
Hari sudah fajar saat ini, namun karena mendung di langit tampak menghitam bergulung gulung membuat hari masih terlihat gelap.
"Pak, aku mohon pamit dulu ya pak, mohon doa bapak smoga aku tetap di lindungi dan di lancarkan urusannya." Ujarku sambil mencium buku tangan bapak yang menggenggam tanganku erat erat.
"Iya nak, tanpa kamu minta pun doa bapak selalu untuk anak anak bapak semua, hati hatilah di perjalanan dan usahakan tak berlama lama untuk pulang lagi." Ujar Bapak lalu mengusap usap rambut kepalaku yang masih cepak ini.
"Oh iya pak, tadi di lemari aku sudah simpan cek dalam amplop, nanti sewaktu waktu bisa bapak cairkan di bank tapi harus bapak sendiri yang ke bank nya trus bawa KTP juga." Ujarku lagi. Bapak hanya mengangguk.
"Ga usah irit irit pak... insyaallah bulan depan aku pulang lagi kok." Ujarku menambahkan dan lagi lagi Bapak hanya mengangguk.
"Lah aku ga di tinggali duit juga mas?" Tanya Anis yang juga sudah siap dengan seragam sekolah putih abu abunya. Dia mencium tanganku lalu memelukku.
"Di jok motormu nduk ada sedikit uang nanti kamu bikin, bikin saja rekening bank himbara nanti nduk, biar gampang mas kirim duitnya." Ujarku pada Anis.
Aku memang menaruh duit hasil judi semalam sekitar 30 jutaan di dalam jok motor Anis.
"Eh sudah kok mas, itu duit yang mas kasih kemarin memang ku simpan di bank kok." Jawabnya.
"Ya sudah mas pamit yah, kamu sekolah yang bener ya nduk barangkali nanti bisa jadi menteri." Ujarku sambil mencubit hidung adikku itu dan mengecup keningnya seperti yang sering kulakukan saat dia masih balita dulu.
Aku lalu meraih koperku dan di iringi lambaian tangan dan tatapan sayu dari kedua orang yang aku sayangi itu, aku pergi ke perantauan.
Tak lama setelah aku melajukan mobilku, hujan turun mengguyur dengan derasnya, melenakan hampir seluruh penghuni kampungku hingga segan beraktivitas.
Kali ini aku berniat melewati pasar kota kabupaten meski dengan begitu harus memutar cukup jauh untuk sekedar membeli beberapa buah tangan pesanan Aceng dan keluarganya.
Empat tangan besi, sengaja aku baru akan memanggil mereka besok setelah aku sampai di Subang.
Hujan yang begitu deras, membuatku terpaksa melaju dengan pelan pelan, menyusuri jalan bulak panjang persawahan yang menghubungkan kampungku dengan desa yang menjadi induk dari kampungku dan tiga kampung lainnya.
Dari seberang jalan saat aku berhenti di lampu merah persimpangan jalan masuk pasar kota kabupaten, aku melihat sebuah warung makan soto langganan ku ternyata sudah buka.
__ADS_1
Tiba-tiba saja perutku mendadak meronta minta diisi meskipun tadi sudah sempat beberapa potong ubi rebus yang di sediakan bapak.
"Permisi Mbak Siti apakah sotonya sudah matang?" Tanyaku setelah aku transit dan masuk ke dalam warung itu, namun kulihat belum ada pengunjung satupun mungkin masih terlalu pagi dan juga hujan masih turun meski sudah agak reda.
"Oh sudah kok mas, apakah mas mau di bikinin ?" Tanya seorang wanita setengah baya yang aku tau bernama Mbak Siti.
"Iya mbak, tolong bikinin satu mangkok soto daging sapi tambah telur puyuh kalo ada." Ujarku meminta pesananku.
"Iya mas silahkan duduk dulu !" Jawab wanita berparas hitam manis seperti artis bollywood itu.
Tak lama kemudian semangkok nasi soto pesananku selesai di buatkan lengkap dengan sepiring berisi sepuluh telur puyuh tusuk di suguhkan di depanku oleh Mbak Siti.
