
Ibu Lastri terdiam dan menghela nafas dalam dalam. Beberapa saat kemudian beliau bergantian menatap kami berdua yang duduk berdampingan.
"Baiklah minta izin lah dulu pada kakakmu ! jika kakakmu mengijinkan kamu boleh ikut pergi merantau." Ujar Ibu Lastri sambil menatap wajah Sari dengan nanar.
"Yeiii...mamah memang the best mom..." Ujar Sari senang sambil merangkulku, kemudian ia beranjak menghampiri mamahnya dan mencium kedua pipi mamahnya kiri kanan bergantian.
"Tapi ada catatan juga terutama buat kamu nak..." Kata Ibu Lastri sambil menatapku.
"Iya ibuk, saya akan berusaha menjaga Sari sebelum kami menikah nantinya, dan bukan saya saja ibuk bahkan seluruh orang yang bekerja sama saya akan saya suruh menjaga Sari, karena dia boss nya." Jawabku.
"Baiklah, Ibuk percaya padamu nak. Kamu tak akan seperti Farhan. Tapi tetap saja kalian juga harus minta ijin dulu sama kakaknya Sari, kalo dia juga mengijinkan berarti kalian dapat ijin ibuk juga." Ujar Ibu Lastri seolah olah begitu berat, sehingga berkesan muter-muter.
"Baik ibuk kita pasti juga akan minta izin sama beliau berdua. Tapi alangkah baiknya jika ibuk ikut saja bersama kami dan tinggal di Subang." Ujarku membuat Ibu Lastri terlihat kembali berpikir.
"Iya mamah...Mas Agung betul gimana kalo mamah ikut saja bersama kami ke Subang." Ujar Sari memperkuat ucapan ku barusan.
"Gampang soal itu, tapi yang jelas mamah hanya akan mau tinggal bersama kalian setelah Nak Agung sudah resmi jadi menantu mamah." Jawab Ibu Lastri terdengar tegas.
"Baiklah Nduk ajaklah kangmas mu buat makan dulu, sebelum kalian berangkat ke tempat kakakmu ! mamah mau ke tempat Bu Salamah dulu." Ujar Ibuk Lastri sebelum kemudian beliau beranjak meninggalkan kami.
"Ayo mas, tadi dengar kan kata mamah..." Ujar Sari sambil menarik tanganku, namun justru dia yang terhempas ke dalam dekapanku, saat tenaga tarikan ku lebih kuat darinya.
"Ihhh kok mulai berani nakal yah...." Ujarnya sambil tertawa kecil ketika aku mulai menciumi pipinya, dan Sari balas mengecup bibirku membuat kami akhirnya beradu bibir dan saling melumati.
Sejenak kemudian kami tenggelam dalam suasana hati yang mana bunga bunga cinta tengah bermekaran memenuhi ruang hati kami berdua. Begitu nyaman terasa, bahkan aku belum pernah merasa senyaman ini sebelumnya, meski Sari bukan yang pertama bagiku mengenal seorang wanita.
"Mas....sudah yah..." Bisiknya ketika kami sudah puas berciuman.
Aku hanya mengangguk menyetujui meski rasanya berat melepas keintiman ini, namun menyadari bahwa hubungan kami masih jauh dari kata halal jadi aku harus ikhlas memudarkan hasrat ku yang memuncak jika bersamanya.
Setelah itu kami hanya menikmati makan siang yang sebenarnya belum waktunya itu apa adanya saja tanpa romantisme lagi.
__ADS_1
Ibu Lastri sudah datang ketika kami baru saja selesai makan, dan aku sedang menunggui Sari yang sedang membersihkan peralatan bekas makan kami.
"Mamah kira kalian sudah pergi tanpa pamit mamah." Ujar beliau yang pasti hanya sekedar basa basi saja.
"Mamah pikir kami akan pergi tanpa minta ijin dulu dari mamah." Ujar Sari menanggapi mamahnya, sedang aku hanya diam menyunggingkan senyum.
"Maaf ibuk kami telah lancang makan mendahului ibuk." Ujarku.
"Iya nak gapapa orang tadi ibuk juga sudah makan lebih dulu dari kalian kok." Balas Ibu Lastri yang memang sesuai fakta.
