OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 33 Sebuah Reuni Kecil


__ADS_3

Aku terdiam sejenak mengambil napas dalam dalam. Ada rasa entah apa namanya dalam hatiku, namun yang jelas aku gugup.


"Gung....kamu kah ini?" Ujar Yesi mengulangi.


"Iya Yes...ini aku..." Jawabku singkat.


"Kamu apa kabarnya?" Tanya kami berdua bareng. Lalu tertawa bareng juga.


"Tadi kau datang ke rumah ku ya Yes...ada apa ?" Ujarku sesaat setelah kami berhenti tertawa.


"Ya main aza...emang kenapa? ga boleh ?" Jawabnya.


"Boleh kok...tapi kok tumben hehehe...Yes...kamu sudah menikah ?" Tanyaku berusaha sopan.


"Menurut kamu gimana ?' Jawab Yesi justru bertanya padaku.


"Ya aku belum tau Yes... karena itu aku nanya." Ujarku berusaha sabar.


Sebagai orang yang pernah dekat dan cukup mengenal pribadinya meski hanya selama setahun terakhir saat kebersamaan kami di SMP kecamatan. Aku lumayan paham bahwa Yesi orangnya mudah tersinggung dan sangat sensitif.


"Besok kamu ada acara lagi nggak?" Ujarnya.


"Nggak..kenapa?" Jawabku.


"Kita ketemu yah di Bakso Jumbo yang di sebelah timur pasar kecamatan itu. Tau kan tempatnya?" Ujarnya.


"Boleh. Jam berapa?" Jawabku menyetujui ajakan Yesi karena aku paham aku tak akan bisa menolaknya.


"Sepuluh pagi, usahakan on time yah kamu pasti paham aku kurang suka menunggu." Ujarnya terdengar tegas.


Aku baru saja mau menanggapi lagi sebelum ku urungkan karena dari seberang telpon terdengar suara banyak orang sedang bercanda terdengar.


"Yes...kamu sedang di mana ini? apakah aku ganggu kamu?" Ujarku.


"Ga kok Gung santai aza aku lagi nginap di rumah kakakku sekarang." Jawabnya.


Aku kembali mendengar suara kasak kusuk di dekat Yesi, bahkan aku dengar suara seorang perempuan menawari sesuatu pada Yesi.


"Baiklah Yes...kalo gitu sampai ketemu besok yah." Ujarku.


"Loh kok sudah an seh ini baru saja aku menyingkir kamu malah mau nutup telpon. Kenapa seh kamu ga senang telponan sama aku ?" Balasnya.


Aku specless...


"Kenapa kok diam? kamu sedang sibuk Gung? ya sudah kalo sibuk lanjutin saja !" Ujar Yesi lagi membuatku merasa berbuat kesalahan besar.


"Lah kan kamu nya yang sibuk Yes, ada acara keluarga kan? lagipula besok kan kita ketemu." Jawabku sambil tersenyum meski ku buat buat saja.

__ADS_1


"Ya sudah kalo gitu, tapi beneran datang yah. Awas kalo nggak datang !" Ujar Yesi mengancam ku.


"Iyah...eh maaf Yes satu lagi kamu tau rumahku dari siapa ?" Tanyaku.


"Oh itu dari Mbak Ratmi...dia sekarang tetanggaku loh Gung." Jawabnya sambil tertawa kecil.


Mbak Ratmi lengkapnya Suratmi kalo dari bahasa bapakku aku memanggilnya Lik Ratmi memang masih terhitung ada hubungan saudara meski sudah jauh, dia memang kudengar sudah menikah dengan seorang pria yang berasal dari daerah selatan kecamatan, tapi baru aku paham daerah suaminya itu ternyata satu kampung dengan Yesi.


"Ya sudah Yes sampai jumpa besok yah dan makasih banyak." Ujarku.


"Okey...eh makasih buat apa?" Ujarnya.


"Makasih karena masih ingat aku hahahaha." Ujarku sambil tertawa.


"Ya ingat lah...memang kamu tukang modus." Ujarnya membuatku terhenyak...wah cari perkara ini cewek.


"Loh kok bisa gitu, ga mungkin lah aku kan orangnya baik hati, tidak sombong dan rajin menabung mana mungkin modusin kamu." Ujarku bercanda.


"Dih narsis.." Kata Yesi sambil tertawa ngakak.


"Ya sudah pokoknya makasih ya Yes, sampai jumpa besok." Ujarku.


"Iya iya...kok buru buru banget ada apa seh, ga nyaman yah telponan sama aku." Ujarnya kembali terdengar sewot.


"Bukan gitu Yes, hp ku low bet soalnya seharian blum di cas." Kataku beralibi.


"Ya sudah deh, tapi bener loh yah besok kita ketemu awas klo mangkir bakalan aku jewer kamu." Ujarnya.


Panggilan pun kami akhiri dengan saling berucap salam seperti biasanya.


Setelah itu aku hampir kembali melangkah pulang ke rumah sebelum aku tertarik dengan suasana yang cukup ramai di sebelah barat paling ujung kampung ku. Lalu dengan langkah gontai aku mendekati tempat itu.


