
"Hahhhh ....ke hotel mbak? beneran kah?" Ujarku tak menyangka jika justru Mbak Sari lah yang mengajak ke hotel.
"Iya berani ngga? kalo cemen mending ga usah lah." Ujarnya dengan muka masam karena cemberut.
"Apakah dunia memang sudah benar benar terbalik," Pikirku. Wanita selembut dan sesopan Mbak Sari justru nantangin orang semacam aku untuk ke hotel, apakah dia pikir aku ini hanya anak kecil yang kencingnya belum lurus. gilaa.
"Kenapa diam saja ya sudah kalo ngga mau ayo anter ke rumah sakit lagi !!" Ujarnya kelihatan kesal.
"Tentu saja aku mau mbak...mana mungkin aku tak menuruti keinginan mbak...hanya saja aku takut mbak cuma ngeprank aku doank." Jawabku beralasan.
"Ohh hihihi, ya sudah buruan aku kedinginan ini." Ujarnya lalu menarik tanganku dan bergegas menuju mobil yang kuparkir di halaman toko busana yang sudah punya cabang di mana mana itu.
Aku makin terperangah ketika kami sudah duduk di kabin mobil, Mbak Sari dengan cueknya melepas baju atasan yang membalut tubuhnya hingga menyisakan bra saja, tubuhnya yang mulus tanpa cela itu terpampang dekat di depan mataku.
"Sudah buruan jalan, nanti juga bakalan lihat semuanya." Ujar Mbak Sari ketus dan cuek amat santai seakan tak merasa berdosa sama sekali.
Aku pun segera melakukan perintah bidadari yang mungkin sedang butuh paracetamol itu, dan dengan panduannya aku benar benar melajukan mobilku dan menghentikannya di depan sebuah hotel kecil sederhana namun sangat asri dan terawat lingkungannya.
Namun setelah sampai di depan hotel atau tepatnya losmen itu sifat dominan Mbak Sari seakan sirna dan berganti akulah yang justru terkesan tengah membawanya ke tempat ini.
"Numpang sewa kamar pak, short time saja." Ujarku buru buru memutuskan tanpa minta pertimbangan Mbak Sari, bagaimana juga nalarku masih berjalan bahwa saat ini aku sedang bermain dengan api yang mungkin cepat atau lambat akan segera membakarku.
Tapi apa peduliku, toh akupun ngga bisa dan ngga mau menolaknya karena kesempatan ini entah akan terjadi lagi atau tidak dan yang jelas Mbak Sari terlalu indah untuk di tolak. Mas Farhan maaf istrimu terlalu menawan untuk di sia siakan.
"100 rb maksimal 3 jam harus check out atau memperpanjang." Ujar pengelola losmen itu, dan tanpa banyak cakap lagi segera ku bayar uang yang di mintanya yang di gantinya dengan sebuah kunci kamar yang ada bandul nomor nya.
Tak lama kemudian di sinilah kami. Aku dan Mbak Sari di dalam kamar yang harum pewangi ruangan berukuran 3 x 3 berisi sebuah kasur dengan sprei dan dua bantal bersih warna cream.
Aku dan Mbak Sari saling menatap dan saling tersenyum aneh karena dia tampak malu malu dan tidak ketus seperti saat belum kesini.
__ADS_1
"Aku mandi dulu mas." Ujarnya lirih sambil tersenyum bias. lalu hendak melangkah ke kamar kecil yang juga ada di ruangan itu, namun aku segera menangkap tangannya lalu merengkuh tubuhnya.
Mbak Sari terdiam sama sekali tak menolak perlakuan ku bahkan ketika bibirku kutempelkan di pipinya dan kemudian mengecup area sekitarnya termasuk lehernya.
"Buat apa mandi kalo nanti mandi lagi." Bisikku di telinganya.
"Ku harap kau pria yang tepat mas..." Ucapnya lirih tanpa menatapku.
"Maaf maksudnya gimana mbak?" Ujarku sambil melonggarkan dekapanku atas tubuhnya.
"Lakukan apa yang telah kau mulai atas diriku mas karena aku tak menolaknya, tapi ku harap kau mengerti bahwa berani berbuat harus berani tanggung jawab." Ujar Mbak Sari dengan kali ini menatap mataku dalam dalam. Aku mengangguk.
"Tentu mbak tapi kuharap hanya kami saja yang kau siksa begini maksudku aku sama Mas Farhan." Ujarku. Mbak Sari hanya tersenyum sedikit.
"Apa kau bermaksud mengatakan aku wanita murahan mas? Atau mungkin wanita ****** yang gemar berkhianat pada suaminya?" Tanya Mbak Sari sambil menatap lekat padaku.
Sungguh cerdas sekali dia mampu membaca maksudku dengan tepat meski aku sudah sangat hati hati berkata.
"Bagaimana jika aku bilang aku mencintaimu mas bahkan lebih dari cintaku pada Mas Farhan. Apa kau akan percaya juga jika aku bilang aku bukanlah wanita yang gampang jatuh cinta." Tuturnya lugas makin membuatku mati kutu.