"Sepagi ini tumben mas sudah mau ke pasar?" Tanya Mbak Siti saat menyuguhkan makanannya padaku.
"Iya mbak memang sengaja kok. Oh iya minumnya teh lemon gula batu ya mbak..." Pintaku lagi.
Dan wanita itu hanya mengangguk lalu segera membuatkan minuman yang ku minta. Beberapa saat kemudian anehnya wanita itu tak segera beranjak setelah memberikan minuman ku dan justru mengambil duduk di depanku.
"Iya mas biar aku temenin yah." Jawabnya ramah sambil mencomot sepotong goreng bakwan lalu ia makan sendiri.
"Mas asli mana seh rumahnya ?" Tanya wanita itu lagi.
"Tawangsari mbak." Ujarku sambil mengunyah.
"Ohh... Kampung Tawangsari yang di pinggir kali dengkeng itu yah mas?" Tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk.
Aku buru buru menyelesaikan sarapan pagiku.
"Mbak tolong di bungkus yah ini telur puyuh nya aku beli semua di tambah goreng bakwan nya dua puluh ribu saja." Pintaku.
"Baik mas." Jawabnya sambil tersenyum namun enggan segera beranjak, justru menatapku sambil senyum senyum.
__ADS_1
"Mbak...!! Halloo.. mbak kenapa? kok malah melamun." Ujarku sedikit kesal karena wanita berparas manis itu tak segera menyiapkan pesananku.
"Apakah mas terburu buru ?" Tanyanya sambil menatapku lekat dan beranjak meski terlihat agak malas.
"Iya mbak memang saya buru buru." Jawabku.
Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan wanita itu karena aku tau biasanya dia agak jutek raut wajahnya namun kali ini justru sebaliknya dan terus terusan tersenyum.
Namun baru saja beranjak berdiri, tiba tiba wanita itu limbung dan jatuh terjerembab di lantai.
"Mbak...mbak kenapa ?" Kataku buru buru menghampiri wanita itu dan mengangkat tubuhnya lalu ku letakkan di atas amben bambu.
Aku segera berlari ke mobilku dan mengambil peralatan P3K yang ku simpan di mobil.
Saat menghampiri wanita itu lagi kulihat keringat dingin telah membasahi beberapa anggota tubuhnya.
"Mbak....sadar mbak....!!!" Ujarku sambil merangsang hidung bangir nya dengan kayu putih yang juga kuusapkan di ubun ubun kepalanya dan kedua pelipisnya.
Suhu tubuhnya kurasakan benar benar panas, aku terpaksa menyingkap sedikit kaos yang di pakainya lalu mengusapkan banyak kayu putih di perutnya lalu di punggungnya meski aku bisa di tuduh melecehkan wanita jika ada yang mengetahui apa yang kulakukan pada wanita itu.
Tak lama kemudian wanita itu mulai membuka matanya lalu menggigil seperti orang kedinginan. Fix bisa di pastikan wanita ini sedang ngedrop alias sakit.
"Mbak... mbak mari ku antar ke dokter yah." Ujarku ketika tiba tiba saja wanita itu memelukku dengan eratnya sambil badannya terus menggigil.
"Mbak aku antar ke dokter yah." Ujarku mengulangi perkataanku.
"Jangan pergi mas...jangan tinggalkan aku..." Ucapnya sangat lirih sambil terus menggigil seperti orang kedinginan akut.
"Sebentar mbak...aku buatkan mbak minuman hangat dulu lalu ku antar ke dokter." Ujarku meski aku mulai bingung karena hari sudah semakin beranjak siang.
Aku sedikit memaksa wanita itu melepaskan pelukannya padaku lalu ku tinggal untuk membuatkan ia minuman teh manis hangat. Tak lupa aku matikan kompor yang masih menyala, entah apa yang wanita itu masak aku nggak paham, yang jelas aku harus segera menolongnya membawanya ke klinik kesehatan atau waktuku akan banyak terbuang percuma.
__ADS_1