OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 29 Healing Bersama 2


__ADS_3

Aku melajukan kendaraanku di belakang mobil minibus carry yang di kemudikan Mas Riyan. Sementara Sari asyik bercanda ria dengan Bayu yang duduk di pangkuannya. Mereka asyik bernyanyi nyanyi mengikuti music yang mengalun dari audio mobil.


Meskipun tak lama kemudian bocah gembil yang lucu dan full polos itu tertidur di pangkuan buliknya.


"Dulu waktu kecil kamu juga lucu gini ya mas kaya si Bayu?" Tanya Sari sambil mengelus elus rambut kepala Bayu yang sudah tumbuh cukup lebat itu setelah ia melepas topi kepala bocah itu.


"Aku dulu bisa di bilang nakal mungkin yank, suka berantem sama Mas Farhan mungkin itu pula yang membuat seluruh keluarga Bude Marni kurang menyukaiku." Ujarku.


"Oh begitukah mas?....kamu kelihatannya diam gitu loh mas orangnya, masa seh kecilnya nakal." Kata Sari sambil tersenyum dan menatapku.


"Sebenarnya sering berantemnya kalo aku di ledekin gitu atau mainan ku di rebut tapi seringnya Mas Farhan itu suka curang kalo lagi main sama aku gara gara itu aku sering berantem sama dia dan parahnya ia dapat pembelaan penuh dari Mas Harno dan Pakde Joyo sedang aku sendirian jadi kalo pulang main seringnya aku sambil nangis." Ujarku, karena aku masih ingat betul berbagai perlakuan mereka padaku.


"Brarti masa kecilku jauh lebih bahagia dari kamu donk mas..." Ujar Sari sembari tertawa kecil.


"Aku masih ingat yank habis tonjok tonjokan sama Farhan kan dia kalah trus nangis, aku sembunyi di kolong amben rumah tetangga gitu, Pakde Joyo ngamuk aku di seret dari bawah amben itu trus perutku di injak dengan kerasnya." Ujarku.


"Ya ampun mas.... trus bagaimana keadaanmu setelah itu?" Tanya Sari dengan raut wajahnya tegang.


"Parah yank, seminggu penuh aku ga masuk sekolah bahkan simbah putri ku yang saat itu mengasuh aku ikut jadi sakit karena memikirkan aku." Ujarku.


"Memang bapak dan ibuk mas kemana?" Tanyanya.


"Merantau yank, dari umur segede Bayu gini aku sudah di tinggal sendirian di rumah, dan aku ingat hanya simbah saja yang benar benar tulus memberikan kasih sayangnya padaku, yang lain selalu pura pura baik terutama ketika bapak dan ibuku baru pulang dari perantauan." Ujarku sambil mengerem mobil di depan lampu merah yang menyala.


"Itu trus gimana mas?" Bertanya Sari.


"Apanya?" Jawabku ganti bertanya.


"Pakde Joyo, apa bapak ga marah kamu di perlakukan begitu?" Tanyanya lagi.


"Marahlah yank kalo aku sendiri jika anakku di perlakukan begitu juga bakal aku bunuh orang yang menganiaya anakku, tapi kalo bapak lebih lunak ga gimana gimana seh hanya setelah peristiwa itu hubungan bapak dengan Pakde Joyo langsung renggang." Jawabku.


"Iya kayanya memang kurang akrab seh mas bapak sama Pak Joyo." Ujar Sari yang mungkin sedikit banyak sudah mampu menilai hubungan antara seseorang dalam keluarga kami.


"Trus soal duit yang di korupsi Mas Harno itu gimana mas?" Tanya Sari mengalihkan topik.

__ADS_1


"Ya tetap akan aku tagih donk enak saja dia bahkan dapat beli sawah bapakku dengan duit kita juga." Ujarku santai, karena sejujurnya aku sudah ada beberapa rencana terkait itu.


Kulihat mobil Mas Riyan sudah belok kanan di daerah Bergas, aku fokus sejenak pada lalu lintas jalanan wilayah ibukota provinsi yang padat pepat kendaraan itu.


"Yank ini nanti tembusnya sampai Bandungan juga?" Tanyaku karena baru kali ini aku melintasi jalan yang sekarang kami lalui.


"Iya mas...malah lebih dekat kalo dari arah utara." Jawab Sari.