"Sebenarnya bagaimana hubungan kalian aslinya, maaf aku harus bisa memastikan jika harus bertindak karena bagaimanapun juga dalam hal ini posisiku adalah salah. Menjadi perusak rumah tangga orang lain apalagi saudaraku sendiri bukanlah sebuah prestasi bukan, meskipun kalo boleh jujur aku juga mencintaimu mbak bahkan saat pertama kali melihat sosok mbak." Ujarku lirih, kulepaskan pelukanku atas tubuhnya lalu duduk di atas kasur yang empuknya pas itu.
"Mumpung belum terlanjur mbak, mungkin aku telah lancang menodai anggota tubuh mbak dengan menyentuhnya tapi aku bisa pastikan akan membayarnya jika Mas Farhan tidak menerimanya, aku tak akan mundur ataupun lari karena aku bukan pengecut yang picik." Ujarku lagi tapi tak ku sangka Mbak Sari justru langsung tersenyum semringah.
"Finally I was got your answer." Ujarnya lalu menghampiri ku dan memelukku dan melumati bibirku lebih dari saat d kali air terjun tadi.
sekejap kemudian kami telah bergumul di atas kasur, meski segera terjeda untuk melepaskan sandangan yang kami pakai hingga bersih total. Dan kami saling mengagumi setelah melihat tubuh telanjang bulat masing masing. Dan atas nama cinta kami resmi memastikan melakukan perselingkuhan.
Cukup satu jam saja kami habiskan untuk melakukan kegiatan yang membuat peluh kami terperas dan saling bercampur, sebelum kami sama sama tepar setelah sama sama mencapai kepuasan hakiki yang kami inginkan.
__ADS_1
Selebihnya untuk memejamkan mata sejenak dan bersih bersih tubuh sebelum menyerahkan kunci ke pengelola losmen, kemudian pergi ke restoran untuk mengisi perut kami yang kelaparan.
"Ah ayam goreng ini nikmat sekali yah mbak. Nanti tolong minta di bungkusin buat yang di rumah sakit sekalian yah." Ujarku sambil melahap nasi ayam goreng dan oseng lombok ijo di piringku.
Menu sederhana yang istimewa bagi orang kampung seperti aku yang kupilih untuk mengisi perutku di restoran berkonsep prasmanan ini. Mbak Sari memang pintar tau saja kesukaanku. Dia sendiri lebih memilih rendang daging untuk pelengkap makanannya.
"Beneran mas, nanti dompetmu kempes loh ngasih makan banyak orang terus terusan." Ujarnya bercanda.
"Untukmu mbak jangankan isi dompet bahkan seluruh yang nempel di tubuhku dan semua yang kumiliki akan kuberikan." Ujarku menanggapinya.
"Ehmm pinter nggombal juga yah ternyata diam diam gitu...yakin begitu?" Ujarnya.
"Seribu persen yakin asal mbak jadi milikku tapinya." Ujarku cuek. Mbak Sari hanya tersenyum lalu melahap makanannya kembali.
Tak sampai 15 menit sepiring penuh porsi makanan dan segelas air lemon tea sukses berpindah ke perut kami masing masing. Mbak Sari ke depan untuk memesan beberapa makanan untuk keluarganya yang di rumah sakit, dan akulah yang membayarnya di kasir karena aku tau Mbak Sari tak punya duit.
Kini kami selayaknya sepasang suami istri yang tengah berbahagia saat menyempatkan saling bergurau bahkan untuk sekedar melangkah ke parkiran. Kulihat Mbak Sari memang tengah bahagia terbukti beberapa kali ia bersenandung lagu lagu cinta.
"Mbak ini buat pegangan yah tapi jangan sampai cerita Bude atau Mas Farhan." Ujarku sambil menyerahkan duit sebesar 5 juta yang memang sengaja ku siapkan untuknya.
"Hahhh... kau membayarku mas...ah...apakah kau menganggapku perempuan lacur mas?" Ujarnya mungkin agak tersinggung.
"wesss....jangan buruk sangka dulu ini hanya uang kecil cuma buat jika mbak ada keperluan darurat saja nanti kalo mbak butuh sesuatu segera ngebel aku saja okey." Kataku sambil meletakkan duit itu di genggaman tangannya.
"Iya mas makasih banyak yah tau aza kalo aku ngga punya duit." Ujarnya sambil tersenyum.
"Ya tau lah kamu kan istrinya Farhan, dan aku tau betul sifat Farhan." Jawabku dalam hati saja.
"Tapi kau nggak menganggap ini sebagai bayaran atas yang tadi itu kan mas?" Tanyanya lagi membuatku terpaksa tertawa.
__ADS_1
"Ya nggak lah mbak aku sayank... tarif kamu tak akan terjangkau oleh pria mana pun juga andai kamu menjual dirimu. Kamu tak akan ternilai oleh hitungan sayank...aku hanya beruntung saja." Ujarku membuatnya tersenyum.
"Oh sweet banget seh bikin melting tau nggak."