
Aktivitas di toko berjalan seperti biasa, mulai pukul sembilan pagi pengunjung mulai berdatangan dan yang membuat heran kebanyakan dari mereka datang dari daerah sekitar yang cukup jauh.
Aku sendiri hari ini banyak di office untuk menghandle kerjaan yang di tinggalkan oleh Imas. Harus aku akui Imas memang cukup cerdik mengatur semua pembukuan dan membuat inventaris gudang sangat rapi sehingga cukup memudahkan untuk mengontrol arus barang yang keluar masuk dengan rata rata pendapatan hingga hari ke empat ini di atas 800 jutaan per hari.
Menjelang siang, hp ku berdering dengan sebuah panggilan video masuk dari sebuah nomor baru yang tak ku kenal.
Aku langsung menerima dan langsung melihat di teras rumahku yang baru jadi itu, tampak beberapa orang berkumpul selain bapakku sendiri ada keluarga Bude Marni dan dua orang pengurus lingkungan rt dan rw.
"Gung ini aku...dek..." Sapa wanita cantik yang wajahnya tampak sendu dia adalah Mbak Retno istri dari Mas Harno.
"Iya mbak bagaimana?" Tanyaku sopan.
"Seperti yang kau inginkan kami sedang berada di rumahmu untuk menjual sawah yang kemarin di beli Mas Harno pada Lik Sumar." Ujar Mbak Retno yang membuatku tersenyum karena memanggil bapakku dengan Lik Sumar.
"Iya mbak, baiklah sekarang juga saya akan transfer sisa uangnya kepada Mbak Retno, maaf tolong di kirim kwitansi jual belinya yah mbak dan transfernya ke rekening Mas Harno kan mbak atau ke rekening siapa?" Ujarku.
"Ke rekening Mas Harno saja dek. Sebentar yah aku kirim foto kwitansi jual belinya dulu." Ujar Mbak Retno lalu mematikan panggilan.
Sebentar kemudian beberapa foto langsung muncul di aplikasi pesan instan hp ku.
Aku mencermatinya sesaat dan setelah tak kutemukan sesuatu yang janggal aku segera mentransfer uang sejumlah 30 juta ke rekening Mas Harno dari kesepakatan semula yang hanya 25 juta.
"Akhirnya sawah milik bapakku kembali ke tangan kami lagi." Ucapku dalam hati.
Setelah itu aku langsung kirim bukti transfer itu ke Mbak Retno. Dan tak lama setelah itu hp ku kembali berdering.
"Dek kamu ga salah kirim kan kok 30 juta?" Tanya Mbak Retno.
"Nggak kok mbak gapapa yang lima jutanya buat nambah beli susu Agil." Ujarku sambil menyebut nama anak pertama Mbak Retno dan Mas Harno.
"Iya makasih banyak yah dek...eh itu kamu kerja di kantor apa Gung..kira kira ada lowongan nggak buat mbak...?" Ujar Mbak Retno tapi terlihat sekali kalo dia sambil berjalan menjauh dari teras.
"Oh ini hanya apa mbak cuma kuli kecil kecilan kok." Ujarku sambil tersenyum.
"Kira kira ada lowongan nggak Gung, buat mbak tolong tanyain ke boss nya yah." Ujar Mbak Retno terlihat serius.
"Beneran mbak? trus Mas Harno dan Agil gimana?" Tanyaku.
"Justru yang nyuruh cari kerjaan itu mamak Gung, katanya nanti dia yang akan merawat Mas Harno sementara Agil akan kutitipkan dengan neneknya yang di Wonogiri dulu." Ujar Mbak Retno terdengar serius.
__ADS_1
Sepertinya Mbak Retno memang dalam kondisi tertekan juga hidup beberapa hari di tengah tengah keluarga Bude Marni yang entah mengapa selalu tidak ramah dengan menantu menantunya yang bisa di bilang punya kecantikan di atas rata rata.
"Baiklah mbak kalo mbak ingin kerjaan tapi hari senin nanti aku pulang kampung dulu itu mbak, kalo mbak bersedia nanti bisa berangkat bareng kami kesininya." Ujarku.
"Kami ?" Tanya Mbak Retno, sepertinya ia tak banyak tau atau pura pura tak tau sesuatu yang terjadi di keluarga kami.
"Sari juga di sini mbak." Ujarku.
"Jadi kalian beneran ?" Tanyanya.
"Kedengarannya memang cukup rumit mbak, tapi itu memang benar sekarang Sari bersamaku." Kataku.
