OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 64 Ada Yang Mau Kubicarakan


__ADS_3

Gemuruh deru kereta api yang berseliweran tak membuat khidmat acara pembacaan ayat ayat thoyibah berkurang. Suara kereta api itu bagi warga yang telah puluhan tahun mendiami tanah ss pinggir jalur kereta trans jawa itu ibarat harmoni irama yang justru jika tak terdengar sehari saja justru akan terasa aneh.


Meskipun hanya berlangsung satu jam saja tapi efek rasa kebersamaan yang di hasilkan begitu kentara. Dan suasana mendadak meriah ketika Dewi yang di bantu Sari dan Imas serta beberapa anak buah Dewi yang sudah hadir, membagikan bingkisan berupa kaos batik buat para anak anak yang ikut hadir menjadi semakin riuh ramai penuh keceriaan.


Aku sendiri heran darimana para wanita itu mendapatkan kaos kaos batik anak anak yang terlihat cukup keren itu, karena itu tak ada dalam daftar pesanan yang ku buat untuk pemasok.


Ketika aku menatap Aceng untuk bertanya, Aceng juga hanya menggidikkan kedua bahunya, pertanda dia pun tak paham soal itu.


Barulah setelah suasana sudah agak sepi karena kebanyakan tetangga sudah pulang ke rumah masing masing dan tinggal menyisakan beberapa saja yang hadir termasuk keluarga Haji Obi dan pengurus lingkungan tempat kami berdiam aku bermaksud meminta penjelasan dari para wanita itu.


"Neng Dewi apakah bapak tidak kebagian kaosnya juga?" Tanya Pak RT sambil tersenyum bercanda pada Dewi yang kebetulan berada di dekatnya karena sedang membereskan piring piring bekas wadah makanan ringan yang di buat untuk suguhan tadi.


"Oh itu cuma kaos anak anak saja kok Pak RT." Jawab Dewi agak malu.


"Tenang Pak RT nanti ada kok souvernir buat bapak juga buat Pak Amil buat Pak Haji Obi juga insyaallah ada juga, namun sayangnya barangnya belum sempat di bongkar karena baru datang tadi sore, tapi insyaallah besok sebelum acara peresmian pembukaan toko kami, souvernir untuk bapak bapak akan kami kirimkan." Ujarku.


"Alhamdulillah akhirnya dapat berkah lagi." Ujar Pak Amil tersenyum semringah sambil saling menatap dengan pengurus lingkungan dan Pak Suryadi yang mereka juga terlihat senang.


Meskipun begitu tak lama kemudian baik Pak RT maupun Pak Amil yang tadi memimpin acara sepakat segera berpamitan mohon diri juga untuk kembali ke rumah masing masing.


"Wah alamat usahamu bakalan sukses ini Gung kedepannya, belum apa apa saja kalian sudah begitu murah hati." Ujar Pak Haji Obi sambil tertawa senang bertanya padaku sementara Ak Ahmad dan Aceng juga segera terlibat obrolan mereka.


Sementara Pak Suryadi dan Mang Darom terlibat obrolan dengan beberapa karyawan penggilingan padi yang belum pulang.


"Aminnn mohon doa restunya Pak Haji smoga usaha kami di beri kelancaran dan memberikan manfaat terutama buat kampung ini nantinya." Ujarku sopan.


"Iya iya...oh iya dengar dengar kamu juga mau membuka gerai toko obat gitu, apa benar begitu nak?" Tanya Pak Haji Obi sambil menatapku.

__ADS_1


"Rencananya insyaallah begitu Pak Haji, tapi mungkin baru akan di kerjakan setelah toko kami berjalan Pak Haji." Jawabku sambil tersenyum ramah.


"Oh baguslah, kebetulan juga anak bapak yang sulung tetehnya Ahmad ini, bekerja di perusahaan farmasi di Bandung mungkin nanti dia bisa bantu kamu juga jika kamu butuh informasi apapun soal itu nak." Ujar Pak Haji Obi.


"Oh Alhamdulillah tentu Pak Haji trimakasih banyak dengan senang hati kami nanti akan minta tolong kepada beliau, karena saya pribadi sebenarnya masih awam dan perlu banyak pertimbangan tentang obat obatan Pak Haji." Ujarku.


"Oh iya maaf nak kalo bapak boleh tau yang manakah calon istri kamu itu ?" Tanya Pak Haji Obi lirih di dekat telingaku.


Aku menoleh melihat ke dalam rumah yang pintunya terbuka lebar itu. Dan melihat para wanita tampik asyik tertawa tawa tenggelam dalam obrolan mereka.


"Maaf Pak Haji, calon istri saya yang duduk tepat di sebelah kiri Teh Imas itu Pak Haji." Ujarku lirih.


Pak Haji Obi menatap ke dalam rumah sejenak sebelum tersenyum dan manggut manggut saja.


