OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 12 Bentrok


__ADS_3

"Mangan tempe rasane koyo mangan lawuh satee."


Aku bersenandung menirukan nyanyian yang kudengar saat makan siang di warung makan sederhana Mbak Siti. Warung makan yang dari zaman aku masih buntut di belakang ibuku sampai sekarang ibuku sudah mendiang tetap tak berubah baik menu dan rasanya kalo tempatnya sekarang lebih tertata dan kekinian.


Sengaja aku mampir ke warung itu karena ingin mengingat kenangan makan bersama ibuku saat mengantar beliau belanja di pasar kabupaten.


"Widih yang lagi seneng nih...." Ujar Anis usil meledekku, dari gelagatnya aku sudah paham kalo dia sedang rese gitu pasti ada maunya.


"Masss...." Ujarnya lagi terlihat kesal karena aku cuekin. Saat ini aku tengah fokus melihat Kang Bejo dan anak buahnya tengah sibuk memasang bata, sementara yang lain ada yang membikin kusen kayu jati dan sebagian yang lainnya memasang besi yang akan di cor. Begitu kompak.


"Mass!!!" Teriak adikku mulai kesal karena aku abaikan.


"Apaan seh dek....mas kan ngga tuli." Jawabku sambil menoleh padanya.


"Katanya mau beliin motor matic...kapan?" Tanyanya agak cemberut.


"Lah kamu ga ada liburnya gitu kok, mana mas tau kamu pengen motor yang gimana." Ujarku sambil mengambil duduk di dekat tumpukan semen.


"Sudah di bilang yang matic ya matic." Jawab Anis sewot mulai mode ngambek. Ihh cute banget seh adikku ini manisnya pakai banget.


"Ya matic tapi merk nya apa trus modelnya yang gimana bocillll?" Ujarku menggodanya.


"Males ah bocil bocil trus aku sudah besar tau !!" Ujar Anis keras, beneran ngambek deh.


"Hehehe maaf dek jangan ngambek donk, kan mas sudah iyain kalo kamu pengen motor ya sudah beli saja yang mana yang kamu butuhkan." Ujarku mengalah.


"Mas aza sama bapak yang beli kalo merk terserah mas." Ujarnya sambil tersenyum.


"Okey besok mas beliin motor matic yang besar bodinya itu." Kataku kembali menggodanya.


"Ihh jangan yang besar mas...Anis maunya matic yang buat cewek saja. Boleh kan mas?" Ujarnya, aku hanya diam.

__ADS_1


"Mass...ihh boleh ya...?.....Massss!!!" Ujarnya kembali menampilkan wajah judesnya, mirip banget sama mendiang ibuk.


"Iyaaaa...ih berisik banget....sudah sana bantuin Bude Marni masak." Ujarku sambil bergaya nutup telinga membuatnya tertawa, sebelum ia kemudian masuk ke dalam rumah darurat kami.


Aku lalu mengeluarkan hp ku dan membuka aplikasi pesan instan, karena kulihat tadi ada beberapa notif masuk saat aku sedang menemui Pak Hendra.


Aceng mengirimi beberapa foto rumah dari beberapa macam sudut pandang, bentuknya letter u dengan beberapa pintu kamar identik terlihat rapi dan nyaman. Bahkan sudah ia lengkapi dengan pagarnya sekalian.


Sementara Mbak Sari mengirimkan gambar aktivitas dirinya di rumah sakit sampai pada background mobil yang di beri keterangan Alhamdulillah saatnya otw pulang.....lalu terakhir bikin status Nunggu di jemput...tercinta emoticon penuh cinta.


Aku lalu memencet tombol panggilan suara.


"Hallo mas cinta..." Sapanya setelah panggilan tersambung.


"Mbak apakah sudah pulang?" Tanyaku.


"Sudah dari jam 11 tadi mas, sekarang sudah di rumah." Jawab Mbak Sari.


"Ya terserah mas kapan mau jemput akunya." Jawabnya santai.


"Gimana kalo lusa mbak...biar ibuk ngga merasa kehilangan mbak kalo langsung aku jemput mbak besok." Ujarku memberi penawaran.