Ternyata rumah di ujung kampung yang kalo pagi di gunakan pemiliknya untuk jualan bubur itu kalo malam di fungsikan sebagai kasino kecil kecilan. Aku ingat dulu pernah jadi pecundang di arena judi di kampung ku, yang membuat kawan kawanku slalu berlomba lomba mengajak aku berjudi.


"Wuih ada Japanese kesasar kesini rupanya." Sapa Parman salah satu teman sebayaku yang ternyata ada di situ juga.


Kami pun bersalaman sejenak, sebelum kemudian aku terlibat beberapa obrolan ringan dengannya dan juga beberapa orang lainnya.


"Gung kamu mau ikut qiu qiu nggak? masih ada lowongan tuh." Ujar Slamet.


Aku melirik lima orang yang duduk bersila dengan di tengah tengah mereka terdapat tumpukan duit dari pecahan terkecil sepuluh ribu sampai yang terbesar seratus ribu ada. Pantas saja mereka semua adalah dedengkot judi di kampung ku.


"Kalo menang lumayan ini." Pikirku.


"Kenapa kalian nggak ikut?" Tanyaku.


"Wuih ga kuat boss, aku ga masuk level mereka." Ujar Parman.

__ADS_1


Aku lalu mendekati kalangan yang bermain qiu qiu itu meskipun tak jauh dari mereka masih ada dua kalangan lagi yang menggunakan kartu remi sebagai permainan mereka. Yang satu kalangan bermain remi yang lainnya bermain kartu tiga alias samyong.


"Weh boss jepang toh sini sini gabung...!" Ujar Lik Pardi yang semringah karena dialah yang akhirnya menarik tumpukan uang yang kulihat tadi.


"Masih ada tempat kah, om kalo aku gabung?" Tanyaku.


"Masih masih sini sini....!!!" Jawab mereka serempak sambil tersenyum ramah.


"Tapi maaf yah om di dompetku hanya ada duit sejuta saja dan aku hanya berniat bermain selama sejam saja karena aku tadi pamit bapakku tidak lama keluarnya, boleh kan om kalo duit ini habis sebelum satu jam ya sudah." Ujarku.


"Sudah ayo duduk tapi ini pasang awal 20 ribuan ya trus beli kartu maksimal gocap dan terakhir cepek untuk gertakan gapapa kan?" Ujar Pak Sonto yang juga seorang tengkulak sukses di kampung ku mencoba mengintimidasi ku.


"Okeh om tapi ya itu duitku cuma segini saja." Ujarku lalu melemparkan duit selembar ratusan ke tengah untuk pasang awal dan Sriyanto seorang bandar padi muda dengan sigap mengambilkan kembalian buatku.


Kulihat kartu awal ku yang di bagikan tiga, enam dan dua. Lumayan.


"dua puluh !" Ujar Lik Pardi sambil melempar uang dua puluh ribuan ke tengah untuk beli kartu.


Aku dan yang lain ikut sebelum Sriyanto yang back melemparkan uang 50 ribuan ke tengah, membuat kami semua melakukan hal yang sama meski ada beberapa orang yang menggerutu. Oh aku sangat suka situasi seperti ini.


Kami semua menantikan kartu yang di bagi lik Pardi dengan tegang meski sesekali sambil mengulum senyum dan saling melirik satu sama lain. Aku sendiri sama sekali tak menyentuh kartu yang di bagi padaku karena aku tau itu kartu tujuh yang ku butuhkan.


"Dua puluh !" Ujar Lik Pardi mencoba peruntungannya.


"Gocap !" Sahut Pak Sonto.


"Ikut !" Sahut Lik Wiro yang paling pendiam.


"Cepek ya om !" Ujarku ketika sudah sampai giliran ku membuat semuanya terperanjat.


Lik Nur yang biasa di panggil Basir karena mirip artis sinetron misteri gunung merapi Syamsul Gondo, membuka kartunya yang memang jelek sementara Sriyanto tampak ragu meski akhirnya melemparkan selembar uang ratusan ribunya dengan wajah tegang.


"Mati weh...takut sama Boss Jepang." Ujar Lik Pardi sambil membuka kartunya.


Akhirnya hanya empat orang yang bermain saja.


"Qiu pik." Ujar Pak Sonto sambil membuka kartunya yang menunjukkan dapat qiu delapan.


"Semprul!!! aku cuma qiu tujuh." Ujar Lik Wiro.


Aku membuka kartu terakhirku yang masih tertutup, lalu menjajarkan dengan yang lain untuk menunjukkan bahwa kartuku qiu qiu. Setelah itu kulihat Sriyanto melempar kartu yang dia pegang padaku. Aku menang.


Beberapa putaran berjalan aku terus saja menang tanpa sekalipun memberikan kesempatan pada mereka karena aku ingin menguras duit para orang kaya itu secepatnya. Berkali kali mereka bergiliran memotong kartu yang telah aku kocok, namun kemenangan tetap ada padaku hingga tak terasa sejam telah hampir berlalu.


"Satu putaran lagi yah om !" Ujarku sambil melihat jam tanganku.


"Tunggu !!" Ujar Lik Pardi yang sudah tampak kusam mukanya.

__ADS_1


"Naikkan taruhan sepakat ?" Ujarnya.


"Sepakat." Ujar Pak Sonto yang kulihat duitnya masih cukup banyak meski ku hitung dia sudah kalah dua jutaan lebih.


__ADS_2