"Baiklah kurasa acara kalian selanjutnya akan segera di mulai bukan, jadi kurasa aku lebih baik mohon diri sekarang hehehe bukan apa apa otot tuaku ini sering bermasalah jika kelamaan kena angin malam." Ujar Pak Haji Obi tampak serius.


Aku terhenyak mendengar beliau yang tadinya aku pikir akan berkenan mendampingi kami hingga akhir acara justru ingin pamit bahkan sebelum acaranya sendiri di mulai.


"Bukan Sur, hanya saja rematik ku suka kumat jika kebanyakan duduk begini. Tapi mungkin di kesempatan lain aku akan sering berkunjung kesini kok." Ujar Pak Haji Obi sambil menatap Ak Ahmad.


Aceng yang sempat ngobrol akrab dengan Ak Ahmad yang notabene adalah kakak kandung dari imas itu langsung tertunduk, mungkin ia berpikir kami membuat kesalahan sehingga membuat calon mertuanya itu tak merasa nyaman.


"Tapi Pah...anak istriku masih di dalam dan tak ada ingin segera pulang, bagaimana?" Bisik Ak Ahmad di dekat telinga Pak Haji Obi.


"Kalo begitu tolong pinjamkan mobil kamu buat Agung biarlah aku minta tolong untuk mengantarku pulang kalo Agung tak berkeberatan tentunya hehehe." Ujar Pak Haji Obi sambil menatap padaku.


Aku agak gugup beberapa saat sebelum kulihat Aceng menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tentu saja sama sekali saya tak keberatan Pak Haji meskipun sebenarnya dalam hati kami semua menginginkan Pak Haji tetap bersama kami sampai akhir acara." Ujarku tetap ramah.


"Aku ini sudah terlalu tua untuk ngrecokin acara anak anak muda nak, takutnya nanti kalian justru yang merasa tidak nyaman hehehe bukankah benar begitu Sur ?" Ujar Pak Haji Obi sambil menatap Pak Suryadi.


"Iya kira kira seperti itu Pak Haji, tapi kalo orang tua itu Pak Haji tentunya mereka semua akan merasa gembira dan terberkati." Ujar Pak Suryadi.


"Hahaha kamu ini Sur, paling pinter jika di suruh mengambil hati orang, tapi benar kok kurasa untuk saat ini aku mohon diri dulu, besok besok pasti aku akan sering memanggil anakmu ataupun Agung jika aku perlu sesuatu yang menyangkut beras hahaha." Ujar Pak Haji Obi yang entah apa maksud beliau tapi rasa rasanya ada sebuah sindiran tertuju pada kami.


"Baiklah nak, marilah tolong antar aku pulang sejenak bukankah Kampung Wardoy tak begitu jauh dari sini, meskipun kalo di suruh berjalan kaki belum tentu sebulan aku akan sampai." Ujar Pak Haji Obi sambil tertawa terkekeh.


Mau tak mau kami tak dapat menahan keinginan keras pria yang sudah memasuki usia senja namun selalu bersahaja itu, hingga kami pasrah ketika beliau mulai menyalami orang orang untuk benar benar berpamitan.


Ak Ahmad memberikan kunci kontak mobilnya padaku, sambil berbisik di dekat telingaku.


"Kurasa ada yang ingin di bicarakan bapakku sama kamu Gung." Ujarnya sangat lirih hingga kurasa mungkin hanya aku saja yang bisa mendengarnya.


Aku mengangguk pelan sambil menatap Ak Ahmad tanpa berucap apapun, lalu mengiringi Pak Haji Obi yang seolah ingin buru buru pergi saja.


"Pak Haji Obi maaf tunggu sebentar." Ujar Dewi sambil berlari kecil menghampiri Pak Haji Obi dengan membawa sebungkus plastik ukuran sedang yang cukup penuh isinya.


"Ada apa Wik...?" Tanya Pak Haji Obi pada Dewi yang jadi agak ngos ngosan.


"Ini sekedar buat teman ngeteh Pak Haji, maaf hanya makanan ringan saja mudah mudahan Pak Haji berkenan." Ujar Dewi ramah sambil tersenyum manis.


"Aduh kamu ini repot repot segala Wik...tapi kalo cuma segini cuma buat teman ngabisin setengah gelas teh saja ini hahaha." Ujar Pak Haji Obi bergurau yang sontak membuat kami semua tertawa.


Dan sesaat kemudian dengan di iringi lambaian tangan orang orang termasuk para wanita yang tadi berkumpul di dalam rumah, mobil Ak Ahmad yang ku kemudikan mulai melaju meninggalkan halaman rumah kediaman keluarga Aceng yang cukup luas itu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada sedikit sesuatu yang ingin bapak bicarakan sama kamu nak." Ujar Pak Haji Obi setelah beberapa saat.


__ADS_2