
"Ceng kamu tau sendiri kan aku sudah ada Sari, dan kamu juga tau sendiri hubungan kami gimana." Ujarku menanggapi Aceng yang terdengar sinis.
"Tapi Imas ngomong sendiri sama aku Bro kalo dia beneran jatuh cinta sama Lu." Ujar Aceng.
"Lalu hanya gara gara hal seperti itu kau langsung menyerah Ceng, ayolah...kawan ! lagipula aku tak akan memilih siapapun selain Sari." Ujarku.
"Kalo gitu lepaskan Sari saja !" Ujar Aceng, aku tak menyangka dia bisa ngomong seperti itu.
"Ceng maksud kamu gimana?" Tanyaku agak datar.
"Maaf lupakan saja Bro, nggak ada maksud apapun kok." Kata Aceng sambil terkekeh.
"Kau tau Ceng, aku dapetin Sari bukan hanya modal omong kosong doank tapi aku harus berdarah darah dan bentrok dengan para preman pelabuhan Semarang beberapa waktu yang lalu." Ujarku lirih namun dengan penekanan ucapan yang dalam.
"Ya sudah ya bro seperti katamu aku akan ke siloam dulu besuk Haji Obi." Ujar Aceng sambil menutup panggilan secara sepihak.
Aku merasa Aceng memang sangat aneh belakangan ini, tapi menyarankan aku untuk meninggalkan Sari adalah hal yang paling aneh yang kutemukan darinya.
"Mas !!! ngelamun saja, mikirin apa seh ?" Ujar Sari begitu cepat sambil membuka pintu ruang office dengan cepat, sepertinya ia barusan mengintipku dari dinding kaca yang cukup transparan. setelah gorden yang menutup dinding kaca itu aku singkapkan tadi.
"Eh sini Yank !" Ujarku sambil melambaikan tangan pada kekasihku itu sambil menunjuk pangkuanku yang bisa diartikan menyuruhnya duduk di pangkuanku.
"Ih orang aku mau pipis mas." Jawab Sari namun ia tetap menghampiriku dan lalu duduk di pangkuanku.
"Memang sudah sepi Yank ?" Tanyaku.
"Ramai banget, itu kan bisa lihat sendiri Roni dan Dion kewalahan atur kendaraan gitu." Ujar Sari sambil mengotak atik layar komputer dengan mous.
"Lalu meja kasirmu kau tinggalkan gitu saja Yank ?" Tanyaku.
"Tadi aku suruh Suci untuk gantiin, itung itung buat latihan dia jaga kasir kalo di tinggal pulang nanti." Jawab Sari, sementara tangannya terus sibuk memainkan mous untuk memeriksa data data beberapa inventaris yang di buat oleh Imas, seperti yang kulakukan barusan.
"Mas barang yang masuk gudang tadi pagi belum di masukin ke data inventaris yah ?" Tanya Sari.
"Oh iya sayank lupa untung kamu ingetin hehehe." Ujarku, lalu aku hubungi Trimo yang sangat nyaman menjadi dedengkot di gudang barang.
"Halo boss !" Ujar Trimo, terdengar kaku.
__ADS_1
"Mas tolong kirim nota yang dari busana cloth sekarang !" Ujarku.
"Siyap boss." Ujarnya lalu menutup panggilan.
Hanya beberapa saat kemudian lima lembar gambar file dalam format pdf terkirim ke hp ku. Sepertinya ini cara yang di gunakan oleh Trimo untuk memberi laporan di gudang pada Imas setiap harinya.
"Ini bu boss !" Ujarku sambil meletakkan hp di depan Sari, yang kemudian mulai sibuk mengetik sementara aku menggodanya dengan menciumi tengkuknya hingga terkadang membuatnya menggeliat ataupun bergidik kegelian.
"Aceng belum pulang mas ?" Tanya Sari yang membuatku diam sejenak.
"Kok tiba tiba nanyain Aceng Yank ?" Ujarku agak dingin.
"Hihihi memang kenapa mas, tadi kan ia pamitnya cuma ke polsek saja kan tapi masak sudah mau tengah hari gini belum juga pulang." Kata Sari.
"Oh itu tadi dia ku suruh besuk Pak Haji Obi sekalian sekalian biar bisa pdkt sama Imas lagi, kenapa Yank kok kamu tumben perhatian sama Aceng ?" Ujarku.
"Lah memangnya kenapa dia kan pegawai di sini juga yang tak boleh terlalu di istimewa kan meskipun katamu dia tangan kananmu sendiri." Ujar Sari, menepis prasangka buruk ku padanya.
"Tapi kamu nggak ada rasa aneh aneh kan sama dia?" Tanyaku ke Sari.
Sari langsung beringsut dan menghentikan aktivitasnya mengetik lalu menatapku dalam dalam.
