
"Sudah hampir jam 3 yank... check out yuk !" Ujarku. Sari hanya mengangguk.
Kami sebenarnya sudah selesai bersih bersih tubuh sejak tadi, meski begitu Sari enggan untuk segera meninggalkan hotel dengan alasan masih capek dan ingin tiduran sejenak.
Sari menggamit lenganku dan berjalan ogah-ogahan di sampingku saat kami turun dari lantai dua hotel untuk mengembalikan kunci kamar pada penjaga hotel.
"Mas beneran kan kita berangkat ke Subang nya besok lusa?" Tanya Sari lirih dan terdengar melow.
"Iya sayank rencananya begitu, tapi klo ada perubahan mendadak aku pasti telpon kamu, begitu juga kalo nanti siyap berangkat jadi kamu bisa siap siap." Jawabku.
"Rasanya aku enggan berpisah denganmu mas." Gumamnya lirih.
"Cuma berselang sehari saja kok yank." Jawabku.
Setelah selesai mengembalikan kunci kamar akhirnya kami benar benar check out dari tempat itu. Dan di sambut dengan sebuah kemacetan panjang di jalan yang mengarah ke selatan karena ada sebuah kecelakaan truk kontainer yang terguling hingga memakan dua pertiga ruas jalan.
"Ada kecelakaan ya mas?" Tanya Sari meski ia pun sudah tau jawabannya apa karena pasti melihatnya.
"Iya kita lewat tol saja." Ujarku tanpa pikir panjang lalu membelokkan mobil ke kiri ke arah Semarang yang meski juga padat kendaraan namun relatif lancar.
Meski juga pada akhirnya aku harus memutar lebih jauh karena baru bisa exit di gerbang tol Salatiga namun setidaknya mengurangi penat kepala yang pusing karena harus berdesak desakan dengan sesama pengguna jalan lain hanya untuk melewati sebuah truk terguling.
Aku mengantarkan Sari tepat sampai rumahnya sebelum sesaat kemudian langsung berpamitan padanya dan juga mamahnya karena hari sudah mulai senja.
Dan aku baru benar benar sampai di rumah ku sendiri tepat ketika adzan isya berkumandang. Besok hari terakhir sebelum aku berangkat ke Subang, jadi aku berencana tak ingin kemana mana seharian.
Dalam samar aku melihat dua rumah yang cukup megah telah berdiri lengkap dengan atapnya yang sudah selesai, bahkan beberapa bidang tembok sudah selesai juga proses plesteran nya.
"Mas...kapan datang kok aku ga dengar suara mobil mas tadi ?" Ujar Anis dari depan pintu rumah darurat kami. Dia langsung menghampiriku.
"Tadi ada yang nyariin mas kesini loh." Ujarnya.
"Oh tumben siapa yang nyariin aku dek ?" Tanyaku heran karena sepanjang aku tau, teman teman sebayaku hampir semuanya telah meninggalkan kampung ini kalo tidak merantau ke kota brarti tinggal di wilayah lain mengikuti istri bagi yang sudah menikah.
"Tadi katanya pas mengenalkan diri namanya Yesi mas. Yesi Yuliana katanya teman mas waktu SMP." Ujar adikku itu.
"Ngapain dia kesini ?" Tanyaku.
"Katanya seh silaturahmi mas pengen ketemu sama mas, tapi jelasnya kurang tau seh soalnya ngobrolnya sama bapak." Jawab Anis.
__ADS_1
"Memang lama dia disini dek ?" Tanyaku.
"Ada mungkin seperempat jam an mas, mungkin Mbak Yesi malu karena di godain anak buahnya Kang Bejo tadi. Dia cantik banget loh mas." Jawab Anis terdengar memprovokasi.
"Sama siapa dia kesini ?" Tanyaku lagi.
"Berdua mas sama adiknya perempuan juga." Jawab Anis.
Aku terdiam sejenak. Pikiranku kembali melayang ke sepuluh tahun silam ketika itu aku masih umur 15 tahun dan sedang bersekolah di sebuah sekolah smp di kecamatan.
"Jangan melamun mas tar ada setan lewat loh." Goda adikku itu sambil tersenyum jahil.
"Sudahlah kamu sudah makan belum dek ?" Ujarku berusaha mengalihkan topik.