Aku pun sebenarnya paham jika beliau meninggalkan kami tadi hanyalah untuk memberikan kesempatan padaku agar tak sungkan, selain beberapa makanan pendamping yang tadi aku bawa di meja makan sudah tersaji makanan lain seperti oseng cabai hijau dan tempe goreng kesukaanku serta ikan mujair goreng renyah yang merupakan hasil khas di daerah ini.
"Sekali lagi terimakasih banyak ibuk." Ujarku lagi dan beliau hanya mengangguk sambil tersenyum lebar semringah wajahnya.
"Mas....Subang itu kotanya gimana seh?" Tanya Sari begitu dia selesai dengan aktivitasnya.
Aku lalu mengambil hp ku dan membuka galeri penyimpanan gambar.
"Ini kali ingin tau tempat usaha kita nantinya." Ujarku sambil memberikan hp ku padanya.
"Tugasmu nanti adalah menjadi boss di situ yank." Ujarku.
"Coba mamah ikut lihat." Ujar Ibu Lastri sambil merapat pada Sari yang tengah fokus melihat lihat galeri gambar gudang terbengkalai Haji Iim yang di sulap Aceng jadi sebuah bangunan yang cantik dan terlihat megah.
"Ini beneran nak tempat usahamu itu?" Tanya Ibu Lastri seolah tak percaya.
"Iya ibuk di situlah nanti kami akan mengais rezeki kami ibuk." Jawabku.
"Ini pasti menghabiskan duit banyak ini nak, milyaran ini..." Ujar Ibu Lastri, namun aku tak menjawabnya hanya tersenyum saja.
"Memang kamu mau bikin mall nak?" Tanya beliau lagi.
__ADS_1
"Yang itu nanti hanya khusus toko sandang ibuk, tapi yang di sisi sebelahnya mungkin akan jadi toko obat semacam apotik kecil kecilan gitu ibuk." Jawabku.
"Tempat sebesar ini hanya akan jadi toko baju maksud kamu nak ?" Tanya beliau lagi.
"Toko sandang ibuk... pokoknya yang dari kain, semua akan kita jual di situ yang kira kira berguna bagi masyarakat di situ akan kita usahakan ibuk." Jawabku.
"Kamu pinter yah nangkap peluang usaha nak, trus kira kira karyawan mu nanti berapa orang?" Tanya Ibu Lastri terlihat antusias.
"Yang sudah pasti gabung dari sini empat orang ibuk dan di sana dua orang kakak beradik, tapi nanti pasti nambah lagi sesuai kebutuhan." Jawabku.
"Tunggu tunggu dari sini empat orang itu apakah maksud mas empat tangan besi itu? kok aku ga di hitung kan aku juga ikut." Ujar Sari protes.
"Kan kamu nanti bukan karyawan yank, kamu nanti yang bertugas ngatur orang orang ini." Jawabku sambil tersenyum.
"Ohhh... trus mas tugasnya ngapain....?" Tanya Sari.
"Ngangon kambing hehehe...maaf bergurau yank. Selain tempat itu kita punya aset dua lahan kebun dan satu hektar sawah, untuk kebun sebenarnya ada rencana untuk bikin peternakan tapi belum bisa pasti juga soalnya masih fokus ngurusin sandang dulu." Jawabku membuat dua wanita cantik ibu dan anak itu tampak antusias.
"Kok kamu ga pernah bilang seh mas kalo punya aset kebun dan sawah juga disana?" Tanya Sari.
"Ah buat apa yank toh nanti juga kamu akan tau sendiri." Jawabku diplomatis.
"Memang nanti kamu berencana tinggal selamanya di Subang mas?" Tanya Sari lagi entah apa maksudnya.
"Menurut kamu gimana yank aku nurut di Tawangsari kita punya rumah juga kan, jadi terserah nyonya saja ingin menghabiskan masa tua kita dimana." Jawabku.
"Tinggal di sini bukankah tempat ini juga menarik untuk di jadikan tempat tinggal, ini rumah Sari meskipun hanya kecil tapi yang jelas harus Sari pikirkan juga." Ujar Ibu Lastri menimpali.
"Bagaimana mas?" Tanya Sari sambil tersenyum.
"Terserah nyonya kan, buatku kamu adalah sumber kebahagiaan yank, kamu muara dari apa yang aku jalani selama ini dan nanti, jika kamu bahagia kenapa tidak." Ujarku.
__ADS_1
"Oh mamah, bukankah pilihan ku kali ini sudah tepat?" Ujar Sari sambil tersenyum melirik Ibu Lastri.
Beliau hanya tersenyum