
"Gimana besok sudah ada daftar belanja barang lagi kah ?" Tanya Aceng tak jelas pada siapa karena di hadapannya ada Imas dan Sari yang sama sama berkompeten menjawab pertanyaan itu, karena mereka berdualah yang bertanggung jawab dalam pendataan inventaris.
Karena tak jelas siapa yang di tanya maka baik Sari maupun Imas terlihat segan untuk menjawab pertanyaan Aceng.
"Silahkan, mohon di jawab dulu pertanyaan dari Bapak Aceng Johana mungkin ibu boss atau ibu Imas berkenan menjawab." Ujarku.
"Stok sebenarnya secara umum masih cukup kok Pak Aceng, walaupun ada juga yang menipis karena ada pembelian dalam jumlah besar tadi yaitu sprei batik dari batik unggul namun masih cukup setidaknya sampai besok, kalo kita buru buru belanja maka akan boros waktu dan tenaga karena hanya satu dua item saja yang menipis stoknya sementara yang lain masih cukup banyak." Ujar Sari panjang lebar menjelaskan.
"Kalo gitu tiga hari ke depan terapkan sistem indent alias pesan dengan DP dulu dengan imbal balik giveaway dari barang promosi yang kita kasih bersama dengan item yang di beli jika item itu memang sudah habis." Ujarku sekaligus memberi strategi baru buat bagian penjualan.
"Otakmu memang tajam seperti silet boss hehehe ide itu brilian." Tukas Aceng.
"Ya sudah aku pulang duluan yah sudah jam 9 tepat soalnya." Ujar Imas sambil tersenyum manis.
Imas lalu cipika cipiki dengan Sari dan Dewi.
"Biar di antar Bapak Aceng yah Ibu Imas." Ujarku.
Imas menatap Aceng yang terlihat datar saja meskipun bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.
"Kayaknya ga perlu lah Pak Boss selain jarak rumahku tak begitu jauh, jalan juga masih ramai dan yang paling penting Ak Aceng juga sudah lelah barangkali butuh untuk segera istirahat." Ujar Imas sambil tersenyum.
"Lagipula aku ga bawa pesawat ku justru Imas yang bawa motor emang mau bolak balik nganter." Kata Aceng.
"Ya sudah kalo gitu hati hati di jalan Ibu Imas !" Ujarku, Imas hanya tersenyum dan mengangguk lalu segera melangkah menghampiri motor matic miliknya.
Sementara kami berempat pulang naik mobil yang sengaja kubawa untuk jaga jaga barangkali di butuhkan untuk transportasi, setelah sebelumnya berpamitan dan memberi sedikit pesan kepada empat tangan besi yang minus Doni karena sampai detik ini dia belum kembali.
"Bu boss ini duit setorannya tolong di terima yah." Ujar Dewi yang duduk di sebelah Sari karena Aceng mengambil tempat duduk di kabin depan.
Dua gepok duit yang di simpan dalam dua wadah kain langsung berpindah ke tangan Sari.
"Loh bukannya besok mau di setor ke bank Teh, sekalian bikin akun untuk toko, biar pengelolaan keuangan enak." Ujar Sari.
"Iya tapi kalo soal duit mah urusan boss saja lah yang penting tiap bulannya aku terima gaji hihihi." Kata Dewi sambil terkekeh.
"Iya deh, kalo gitu saya terima ya Teh..." Ujar Sari yang masih terlalu ramah kepada Dewi.
__ADS_1
"Ya mbak siyap, tapi aku tadi ngambil recehan lima juta loh mbak ku simpan di laci kasir buat kembalian besok." Kata Dewi.
"Ya Teh, atur saja gimana baiknya." Balas Sari.
"Omong omong ini pembukaan dengan hiburan jadi nggak ?" Tanya Aceng.
"Atur saja baiknya gimana Ceng, kalo mau bikin acara hiburan ya sudah bikin aza, anggaran gampang di atur." Ujarku sambil membelokkan mobil di belokan terakhir menuju blok rumah kami.
"Ya kasih donk kepastian waktunya. kalo ga jelas gini kan susah." Ujar Aceng tepat saat mobilku berhenti di depan teras rumah.
Namun ketika kulihat di rumah Aceng, kedua orang tua Aceng masih ngobrol di teras dengan Mang Ujang dan Mang syarif.
"Ada apa mereka malam malam gini datang kemari ?" Gumam Aceng lirih sambil menatap ke teras rumahnya dimana kedua orang tuanya sedang berbincang dengan tenaga penggilingan padi.
"Nah itu datang juga akhirnya." Ujar Pak Suryadi.
Begitu turun dari mobil kami menyempatkan diri menghampiri orang orang tua itu terlebih dahulu untuk sekedar menyapa.
"Tumben Amang berdua datang kemari malam malam begini sudah lamakah ?" Tanya Aceng to the point setelah kami menjabat tangan mereka berdua dan menyalim tangan kedua orang tua Aceng.
