
Agung sebenarnya ingin segera melanjutkan perjalanan lagi terlebih saat ini dia hanya ingin waktu untuk sendiri. Namun demi menghormati keluarga Sari yang sudah menyiapkan penyambutan mereka yang sudah sedemikian rupa, akhirnya ia mengalah untuk meluangkan waktu untuk tinggal lebih lama.
Namun sekuat apapun ia menahan kesedihannya tetap saja beberapa orang yang mengenal Agung dengan baik pasti akan mengetahui perubahan pada sikapnya yang sedikit banyak telah mencuri perhatian beberapa orang itu.
"Nduk, itu Agung kenapa? kalian sedang tak ada masalah kan?" Bisik Wati bertanya pada Sari saat mereka sedang di dapur menyiapkan jamuan yang telah di persiapkan sejak pagi.
Sambil melirik ke arah ruang tamu dimana Agung sedang bercakap cakap dengan kakak iparnya serta pakde dan beberapa orang orang tua tetangganya, Sari menjawab.
"Nggak kok mbak, kami baru saja terima kabar buruk dari Subang jika salah satu teman kami dapat kecelakaan di jalan yang berakibat dirinya meninggal dunia." Jawabnya.
"Hanya teman tapi kok sedihnya sepertinya begitu banget, lihatlah Agung seperti banyak melamun gitu." Kata Ambarwati lagi.
"Dia hanya kasihan dengan anak yang di tinggalkan teman kami itu karena masih sangat kecil." Kata Sari membela Agung.
"Memangnya nggak ada ibunya atau keluarganya yang lain gitu?" Tanya Wati jadi kepo.
"Ya ada mbak, adiknya yang meninggal malah kerja di toko kami." Jawab Sari, yang lalu segera aktif bekerja sehingga tak memberi kesempatan pada kakaknya untuk banyak tanya tanya.
Bukan apa-apa, Sari hanya sedikit malas membahas tentang Tyas yang sejak awal selalu menjadi momok dalam pikirannya. Lagipula dia juga tak tau banyak tentang Tyas selain sebagai kakaknya Suci selain itu yang Ia pikirkan tentang Tyas hanyalah perempuan glamor yang suka tebar pesona.
Sejurus kemudian mereka sudah tenggelam dalam kesibukannya masing masing. Bahkan ternyata tak terasa meskipun Agung berencana secepatnya untuk segera melanjutkan perjalanan namun hari sudah sore ketika dia akhirnya benar benar di relakan untuk itu.
"Hati hati yah Mas, nanti kalo sudah selesai lelaku segera kesini yah..." Ujar Sari sambil mendongak menatap wajah Agung yang hari ini diliputi mendung kelabu.sehingga nampak sendu.
Sari mengusap pipi wajah tampan di hadapannya itu, dan tak terasa matanya mulai berkaca-kaca juga tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk matanya yang begitu indah itu mengeluarkan butiran butiran air bening.
__ADS_1
"Jangan khawatir Sayank, aku akan segera datang bahkan bersama bapak dan beberapa orang tua untuk segera menghalalkan kamu."Ujar Agung sambil tersenyum dan lalu mengecup kening Sari.
"Iya Sayank aku akan menantikan saat itu, tapi yang penting kamu hati hati yah, apalagi lelaku kamu nanti terhitung berat, sebenarnya aku juga ingin menemani kamu Mas tapi..." Ucap Sari.
"Ga perlu Sayank, kamu nikmati waktu jeda ini terserah untuk apa tapi aku harap jangan membuka pintu buat pria lain yah soalnya ini pantangan buat hubungan kita, kamu mengerti kan maksudku?" Ujar Agung sambil sekali lagi lalu mengecup kening dan di lanjutkan mencium pipi Sari dalam dalam.
"Iya Sayank pasti kok, aku sudah menutup rapat rapat pintu hatiku buat lelaki lain. Pokoknya hanya kamu saja kok Yank, jadi kuharap Mas juga tidak mengecewakan aku yah." Ujar Sari, Agung hanya mengangguk pasti.
"Baiklah aku pamit sekarang yah, sudah begitu sore ini." Ujar Agung sebelum kemudian berpamitan pada seluruh keluarga Sari.
