OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 127 Aku Ada Masalah Bro


__ADS_3

Kenyataan tentang hubungan Irfan dan Mamaknya membuatnya shock dan sedikit trauma dengan ibunya sendiri, Agung sendiri dari kecil telah terlalu akrab dengan ibunya sehingga sejak saat itu memilih menjaga jarak dan melamar pekerjaan di beberapa kota yang lumayan jauh, hanya untuk menyingkirkan bayangan tentang Irfan.


Agung tak ingin ketularan dengan orientasi yang di alami oleh sahabat karibnya itu dengan ikut ikutan berhubungan dengan ibunya sendiri, akhirnya memilih mencoba peruntungannya setelah menerima panggilan kerja cepat dari sebuah perusahaan perhiasan joint ventura Jepang Indonesia. Yang akhirnya membawanya ke titik hidupnya seperti ini.


Setelah kepergian Ayah Irfan untuk selama lamanya, Mamaknya Irfan melahirkan satu lagi anak perempuan yang tentu Agung sudah bisa menebak siapa ayah dari anak perempuan itu, yang Irfan hanya terima saja ketika hanya di anggap sebagai kakak saja oleh anak yang sekarang berusia 6 tahun itu.


"Gung ! ngelamun aza, ini kue tape bikinan Anis ini enak bener kami makan yah !" Ujar Dwi mengagetkan Agung.


"Oh iya iya ..ya tentu saja harus di makan to Bro, kan sudah di hidangkan kalo nggak di makan, adikku nanti yang akan kecewa...ayo ayo silahkan !" Jawab Agung sambil tersenyum.


"Jadi kapan kau akan menikahi Sari, Gung ?" Tanya Irfan santai sambil menghisap rokoknya.


"Harusnya inginnya secepatnya Fan, tapi surat cerainya juga baru keluar tiga minggu yang lalu." Jawab Agung.


"Kamu sendiri gimana di rumah masih lama kan?" Ujar Agung bertanya untuk mengalihkan topik.


"Harusnya minggu kemarin aku ikut berangkat ke Papua, tapi nggak ikut dulu karena Mamakku lagi nggak enak badan." Jawab Irfan.


"Memang Lik Sarti sakit apa? sekarang gimana?" Tanya Agung fast respon.


"Nunggu operasi hari kamis nanti." Ujar Irfan santai.


"Lah, memang sakitnya apa ?" Tanya Agung lagi.


"Ada kista di rahimnya." Jawab Irfan santai.


"Oh, kalo gitu ikuti saja prosedur perawatan kesehatan yang di anjurkan pihak rumah sakit saja Bro." Ujar Agung.


"Itulah Bro, yang membuatku pusing biaya operasinya 20 juta lebih sedang tabunganku hanya ada separuhnya. Sebenarnya aku lagi nawarin si garengku." Kata Irfan sambil tersenyum bias.


Agung tau sahabatnya itu jika seperti itu sedang dalam kondisi malu, sementara si gareng adalah panggilan sayang untuk motor king yang jadi simbol kejayaan saat mereka sekolah dulu.


"Aku punya sisanya Bro jangan khawatir lanjutkan saja perawatan Mamakmu, ga perlu jual si gareng segala." Ujar Agung mantab.

__ADS_1


"Tapi Gung, aku jadi nggak enak sama kamu baru datang sudah di todong gini." Kata Irfan.


"Weis kaya sama siapa saja kamu itu Fan, masih ingat kan kita Twin Brother." Ujar Agung, sementara Irfan hanya mengangguk dan tersenyum.


Mereka mengingat memori beberapa waktu lampau ketika bela belain membeli sebotol anggur putih secara patungan hasil dari buruh sebagai kuli nambang tanah, sebagai modal nonton dangdut koplo di desa sebelah saat acara bersih desa.


Lalu sisa botolnya hampir Irfan pakai untuk membunuh orang setelah pecah karena di gunakan untuk memukul kepala orang itu sampai bocor, untungnya Agung sempat menarik tangan Irfan saat itu kalo tidak Agung akan kehilangan temannya karena di penjara.


Dulu setiap ada acara tontonan semacam itu, hampir bisa dipastikan selalu di warnai dengan pertikaian dan perkelahian yang bisa berimbas luas menjadi pertikaian antar kampung.


"Makasih Bro, sebenarnya aku nggak ingin merepotkan kamu, mengingat budemu sendiri juga sedang di rawat di rumah sakit juga." Kata Irfan.


