
POV Author
Sari tak habis pikir kenapa ujian cintanya seakan tak ada habisnya menderanya, bahkan perjalanan cintanya justru ia rasakan semakin lama semakin terjal.
Beberapa saat Sari masih termenung bingung. Bahkan ia pun tak paham harus melakukan apa. Baru saja ia menangis menyesali dirinya saat mendapati Agung yang seakan menatapnya dengan tatapan remeh merendahkan, sekarang mendapati kenyataan bahwa Imas terang terangan menyatakan perasaannya pada lelaki yang sudah di klaim miliknya.
Kini bahkan Agung belum juga menemuinya dan sepertinya bahkan tak merasa sungkan untuk meninggalkan dirinya, begitulah yang berada di benak Sari dan membuat kepalanya jadi pening.
"Baiklah Teh aku permisi dulu, silahkan Teh imas bekerja lagi !" Ujar Sari sembari beranjak dan bergegas pergi keluar dari office tanpa menghiraukan Imas lagi.
Perasaannya kini telah campur aduk terhadap Imas. Ketika kemarin ia merasa begitu respek dan simpatik terhadap Imas, kali ini sikapnya telah berubah menjadi kebalikannya.
"Mbak Sari maafkan aku...!!" Ujar Imas lirih namun terlihat tulus dari sorot matanya.
"Gapapa Teh, aku suka dengan kejujuran Teh Imas tapi aku juga minta maaf aku juga akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku." Ujar Sari lugas namun dengan air mata yang terus meleleh membasahi kedua pipinya.
Setelah itu tanpa berucap lagi, Sari segera meninggalkan office namun begitu di luar ia terlihat bingung mau berbuat apa, rasa enggan menyelimutinya ketika ia ingin melangkah kembali masuk ke dalam toko.
Sesaat Sari hanya melihat keramaian dan kesibukan di hadapannya, orang orang yang keluar masuk toko tak ada henti hentinya, namun hatinya terasa hampa dan pepat seakan terganjal, pada akhirnya ia benar benar merasa sendirian sekarang.
"Roni !!! kau lihat boss tidak ?" Ujar Sari sedikit berteriak pada Roni yang menata kendaraan tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Oh boss tadi keluar bawa mobil bu boss." Jawab Roni sambil tersenyum.
"Ohhh...ya sudah makasih Ron." Kata Sari lirih.
Sari terhenyak sesaat, dia termenung hatinya terasa sakit bagai tersayat sembilu. Bagaimana mungkin ia mendapat perlakuan sekejam ini dari orang yang di cintainya sendiri atas sesuatu yang ia merasa sama sekali tak berbuat kesalahan apapun.
Tiba tiba saja Sari merasakan kepalanya begitu pening dan berat lalu sambil berurai air mata ia melangkah pergi dengan langkah lunglai keluar dari toko dan pulang, saat ini ia hanya ingin menangis sendirian.
Dalam pada itu Agung, yang melampiaskan kekesalan dan kegundahan hatinya telah beberapa kali melakukan penyelaman bolak balik sepanjang panjang kolam renang dan membuat beberapa orang yang melihatnya merasa kagum.
__ADS_1
Dalam keadaan kegalauan hatinya justru kekuatan tenaga dalamnya memuncak yang memungkinkan dirinya untuk menahan napas dalam waktu panjang sambil berenang.
Dan barulah hampir 25 menit kemudian Agung muncul ke permukaan dan melampiaskan kekurangannya atas udara dengan menghirup oksigen sebanyak banyaknya.
Sesaat Agung senang dengan pencapaian barunya itu namun ketika pikirannya teringat Sari, ia kembali gundah dan gelisah, dalam benaknya saat ini hanyalah gambaran Aceng dan Sari yang sedang asyik bercengkrama dan bercanda berdua.
"Ak...aak hebat sekali tadi menyelam sambil berenang, boleh tidak ajari aku." Ujar seorang gadis yang masih sangat muda namun kecantikan parasnya sudah terlihat jelas.
"Oh boleh boleh, gampang kok pertama ambil napas panjang dulu yah lalu menyelam kemudian dorong tubuh dengan kaki dan gunakan kedua tangan untuk mengayuh tahan napas selama mungkin barulah muncul ke permukaan sesekali jika sudah tak kuat menahan napas." Ujar Agung pada gadis itu ramah.
