OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 49 Membangun Kerajaan Bisnis 2


__ADS_3

Setelah itu Aceng benar benar berpamitan pergi sesudah menelpon dan berbicara dengan seseorang yang entah siapa sedang Dewi dan Sari asyik berbincang sambil berkeliling, aku sendiri saat ini sedang menghubungi empat tangan besi dan menyuruh mereka segera berangkat kesini setelah nanti aku kirimkan sejumlah uang untuk ongkos mereka.


"Mas lebih baik bawa istri dan anak kalo ada yang penting jangan bawa istri orang soalnya bakalan lama nanti disini nya." Gurauku ketika sedang berbicara via video call konferensi dengan empat tangan besi.


"Ah ribet boss... gampang lah kalo soal itu mah." Ujar Riko sambil tertawa memperlihatkan gigi depannya yang ompong.


"Terserah kalo gitu, jadi kapan bisa kesini nya ?" Tanyaku.


"Mungkin besok sore boss, kita naik bus saja." Jawab Doni yang di setujui kawan kawannya.


"Boss seh berangkat nggak ngajak ngajak bareng." Protes Trimo.


"Kan harus nyiapin akomodasi buat kalian dulu." Jawabku beralasan masuk akal meski sebenarnya kurang tepat sepenuhnya menurut aku.


"Baiklah boss besok kita siap berangkat." Tukas Suranto yang kelihatan paling excited dari yang lainnya.


"Okey di kirim ongkos sekarang atau di ganti besok?" Tanyaku.


"Besok saja boss." Jawab mereka bareng.


"Baiklah kami tunggu kedatangan kalian, oh iya sebaiknya bikin kartu rekening bank rakyat dulu yah biar enak dan bawa foto kopi KTP juga buat di setor ke pengurus lingkungan." Ujarku.


"Baik bosss....!!!!" Jawab mereka serempak.


"Ya sudah klo sudah mengerti aku off dulu yah bapak bapak....enjoy yours time dulu di kampung, karena nanti kita semua bakal kerja keras di sini." Ucapku terakhir sebelum aku menutup panggilan video itu.


"ladies yuk kita cabut....!" Ujarku memanggil Dewi dan Sari yang sedang ngobrol asyik di salah satu sudut ruangan.


"Mas tempat ini pasti akan butuh banyak biaya untuk perawatannya juga apa kamu sudah pikirkan?" Tanya Sari.


"Tentu sayank, kau akan lihat uang yang beredar di sini jika usaha kita sudah jalan besok. Dengan begitu kau tak perlu merisaukan hal hal semacam itu lagi." Ujarku penuh optimisme.


"Aminnn mudah mudahan lancar segalanya." Jawab Sari meski tampaknya masih belum begitu yakin dengan ucapanku itu.

__ADS_1


"Dew, kau ikut kita yah ke PWD nyari kasur buat rumah kontrakan." Ujarku pada Dewi.


Dewi hanya tersenyum lalu mengangguk pasti.


"Memang kamu nggak pengin lihat bentuk rumah kontrakan kamu dulu Gung ?" Ujar Dewi bertanya sekaligus memberi saran yang cukup bagus.


"Baiklah kita pulang dulu ambil mobil baru lihat kontrakan sekalian jalan ke PWD." Ujarku.


Baru saja kami keluar gerbang dan hendak menguncinya kembali, Aceng tiba tiba saja sudah datang lagi dengan motor bebek keluaran tahun 90 an miliknya.


"Bos ada kabar bagus banget boss, pengin dengar yang mana dulu." Ujarnya sambil tersenyum semringah.


"Memang ada berapa kabar baiknya?" Tanyaku.


"Satu dua ada tiga kabar baik semua menurutku kamu ingin dengar yang mana dulu ?" Tanyanya seperti orang tak punya dosa.


"Sudah terserah kamu mau ngomong yang mana dulu." Ujarku agak jadi kurang sabar dengan tingkah Aceng.


"Untuk sarana dan prasarana yang kita butuhkan PT. Eterna bersedia menyediakan semuanya bahkan termasuk peralatan kantor dan data dengan harga khusus seperti yang mereka berikan ketika memasok mall mall besar untuk itu nanti sore perwakilan mereka akan datang kesini." Ujar Aceng semringah, buatku itu memang kabar bagus tak nyangka Aceng bisa seluwes itu kerjanya.


