
Setelah bersusah payah mengantri hanya untuk mengambil sepiring nasi komplet dengan pelengkapnya akhirnya kami bisa duduk semeja dengan Mas Riyan yang telah lebih dulu mendapatkan makanannya dan bahkan sudah hampir habis separuhnya ketika kami baru saja duduk.
"Sepertinya kamu benar benar kelaparan yah mas? Ujar Mbak Wati pada suaminya yang nampak cuek dan asyik saja menikmati hidangan di hadapannya.
"Loh Sar..kok kamu cuma ngambil dikit banget makananmu, tumben biasanya makan mu banyak kan porsinya...?" Ujar Mbak Wati lagi pada Sari adiknya.
Yang di tanya hanya melengos.
"Bay sini dek...kamu makan sama bulik saja ! sini bulik suapin !" Ujar Sari.
Tentu saja bocah kecil berusia empat setengah tahun itu dengan senang hati menghampiri buliknya, dan dengan santainya mengambil duduk diantara aku dan Sari. Aku yang juga masih kenyang jadi ikut latah nyuapin bocah yang sedang tumbuh lucu lucunya itu.
"Walah om nya kok jadi ikut nyuapin kamu juga nak, wah dapat jackpot bener hari ini kamu nak." Ujar Mbak Wati sambil memperhatikan kami.
"Sudah gapapa mbak makan aza bareng suami mbak itu yang tenang." Kata Sari menyindir mbak ayunya.
Setengah jam kemudian aku baru selesai membayar semua makanan kami ketika Sari mendekati aku, sementara keluarga kakaknya sudah berjalan lebih dulu ke parkiran.
"Mas kita ga usah ikut mereka saja yah." Bisik Sari.
"Loh kenapa memangnya yank? tadi kan katanya mau ke gedong songo." Ujarku menanggapi.
"Males ah orangnya pada ngga hoki semua." Kata Sari kemudian.
"Lah trus kita pulang gitu, tapi Bayu nanti kecewa nggak ?" Tanyaku.
"Ih yah kita kemana dulu kek masa mau pulang." Ujarnya cemberut.
"Iya deh terserah kamu, tapinya kalo mereka kecewa gimana ?" Ujarku, masih ragu dengan ide Sari.
Bagaimanapun aku masih baru di dalam keluarga mereka, aku masih harus menjaga image ku dan mungkin sedikit cari muka untuk mengambil hati mereka.
"Udah serahkan padaku. Yuk !" Ujar Sari lalu menggamit lenganku kemudian kami melangkah keluar menyusul keluarga kakaknya yang masih berdiri menunggu kami di bawah pohon pinus yang tumbuh di pinggiran tempat itu.
"Mbak tadi mamah bilang supaya kami pamitannya ke mbak cepat saja, jadi mohon maaf yah kami ga bisa menemani kalian ke candi." Ujar Sari sambil membuka tas selempang semi kulit miliknya, lalu mengambil beberapa lembar uang nominal ratusan yang tadi ku berikan padanya.
__ADS_1
"Ini 500 ribu kurasa cukup untuk kompensasi nya kan? Bayu maafin bulik dan om yah karena belum bisa nemenin Bayu kali ini." Ujar Sari sambil memberikan duit ke genggaman tangan mbak ayunya.
"Lah ini urusannya gimana seh ini ?" Tanya Mas Riyan berlagak bingung.
"Urusannya ya sudah selesai mas, kami sudah pamit sekaligus minta ijin pada kalian untuk ke Subang, dan juga aku serahkan urusan perceraian ke pengacara yang mas pilih kemarin, soal biaya kurangnya aku juga sudah titip ke mamah jadi mas nanti tinggal minta mamah saja, pokoknya aku terima beres saja." Ujar Sari cukup tegas.
"Ya sudah klo gitu, besok kalo kalian berangkat, kami akan nginap di rumah mamah." Ujar Mas Riyan yang di setujui Mbak Wati dengan anggukan kepalanya.
"Okey...! Kita berpisah disini yah. Yuk mas !" Ujar Sari sambil menggandeng tanganku.
"Baiklah mas mbak maaf aku hanya nurut sama komandannya saja." Ujarku sambil mengalungkan tanganku untuk mengajak berjabat tangan Mas Riyan dan Mbak Wati.
"Anak tampan om senang berjumpa denganmu karena itu om akan kasih hadiah lagi buat kamu, ini hadiahnya lumayan buat Bayu jajan cilok okey." Ujarku sambil menunduk dan berjabat tangan dengan anak lucu itu setelah kuberikan lagi selembar uang gocap sisa pembayaran makan tadi ke saku bajunya.
