
"Iya iya benar juga apa katamu Jang, mungkin bapak yang egois karena semaunya sendiri tapi kalo nggak kepepet butuh duit tapi nggak mau ke bank ya memang gini satu satunya jalan kan." Ujar Pak Somad kemudian.
"Baiklah, nanti duit yang bapak butuhkan akan segera kami berikan setelah kita menandatangani surat perjanjian gadai bermaterai yah pak, nanti kami yang akan bikin surat perjanjiannya dan Pak Somad cukup menghadirkan beberapa saksi yang kira kira bisa di percaya Pak Somad bisa dari kerabat atau pengurus lingkungan juga lebih baik." Ujar Aceng.
"Kira kira kapan Jang tentukan saja waktunya sekalian ?" Kata Pak Somad.
"Yah kalo soal duit sekarang juga bisa pak di berikan tapi demi kebaikan bersama kita bikin dulu surat perjanjian baru setelah itu kita berikan uangnya, bisa besok atau lusa juga bisa terserah bapak saja gimana." Kata Aceng.
"Ya sudah nanti kami akan datang ke rumah kalian saja." Ujar Pak Somad.
"Baiklah kalo itu yang di kehendaki bapak, nah sekarang karena kami sudah cukup lama disini mengganggu waktu bapak maka ijinkanlah kami selanjutnya mohon diri." Ujar Aceng.
"Loh begitu buru buru..." Ujar Pak Somad
Namun dari dalam rumah muncul Ibu Somad bersama anak perempuannya membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Boleh pamit setidaknya setelah mencicipi sedikit minuman tawar ini." Ujar Bu Somad ramah dengan senyumnya yang semringah.
Di belakangnya anak gadisnya juga terlihat tersenyum malu malu. Parasnya cukup manis sesekali matanya yang indah melirik curi curi pandang pada kami.
Postur tubuhnya cukup tinggi dan ramping mengingatkan ku akan Anis adikku meskipun gadis ini sedikit terlihat lebih dewasa dan cukup matang daripada adikku. Entahlah mungkin aku saja yang terlalu menganggap bahwa Anis selalu masih kecil karena aku masih ingat saat hampir tiap hari aku menggendong dan mengasuhnya.
"Inilah anak bengal saya yang ingin melanjutkan sekolahnya jadi perawat itu Jang, sebenarnya lulus sekolah SMA nya sudah tahun lalu tapi baru tahun ini kami benar benar niat ingin mewujudkan cita citanya." Ujar Pak Somad sambil tersenyum. Ada semacam rasa bangga di dalam sorot matanya itu.
Kami serempak tersenyum menanggapi perkataan Pak Somad tentang anak gadisnya itu.
"Siapa namanya neng geulis Ak Aceng boleh tau nggak ?" Ujar Aceng sambil memamerkan senyum tengilnya.
Gadis itu tersenyum sesaat sebelum suara merdunya terdengar sangat lembut.
"Salam kenal Ak, namaku Eka.. lengkapnya Eka Wulandari Ak." Ujar gadis itu sambil tersenyum mengenalkan dirinya.
__ADS_1
"Oh Eka Wulandari yah pantesan cantik." Ujar Aceng sambil tertawa kecil membuat kami semua ikut tertawa, termasuk Eka yang menjadi terlihat malu malu, kemudian pamit masuk ke dalam rumahnya.
"Ya sudah mari silahkan di cicipi dulu nak maaf hanya seadanya saja." Ujar Bu Somad kemudian ketika seluruh isi nampan yang di bawanya juga anak gadisnya telah berpindah seluruhnya ke atas meja.
"Tentu Mih, pasti kami akan mencicipinya bukankah rugi kalo menolak hidangan yang sudah di sajikan." Ujar Aceng yang membuat kami semua tertawa.
"Ayo bro ga usah malu malu kalo perutmu ingin di isi." Ujar Aceng lagi sambil menepuk lenganku.
Tingkah sahabatku itu benar benar bikin hiburan buat tuan rumah karena mereka semua jadi tak henti hentinya tertawa.
"Terus Ujang yang satu lagi ini siapa namanya kok dari tadi tak terdengar suaranya ?" Tanya Bu Somad sambil tersenyum menatapku.
"Namaku Agung....Mih...maaf Mih jadi ikut ngrecokin makanan di rumah Mih Somad." Jawabku sambil tersenyum ramah.
"Oh gapapa Jang justru kami malah tidak senang jika kalian tidak mencicipi hidangan kami." Ujar Bu Somad sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian setelah menghabiskan segelas air teh manis hangat dan juga mencicipi sepotong kue dodol nangka, kami berpamitan.