"Tapi dek, bagaimana kalian bisa berhubungan secepat itu bukankah kamu baru saja pulang dari Jepang?" Tanya Mbak Retno.
"Sebenarnya aku agak segan untuk menjelaskan hal ini mbak, males sebenarnya membuka aib sendiri itu." Ujarku.
"Coba dek tolong jelaskan biar aku juga tak berpikir kenapa kamu bisa sejahat itu merebut istri saudara kamu sendiri !" Ujar Mbak Retno.
Aku lalu mengirimkan video Farhan.
"Tolong setelah di lihat segera di hapus yah mbak, cukup buat mbak saja yang tau yang lain jangan sampai tau dulu !" Ujarku.
Namun belum juga semenit sejak panggilan Mbak Retno aku akhiri, hp ku kembali berdering, kali ini panggilan dari Imas.
"Mikum Ak..." Ujar Imas
"Walaikumsalam...gimana Teh, Pak Haji sudah baikan kan ?" Tanyaku.
"Alhamdulillah Ak, sudah bisa jalan lagi seperti biasa dan setelah terapi terakhir jam dua nanti kata dokter boleh pulang untuk kemudian rawat jalan saja dan kontrol sebulan dua kali." Jawab Imas semringah.
"Oh syukurlah, tapi memang apa nggak di rawat inap dulu gitu beberapa hari biar benar benar pulih total." Ujarku.
"Di infus maksud Aak ? kata dokter justru jangan di infus seh Ak, soalnya masalah bapak itu cuma tensi yang terlalu tinggi dan kolesterol nya tinggi hanya perlu banyak istirahat dan minum obat yang di rekomendasikan dokter secara teratur saja di rumah juga bisa." Ujar Imas.
"Baiklah berarti nanti kami yang jemput lagi kan ?" Tanyaku.
"Sebenarnya nggak usah seh Ak, soalnya nanti Ak Ahmad bilang bisa jemput, ini kebetulan Ak Rizal kakakku yang sulung juga sudah disini kok." Ujar Imas.
"Oh begitu, kalo gitu tolong sampaikan salam hormat dariku untuk Kak Rizal ya Teh." Ujarku.
__ADS_1
"Iya Ak. Tuh diterima hormatnya katanya hihihi." Ujar Imas terdengar senang.
"Jadi intinya nanti kami ga perlu besuk Pak Haji ke rumah sakit gitu kan maksudnya?" Tanyaku.
"Iya Ak begitu gapapa, tapi kalo Aak sendiri mau ke sini juga gapapa kok hihihi." Ujar Imas.
"Ya gampang lah Teh, ini juga mobilnya baru di pakai Aceng ke polsek kok urus ijin ijin katanya." Ujarku.
"Baiklah, kalo gitu sampai nanti yah Ak." Ujar Imas.
"Okey...!" Jawabku.
Sebentar kemudian panggilan berakhir, dengan hatiku yang berdesir. Rasanya Imas memang benar ada perasaan lebih padaku meski ia tau aku sudah bersama Sari.
Hal seperti inilah yang sebenarnya sangat susah untuk di kelola justru karena semuanya merasa dekat denganku, apalagi baik Sari maupun Imas berada di level yang seimbang dalam hal segalanya.
Dari komputer aku beralih ke layar yang terhubung cctv untuk memantau aktivitas di dalam toko. sebelum sebuah bunyi dering notif wa ku berbunyi, dan kulihat Imas mengirimkan gambar hati padaku.
Tanpa pikir panjang aku segera menghapusnya dan juga semua riwayat percakapan ku dengan Imas yang lain aku delete semuanya, meskipun kemudian aku menjadi merasa iba padanya.
Perlahan ku pencet dial number ke Aceng.
"Iya bro gimana?" Ujar Aceng terdengar gelak tawa di sekitarnya.
"Ceng, kamu masih di polsek ?" Tanyaku.
"Iya, ini petugas yang ngurus perijinan baru datang soalnya kenapa mobil mau Elu pake ?" Ujar Aceng.
"Ah nggak, kalo bisa abis dari polsek trus ke rumah sakit bisa nggak Ceng, besuk Pak Haji." Ujarku.
"Maksud Lu kita?" Tanyanya.
"Nggak, kamu sendirian saja takutnya Imas butuh sesuatu." Ujarku.
"Sebenarnya males gue bro." Ujar Aceng.
"Ayolah Ceng, berusahalah ! ini kesempatan kamu untuk mengambil hatinya." Ujarku.
"Dia tidak menyukaiku tapi menyukaimu..." Ujar Aceng.
__ADS_1