
Tak berapa lama kemudian Imas telah keluar dari dalam rumahnya dan langsung berlari menyongsong aku lalu membukakan pintu gerbang lebar lebar untuk memberi jalan masuk buat mobilku.
Aku segera keluar dari mobilku dan menatap dalam dalam Imas yang tampak habis berurai air mata, rambutnya pun masih terlihat kusut meski sudah di kuncir. Baru kali ini aku bisa melihat rambut kepalanya secara penuh karena perempuan cantik ini selalu mengenakan hijab untuk keseharian nya.
"Bagaimana kondisi Pak Haji Obi Teh ?" Tanyaku tanpa basa basi.
"Nggak bisa bergerak Ak, tadi aku sempat memapahnya keluar kamar mandi tapi selanjutnya aku tak kuat." Kata Imas.
"Baiklah Teh, silahkan berkemas kita bawa Pak Haji ke rumah sakit sekarang juga." Ujarku.
Imas membawaku masuk ke dalam rumahnya dan aku menemukan Pak Haji Obi terlihat tak berdaya bersandar di dinding luar dekat kamar mandi.
"Maaf Pak Haji, saya akan membawa Pak Haji ke rumah sakit sekarang !" Ujarku lalu mengangkat tubuh tambun yang sebenarnya cukup berat juga mungkin sekitar 80 kiloan dan membawanya keluar.
"Teh tolong bukain pintu mobil dulu !" Teriakku.
Imas segera tergopoh-gopoh berlari dari dalam sambil membawa tas yang segera ia taruh begitu saja lalu dengan cekatan membukakan pintu mobil dan menjaganya untuk tetap terbuka lebar.
Aku masukkan tubuh tak berdaya Pak Haji Obi ke dalam mobil dan mendudukkan tubuhnya di jok, lalu memasangkan sabuk pengamannya sekalian.
"Teh sudah selesai belum?" Ujarku pada Imas yang tampak bengong melihatku sedikit ngos ngosan.
"Eh sebentar Ak..." Jawab Imas lalu kembali ke dalam rumahnya.
Aku ingin menghubungi Aceng untuk segera menyusul namun aku ternyata lupa membawa handset ku.
Tak lama kemudian Imas sudah terlihat mengunci pintu rumahnya di tangannya ia menjinjing sebuah tas bertulis batik unggul yang entah di isinya dengan barang apa saja, selain tas ransel yang tadi sudah ia bawa keluar.
"Teh maaf pinjem hp ih, tolong hubungi Aceng dulu, tanyain sudah nyusul kesini belum ?" Ujarku.
Namun Imas justru menyerahkan hp nya padaku, setelah ia memencet tombol panggil ke sebuah nomor.
"Hallo Im ada apa ?" Tanya Aceng dengan suara parau.
__ADS_1
"Ceng, tadinya aku ingin kamu nyusul ke rumah Pak Haji Obi, beliau tadi jatuh di kamar mandi nah ini aku mau bawa ke rumah sakit dulu, takut kelamaan nunggu kamu jadi kamu nggak usah nyusul, kamu handle saja toko." Ujarku.
"Iya sudah hati hati langsung ke siloam saja di sana cepat penanganannya." Ujar Aceng, lamat lamat kudengar pula suara Sari yang tengah ngobrol dengan Dewi dan Mih Onah.
"Ya sudah aku berangkat sekarang." Ujarku sembari menutup panggilan, lalu bergegas naik ke jok kemudi mobilku sementara Imas duduk di kabin penumpang bersama bapaknya.
Tak lama pula Imas sudah melakukan panggilan juga entah menghubungi siapa.
"Teh ini ke rumah sakit siloam kan ?" Tanyaku pada Imas.
"Iya Ak." Jawab Imas cepat sebelum kemudian terlibat percakapan dengan kakak kakaknya mungkin dengan panggilan konferensi.
Jalanan mulai ramai meski hari masih pagi buta, dengan kebanyakan pengguna jalan adalah orang orang yang beraktivitas ke pasar semacam pedagang sayuran keliling dan lain lain.
Kulihat Imas sudah mulai agak tenang, saat bercakap cakap dengan saudara saudaranya yang semuanya lelaki itu.Tak lama setelah percakapan dengan saudaranya selesai, Imas kembali menghubungi seseorang yang ternyata kemudian aku tau yang ia hubungi adalah Sari, yang kini sudah ada di rumah kami.
"Mbak maaf yah Ak Agungnya aku pinjam dulu untuk nganterin bapak ke rumah sakit." Ujar Imas.
"Iya Teh, tadi sebenarnya aku juga mau ikut, tapi takut ngelamain soalnya aku belum apa apa, semoga Pak Haji nya baik baik saja yah Teh, dan segera lekas sembuh setelah nanti mendapatkan perawatan." Terdengar suara Sari yang sengaja di loud speaker.