"Trimakasih banyak Mih...Bapak ..kue dodol nangka ini enak sekali." Ujarku terakhir kali saat kami selesai menyalim tangan kedua orang tua itu.
Setelah itu kami langsung kembali ke toko tanpa mampir lagi ke penggilingan yang saat kami melewatinya terlihat beberapa orang ibu ibu yang menggilingkan padi padi mereka.
Sampai di toko, halaman parkir bahkan sudah sangat penuh dengan kendaraan bahkan ada beberapa yang sampai parkir di jalan yang di tunggui oleh dua orang pemuda yang aku tau rumah mereka berada di sekitar saja.
"Ak, maaf kami numpang jaga parkiran yah." Ujar salah seorang diantaranya yang aku kenal bernama Roni yang juga adiknya Nenih penjual nasi uduk.
Aku lantas turun dari mobilku sementara Aceng kemudian berusaha mencari tempat untuk parkir.
"Gini saja bagaimana kalo kalian berdua kerja di tempat ini sebagai juru parkir saja tugasnya merapikan kendaraan yang parkir gajinya seratus ribu sehari dan dapat makan siang tapi ingat sudah nggak boleh narik uang parkir dari pengunjung, gimana mau tidak ?" Tanyaku.
"Mau mau Ak mau trimakasih banyak Ak !!" Ujar Roni sangat bahagia.
__ADS_1
"Tapi ingat yah jangan pernah narik uang parkir lagi dari pengunjung, kalo sampai aku tau kalian nekat maka aku tak segan memberhentikan kalian dan mengganti dengan yang lain. Okey paham kan ?" Ujarku.
"Iya Ak paham kami janji tak akan menarik uang parkir Ak." Ujar Roni terlihat bersungguh sungguh.
"Bagus silahkan bekerja hari ini juga saya akan bayar penuh dengan bayaran yang akan kalian terima seminggu sekali uang cash." Ujarku.
"Trimakasih Ak !!" Ujar Roni sambil meraih tanganku dan menciuminya.
Roni lalu melambaikan tangannya pada seorang lagi yang aku tau itu Dion yang juga saudara sepupu Roni sendiri. Setelah di jelaskan Roni, Dion juga ikut ikutan mencium tanganku sambil tak berhenti mengucap terimakasih.
"Ya sudah silahkan kalian rapikan motor motor itu di atur yang benar ingat jangan narik uang parkir lagi karena pasti akan ketahuan lihat kamera kamera itu kan ?" Ujarku sambil menunjukkan kamera cctv yang banyak terpasang di setiap sudut.
"Baik Ak kami mengerti, sekarang kami pamit untuk merapikan kendaraan dulu Ak..!" Ujar Roni, aku hanya mengangguk, sebelum kemudian aku melangkah ke toko yang di dalamnya sudah penuh sesak.
Aku menghampiri Sari yang terlihat kewalahan melayani pengunjung, beberapa rak dan etalase kulihat sudah semakin tipis stok barangnya.
"Darimana saja seh lama banget ?" Ujarnya ketus.
"Lah kan tadi sudah pamit ke tempat Pak Somad." Jawabku.
"Sprei sudah habis semua dari sekar tanjung juga habis." Ujar Sari.
Ini benar benar gila, seribu piece kain sprei habis hanya dalam dua hari saja bahkan mungkin distributor nya juga belum sampai di tempatnya mengingat baru tadi pagi kami terima barangnya.
"Ada yang indent nggak ?" Tanyaku.
"Nanti tanya Dewi saja, tadi ada beberapa orang yang sempat tanya tanya soalnya." Ujar kekasihku itu sebelum kembali fokus kepada pengunjung yang menghampirinya.
Aku kemudian kembali berkeliling untuk melihat stok barang yang di beberapa gerai masih cukup banyak stoknya namun yang benar benar kosong itu sprei batik dan juga produk kain panjang segala variant yang tinggal menipis jumlahnya di etalase.
Produk denim dan distro baik lokal maupun impor juga terlihat sudah menipis.
__ADS_1
Selain berkeliling sesekali aku juga membantu pengunjung yang terlihat kebingungan untuk menemukan produk yang mereka cari dengan mengarahkan kepada salah seorang dari sembilan gadis spg yang ada di toko ini.
Sepertinya toko ini sudah di jadikan sebagai tempat perkulakan bagi beberapa reseller yang ingin mengambil keuntungan lagi dari barang yang di beli dari sini.