"Okey good job man...yang ketiga apa ?" Tanyaku juga ikut semringah.


"Haji Obi kampung sebelah nawarin penggilingan padi miliknya yang di dekat sawah yang kamu beli kemarin itu, 200 juta saja mau di ambil atau tidak, dia mau pake ke tanah suci soalnya?" Tanya Aceng.


Aku diam sejenak berpikir itu memang hal yang sangat baik jika ingin membuat lumbung pangan di sini.


"Luas tanah berapa seh itu dan sertifikat gimana ada nggak ?" Tanyaku.


"Ya ada lah boss itu kan bukan tanah PU, luasnya ya mungkin ada kira kira 15 are mah itu kan luas juga." Jawab Aceng.


"Baik Ceng ambil nih bayar langsung." Ujarku sambil memberikan cek senilai 200 juta lagi pada Aceng.


"Seperti kemarin langsung di urus sekalian ke notaris yah Ceng." Pintaku

__ADS_1


"Okey boss sudah paham kalo itu mah." Jawab Aceng lalu ngacir lagi.


Aku lalu tersenyum semringah pada Sari dan Dewi yang juga ikut tersenyum senang.


"Mbak Sari lama lama kau akan jadi seorang ratu di sini." Bisik Dewi lirih pada Sari, meski aku tetap bisa mendengarnya.


"Gung duit kamu tak berseri yah hihihi perasaan gampang banget ngeluarin duit ratusan juta tinggal nulis saja." Ujar Dewi.


"Banyak juga nggak Dew, kalo tak berseri aku tak akan susah susah kaya gini Dew, tinggal saja di rumah makan tidur dan ngamar dengan nyonya sebelah kamu itu." Ujarku menjawab merujuk pada Sari.


"Memang enak kaya gitu? enakan juga ada kerjaan kaya gini." Kata Sari menimpali.


"Omong omong Dew, tugasmu ke depan sangat vital bagi kita semua loh, kami sangat mengandalkan kamu dan Aceng Dew." Ujarku sambil berjalan pulang mengekor di belakang kedua perempuan jelita ini.


"Iya aku tau dan aku yakin bisa melakukannya, kalo aku ragu bukankah kalian akan dengan senang hati membantuku kan ?" Ujar Dewi memberikan jawaban cerdas.


"Menurut aku Gung kamu sudah tepat membeli penggilingan padi tadi untuk melengkapi aset aset kamu yang lain." Kata Dewi sambil menoleh padaku.


"Kenapa memangnya?" Tanyaku dan juga pertanyaan yang sama dari Sari yang hanya menatap Dewi tanpa berucap.


"Pertama itu aset produktif yang sedikit banyak pasti menghasilkan, kedua dengan memiliki sawah dan penggilingan sekaligus artinya sudah menjamin kau tak akan kelaparan kedepannya dan ketiga itu cadangan harta yang bagus untuk di uang kan setiap saat." Ujar Dewi lagi lagi memberikan jawaban yang sangat cerdas pas dengan yang kupikirkan.


"Wow....kau sepertinya berbakat jadi ekonom senior Dew... hehehe bibit unggul penerus menteri keuangan kita yang jenius itu." Ujarku.


"Ah lebay kamu Gung, aku mah apa atuh...?" Kata Dewi menyembunyikan raut wajahnya yang bangga dengan pujian dariku barusan.


"Iya Dew, aku setuju dengan kangmas aku itu, kau pantas menjabat manajer penjualan kita." Ujar Sari setelah sekian lama hanya menjadi penyimak saja.


"Betul kata ibu direktur." Ujarku senang karena sepertinya Sari sudah beradaptasi dengan baik disini.


"Kita jadi kan ke PWD nya ?" Tanya Dewi.


"Jadi donk... sekalian mau ngadem sebentar di kolam renang Citara gimana oke nggak." Ujarku, aku berniat melatih pernafasan yang sudah beberapa hari tak kulakukan.

__ADS_1


"Gimana Mbak Sari...ke kolam renang...?" Tanya Dewi


__ADS_2