OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 15 Masalah Baru


__ADS_3

Kekhawatiran Mbak Sari akan Mas Farhan yang mencegat ku di perjalanan ternyata tak terbukti, buktinya aku pulang dengan selamat. Walaupun juga tak seperti ekspetasi sebelumnya di mana aku membayangkan akan menjalani waktu seperti saat di Bandungan tempo hari.


Meski begitu aku tetap bersyukur karena keluarga Mbak Sari terutama mamanya telah berkenan menerima kehadiranku dengan harapan yang lain.


Sampai di rumah kulihat banyak orang berkerumun di depan rumah darurat kami, kulihat Bude Marni beserta Pakde Joyo suaminya beserta beberapa orang kerabat mereka langsung menatap ke arahku yang masih berusaha memarkir kendaraan.


Aku mencoba tenang meski tetap ada rasa sedikit kalut dan gentar, karena aku hampir sudah bisa memastikan maksud mereka berkerumun di tempatku. Anis langsung berlari menghampiri aku begitu aku keluar dari pintu mobilku.


"Mas...gawat mas...." Bisiknya, terlihat kecemasan di wajah adikku itu.


"Tenanglah dek...aku paham mereka mau apa?" Ujarku lirih mencoba menenangkan adikku yang terlihat ketakutan.


Aku lalu melangkah menghampiri mereka yang berkerumun, pada bapakku aku mengulurkan tangan untuk mencium tangannya seperti biasanya. Namun kulihat wajah bapak begitu muram meski tidak mengabaikan uluran tanganku.


Sebaliknya saat aku mengulurkan tangan kepada Pakde Joyo, tanganku langsung di tepis olehnya.


"Mana Sari katanya kau menjemputnya?" Bude Marni lah yang bertanya.


"Loh bukankah Bude sudah menyuruh Mas Farhan untuk menjemputnya? kenapa menanyakan padaku?" Jawabku santai.


"Kamu itu kurang ajar bener di tanya orang tua bisa saja jawabnya." Ujar Pakde Joyo yang mungkin kurang puas akan jawaban dariku.


"Lah trus saya harus jawab gimana pakde orang memang seperti itu kenyataannya." Ujarku lantang.


"Gung jawab bude apa benar kamu selingkuh dengan Sari ?" Tanya Bude Marni serius.


"Maksudnya gimana bude? kalo di kata aku bersedia mengantar dan menjemput itu brarti selingkuh, alangkah parahnya nasibku." Jawabku sinis.


"Hei anak kancil kamu itu kurang ajar sekali kaya orang ga pernah di didik saja. Jawab yang bener jangan muter muter kaya gangsingan !" Hardik Pakde Joyo padaku.


"Pakde saya kan sudah jawab...kurang gimana lagi sebenarnya maksud kalian itu apa? nuduh aku selingkuh dengan menantu kalian? boleh aza silahkan nuduh tapi harus bisa membuktikan, karena kalo tidak itu akan jatuh jadi fitnah." Ucapku tegas.


"Kata Farhan kamu berbuat serong dengan istrinya, sehingga istrinya minta cerai. Apa benar begitu?" Tanya Bude Marni lebih lunak dan enak di dengar daripada yang lain.

__ADS_1


"Mas Farhan ada bukti tidak kalo aku serong dengan istrinya? Pokoknya silahkan bicara kalo ada bukti tanpa itu semua hanya omong kosong." Ujarku.


"Bude Marni harus tau tadi Mbak Sari cerita padaku bahwa selama di sini selalu tertekan akan bude yang tak pernah menyukainya dan Mas Farhan yang tak pernah memperhatikan dirinya, Jadi bukan salah Mbak Sari kan jika memilih minta berpisah dari Mas Farhan." Kataku melanjutkan.


"Jadi begitu. Apakah dengan begitu kau bisa dengan bebas mencampuri rumah tangga Farhan?" Tanya Bude Marni lagi.


"Aku tidak ikut campur, aku juga tak ingin mereka bercerai." Jawabku singkat.


Ku lihat Bude Marni agak kaget mungkin tak nyangka jawabanku seperti itu.


"Oh iya satu lagi bude tolong sampaikan pada Mas Harno untuk mengembalikan duit kiriman untuk bapakku yang dia korup. Aku kasih waktu dua minggu buat Mas Harno mengembalikannya." Ujarku.


