OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 55 Cemburu Kecil


__ADS_3

Aku baru saja selesai mandi pagi ketika Sari juga sudah selesai menyiapkan menu sarapan paginya yang hanya sederhana saja yaitu telur dadar, tempe tahu goreng dan oseng lombok ijo yang ia sudah paham kalo itu menu kesukaanku.


Jam tanganku menunjukkan pukul enam lebih seperempat, yang artinya sudah satu setengah jam lamanya dari sejak empat tangan besi meneleponku tadi.


"Mas aku mandi dulu yah..!" Ujar Sari ketika dia sudah selesai membersihkan dan membereskan peralatan masaknya.


"Iya yank...ini kok mereka belum sampai juga yah ?" Ujarku seolah mengeluh.


"No coment...tar malah di kira perhatian ke empat tangan besi." Ujar Sari sambil berlalu ke dalam kamar mandi. Aku hanya tertawa kecil.


Aku membuka pintu rumah ketika terdengar ketukan disertai teriakan dari Aceng yang memanggilku. Namun begitu aku melihat keluar bukan hanya Aceng saja yang kulihat senyumnya bikin ilfil namun juga empat tangan besi dan seorang pria muda yang sebaya denganku tampak sedang duduk di amben bambu teras rumah, mereka langsung tersenyum saat menatapku.


"Baru bangun tidur kamu?" Ujar Aceng dengan senyumnya yang bisa bikin eneg perut.


Ku balas dengan menyengirkan hidung dan memerotkan bibirku, membuat Aceng langsung tertawa terbahak bahak dan kelima orang yang sedang duduk di amben bambu itu ikut tersenyum.


"Sudah lama mas datang mas? kenapa nggak ketuk pintu tadi ?" Tanyaku sambil menyalami empat tangan besi dan seorang pria yang bisa di pastikan dialah yang mengantar empat tangan besi kesini.


"Dia adikku boss !" Ujar Suranto, saat aku berjabat tangan dengan pria itu.


Beberapa saat kuperhatikan namun rasanya kok seperti tidak ada kemiripan sama sekali dengan Suranto.


"Saya Arman mas adik iparnya Mas Sur." Ujar pria itu mengenalkan dirinya.


"Oh iya salam kenal yah mas namaku Agung, aku baru tau kalo Mas Suranto masih punya saudara yang lain hehehe." Ujarku sambil tersenyum ramah.


"Lah saudaraku itu banyak boss, adikku saja semuanya ada lima, Arman ini suami adikku yang nomor dua setelah aku." Sahut Suranto.


"Ya sudah istirahat dulu yah sebentar nanti setelah sarapan kalian bisa istirahat sepuasnya di tempat akomodasi yang sudah kita siapkan." Ujarku.


"Boss aku pengen numpang pipis." Ujar Doni yang juga di idemi oleh Riko.


"Hehe sabar yah kamar mandi rumah ini cuma ada satu dan sedang di pakai oleh nyonya muda." Jawabku yang membuat Doni dan Riko pasrah.


"Ceng kenalkan mereka ini yang nanti akan membantu tugas tugas kita." Ujarku pada Aceng yang sedang termangu mangu melihat kami.


"Oh iya..." Ujar Aceng tergagap.


Aceng dengan agak segan lalu menyalami tangan kelima tamu ku sembari memperkenalkan dirinya. Mungkin Aceng sedang menilai empat tangan besi yang memang bertampang seperti preman itu.


"Ceng jangan salah paham mereka semua ini multi talent loh, kerja apa saja bisa bahkan gelut apa lagi mereka ahlinya." Ujarku. Aceng hanya tersenyum bias.


"Iya... hehehe." Ujar Aceng kemudian.

__ADS_1


Tak lama kemudian Sari telah muncul dari balik pintu dengan sudah berbusana syar'i yang rapi, ikut menyambut kedatangan empat tangan besi dengan senyumnya yang slalu terkembang.


Beberapa saat kemudian suasana semakin ramai ketika Pak Suryadi yang sudah siap berangkat ke sawah ikut menyambangi kami lebih dahulu lalu di susul oleh Mih Onah dan Dewi yang juga ikut nimbrung ngariung bersama kami.


Untuk kemudian Mih Onah dan Dewi juga memperkenalkan diri mereka setelah aku mengatakan bahwa kelima orang ini adalah tamuku dan ke empat orang diantaranya akan ikut bergabung untuk membantu usaha kami.


Setelah beberapa saat barulah kelima orang itu bergantian ke kamar mandi untuk sekedar cuci tangan dan kaki, sementara Sari mengajak Dewi untuk membantunya menyiapkan jamuan sarapan buat kami semua.


Keluarga Aceng yang sebenarnya tak terbiasa sarapan pagi dengan langsung makan nasi, akhirnya ikut bersama kami untuk sarapan pagi bersama yang untungnya masakan yang Sari siapkan cukup untuk kami semua. Apalagi para wanita tidak ikut makan bersama kami melainkan hanya makan camilan yang di sediakan Mih Onah untuk sarapan keluarganya.


Namun perasaanku sedikit kurang mapan ketika aku melihat Arman yang adil ipar Suranto beberapa kali melirik ke arah Sari dengan tatapan nyalang. Kulihat pula Sari menjadi kurang nyaman karenanya lalu hanya merapatkan badannya padaku.


Tak ingin suasana pagi ini menjadi rusak, aku langsung berkata.


"Setelah ini kalian akan beristirahat di tempat yang sudah di sediakan, mungkin Mas Arman juga sebaiknya mengambil istirahat yang cukup dulu sebelum pulang ke kampung halaman lagi." Ujarku tak lama setelah kami menyelesaikan acara santap makan pagi kami.