"Yeyyy...besok main lagi yah om...!" pintanya dengan wajah polosnya. Aku hanya mengangguk.
"Dadaaa Bayu..!" Ujar Sari sambil melambaikan tangannya.
Kami pun lalu bergegas melangkah duluan untuk menghampiri kendaraan kami dan langsung pergi setelah membunyikan klakson sebagai tanda pamitan pada keluarga Mas Riyan yang masih tampak di penuhi tanda tanya.
"Memang kita mau kemana sayank ?" Tanyaku.
"Tuh gitu kan, katakan saja satu tempat aku pasti akan menurutinya." Ujarku santai tak mau kalah cuek dengan wanitaku ini.
"Hotel." Jawab Sari datar saja.
Aku tertegun sesaat mengingat dia pernah mengatakan tak ingin melakukan hubungan badan lagi sebelum resmi menikah denganku.
"Kamu yakin yank, dulu kan kau bilang..." Ujarku ragu.
"Kenapa? kalo ga mau ya sudah." Katanya membuatku gemas.
"Hotel yang dulu itu kah?" Tanyaku.
"Jangan takutnya nanti mereka lewat dan mengenali mobil mas." Ujarnya.
__ADS_1
Aku pun melajukan mobil tanpa banyak tanya lagi.
"Mas setelah ini jangan pernah tinggalkan aku yah." Ujarnya terdengar sendu.
Aku hanya mengangguk karena fokus ku tersita pada jalanan naik turun berkelok kelok yang parahnya juga cukup sempit. Setelah kurasa agak aman berkendara, perlahan aku meraih tangan Sari dan menggenggamnya.
"Aku mencintaimu sayank dan akan terus begitu, aku pun juga tak ingin meninggalkan atau di tinggalkan oleh kamu, kurasa kata kata ini berlaku untuk seumur hidupku. Tapi aku mohon jangan paksa aku berjanji yang aku sendiri tidak tau di depan nanti akan seperti apa. Tapi aku akan berusaha slalu menjaga cinta hanya untukmu saja." Ujarku sambil menatapnya.
Sari hanya tersenyum dan mengangguk sebelum merapat dan meletakkan kepalanya di atas bahuku. Dan akupun mengecup keningnya dalam dalam, sebelum aku melihat sebuah hotel kecil di sisi jalan yang hampir dekat dengan jalan raya utama.
Aku membelokkan kendaraanku ke hotel berlantai tiga itu. Dadaku berdebar debar, saat kami sudah berhenti di parkiran. Setelah yang pertama kali sejujurnya aku tak pernah membayangkan akan kembali dalam suasana seperti ini lagi.
Tiba tiba saja kami jadi saling diam membisu, sebelum tanganku merangkul dan melingkari punggung Sari dan kemudian mencium bibirnya sejenak untuk kemudian aku keluar dan membuka pintu untuknya turun.
Kami saling berangkulan mesra menuju tempat customer service untuk reservasi dan di berikan sebuah kunci kamar setelah aku membayar lunas biaya reservasi kamar.
"Mas aku bersih bersih dulu yah." Ujar Sari namun tak segera beranjak ketika aku terus saja memeluknya dan menciumi bibirnya.
"Ga usah sayank nanti saja sekalian.." Ujarku, sambil terus mendekap dan menciumi wajah cantiknya.
"Tapi mas, aku juga perlu pipis dulu." Bisiknya.
"Baiklah ayo ku antar sayank." Ujarku.
Perlahan Sari berdiri dan melepas pakaiannya begitu pula aku yang segera melolosi pakaian ku sendiri.
"Itu kamu kok bisa gede banget gitu seh mas ?" Ujar Sari sambil menatap gembungan celana boxer ku.
"Ini tercipta untuk di pasangkan dengan ini sayank." Ujarku sambil meraba kewanitaannya dari luar celananya.
Sari hanya tertawa kecil sebelum kami kembali berciuman dan melepas busana terakhir yang menempel di tubuh kami. Sebelum kami berangkulan lalu melangkah ke kamar kecil.
"Kok tiba tiba ingin melakukan lagi yank, kenapa ?" Tanyaku penasaran.
"Memang ga boleh, bukankah setelah ini artinya kamu tak boleh mempermainkan aku." Jawabnya.
__ADS_1
"Iya sayank....tanpa begini sekarang pun aku sebenarnya tetap sabar kok yank." Ujarku.
"Aku mau pipis dulu yank.." Ujarnya lalu jongkok di toilet yang cukup bersih dan bau harum karbol itu.