Kurasa ini adalah momen yang tepat untuk memberi pelajaran buat mereka.


"Apa maksudmu? duit apa?" Tanya Bude dan Pakde serempak.


Aku berjalan lagi ke mobil dan mengambil foto kopi salinan data transaksi yang melibatkan rekening Mas Harno.


"Mas Harno pasti sudah paham maksudku bude, ini data data duit yang aku kirimkan tiap bulan selama aku di Jepang, total uang yang di gelapkan Mas Harno adalah 180 juta belum di tambah kiriman ku 5 juta untuk beli hp buat Anis yang di embat nya juga." Ujarku sambil memberikan copy an salinan data yang aslinya masih aku simpan.


Sementara Pakde Joyo langsung merebut copy an salinan data itu dari tangan Bude Marni, namun karena penerangan cahaya matahari yang mulai redup karena sudah mulai senja membuatnya kesulitan.


Tanpa banyak bicara Pakde Joyo langsung pergi di ikuti oleh saudara saudaranya. Sementara Bude Marni masih shock dan lalu mengambil duduk di dekat bapakku yang notabene adalah adik kandungnya satu satunya.


"Maafkan aku bude, tapi selama Mas Harno bersedia kerja sama denganku semua akan baik baik saja." Ujarku menghibur budeku itu.


"Dari mana Harno akan dapat duit segitu nak, dia sendiri sekarang sedang kesulitan karena di phk dari kerjaannya dua bulan lalu." Ujar Bude Marni lirih.


"Gini saja bude biar enak tolong sampaikan pada Mas Harno untuk mengembalikan sawah yang di belinya dari bapak hanya 200 juta itu, aku akan tambahi dikit buat Mas Harno buka usaha." Ujarku.


"Aku kasihan sama bapak bude karena sawah itu sawah warisan dari simbah, yang seharusnya tak boleh di lepas begitu saja, bukankah bude juga sudah paham soal itu." Kataku lagi melanjutkan.


"Baiklah nanti aku ngomong sama mas mu dulu." Ujar Bude Marni sambil berdiri lesu.

__ADS_1


"Iya bude saya akan menunggu dua minggu dari sekarang bude." Ujarku lagi.


Anis langsung tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku begitu Bude Marni sudah lenyap di balik tembok pagar rumah tetangga sebelah rumahku.


"Mas kerennnn....T O P bingit...." Ujar adikku itu.


"Sudah mandi sana !!" Kataku.


"Yeii aku sudah mandi dari tadi, mas yang belum mandi." Jawabnya.


"Ya sudah aku mau mandi ahh..." Ujarku


Sementara Anis menyusul bapak yang tengah membereskan beberapa peralatan kerja Kang Bejo yang di tinggal di rumah darurat kami.


Setelah makan malam bersama bapak dan adikku, seperti biasa aku iseng buka hp yang hampir seharian ku abaikan.


Aceng mengirimi foto terbaru calon tempat usahaku yang sudah hampir rampung seluruhnya. Hanya tinggal sedikit pengecatan ulang di beberapa lokasi.


Mbak Sari mengirimkan ss percakapannya dengan Mas Farhan yang isinya banyak ancaman dari Mas Farhan jika Mbak Sari tetap ngotot minta cerai. Aku lalu memencet tombol panggilan padanya.


"Mas..." Mbak Sari menyapa duluan dengan melow.


"Mbak apa yang terjadi?" Tanyaku.


"Tadi tak lama setelah mas pulang. Mas Farhan kesini lagi ngamuk ngamuk...untung ada Mbak Wati dan Mas Riyan kalo tidak entah apa jadinya mas.." Ujarnya menuturkan kejadian yang di alaminya.


"Memang apa yang akan di lakukan Mas Farhan mbak?" Tanyaku.


"Dia mau membunuhku mas, aku takut mas tadi dia bawa teman temannya preman pelabuhan." Tutur Mbak Sari.


"Gilaaa ...Farhan benar benar sudah kehilangan akal. Trus gimana rencana mbak selanjutnya?" Ujarku.


"Aku bingung mas kalo aku pergi Mas Farhan ngancam akan menyakiti mama." Jawab Mbak Sari sambil menangis.

__ADS_1


"Ahhhh......."


__ADS_2