
Kulihat Doni sudah menentukan terapis yang akan melayani dirinya. Namanya Sinta, dari fotonya bisa terlihat wanita ini sangat cantik dan berwajah lembut keibuan, usianya 28 tahun, dengan pengalaman sebagai terapis di tempat ini sudah dua tahun sampai sekarang.
"Baiklah pak Sinta akan melayani anda di kamar 305, untuk tarif Sinta adalah dua juta untuk satu jam, tidak termasuk layanan plus plus tapi sudah termasuk uang tips buat Sinta sebesar sepuluh persen," Ujar wanita berparas sangat ayu itu tanpa basa basi sambil menatap Doni.
Aku segera memberikan kartu debit ku kembali yang memang sengaja belum ku masukkan ke wallet ku.
"Baik bapak ingin booking untuk berapa lama ?" Tanya wanita itu lagi kepada Doni.
"Satu jam saja." Jawab Doni tegas, sepertinya ia memang benar benar ingin segera keluar dari tempat ini secepatnya.
"Baik apakah akan mengambil layanan plus juga pak ?" Tanya wanita itu pada Doni.
"Nggak mbak, untuk kali ini nggak." Jawab Doni tegas.
Wanita itu terlihat mengetik sesuatu di peralatan komputer nya, lalu menggesek kartu debit ku setelah itu memberikan sebuah kunci ruangan berbentuk kartu pada Doni berlogo 305, sambil tersenyum dan berkata.
"Baik pak ini kunci kamar anda dalam lima menit Sinta akan ke kamar anda, dan anda di persilahkan keluar nanti jam empat sepuluh menit." Ujar wanita itu entah menerapkan sistem pelayanan standard apa namun sebagai member VIP, aku merasa wanita itu tak terlalu memperlakukan kami istimewa.
"Boss aku duluan yah !" Ujar Doni sambil tersenyum padaku, aku hanya mengangguk.
Setelah itu Doni pergi, setelah di jemput seorang wanita yang lain lagi.
"Maaf Sis, apakah kami juga perlu memberikan tips buat wanita itu ?" Tanyaku sambil menunjuk wanita yang mengantarkan Doni.
"Oh tidak perlu kok pak." Jawab wanita yang bertugas sebagai customer servis itu sambil tersenyum manis.
"Iya maaf Sis, bukan gimana tapi wallet ku saat ini sedang kosong karena tadi ku ambil semua untuk memberi tips petugas di bawah, jadi kalo ada semacam fee lagi silahkan di ambil dari kartu debit saja." Ujarku mungkin terlihat polos sehingga wanita itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Nggak perlu pak, itu sudah termasuk servis buat VIP member selain bebas mau memilih terapis yang manapun juga disini." Tanya wanita itu kemudian kali ini terdengar sangat ramah.
"Dan setiap member VIP berarti sudah memegang akses tanpa batas untuk layanan di semua fasilitas tempat ini selain spa dan sauna, di sini juga ada klub dan karaoke dan beberapa fasilitas kesenangan lainnya yang ada di sini." Ujar wanita itu lagi sambil tersenyum manis.
Untuk beberapa momen yang telah berlalu saya rasa momen saat ini adalah dimana aku merasakan sebuah keramahan yang sesungguhnya dari tempat ini.
"Oh baiklah terimakasih Sis !" Ujarku sambil tersenyum ramah.
"Baiklah kalo begitu bapak ingin terapis yang mana ?" Tanya wanita itu sembari tersenyum.
"Saya memilih ini saja Sis." Ujarku sambil menunjuk foto seorang cewek bernama Tyas usia 30 tahun, pengalaman terapis 10 tahun, tarif 5 juta per jam.
Aku memilih wanita itu karena hal sederhana, yaitu tarif. Karena dari awal aku hanya ingin layanan pijit saja tanpa embel-embel plus plus jadi tak masalah aku membayar sedikit lebih mahal dari yang di pilih Doni secara teori ada harga ada rupa yang berarti semakin mahal tarif berarti semakin baik servisnya.