"Sudah mas...bapak juga sudah tadi habis maghrib. Mas belum makan kah?" Ujarnya. Aku menggeleng.
"Yah tinggal sambal sama tempe saja mas gimana ? kirain tadi mas sudah makan di luar kok." Ujarnya.
"Top....baiklah dek ayo masuk aku ingin makan." Ujarku sambil melangkah menuju rumah darurat kami.
Aku mulai menikmati makan malam ku meski hanya nasi putih dan sambel terasi bikinan Anis yang rasanya mirip dengan sambel bikinan mendiang ibuku. Sementara Anis sibuk dengan buku buku pelajarannya. Meski hanya belajar di pembaringannya saja tapi tetap sabar.
Aku ke SMK dan Yesi ke SMA setelah itu tak berapa lama hubungan kami terputus karena kesibukan masing masing dan berpisah meski belum ada ucap putus pacaran di antara kami.
Meski begitu pernah ku dengar kabar bahwa ia melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kota pelajar, sementara aku memilih bekerja karena aku sadar bukan dari golongan mampu. Saat itulah aku berpikir bahwa perempuan seperti Yesi bukan jenis perempuan yang aku mampu menggapainya.
"Dia hanya masa lalu, sementara Sari adalah masa depanku." Begitu kata hatiku untuk meneguhkan ku.
Anis mencegahku keluar rumah setelah aku selesai mencuci piring bekas makan ku.
"Mas kemana lagi seh, ga betah banget di rumah." Ujar adikku itu.
"Keluar dek, mas gerah habis makan tadi." Jawabku.
"Ga boleh...temenin Anis dulu di sini ihhh..." Ujarnya manja.
Mau tak mau aku langsung menghempaskan tubuhku di kursi rotan yang memenuhi ruangan bedeng kami yang sempit ini, karena mau di taruh di luar takut kehujanan karena rumah darurat ini tak ada terasnya.
Saat ku buka hp ku tiba tiba Anis berseru.
__ADS_1
"Oh iya mas, tadi Mbak Yesi kayanya nitip nomer hp deh buat mas, tapi yang nyimpen bapak." Ujarnya.
Aku hanya menatapnya sejenak namun tak menanggapi apapun selain senyuman aneh dariku yang membuat adikku mencibirkan bibirnya.
"Sari sama Yesi cantikan siapa dek?" Tanyaku.
"Cantikan siapa yah ? seimbang seh mas menurutku." Jawabnya, membuatku kurang puas.
"Brarti cantikan kamu donk dek." Ujarku menggodanya.
"Oh jelas donk...aku gitu loh." Ujarnya narsis membuatku tersenyum geli.
"Kamu mah masih bocil dek masih imut imut kaya marmut." Godaku lagi, Anis otomatis mengangkat salah satu buku pelajarannya dan mode akan di lempar ke arahku di tambah matanya yang indah itu di belalakkan melotot padaku.
Aku tertawa geli melihat tingkahnya.
"Iya iya kamu yang paling cantik sedunia." Ujarku pura pura takut akan murkanya.
Giliran Anis yang tersenyum terkekeh setelahnya. Tiba tiba saja mataku melihat sebuah kertas terselip di antara barang barang perkakas di dinding kayu. Dan ternyata benar saja itu nomor telepon Yesi Yuliana.
Tanpa pamit lagi pada adikku, aku keluar rumah berbarengan dengan bapak yang sudah berada di halaman rumah kami.
"Pulang jam berapa tadi nak?" Tanya beliau.
"Sudah lama pak." Jawabku datar setelah menyalim tangan beliau.
"Aku mau cari angin dulu pak." Ujarku sambil bergegas melangkah, bapakku hanya tertegun.
"Tadi ada yang nyariin kamu nak !" Ujar beliau.
"Iya pak Anis sudah bilang tadi." Jawabku, setelah itu aku kembali melangkah tujuanku kali ini adalah jalan pinggir kampung yang sepi.
Tuttt,...tuttt.....tuttt...tuttt....suara tanda panggilan telpon ku tersambung.
"Halo asalamualaikum !"
"Assalamualaikum...Yesi..." Ucapku kaku.
"Agunggggg....!!"
__ADS_1