"Bukan gitu sayank, maaf syukurlah jika kamu sama sekali tak ada rasa apapun sama Aceng, soalnya takutnya nanti kamu naksir sama dia." Ujarku lirih.
"Kamu itu loh mas, bisa bisanya punya pikiran seperti itu ! ehm atau jangan jangan kamu sendiri mas sengaja cari cari kesalahanku terus kamu jadi punya alasan untuk menduakan aku, maaf jangan pernah itu terjadi karena kalo kau menduakan cinta lebih baik aku pisah sama kamu." Ujar Sari benar benar tajam.
Dia begitu pintar membalikkan keadaan untuk gantian menekan aku.
"Sayank aduh kok jadi kemana mana, masalahnya itu barusan Aceng bilang supaya aku meninggalkan kamu, lah trus alasannya apa kok dia bisa berkata seperti itu padaku ditambah kamu tadi kelihatan perhatian sama dia kan aku jadi curiga." Ujarku lirih.
"Aceng ngomong gitu sama kamu mas, memang hak dia apa ngatur ngatur kamu ?" Kata Sari terlihat juga emosi.
"Ya itulah Yank, aku takutnya Aceng itu justru naksir kamu dan kamu menanggapinya gitu, kau tau sendiri kan cintanya pada Imas bertepuk sebelah tangan." Ujarku lirih.
"Ya itu urusannya sama Aceng aku tak ada kaitannya apa apa, lagipula aku bukan orang murahan yang gampang ngumbar hubungan cinta." Ujar Sari lirih meskipun terdengar masih agak ketus.
"Aku nggak mau mas slalu berpikiran buruk tentang aku, meskipun aku bukan wanita suci lagi tapi aku juga punya harga diri mas, aku sudah memilih untuk melabuhkan hatiku pada kamu seorang dan itu sudah menjadi keputusan segenap jiwa ragaku yang tak dapat di ganggu gugat lagi, jadi tolong singkirkan pikiran buruk mas tentang aku." Ujar Sari lagi sambil menatapku dalam dalam.
__ADS_1
Kali ini aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ini semua karena aku sangat mencintaimu sayank dan aku takut kehilanganmu." Ujarku.
"Kalo begitu jagalah selalu aku mas dan jangan pernah kau khianati cintaku ini maka aku akan bisa memastikan kalo hati ini hanya milikmu slalu." Kata Sari sambil melingkarkan tangannya mendekapku.
"Hanya hati saja?" Tanyaku menggodanya.
"Hati, bibir, hidung...ini..ini...ini..." Ujar Sari sambil menciumi bibirku bertubi tubi.
"Soal Aceng tadi, aku harap jangan gimana gimana yah Yank, karena aku sudah lega jika kamu tak berniat membuat affair sama dia tapi nggak perlu juga terus berubah sikap padanya, takutnya nanti dia semakin terpuruk." Ujarku.
"Nanti kalo aku tanyain dia lagi kamunya ngambek lagi nggak ?" Kata Sari sambil tertawa kecil.
"Ya ngambek seh dikit yang penting kan kamu sudah berjanji hanya akan jadi milikku saja kan, lagipula bukankah hanya tinggal nunggu beberapa bulan lagi kan supaya kita bisa segera meresmikan hubungan kita." Ujarku yang kali ini disambut anggukan kepalanya dengan senyum semringah dari Sari.
"Ternyata kamu juga rese kan mas kalo lagi cemburu." Kata Sari sambil mendekapku erat erat.
"Iya sayank sama seperti kamu kan ?" Ujarku.
"Bedalah kamu lebih parah, masa cuma nanyain orang saja bisa kebakaran jenggot gitu kaya orang kalap saja." Kata Sari sambil tertawa geli.
"Yah apa lagi kalo sampai kamu senggol senggolan sama orang lain Yank bisa aku pendam hidup hidup nanti." Ujarku.
"Jangan terlalu ngeri mas, meskipun aku juga suka kalo kamu begitu tapi akan lebih baik jika rasa seperti itu bisa di kendalikan." Ujar Sari terdengar bijak.
Baru saja aku mau menanggapi Sari, bunyi dering hp mengagetkan kami dan kami langsung bisa melihat sebuah panggilan video dari Mbak Retno.
Sari menatapku sesaat, kali ini dia yang terlihat kalap dan curiga.
"Angkat mas....!" Ujarnya memerintahkan.
Tanpa pikir panjang lagi aku segera menerima panggilan itu, sementara Sari yang hendak berdiri dari pangkuanku aku tahan dengan memeluknya erat erat.
"Halo mbak...gimana lagi ?" Ujarku sambil tersenyum sementara Sari menyembunyikan wajahnya di leherku.
Namun setelah beberapa saat ternyata Mbak Retno tak berucap apapun dan justru malah mematikan panggilannya.
__ADS_1
Sari menatapku tajam dan dalam setelahnya.