__ADS_1
"Baik pak ini kunci kamar bapak, anda akan di antar ke kamar 137 jika anda butuh bantuan hubungi saja nomer yang tertera di kunci kamar anda, kalo gitu saya Alena mengucapkan terimakasih dan selamat menikmati servis kami." Ujar wanita itu lebih ramah dengan senyum merekah dari bibirnya yang indah.
"Makasih Kak Alena, salam kenal namaku Agung sesuai id card hehehe. Baiklah aku permisi kak." Ujarku, sambil beranjak karena wanita yang akan mengantarku sudah menjemput ku.
Ternyata kamar yang di sediakan untukku tak jauh dari tempat customer servis tadi hanya berjalan memutar sedikit beberapa langkah aku sudah sampai di kamar 137.
Dan tak sampai dua menit kemudian kamarku sudah di ketuk dari luar. Aku segera membukakan pintu, dan di hadapanku kini berdiri seorang wanita yang sangat cantik dengan senyum sangat menawan, namun rasanya wajah cantiknya begitu familiar buatku.
"Hallo bapak perkenalkan nama saya Tyas dan selama satu jam ke depan saya akan melayani bapak untuk fasilitas spa di tempat kami." Ujarnya lembut dengan senyum ramah.
"Iya Teh, trimakasih. Silahkan !" Ujarku, aku merasa wanita di depanku ini ada kemiripan dengan Suciwati karyawan tokoku yang baru masuk kemarin.
"Oh Aak dari mana memangnya maaf ?" Tanyanya terasa akrab.
"Subang Teh. Teteh asli mana ?" Tanyaku.
"Sama Ak, aku Subang juga, hehe." Ujarnya sambil tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian wanita ini membantuku melepas hampir seluruh pakaian yang aku kenakan seolah aku hanya anak kecil baginya.
"Haruskah aku mandi dulu Teh, badanku mungkin bau keringat karena dari pagi aku sudah berdesak desakan di pasar." Ujarku.
"Ga apa apa kok Ak, nanti ada sesi terakhir untuk itu, lagipula bau keringat Aak enak kok." Ujarnya entah bercanda dengan motif untuk mengambil hatiku atau apa, aku kurang paham tapi dari sorot matanya aku melihat sebuah ketulusan.
Tentu saja hal ini sontak membuatku bergejolak terutama adikku yang di bawah yang segera menggeliat dan meronta secara otomatis seakan di bangunkan dari tidurnya.
Dari sebuah lemari kecil di sudut ruangan, Tyas mengambil sebuah peralatan yang masih terkemas dan tersegel sehingga ia perlu menggunting wadahnya, dan meletakkan semua peralatan itu ke sebuah wadah seperti nampan.
Tak lama kemudian Tyas juga mulai naik ke ranjang lalu tangannya yang lembut mulai menyentuh tubuhku.
Beberapa saat kemudian sebuah aroma terapi mulai tercium wangi di hidungku saat punggungku terasa basah oleh sesuatu yang cair dan agak licin, diikuti sentuhan lembut namun terasa ada tenaga di setiap sentuhan itu.
"Aak maaf Subang nya ti mana ?" Tanya Tyas sambil tangannya terus mengurut punggung dan leher belakangku.
"Di Krajan Teh, Teteh dimana Subang nya?" Gantian aku bertanya.
"Tunggu Ak maksud Aak Krajan yang mana Krajan Telaga Bodas ataukah yang ada stasiun kereta nya?" Tanya Tyas lagi.
"Yang ada stasiun keretanya Teh. Teteh sendiri dimana Subang nya?" Tanyaku.
"Oh deket kok Ak, aku dari Kampung Rancabereum." Ujarnya menyebutkan sebuah kampung yang berarti beda dengan kampung Suciwati.