"Tolong awasi sebentar yah Ak, biar aku mencobanya !" Kata gadis itu terlihat bersemangat.
"Oh silahkan tapi aku sarankan jangan langsung ambil kolam yang dalam dulu yah dek, oh iya adek siapa namanya ?" Ujar Agung.
Gadis itu tersenyum sangat manis mengingatkan Agung akan Anis adiknya.
"Namaku Rahmawati Ak, biasa di panggilnya Rahma." Ujar gadis itu terlihat sangat ceria.
"Baik Ak, aku coba yah...!" Kata gadis muda yang tubuhnya telah terbentuk itu.
"Iya...Rahma pasti bisa kok soalnya cuma gampang, sudah bisa renang kan ?" Tanya Agung sambil tersenyum.
"Sudah Ak, yah meskipun belum begitu pintar juga." Jawab Rahma sambil tersenyum manis.
Kemudian gadis itu mulai menarik napas panjang lalu mulai menyelam dan menggerakkan badannya namun hanya sesaat saja ia segera muncul lagi dengan napas yang terengah engah.
"Berat juga yah Ak ternyata." Ujar Rahma terlihat malu.
"Nggak berat nanti kalo sudah biasa kok, semangat yah !" Ujar Agung sambil tersenyum.
"Iya Ak, makasih ya Ak...aku pasti bisa kok." Ujar gadis itu tampak bersemangat.
__ADS_1
"Baiklah, kalo gitu sekalian aku pamit yah gadis manis... soalnya beberapa saat lagi masih ada urusan yang harus ku lakukan." Kata Agung.
"Baik Ak terimakasih banyak Ak !" Kata Rahma sambil tersenyum meski hatinya seakan tak rela.
"Sama sama....aku pamit yah !" Jawab Agung sambil tersenyum lalu kedua tangannya menekan bibir kolam untuk membuat daya dorong pada tubuhnya hingga membuatnya bisa melenting dengan ringannya.
Agung masih sempat melihat Rahma yang tampak terpesona menatapnya, ia pun hanya tersenyum dan lalu melambaikan tangannya saja yang membuat gadis itu tersenyum semringah meskipun terlihat malu malu.
Dan setelah membilas tubuhnya dengan air tawar bersih, Agung segera keluar dari tempat renang yang justru makin sore makin bertambah ramai saja.
Di sebuah kedai makan prasmanan Agung berhenti untuk mengisi perut yang sejak tadi siang memang hanya terisi semangkok bakso saja meskipun ukurannya jumbo tapi tanpa makan nasi rasanya perutnya memang cuma hanya sedikit mengganjal perut saja.
Sementara itu di kamar rumahnya, Sari hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang hari ini begitu sial rasanya.
"Aku sama sekali tak bersalah Mas, masak cuma duduk berdekatan dengan Aceng saja hukumannya sekejam ini." Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Aku hanya mencintaimu saja mas, aku tak tertarik dengan lelaki lain yang mana pun juga." Ujarnya terdengar pilu sambil berderai air mata yang kini membuat wajahnya terlihat sembab dengan kelopak matanya mulai membengkak.
Tiba tiba saja dering hp nya berbunyi dan membuatnya bersemangat ia sangat berharap itu dari Agung, namun ketika di lihatnya screen hp nya tak memperlihatkan foto Agung ia menjadi agak malas meski di terimanya juga panggilan itu karena Anis yang menelponnya.
"Iya dik, asalamualaikum..." Ujar Sari agak serak dan lirih kurang bersemangat.
"Mbak Sari, Mas Agung dimana kok hp nya nggak aktif terus." Kata Anis.
"Oh Mas Agung baru keluar dik, memang ada apa nanti biar mbak yang panggilkan." Kata Sari mulai membenahi bicaranya.
"Ini mbak, Mbak Retno yang mau nelpon pertama mau ngabarin kalo Bude Marni tadi pingsan dan di bawa ke rumah sakit." Ujar Anis sangat jelas terdengar.
"Oh bude sakit dik ? memang bude sakit apa ?" Tanya Sari agak antusias.
"Nggak tau mbak, aku juga baru saja sampai rumah dari pulang sekolah." Kata Anis.
__ADS_1