
Maman tertunduk lesu, ia tak mengira persoalan yang tadinya ia anggap hanya sepele saja bisa menjadi serius begini.
"Kalo bisa di selesaikan secara kekeluargaan saja Ak, bukankah saya sudah janji akan mengganti semua kerusakan di rumah Nenih." Ujar Maman sambil menatap Agung.
"Soal itu memang suatu keharusan, tapi tetap saja kamu harus minta maaf dan menjelaskan kenapa kamu melakukan perbuatan merusak itu." Ujar Ketua Rt menimpali.
Maman akhirnya hanya tertunduk pasrah.
"Lalu kalian apa masalahnya hingga berkelahi?" Tanya Ketua Rt 36 pada Ryan dan adek Maman yang bernama Alex.
Semula mereka hanya saling tatap dan membisu, sampai kemudian terdengar Ryan lah yang menjawab.
"Kami bertengkar gara gara dia ingin merebut pacar saya Pak." Ujarnya.
Alex hanya tertunduk seolah membenarkan kata kata yang di tuduhkan oleh Ryan kepadanya.
"Gara gara hal itu kau tak terima lalu mengajak ribut dia begitu ?" Ujar Ketua Rt sambil menunjuk Alex.
"Bukan saya Pak tapi Alex yang duluan menantang saya ingin berkelahi satu lawan satu yang pemenangnya akan mendapatkan Asih." Jawab Ryan.
"Asih yang mana yang kamu maksudkan ?" Tanya Ketua Rt lagi karena merasa bahwa anak perempuan yang di maksudkan itu di kenalnya.
"Asih anak Kampung Krajan sini juga Pak, rumahnya yang berwarna hijau di belakang pasar." Kata Ryan menjelaskan.
Semua yang mendengarnya justru tertawa tawa, sambil menatap seorang pria yang kebetulan berdiri di sebelah Ketua Rt sendiri.
"Yo, tolong panggilkan Asih kemari sebentar ! Dan kamu Ben pergilah dulu sejenak jangan sampai Asih tau kamu disini." Ujar Ketua Rt yang segera di turuti oleh kedua orang yang ia perintah.
Kedua orang itu justru orang terdekat Asih sendiri Rio adalah kakak kandung Asih binti Beni Supandi, sedang yang di panggil Ben oleh ketua Rt itu justru ayah dari Asih sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang anak perempuan berparas manis dan cantik di usianya yang sedang ranum ranumnya itu datang membuntuti Rio kakaknya.
"Ada apa Wak ?" Tanya Asih yang seolah kurang paham ada persoalan apa hingga dia di panggil dan juga kerumunan lelaki yang sebenarnya membuatnya sangat sungkan.
"Asih kamu memangnya habis darimana ?" Tanya Ketua Rt yang heran Asih terlihat sama sekali tak mengerti persoalannya.
"Dari Pwd Wak, nganter Emih memangnya ada apaan seh Wak, ini ada apaan Ryan, Alex...ngapain mereka disini ?" Tanya Asih.
"Duduklah dulu sini, Uwak mau sedikit tanya, jadi benar kau mengenal mereka berdua ?" Tanya Ketua Rt kepada Asih.
"Iya Wak, mereka semua temanku di sekolah." Jawab Asih lugas.
"Teman sekolah apa teman yang lain...?" Tukas Ketua Rt yang sebenarnya adalah paman dari Asih sendiri.
Pria paruh baya bernama Sanusi yang dipercaya menjadi pengurus lingkungan di Rt 36 adalah kakak kandung dari ibu Asih sendiri.
"Maksud Uwak apa? mereka berdua hanya temanku tidak lebih." Ujar Asih tegas.
Asih hanya terdiam, wajahnya kemerahan menandakan rasa malu yang amat sangat, apalagi banyak pasang mata yang saat ini seolah sedang tertuju kepadanya.
"Kedua anak ini bertengkar karena kamu nak dan hampir membuat lingkungan kita porak poranda, jadi bagaimana kebijaksanaan kamu biar urusan mereka tak berlarut larut?" Tanya Ketua Rt dengan lemah lembut pada Asih yang bernama lengkap Nasih Suryani itu.
"Ya Asih nggak tau Wak, lagipula buat apa mereka bertengkar toh Asih hanya menganggap mereka semua hanya teman Asih saja tak ada yang lebih." Ujar Asih terdengar menyakitkan terutama buat Ryan yang jelas jelas menginginkan Asih untuk mengakuinya sebagai pacarnya.
