sari bergumam.
"Iya mbak, meski kelihatannya berwajah katrok tapi mereka serba bisa mbak." Ujarku, Mbak Sari hanya mengangguk angguk.
"Mas bolehkah aku ikut denganmu ke Subang?" Ujar Mbak Sari sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi tolong selalu temani aku ya mas, aku ingin melalui saat saat ini bersamamu." Ujar Mbak Sari.
"Baiklah tapi untuk itu aku punya pamrihnya." Ujarku sambil tersenyum licik.
"Memang apa pamrihnya?" Ujar Mbak Sari tampak merona wajahnya.
"Aku hanya mau melakukan seperti saat di hotel kemarin itu, setelah kita menikah mas. Aku ga mau hamil duluan." Ujar Mbak Sari melanjutkan.
"Wah apakah aku terlihat semesum itu mbak, hingga kau cemas aku minta itu lagi." Ujarku.
"Lalu mas ingin apa pamrihnya?" Ujar Mbak Sari jadi cemberut.
"Aku ingin seperti tadi saat menggendong kamu mbak, aku ingin bibir indahmu itu nempel terus di pipiku. Gimana boleh kan?" Ujarku sambil tersenyum.
"Oh itu tow hihihi boleh kok pasti boleh tapi dalam mimpi dulu yah hihihii." Ujar Mbak Sari sambil tertawa kecil.
"Hahhh....dalam mimpi." Gumamku pura pura kecewa lalu kurasakan Mbak Sari mengecup pipiku dengan cepat, lalu menarik tanganku pergi keluar.
__ADS_1
Matahari sudah semakin rendah ketika kami melanjutkan perjalanan. Kulihat Mbak Sari sudah bisa tersenyum semringah lagi, mungkin ia sudah melupakan beberapa waktu tadi yang mana mungkin akan ia ingat sebagai waktu terkelam baginya.
Celotehan dari empat tangan besi yang kebanyakan menyindir Andi, cukup membuat urat urat yang sempat tegang tadi jadi mengendor karena kami bisa tertawa terbahak bahak, Mbak Sari yang ikut tertawa membuat empat tangan besi semakin tak sungkan untuk bergurau.
Aku sempat berhenti lagi di sebuah atm bank yang ada di dekat jalan, menarik sejumlah uang tunai sampai ambang batas penarikan dalam sehari dan semua uang itu langsung ku serahkan pada empat tangan besi untuk di bagi rata.
"Wah boss ini ga kurang banyak boss?" Ujar Suranto.
"Asyik bisa ganti hp baru.." Sahut Riko.
"Mantab mantab...sering sering aza boss..." Ujar Trimo.
"Asyik...makasih boss ngasih modal buat ngajakin kencan Sumini.." Ujar Andi sambil menyeringai pada teman temannya.
"Nah loh benar kan boss si Andi jadi mupeng karena di jadiin obat nyamuk." Kata Riko, membuat semuanya tertawa terbahak bahak lagi, termasuk Mbak Sari yang tak kuasa untuk menahan tawanya.
Kulihat Andi hanya bersungut sungut membuat wajahnya jadi lucu.
Hingga tak terasa kami telah menghabiskan waktu satu jam lebih dari Ngaliyan sampai Ambarawa, kota kecil yang sangat mempesona panorama alamnya, sekaligus tempat di mana Mbak Sari di lahirkan.
Hari sudah senja ketika kami tiba persis di depan rumah keluarga Mbak Sari yang saat itu penuh dengan kerumunan orang orang di teras rumah.
Namun wajah wajah sedih itu berubah menjadi tangis terharu bahagia ketika Mbak Sari dengan santainya turun dari mobil dan menyapa mereka semua. Aku dan empat tangan besi yang menyaksikan peristiwa itu menjadi ikut terharu. Kami masih berdiri tertegun ketika tiba tiba pria paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai kepala kampung di situ, mengajak kami ke atas.
Kami di perlakukan selayaknya pahlawan yang baru kembali dari medan perang. Apalagi saat Mbak Sari menceritakan keadaan yang di alaminya sampai ia bisa selamat kembali ke rumah karena di selamatkan oleh kami apa adanya.
"Trimakasih yang tak terhingga nak...kami semua tak mampu membayar kebaikan yang kalian lakukan selain berdoa mengharapkan berkah dari Yang Maha Kuasa untuk membalas budi baik kalian." Ujar pak kadus yang berwibawa itu mewakili keluarga yang ada di sisi sisinya.
"Sudah kewajiban kami untuk melindungi Sari pak, karena bagaimanapun ini juga atas ulah saudara saya sendiri." Jawabku.
"Jadi Farhan itu saudara anakmas Agung kah?" Tanya kepala dusun.
"Dia sepupu saya pak, tapi saya tak akan menghalangi jika keluarga di sini akan menuntutnya secara pidana atas ulah saudara saya itu pak." Jawabku lagi.
"Oh kalo itu mungkin Ibu Lastri atau Mbak Ambarwati atau Mbak Ambarsari sendiri yang akan memutuskan, tapi sebagai kepala kampung di sini kami telah memutuskan untuk tidak bisa menerima kehadiran Farhan lagi di tempat ini. Jika di kemudian hari kami melihat dia di sini otomatis kami akan memperlakukannya sebagai seorang kriminal." Ujar kepala kampung itu cukup lugas dan tegas.
"Baik pak, nanti saya akan memberikan informasi soal ini pada keluarga kami khususnya orang tua Mas Farhan agar di ketahui." Jawabku yang membuat kepala dusun yang berwibawa itu mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1