"Iya Teh gapapa, yang penting utamakan dulu kesehatan Pak Haji." Ujar Sari.
Entah kenapa hatiku sedikit menjadi kurang mapan menerima kenyataan bahwa Imas tak bisa ke toko, bagaimanapun juga Imas adalah tenaga handal kami sedang beberapa hari lagi aku sendiri bersama Sari akan pulkam.
Dua puluh menit kemudian kami sudah tembus ke jalan raya yang menghubungkan Subang dengan Purwakarta, aku lalu mengarahkan mobilku ke arah Purwakarta.
Dari kaca tengah aku bisa memperhatikan kondisi Pak Haji Obi yang tampak gelisah sementara Imas terlihat hendak memberikan makanan berupa roti pada bapaknya itu.
"Teh jangan di beri makanan dulu kalo bisa." Ujarku dengan tak menoleh ke belakang.
"Oh iya Ak..." Ujar Imas mengurungkan niatnya.
"Takutnya nanti kalo diambil darah Pak hajinya untuk di periksa biar masih netral, kalo ada beri saja air putih tapi ga usah banyak banyak." Kataku.
__ADS_1
"Iya Ak, aku bawa kok, ini akibatnya kalo bapak sering ke kebun karet." Ujar Imas.
"Memang ada apa di kebun karet Teh ?" Tanyaku.
"Biasa sate...." Jawab Imas singkat namun terdengar agak kesal.
Aku kemudian hanya bisa diam, dalam hal ini aku juga sebenarnya merasa bersalah pada orang tua yang sudah berusia senja itu, mengingat aku bisa di katakan merampas kebersamaannya dengan anak gadisnya seharian penuh sehingga tak ada waktu untuk bercengkrama dengan bapaknya.
Di sisi lain aku juga sangat memerlukan tenaga Imas yang semakin lama semakin vital kehadirannya di tokoku, meski aku yakin Sari juga akan mampu menggantikan perannya.
"Ak, jangan cemas yah ini bukan pertama kalinya bapak seperti ini. Dalam beberapa hari setelah bapak pulih aku akan kembali ke toko kok." Ujar Imas.
"Iya Teh, tapi memang benar kesehatan Pak Haji Obi harus jadi perhatian Teh Imas yang utama juga. Tentu saja aku juga ingin Teteh segera ke toko lagi hehehe." Ujarku seperti plin plan.
Sampai di rumah sakit tepat jam setengah enam pagi, aku juga masih ada waktu untuk menemani Imas untuk menunggui Pak Haji Obi yang langsung mendapat perawatan di kamar IGD.
Dan barulah ketika Ak Ahmad sudah datang bersama istrinya, aku bisa berpamitan, meski lagi lagi mereka tetap berusaha menahan ku dengan berbagai alasan.
"Sebentar lah Gung ngapain buru buru, aku saja yang kuli masih santai kok, belum juga jam tujuh." Ujar Ak Ahmad.
"Iya baiklah Ak, mungkin masih ada sedikit waktu menemani Ak Ahmad sebelum Aak berangkat ke kantor." Ujarku.
"Nah gitu donk, oh iya gimana pendapatmu tentang adikku ?" Ujar Ak Ahmad tanpa basa basi, membuat Imas yang sedang ngobrol dengan kakak iparnya langsung menatap kami.
Aku sendiri gugup mendapat pertanyaan semacam itu, terutama karena aku kurang paham dengan arah dan maksud dari pertanyaan Ak Ahmad itu.
"Jadi gimana Gung ?" Ujar Ak Ahmad sambil menyenggol lenganku.
"Baik Ak, Imas sangat handal dan sudah menjadi bagian toko kami yang sangat vital fungsinya." Ujarku diplomatis saja.
"Kalo itu aku juga paham Gung, maksudku itu apa ada kesempatan untuk sebuah hubungan yang resmi gitu diantara kalian, aku tau Imas menyukaimu, bapak juga tau kalo nggak suka Imas nggak mungkin mengabaikan panggilan dari Astra." Ujar Ak Ahmad yang membuatku terhenyak.
"Aak apaan seh nggak jelas banget, nggak usah ikut campur urusan orang kenapa seh." Ujar Imas menyemprot kakaknya.
__ADS_1
"Mengenai itu aku bingung Ak, bukan gimana siapa juga nggak mungkin bisa menolak Teh Imas, tapi masalahnya aku sudah terikat dengan sebuah pembicaraan serius dengan keluarga Sari." Ujarku jujur, bagaimana juga masalah ini harus segera di selesaikan jika tak ingin jadi bom waktu.