"Tapi kok pas jemput bude dulu itu kok kamu ga nunjukin jalan ini?" Tanyaku lagi.


"Memang pas nya ya jalan yang dulu itu mas kalo ini kan seperti alternatif gitu yank motong jalan tapi banyak belokkan aku takut bingung karena ga biasa lewat jalan ini." Jawab Sari.


Tapi benar saja setelah beberapa kali belokan kami tembus di jalan yang sama yang pernah kami lalui dulu. Kembali lagi terbentang di hadapanku negeri di atas awan yang sangat indah mempesona meskipun siang ini matahari cukup terik bersinar, namun hawa sejuk pegunungan tetap terasa.


Mobil Mas Riyan kini berbelok menuju rumah makan prasmanan yang sama dengan tempat kami makan dulu.


"Rupanya ini restoran langganan keluarga kalian kan yank?" Tanyaku.


"Sejujurnya aku kesini juga baru tiga kali ini mas, salah satunya yang kemarin dulu itu, trus pertama kalinya ya sama Mbak Wati dan Mas Riyan pas awal awal mereka nikah." Jawab Sari sambil tersenyum.


Anak itu, menggeliat sejenak sebelum mengerjapkan matanya dan kemudian benar benar bangun dan tersenyum lucu.


Aku baru mengatur posisi parkir mobilku ketika Mbak Wati sudah turun dari mobilnya dan menghampiri kami.


"Bayu nakal nggak nduk...?" Tanya Mbak Wati pada Sari, sambil melirik dan tersenyum padaku.


"Tidur kok mbak." Jawab Sari sambil beranjak turun ketika Bayu sudah di gendong mamahnya.


"Sar ! kamu yang ngebossi loh kali ini, soalnya kami lagi bokek." Ujar Mas Riyan sambil tersenyum dan melirik padaku.


"Iya boss siyap." Jawab Sari.


"Nduk emang bener kamu mau ikut Mas Agung ke Subang?" Timpal Mbak Wati.


"Iya mbak boleh kan mbak?" Jawab Sari sambil memamerkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Ya boleh seh tapi kan kalian belum nikah gimana kata orang nanti ?" Ujar Mbak Wati.


"Ya ga gimana gimana mbak, orang aku ke Subang untuk kerja kok, lagipula ngapain aku di rumah mbak, mamah juga sudah sehat kan." Jawab Sari.


"Trus kamu jadi cerai kan sama Farhan?" Tanya Mbak Wati lagi.


"Ya jadi lah mbak, gila apa kalo ngga jadi." Jawab Sari tegas.


"Untuk bayar pengacara duitnya sudah ada kan, soalnya mbak juga lagi ga pegang duit bulan ini banyak setoran kan." Ujar Mbak Wati.


"Ada mbak, kan ada boss nya. Nanti Mas Riyan tolong yang ngurusin dan aku terima beres, duitnya nanti aku titip sama mamah jadi mbak minta saja sama mamah. Pokoknya aku ingin secepatnya bercerai dari Farhan." Ujar Sari sambil melirik aku setelahnya.


"Baiklah trus kapan rencananya berangkat ke Subang?" Tanya Mbak Wati lagi.


Sari terdiam dan hanya menatapku.


"Kemungkinan lusa mbak." Akulah yang menjawab.


"Baiklah ayo kita makan dulu....lapar...malah ngobrol di parkiran." Ujar Mas Riyan menggerutu lalu melangkah duluan masuk ke restoran yang tampak ramai pengunjung itu.


"Bapaknya Bayu memang gitu kalo lagi bokek." Bisik Mbak Wati pada kami.


Aku dan Sari hanya tersenyum sedikit saja tak menanggapi lagi karena kami pun segera berlalu masuk ke dalam restoran.


"Kita mau makan lagi mas?" Bisik Sari padaku.


"Ya trus ngapain ke restoran kalo ngga makan." Jawabku, sebenarnya perutku juga masih kenyang.


"Meledak meledak deh ini perut..." Ujar Sari, aku hanya tertawa kecil.


Mbak Wati menoleh kepada kami.


"Udah nanti lagi pacarannya, makan dulu..!" Ujarnya lirih.


"Iya mbak siyap..." Jawabku sambil tersenyum dan saling pandang dengan Sari yang tiba tiba saja mencubit pinggangku.

__ADS_1


__ADS_2