"Iya Ceng belum lama kok, gini Ceng tadi aku di mintai tolong Pak Somad untuk menyampaikan sesuatu pada boss Agung." Ujar Mang Ujang sambil menatapku.
"Ah urusannya tentu tidak sepenting itu kok boss sampai harus ganggu waktu boss segitunya, jadi gini boss tadi kan Pak Somad datang ke penggilingan katanya mau gadein sawahnya yang di dekat penggilingan juga sama boss jika berkenan." Ujar Mang Ujang terdengar serius.
"Gadein yah Mang ? sawahnya ada berapa hektar luasnya ?" Tanyaku menanggapi.
"semuanya ada sepuluh kotakan boss kira kira satu hektar lebih dua puluh lima are boss, mintanya seratus juta setidaknya waktu penebusan setelah dua musim panenan." Ujar Mang Ujang serius.
"Hanya saja boss Pak Somad ingin dia sendiri yang menggarap sawahnya dengan sistem sepertiga an." Ujar Mang Syarif menambahkan.
"Lalu bagaimana kalo nanti kebetulan dia gagal panen ?" Tanyaku santai.
"Ahh ...." Keluh Mang Ujang dan Mang Syarif bareng.
"Nah itu juga tadi pertanyaan ku yang belum kalian jawab kan." Tukas Pak Suryadi menimpali.
"Ya mau gimana kami jawab Pak Sur kan bukan kami yang punya sawahnya." Ujar Mang Syarif.
__ADS_1
"Baiklah besok salah satu dari Mamang berdua ikut saya ke tempat Pak Somad." Ujarku.
"Siyap boss...!!!" Ujar mereka Mang Ujang dan Mang Syarif serempak.
Tak lama kemudian mereka berpamitan setelah menghabiskan minuman yang di suguhkan Mih Onah kepada mereka.
Dewi dan Sari yang terpaksa tersita waktunya karena ingin ikut mendengar langsung pembicaraan tadi bergegas pamit balik ke rumah masing masing. Hanya saja Dewi langsung ngaleyos begitu saja masuk ke dalam rumahnya sementara Sari berjalan menuju rumah kami.
Sementara aku dan Aceng masih tinggal sejenak bersama Pak Suryadi karena Mih Onah segera membereskan peralatan gelas gelas yang tadi di pake untuk menyuguhkan minuman pada Mang Ujang dan Mang Syarif.
"Gimana nak, tadi persiapannya sudah selesai sempurna kan jadi kapan mulai buka tokonya?" Tanya Pak Suryadi sambil tersenyum semringah sambil menatap kami bergantian.
"Alhamdulillah bapak, semua sudah selesai. Dan kebetulan pula tadi sudah mulai ujicoba di buka juga untuk pengunjung." Jawabku ramah.
"Lalu gimana nak lumayan ramai kan ?" Tanya Pak Suryadi semringah.
"Bukan ramai lagi...penuh...ngalahin pasar." Tukas Aceng.
"Hahh... benarkah? baguslah....lalu bagaimana dengan omset penjualannya ?" Tanya Pak Suryadi benar benar ingin tau sedalam dalamnya, membuat aku dan Aceng saling menatap sejenak.
"Alhamdulillah pak di hari ujicoba ini kita dapat 700 jutaan lebih." Jawabku sambil tersenyum, terhadap beliau aku tak mungkin menutupi apapun.
"Tapi lebihnya hampir seratus juta." Kata Aceng menambahkan.
"Walah ckckck itu luar biasa baru ujicoba buka saja sudah dapat hasil segitu." Ujar Pak Suryadi semringah.
"Iya pak mohon doanya slalu biar lancar terus dan ada sisa buat bayar gaji karyawan." Ujarku.
"Tentu nak tentu doa kami slalu untuk kalian. Oh iya lalu gimana soal tawaran Pak Somad tadi kira kira bagaimana ?" Ujar Pak Suryadi mencoba mengalihkan topik bicara.
"Mohon petunjuknya pak !" Ujarku.
"Kalo cuma gadai segitu harusnya pas seh memangnya nak, satu hektar rata rata seratus juta. Apalagi sawahnya Pak Somad itu kan hanya berselang satu sawah saja dengan sawah kamu yang bapak garap itu." Ujar Pak Suryadi.
"Kalo bapak setuju kita akan ambil pak, tapi gapapa bukan bapak yang menggarapnya ?" Ujarku.
"Hahaha kamu ini segitunya nak mikirin bapak, la ngurusin sawah kamu yang di dua tempat saja kami sudah keteteran kok nak." Ujar Pak Suryadi sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Ceng mana suaramu ?" Ujarku sambil menatap Aceng.
"Ya kalo kamu ada duit ambil saja lah toh cuma gadai plus ga perlu mikirin orang untuk mengolahnya kan. Kalo bisa gadai kenapa harus beli...ya kan." Jawab Aceng