OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 78 Beri Kami Fasilitas


__ADS_3

"Hallo selamat siang boss !" Sapa seorang petugas sekuriti berbadan tegap menyambutku dengan sangat ramah.


"Selamat siang juga Pak, maaf saya mau buat akun deposit atas nama tempat usaha bisa nggak pak disini ?" Jawabku sekalian bertanya meski aku sudah paham jawaban dari sekuriti itu, namun aku terpaksa melakukan itu jika tak mau harus antri dan membuang banyak waktu untuk di layani teller.


"Oh tentu saja bisa boss, mari saya antar bertemu Pak Risman." Ujar sekuriti itu ramah dengan senyumnya yang penuh terlukis di wajahnya.


Beberapa saat kemudian seorang pria yang berpenampilan perlente rapi lengkap dengan dasi yang menghias baju kemejanya menghampiriku.


"Selamat siang Pak Agung akhirnya bapak sudi berkunjung juga ke kantor kami yang kecil ini." Ujar pria itu sangat ramah namun terasa menggelitik hatiku terutama karena dia sudah mengenaliku.


"Selamat siang Pak Risman, maaf baru bisa berkunjung hari ini karena kemarin masih sibuk mempersiapkan segala hal di toko kecil kami yang baru buka kemarin." Jawabku sopan dan tak kalah ramah.


Setelah itu Pak Risman yang merupakan boss di kantor cabang itu mengajakku untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Dan setelah sekian lama berbasa basi akhirnya aku mengutarakan tujuan kedatanganku yang ingin membuat investasi deposit atas nama usahaku.


"Oh trimakasih banyak Pak Agung telah berkenan mempercayakan pengelolaan aset usaha anda pada kami, dan tentunya dengan senang hati kami akan membantu mengelola aset anda tersebut." Ujar Pak Risman menanggapi permintaan dariku.


"Trimakasih banyak pak..!" Ujarku.


"Sama sama Pak boss..." Jawab Pak Risman sembari tertawa renyah.


Setelah itu boss kantor cabang bank yang masih cukup muda itu meminta salah seorang manajernya untuk melayaniku dan membuatkan akun atas nama A&S COLLECTION.


"Kalo gaji karyawan bagaimana Pak, apakah di kelola sistem rekening ataukah masih manual atau amplop." Tanya manajer itu.


"Rekening pak, tapi karena dari awal pengelolaan itu menggunakan akun pribadi saya di bank rakyat juga namun di kampung halaman saya pak." Jawabku.


"Oh gapapa pak, sama saja kok pak." Ujar manajer itu sambil tersenyum.


"Tapi sebenarnya saya butuh bantuan fasilitas untuk menyediakan sistem pembayaran bagi toko kami pak maksudnya kami ingin melayani pembelian baik menggunakan kartu debit ataupun kredit." Ujarku.


"Oh tentu pak, sangat bisa pak. Kami pasti siap melayani fasilitas itu untuk toko bapak." Jawab manajer itu ramah.


"Siyap pak trimakasih banyak." Kataku.


"Sama sama pak, oh iya maaf pak tolong di isi nominal untuk pembukaan saldonya !" Ujar manajer itu.


"Waduh gimana kalo sekalian bapak hitung saja uangnya takutnya ada beberapa kesalahan dari rumah tadi." Ujarku sambil menyerahkan bergepok uang yang ku wadahi dalam sebuah tas namun sudah di tata rapi oleh Dewi kemarin.


"Oh baiklah kalo begitu saya terima yah pak." Ujar manajer itu yang kemudian menuju ke tempat teller untuk menghitung uang dengan mesin.


Sepuluh menit kemudian manajer itu kembali ke tempatnya semula.


"Uang bapak totalnya ada pas tujuh ratus lima puluh juta yah pak...dan ini menjadi deposit awal A&S COLLECTION. mohon di tanda tangani dulu pak." Ujar manajer itu sambil menyodorkan sebuah buku deposit.


Terakhir setelah semua proses, aku di berikan oleh manajer itu sebuah kartu bertuliskan platinum.

__ADS_1


"Tolong jaga kerahasiaan nomor pin nya yah pak, dan ini buku cek bilamana perlu melakukan transaksi yang lebih aman untuk jumlah nominal besar. Dan untuk fasilitas transaksi elektronik untuk toko akan kami kirimkan secepatnya ke toko bapak." Ujar manajer itu.


"Baik pak trimakasih banyak atas bantuannya kalo begitu saya mohon undur diri sekarang." Ujarku sambil tersenyum senang.


"Terimakasih kembali untuk bapak selamat jalan kami ucapkan." Kata manajer itu sambil menjabat tanganku.


Di luar aku kembali bertemu sekuriti yang saat aku memberinya uang sekedar untuk beli rokok, dia benar benar menolaknya, meskipun aku juga telah memaksanya namun dia tetap bersikeras menolak pemberian ku.


Aku kembali ke toko setelah itu dan mendapati pengunjung tokoku semakin membludak, hingga aku memutuskan ikut membantu melayani. meskipun kipas angin telah di nyalakan semuanya namun tetap saja aku melihat para pegawai ku tetap bersimbah peluh keringat.


Menambah dua karyawan baru ternyata cukup berguna bagi kami terutama saat waktu jam makan siang di mana kami terpaksa harus bergiliran satu persatu, mereka mulai berkompromi dan mengatur kerjasama sebaik-baiknya dimana yang satu menggantikan yang lain, tanpa harus di atur.