__ADS_1
Semakin lama pijatan pijatan yang di lakukan membuat badanku terasa enak justru karena pijatan lembut namun dengan sedikit tenaga yang dilakukan nya.
Tyas benar benar sudah kawakan sepertinya, dia memberikan pijatan di hampir seluruh bagian belakang tubuhku termasuk kepalaku tanpa ada yang terlewat.
"Maaf Ak sekarang berbalik yah !" Ujarnya.
Aku pun segera menuruti permintaannya, dan hal pertama yang ku lihat adalah sebuah mahakarya sempurna makhluk ciptaan Tuhan yang begitu cantik dan indah.
"Ak, aku mulai lagi yah." Ujar Tyas sambil memamerkan senyumnya yang menawan saat ia melihat aku terbengong menatapnya.
Aku jelas sangat bernafsu, bohong kalo aku mengatakan tidak, apalagi adikku yang bawah telah menggembung keras sempurna menunjukkan kondisi ku saat ini yang sebenarnya.
"Teh kalo di teruskan aku rasa aku tak akan bisa menahannya." Ucapku lirih.
"Hihihiii memang kenapa Ak ? kalo gitu nggak usah di tahan, aku siyap kok Ak memberi service yang lain." Ujar Tyas dengan senyum semakin menggodaku.
"Maaf Teh, mungkin lain kali tapi tidak untuk sekarang yah, kalo sekarang aku benar benar tidak bisa melakukan meskipun aku sangat ingin." Ujarku yang membuat Tyas tertegun dan terlihat kecewa.
Tyas terdiam lalu menundukkan kepalanya, membuatku merasa sangat bersalah, bagaimanapun aku akan selalu tak berdaya setiap melihat seorang wanita yang dekat denganku terlihat sedih. Karena inilah kelemahan jiwaku yang sebenarnya yang paling tak bisa melihat wanita sedih.
"Namun biar Teteh nggak kecewa gimana kalo hari ini aku kasih DP dulu anggap saja untuk yang berikutnya?" Ujarku lirih.
"Benarkah Ak, aku pikir Aak nggak nafsu sama aku." Jawabnya.
"Hah gila apa nih lihat ! kalo nggak nafsu adikku ini nggak mungkin bersikap kurang ajar seperti ini." Ujarku membuatnya tersenyum lalu tertawa kecil.
"Gede banget itunya Ak," Ujar Tyas sambil menatap gembungan celanaku yang hampir tak mampu memuat seluruhnya hingga sedikit menyembulkan kepalanya.
"Hanya standar lokal saja kok Teh, terakhir aku ukur 16,3 senti saja seh panjangnya." Ujarku.
"Ih segitu itu gede Ak, orang sampai gembung gitu kok." Ujarnya sambil terkekeh.
"Yah kapan kapan boleh yah Teh di coba ke itunya Teteh." Ujarku sambil menunjuk bagian intim Tyas dengan jempol jariku.
Tyas hanya tertawa kecil lalu mengangguk.
"Kalo gitu aku minta nomor rekening bank nya Teteh ! ada kan ?" Ujarku.
"Ada Ak, tapi nggak usah sekarang, nanti saja kalo Aak kesini booking aku lagi yah untuk jadi terapis Aak." Jawab Tyas.
"Loh tapi beneran Teh, aku mau transfer sekarang bukan apa apa soalnya uang cash ku dompetku kosong Teh." Ujarku.
__ADS_1
"Iya Ak, maaf juga aku hanya akan menerima pemberian Aak jika aku sudah melayani Aak, jadi nanti kalo Aak kesini lagi cari aku lagi yah Ak." Ujar Tyas sambil memegang tanganku.
Dia terlihat sangat serius, aku membelai pipi dan rambut kepala Tyas perlahan dan dia sama sekali tak menolak, bahkan tiba tiba saja dia semakin mendekat padaku dan membuat bibir kami bertemu.