"Up to you saja mas cinta...yang penting kamu harus jemput dan ga boleh modus okeyyy..." Ujarnya


"Iya mbak sayank, ga bakalan aku modusin kamu kok." Ujarku sangat lirih takut ada yang pasang telinga.


"Eh iya mas tadi jadi ke bank nya...?" Tanyanya.


"Jadi mbak." Jawabku singkat.


"Memang ngapain seh?" Tanyanya kepow.

__ADS_1


"Yang jelas bukan pinjam duit kok mbak, lebih jelasnya besok aza aku ceritain detail nya. oke boss?" Ujarku.


"Okey. eh mas udah dulu yah ada tamunya mama, aku mau bikinin minum dulu yah...bye mas cinta mmuacch..." Ujarnya lalu memutus panggilan tanpa memberi kesempatan buat aku jawab.


Keesokan harinya aku bersama bapak memenuhi janjiku untuk membelikan Anis sepeda motor matic ke sebuah dealer resmi yang ada di kota kabupaten. Dealer itu pula tempat motor bebekku di beli 10 tahun yang lalu dimana ibuk dan bapak sedang lancar lancarnya rizky nya.


Aturan baru pembelian motor yang harus indent sedikit membuatku kecewa, namun karena motor yang ku pilih adalah produk model terbaru jadi kami di janjikan paling lambat menerima barang dalam satu minggu saja.


Tak lupa aku mampir ke kantor bank himbara kabupaten dimana aku pertama kali buka rekening, dan Pak Hendra benar benar menepati janjinya dengan memberikan salinan transaksi ku yang melibatkan rekening Mas Harno.


"Itu berkas apa Nak?" kamu tidak berniat pinjam uang kan?" Tanya bapak ketika kami sudah berada di mobil dan sedang akan kulajukan.


"Ini bukti kejahatan Mas Harno pak, dengan ini jika dia ga mau mengembalikan uang kita, aku akan menyeretnya ke penjara. Korupsi duit kok sampai 180 juta lebih itu kan keterlaluan." Ujarku menggerutu, sementara bapak hanya diam.


"Jadi sawah itu di beli dengan duitmu nak?" Tanya bapak lirih seakan bergumam saja.


"Itulah yang aku tidak terima, coba jika di pikir andai uang yang ku kirim sampai ke bapak utuh mungkin juga kalian dulu ga sampai kesulitan buat berobat dan mungkin juga ibuk masih hidup sekarang." Ujarku emosional.


"Ah sudahlah nak...semua sudah takdirnya harus begitu." Ujar bapak sareh, namun emosiku sama sekali tak bisa reda.


Malamnya seperti biasa aku sempatin vc dengan Mbak Sari yang sekarang lebih mirip aku yang jadi suaminya. Dia tak bosannya ngingetin ke aku jika besok harus menjemputnya. Padahal kalo di pikir dia sama sekali tak bahagia tinggal bersama mertuanya disini namun ngebet minta di jemput.


Pagi harinya ku luangkan waktu sejenak untuk berpamitan ke Bude bahwa aku akan menjemput menantunya, dan beliau hanya menanggapi dengan tiga kata saja "Iya ati ati." mungkin saat itu bude sedang repot karena memasak sendiri dalam jumlah besar dan tak ada yang membantunya.


Entah kenapa hatiku begitu bahagia saat terbayang akan bertemu Mbak Sari lagi, tak lupa aku mampir di pusat oleh oleh di kotamadya untuk sekedar membeli buah tangan.


sebelum masuk tol aku sempat minta Mbak Sari untuk share lok rumahnya yang di Ambarawa.


Sejam kemudian aku sudah mulai melintasi jalan menuju kampung halaman Mbak Sari via Bawen. Dan setengah jam kemudian aku benar benar sampai di depan rumahnya. Namun aku sedikit merasa aneh dengan sebuah mobil box yang terparkir di luar pagar halaman rumah Mbak Sari.


Aku baru akan membuka pintu mobil ketika Mbak Sari keluar dari dalam rumah untuk menyambutku namun aku kaget dengan sosok yang mengiringinya kemudian, Mas Farhan ternyata dia kesini juga.

__ADS_1


Kecewa iya bad mood iya entahlah apa lagi yang ku rasakan saat ini yang jelas aku sama sekali tak merasa hoki di tempat ini.


__ADS_2