"Baik boss, mungkin seharian ini aku minta ijin istirahat total dulu boss, supaya besok aku bisa fit." Ujar Doni.


"Iya besok kupastikan kalian akan segera penuh kesibukan." Kataku datar seolah mood aku berubah tak secerah tadi ketika pertama kali menyambut mereka.


Setelah waktunya bahkan hanya Aceng saja yang ku minta tolong untuk mengantar mereka ke rumah akomodasi buat mereka, aku beralasan ingin ke kamar kecil lebih dulu.


Ternyata Suranto segera memahami perubahan sikapku yang begitu jelas terlihat, soal ekspresi wajah aku akui memang selalu menjadi kelemahan diriku yang paling mendasar. Dalam hal apapun aku kurang pintar menyembunyikan ekspresi wajahku.


"Sudahlah mas gapapa, segeralah istirahat karena besok kita akan kerja keras." Jawabku lirih menanggapi.


"Baik boss...! kami pamit dulu." Ujar Suranto lagi berbisik. Aku hanya mengangguk saja.


Barulah saat mereka pergi di antar Aceng yang mengendarai motor bebeknya.


"Nak bapak pamit ke sawah dulu, mau ngarambet." Pamit Pak Suryadi padaku dan mengatakan kalo saat ini sawahku yang di kerjakan oleh beliau sudah masuk waktu menyiangi tanaman dari rumput dan gulma pengganggu.


"Oh iya bapak hati hati yah." Jawabku sebelum kemudian menyalim tangan beliau yang kemudian segera berlalu diikuti Mih Onah istrinya.


Sari segera mendekati aku begitu ia selesai mencuci peralatan bekas makan kami tadi, sementara kulihat Dewi sedang duduk di kursi dingklik mengambil makan paginya sendirian.


"Mas kenapa ?" Tanya Sari yang sebenarnya aku tau dia sudah paham aku kenapa.


"Andai dia bukan adik ipar Suranto, dia takkan kubiarkan pulang dengan pongah." Gumamku.


"Sudahlah mas, ga perlu di besar besarkan begitu, bagaimanapun juga kita memerlukan mereka." Kata Sari lirih.


"Jadi hanya karena itu kamu ingin aku terpaksa merendahkan diri ku dan membenamkan wajahku ke dalam comberan?" Ujarku geram.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku mas, lagipula cemburu mas itu terlalu berlebihan, sangat menyeramkan loh. Apakah mas akan membunuh setiap orang yang mencoba melirik kepadaku ?" Ujar Sari yang membuatku jadi salah tingkah.


"Yang penting kan di aku nya mas, aku akan slalu setia sama kamu mas tolong ingat janjiku itu baik baik." Ujar Sari lagi karena aku hanya diam.


"Baiklah segera ambil sarapan pagimu !" Ujarku, Sari hanya tersenyum dengan manisnya lalu mengangguk senang.


Bagaimanapun juga aku sedikit banyak telah berpengalaman memahami karakter banyak orang dan aku paham betul orang orang semacam Arman itu bagaimana sifatnya, yang jelas aku tak pernah ragu untuk menyingkirkan orang orang semacam itu meskipun dia orang yang berkuasa sekalipun.


Aku baru hendak melangkah ke kamar ketika ku dengar suara motor bebek Arman yang sudah sampai kembali di depan rumah.


"Gung....Gung...!!!" Teriak Aceng sambil menghambur masuk ke dalam rumah.


"Iya Aceng ga usah teriak teriak..kenapa kenapa?" Ujarku.


"Kamu yakin ingin mempekerjakan orang orang itu bersama kita ?" Tanya Aceng terkesan serius.


"Hanya empat di antaranya saja, yang paling muda tadi nggak emang kenapa ada masalah apa ?" Tanyaku.


"Mereka seperti preman semua Gung." Kata Aceng.


"Ya memang, kita kan butuh orang untuk keamanan dan membantu kamu untuk bergerak kemana mana Ceng, dan kurasa mereka punya kapasitas untuk itu." Ujarku menjawab kegalauan hati sahabatku itu.


"Memang mereka menyinggung kamu ?" Tanyaku.


"Enggak seh hanya saja gimana yah mereka sepertinya orang orang berdarah dingin semua." Jawab Aceng.


"Mereka hanya sedang lelah dan ngantuk saja, kalo sudah hilang capeknya percayalah mereka orang yang paling asyik buat bercanda." Ujarku.


"Ya sudahlah terserah boss saja, sekarang ayo kita ke tempat notaris dulu sebelum dia berangkat ke kantornya." Ujar Aceng, mengingatkan aku pada sertifikat sawah Haji Obi semalam yang masih harus aku urus.


"Baiklah. Oh iya orang dari Eterna jadi datang hari ini kan ?" Tanyaku.


"Iya jadilah. makanya kita harus gerak cepat biar dapat selesai semuanya." Kata Aceng.


"Okey boss...tunggu aku bersiap dulu, pinggirkan motormu kita pake mobil saja." Kataku.


"Tunggu tunggu bukankah kau mau ngasih aku motor baru, kau nggak amnesia kan ?" Kata Aceng sambil tersenyum menyebalkan.


Aku lalu mengeluarkan hp ku dan membuka aplikasi banking dan mentransfer sejumlah dana ke nomor rekening Aceng. Lalu aku masuk ke kamarku untuk berganti pakaian yang lebih pantas untuk menemui seorang notaris.


"Wow gocap juta hehe kamsia boss...love u full..!!" Ujar Aceng sambil tertawa senang.


"Belikan hp untuk Dewi juga itu." Ujarku.

__ADS_1


"Iya iya...aku tau kok." Jawab Aceng.


__ADS_2