"Cah bagus gembil, om pamit pulang dulu yah..ini buat beli permen." Ujar Agung sambil mencubit pipi Bayu sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu di saku baju anak berumur 4 tahunan itu.
"Waduh makasih banyak om....!" Ujar Ambarwati sambil tersenyum semringah.
"Iya om, beres..." Jawab Ambarwati lagi.
Agung segera naik kembali ke mobilnya, dan setelah melambaikan tangannya, dia segera berlalu melajukan kendaraannya meninggalkan kekasihnya yang sebenarnya sangat di cintainya di rumahnya sendiri.
Namun berita kepergian Tyas telah benar benar memukul jiwanya, hingga tak berapa lama setelah ia melaju air matanya yang sedikit telah tumpah di kamar kecil tadi, kini benar benar terburai tak tertahankan lagi.
Agung melepaskan kacamata hitam yang di pakainya ke atas dashboard lalu menangis tersedu sedu, ingatannya pada Tyas telah merasuk ke dalam setiap aliran darah dan setiap hembusan nafasnya meskipun ia mengenal perempuan yang kini sudah jadi tinggal kenangan saja itu hanya sekilas.
Di sebuah taman pinggir kota Salatiga tepatnya yang berada di jalan lingkar, Agung kembali menghentikan mobilnya. Ia lalu mengaktifkan hp pintarnya lalu menghubungi Aceng.
"Ceng gimana kondisi Tyas ?" Tanya Agung pada sahabatnya yang tadi sempat ia suruh membantu keluarga Suci untuk mengurusi jenazah Tyas.
__ADS_1
"Parah banget Gung, kamu sudah sampai di rumah ?" Kata Aceng.
"Belum, tolong kirim foto kondisi terakhir Tyas ke sini !" Ujar Agung.
"Tapi Gung, bukannya keberatan tapi kasihan kondisinya benar benar memprihatinkan, lagipula ngapain juga kamu sok kepo seperti itu, Tyas bukan siapa siapa Elu." Ujar Aceng bikin Agung dongkol dan jengkel sehingga lebih baik ia matikan panggilan itu.
Setelah Aceng juga tak bisa ia harapkan jika ingin mengetahui kondisi Tyas, Agung memilih untuk segera meninggalkan tempat itu.
Adalah sebuah hal yang menyiksa ketika seseorang benar benar ingin mengetahui kondisi terakhir wanita yang telah memberikan begitu banyak kebahagiaan untuknya, sementara itu tak ada satupun orang yang mengerti akan dirinya.
Menghubungi Dewi atau yang lain juga kurang bijaksana mengingat Sari sangat dekat dengan Dewi dan para pegawai perempuan yang lainnya.
Akhirnya Agung hanya pasrah dan melempar telpon genggamnya ke dasboard, kemudian kembali melajukan kendaraannya masuk tol lalu tak pernah berhenti lagi hingga sampai rumah di kampung halamannya.
Cerita berbeda segera terjadi semenjak Agung sampai di rumahnya. Adalah Retno Wulandari istri Suharno kakak sepupunya yang nasibnya seakan sebelas dua belas saja sama Sari, andai tak memiliki anak kecil mungkin saja dia juga lebih memilih kabur dari kediaman mertuanya itu.
Agung sendiri begitu tiba di rumah justru sama sekali tak bisa istirahat karena ada saja hal yang membuatnya terpaksa menunda waktu, istirahatnya.
Tentu saja Retno yang begitu mendengar Agung telah datang langsung pergi sambil menggendong Agil anaknya yang baru berumur tiga tahun yang badannya semakin kurus tak terawat itu.
Retno segera menemui Agung yang saat itu juga tengah kedatangan tamu beberapa teman sebayanya yang begitu melihat Retno datang mereka memilih segera pergi.
"Apa kabar dek ?" Tanya Retno sambil tersenyum semringah, ia memang sangat menantikan kedatangan Agung untuk menyelamatkan hidupnya yang kini berada di jurang kemelaratan.
"Alhamdulillah mbak, aku selamat sampai di rumah. Mbak Retno gimana kabarnya ?" Kata Agung baluk bertanya.
__ADS_1