"Kau yakin Neng....ingat kata katamu itu akan sangat besar pengaruhnya buat kedua anak muda ini." Kata Ketua Rt.
Untuk beberapa saat Asih hanya terdiam, perempuan yang masih berusia sangat belia itu tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya bersama Alex tempo hari akan mengakibatkan kekisruhan yang memalukan dirinya seperti ini.
Ia sama sekali tak menyangkal bahwa sebelumnya telah menjalin hubungan dengan Ryan yang juga sahabat Alex sendiri, sebelum Alex berusaha merebut minat hatinya untuk berpaling kepadanya.
__ADS_1
Alex yang anak bungsu seorang yang terpandang di Kampung Dugel merasa dirinya lebih pantas untuk mendapatkan cinta dari Asih yang sebelumnya menjalin hubungan dengan Ryan yang hanya anak seorang buruh tani biasa.
Beberapa saat kemudian Agung berbisik kepada Ketua Rt 36 untuk membawa Maman duluan ke rumah Nenih.
"Baik..baik Ak, baguslah kalo gitu tolong di selesaikan sekalian ya Ak. Oh iya nanti acaranya jam berapa Ak ?" Ujar ketua Rt berusia paruh baya itu.
Namun belum juga mereka beranjak dari teras pendopo atau blandongan rumah Ketua Rt itu, dua orang berseragam polisi datang dengan menggunakan satu motor yang dinaiki oleh keduanya.
"Selamat siang bapak bapak semuanya ! maaf siapa yang bertanggung jawab di lingkungan ini ?" Ujar salah seorang polisi tersebut yang dari tanda kepangkatan di pundaknya dia seorang bintara berpangkat Briptu.
"Saya Pak...saya lah yang kebetulan di beri amanah untuk bertanggung jawab di lingkungan ini." Jawab Ketua Rt sambil tersenyum.
Baik Maman maupun adiknya dan juga Ryan mulai merasakan kecemasan karena semuanya tak berakhir seperti yang direncanakan.
"Baik, sebelumnya kenalkan kami dari divisi intelkam Polres Subang yang bertugas di sektor Pabuaran, kami mendapat laporan ada huru hara di lingkungan ini apa benar begitu?" Tanya Polisi muda yang sudah mulai menunjukkan wibawanya itu.
"Memang benar Pak, tadi ada sedikit keributan tapi tidak sampai menimbulkan sesuatu yang serius karena hanya sebuah perkelahian anak baru gede yang kurang tata krama saja." Ujar Ketua Rt itu ramah.
"Kami harap siapapun itu hendaknya bersikap tertib dan menjaga situasi keamanan lingkungan agar tetap terkendali dan kondusif, baik untuk sementara kami akan menyerahkan persoalan semacam ini untuk anda tangani dulu Pak Rt tapi nanti kalo tetap ada potensi kerusuhan yang lebih besar jangan sungkan untuk menyerahkan penanganannya kepada kami sebagai pihak berwenang." Ujar Polisi muda itu.
"Tentu Pak, tapi harapan kita semua lingkungan ini khususnya akan slalu tercipta suasana kondusif dan aman namun jika ada permasalahan kecil seperti ini biarlah di selesaikan secara kekeluargaan lebih dulu karena ini hanya kenakalan remaja biasa belum sampai pada taraf merusak dan merugikan umum." Kata Ketua Rt.
Yang tidak diketahui adalah ternyata diam diam Agung menghubungi Aceng untuk datang ke rumah Ketua Rt 36, begitu kedua aparat keamanan itu datang. Saat itu sebenarnya Aceng sedang bercanda dengan Eka di teras rumahnya setelah rumah itu sepi karena di tinggal hampir seluruh wanita wanita yang tadi sempat sibuk di tempat itu.
Akhirnya setelah Aceng yang juga mengenal kedua pihak berwenang itu datang, suasana yang penuh ketegangan bisa sedikit berkurang.
"Selamat siang Bapak Bapak Polisi yang terhormat !" Ujar Aceng dengan gayanya yang khas itu, sambil menyalami kedua polisi itu.
"Boss gimana ? Bisik Aceng pada Agung.
__ADS_1
"Tolong beri jamuan dan sambutan yang layak kedua Bapak aparat kepolisian di tempat kamu dulu !" Ujar Agung lirih, Aceng hanya mengangguk.