"Dew, Teh Yanah sudah di kasih tau belum kalo ada dua orang baru ?" Tanyaku ke Dewi yang seakan tak di beri kesempatan sedikitpun atas kerjaannya.


"Sudah kok sudah." Jawabnya tanpa menatapku.


"Boss, sprei batik unggul semua varian sudah habis semua." Ujar Maemunah yang akrab di panggil Mumun itu, padaku.


"Yang dari sekar tanjung memang nggak ada peminat?" Tanyaku.


"Lah nggak tau boss, memang sudah ada barangnya ?" Ujar Mumun.


"Mas Riko tolong ke gudang ambil sprei sekar tanjung dulu mas, itu biar saya lanjutkan." Ujarku pada Riko.


"Okey...!" Jawabnya lalu bergegas mengambil troli dan membawanya ke atas, tanpa mengeluh.


"Maaf Ibu ini mau di jual lagi kah ?" Tanyaku sopan pada ibu yang menungguiku itu.


"Iya Ak, sejak kemarin saya sudah belanja di sini kok lumayan ngirit ongkos daripada ke Tanah Abang." Ujarnya.


"Maaf ibu tau dari mana toko ini menjual dengan harga grosir ?" Tanyaku lagi setelah aku selesai mengemas dan mengikatnya dengan tali rafia.


"Dari sosmed Ak, toko ini lagi viral kan di sosmed." Jawab Ibu itu.


"Dew, souvernir nya masih ada nggak ?" Tanyaku kepada Dewi.


"Tinggal handuk saja." Jawab Dewi tanpa menoleh.


"Berikan satu !" Ujarku.


Dengan cepat Dewi melempar selembar kain handuk batik kecil bertuliskan batik unggul padaku.


"Ibuk maaf souvernir nya tinggal ini, tolong diterima yah. Kami doakan semoga dagangan ibuk juga lancar." Ujarku sambil memberikan handuk itu pada ibu itu setelah mengemasnya dengan plastik.


"Oh hatur kesuhun Ak, hihihi." Ujar Ibu itu sambil tersenyum semringah dan wajahnya penuh kegembiraan.

__ADS_1


Rupanya ibu itu datang bersama anak perempuannya yang juga berbelanja produk busana untuk dirinya sendiri, yang kebetulan baru selesai melakukan pembayaran di meja Dewi.


"Trimakasih Ak !" Ujar perempuan itu sambil tersenyum manis, aku hanya terbengong saja.


"Dia anak gadis saya Ak." Timpal ibu itu ketika melihatku hanya tersenyum bengong.


"Oh iya sama sama Neng..." Ujarku kemudian sambil tersenyum dan memperhatikan kedua wanita beda generasi itu pergi dari tokoku.


"Teh Dew, silahkan makan siang dulu biar aku gantiin." Terdengar suara Sari yang langsung mengalihkan perhatianku padanya.


"Boss temenin ibu boss dulu yah, aku mau maksi dulu !" Kata Dewi sambil beranjak dari tempatnya untuk kemudian di gantikan Sari untuk sementara.


"Iya Dew, silahkan...silahkan." Jawabku.


Tak lama kemudian Imas juga menghampiri kami justru sebelum aku sempat bertanya apapun pada Sari. Untungnya Aceng juga kebetulan pas datang menghampiri kami.


"Bro jadi nggak ke tempat Somad ?" Tanyanya padaku.


"Memang kamu sudah makan siang ?" Kataku balik bertanya.


"Sudah barusan bareng Hendi dan Farid." Jawabnya.


"Kenapa nggak ngajakin Imas ? Kamu itu di suruh di sini malah nemenin tukang." Ujarku.


"Lah emang keteter ? tadi bukannya sudah nambah orang baru lagi kan." Kata Aceng.


"Tukang apa ?" Tanya Sari tanpa menoleh pada kami karena sedang sibuk menjadi kasir.


"Tukang bikin kamar mandi." Jawabku.


"Oh jadi toh bikin kamar mandinya?" Ujarnya lagi.


"Ya jadi lah nanti biar kalo pulang sampai rumah masing masing tubuhnya nggak bau apek karena sudah mandi di sini." Ujarku.


"Emang kambing apek..." Timpal Aceng sinis.


"Hehehe kamu tuh yang apek..." Ujarku bercanda namun Sari dan Imas justru tertawa membuat Aceng jadi salah tingkah.


"Ini jadi nggak ke tempat Somad nya..mumpung longgar nih." Ujar Aceng dengan muka agak masam.


"Iya boss...jadi tapi ya biar setelah waktu dhuhur dulu lah, masa tengah hari gini bertamu ke rumah orang." Ujarku lirih.


"Pada mau kemana seh kok kayak buru buru gitu ?" Tanya Imas setelah sekian lama hanya menjadi penyimak saja.


"Ke rumah seorang janda muda yang merindukan jejaka." Ujarku bercanda sambil tertawa.

__ADS_1


Beberapa orang pengunjung yang antri di depan Sari ikut tertawa, apalagi setelah Sari melotot padaku meskipun kemudian ia lalu tersenyum pada pengunjung di depannya.


"Rasain tuh...ayo bu boss jangan beri ampun bu boss !" Ujar Imas memprovokasi sambil tersenyum.


__ADS_2