"Santai saja sudah sini no rekening mu !" Kata Agung.


"Gung, sekali lagi makasih banyak yah nanti kalo sudah ada pasti akan aku ganti." Ujar Irfan lirih.


"Gampang, Bro...sudah siniin no rekening kamu ada kan, kalo ingin cash aku nggak ada sekarang." Kata Agung sambil mengeluarkan hp pintarnya dari saku celananya.


"Baiklah Gung, aku pinjam 15 juta saja dan beri waktu aku setahun untuk melunasi nya yah." Ujar Irfan sambil menyodorkan hp nya yang di layarnya tertampil sebuah nomor rekening yang di simpan dalam aplikasi memo.


Hanya dalam hitungan detik pemberitahuan transfer itu telah di terima.


"Gung kamu nggak salah ketik angka ini. 25 juta Bro?" Tanya Irfan bengong.


"Nggak, nanti kalo masih kurang bilang saja. Intinya kamu harus pastikan Mamakmu bisa sehat pulih kembali." Ujar Agung, tiba tiba saja ia mengingat kondisi yang mungkin serupa dengan yang di alaminya ibunya sendiri saat itu, bedanya Ibunya saat itu sama sekali tak ada yang menolong.


"Trimakasih banyak yah Bro, kapanpun itu aku akan mengganti uangmu kok." Kata Irfan lagi.


"Sudahlah ayo kita sikat lagi goreng pisang dan tape singkong ini !" Ujar Agung sambil tersenyum.


"Iya, ini tumben tape singkong kok enak bener, masir manis nggak ada asam asamnya." Sahut Yanto sambil mencomot sepotong lagi goreng peuyeum.


"Maaf Gung, Si Bayan belum makan dari rumah kayaknya." Kata Dwi menyindir rekan sehatinya yang bernama lengkap Yanto Margiono itu.

__ADS_1


Baik Yanto maupun Dwi Hartanto adalah adik kelas setingkat Agung dan Irfan, namun mereka dulu kawan sepermainan semua.


"Sudah santai aza, kalo lagi ada gapapa kok, " Kata Agung.


"Sampai kapan kamu di rumah Bro ?" Tanya Irfan sambil mengunyah pisang goreng kepok sebesar dua jari orang dewasa yang rasanya manis enak itu.


"Rencananya mungkin dua minggu kurang lebihnya Fan." Ujar Agung, sambil kembali buru buru merogoh hp nya yang tadi sempat kembali ia masukkan ke saku celana.


Sebuah panggilan video dari Sari.


"Halo Yank ada apa ?" Tanya Agung.


"Di tungguin dari tadi bukannya ngebel ngasih tau sudah sampai di rumah apa belum kok malah tanya ada apa?" Ujar Sari.


"Oh hehe maaf belum sempat tadi mau ngebel ada Mbak Retno sekarang pun kawan kawanku ada di sini berkunjung." Ujar Agung sambil mengarahkan kamera hp nya ke arah teman temannya yang sedang asyik ngobrol dan menikmati camilan.


"Ya sudah nanti segera ngebel yah Mas kalo sudah longgar." Ujar Sari yang cukup jelas terdengar oleh semua teman Agung.


"Okey siyap Juragan." Jawab Agung, sementara Sari hanya tersenyum manis lalu memberikan kode kecupan dengan bibirnya sebelum mengakhiri panggilan.


"Wuih Mbak Sari beda yah kalo sama Agung, lebih galak kayaknya." Ujar Dwi, yang sebenarnya juga cukup akrab sama Farhan.


Namun begitu mengetahui Farhan memiliki masalah orientasi pemenuhan kebutuhan pribadi yang kelewat menyimpang, Dwi mulai menjauh.


"Ya nggak tau pas sama Mas Farhan gimana tapi setau ku ya begitu orangnya." Jawab Agung.


"Sudahlah aku mendukung kamu Bro, kalo kalian sama sama suka nggak usah dengerin kata orang orang luar karena mereka sama sekali tak paham dan tak layak untuk ikut campur urusan kita." Ujar Irfan.


"Kalo saudaraku sudah ngomong begitu bukankah aku jadi tenang." Ujar Agung sambil tertawa.


"Tapi memangnya si Farhan beneran homhom ya Gung ?" Tanya Yanto menimpali.


"Wah kurang paham yah kalo soal itu, tanya saja sama yang bersangkutan langsung." Jawab Agung berbohong.

__ADS_1


__ADS_2