
Aku terpana melihat pemandangan yang terpampang sangat jelas di depanku itu. Sari yang melihat senjataku tegang mengacung menjulang pun hanya mengulum senyum.
"Sayank haruskah kita melakukannya?" Tanyaku meski wajahku pasti sudah kelihatan mupeng banget.
"Kok sudah begini masih tanya seh mas, emang kamu ga mau?" Tanya Sari sambil membasuh miliknya dan kemudian menyiram air pipisnya.
"Bukan begitu yank, masalahnya sebelumnya aku sudah bersumpah untuk menjagamu sampai kita menikah nanti, lagipula..." Ujarku bimbang.
"Lagipula apa mas, jangan bilang kamu ga nafsu sama aku, atau jangan jangan kamu juga sudah ketularan Farhan." Ujarnya cemberut lalu melangkah keluar dari kamar kecil tanpa menyenggol ku.
"weishh..amit amit yank...hiii ii.." Ujarku sambil bergidik dan berjalan mengikutinya.
"Lalu apa ?" Tanyanya mulai marah.
"Sebenarnya ada dua hal yank pertama aku sudah berjanji untuk slalu menjagamu pada diriku sendiri dan pada mamah kamu dan terutama pada kamu yank." Ujarku.
"Jangan berbelit belit bicaranya !" Bentaknya.
"Yang kedua sini duduk dekat aku akan ceritakan tapi berjanjilah ini sangat rahasia jadi jangan sampai ada orang lain tau setelah aku cerita padamu yank." Ujarku sambil menarik tangannya lalu mengajaknya duduk di ranjang berdekatan.
Sari hanya mengangguk saat aku menatapnya.
"Aku tak bisa melakukannya karena harus menahan diri setidaknya selama sebulan kedepan yank. Aku dapat tugas dari Kyai Danuri guruku yank." Ujarku lirih.
"Tugas apa ?" Tanyanya masih ketus.
"Aku dipilih oleh beliau untuk menjalani lelaku bulan depan untuk mempelajari sebuah ilmu langka yang merupakan simbol perguruan ku." Ujarku sambil menatapnya.
"Lelaku mas? ilmu apa ? Jangan aneh aneh lah !" Ujarnya menanggapi ku.
"Sebuah ilmu kebal yank, yang harus di turunkan setidaknya sekali dalam setiap generasi kepemimpinan perguruan, dan itu sudah berlangsung sejak jaman Adipati Tuban menjadi pemimpin perguruan yang pertama kali." Ujarku menjelaskan.
"Ilmu Kebal mas...memang apa gunanya ilmu semacam itu di zaman sekarang ini, apakah kau nanti sanggup menahan peluru atau bom dengannya?" Ujar Sari dengan pendapatnya.
"Ya belum tentu juga seh yank tapi aku hanya berusaha patuh pada guruku saja yank lagipula mengingat kejadian tempo hari saat Farhan menculik kamu dan berusaha menjual dirimu, aku rasa aku memang perlu meningkatkan kemampuan diriku tentu saja untuk tujuan menjaga kamu dan orang orang yang aku kasihi." Balasku panjang lebar.
"Kapan mas menjalankan lelaku itu...berapa lama?" Tanyanya.
__ADS_1
"Bulan depan yank lelaku itu selama seminggu pati gani sambil berendam." Jawabku.
"Mas kuat menjalaninya ?" Tanyanya.
"Doakan saja aku kuat yank, percayalah semua yang kulakukan demi kamu juga dan keturunan kita nantinya." Ujarku sambil merengkuh tubuhnya yang masih polos itu.
"Trus nanti kita ke Subang ngapain mas ?" Tanyanya.
"Tentu saja menyiapkan usaha kita sayank, percaya tidak kalo sebulan kedepan kita akan sangat sibuk bekerja dan menguras keringat serta pikiran kita. Aku sengaja mengajakmu memang untuk mengenalkan semua jenis situasi padamu supaya kamu nggak kaget nantinya." Ujarku menjelaskan.
"Intinya sebulan kedepan kita akan mulai menabur benih yank, kalo babat alas nya sudah kulakukan kan." Ujarku menyambung.
Sari hanya terdiam dan termenung entah apa yang bergejolak di benak pikiran nya.
"Percayalah sayank aku normal, dan kau tak perlu ragu soal itu. Kalo Farhan jadi bengkok itu urusan dia yang jelas aku tak akan ketularan dan akan slalu normal, dan yang penting aku mencintaimu dan berniat menikahimu serta membangun keluarga kecil bersamamu saja." Ujarku lagi.
"Maaf mas akhir akhir ini aku memang merasa sangat trauma. Aku berpikir apakah aku ini begitu jelek hingga suamiku tak bernafsu padaku. Dan aku akan gila jika kamu juga seperti itu mas, aku sangat takut akan hal itu." Ujarnya lirih.
Aku memeluknya sejenak dan mengecup kening kepalanya sebagai tanda aku sangat mencintai dan sayang padanya.
"Percayalah sayank aku tak akan seperti Farhan, dia begitu mungkin sudah dari sononya yank bukan karena jijik dengan perempuan. Dan aku sama sekali tak ada kaitan dengan dia soal ini, enak saja yank kamu juga nuduh aku bengkok amit amit." Kataku kemudian.
"Sumpah mas kamu nafsu sama aku ?" Tanyanya.
"Aku bersumpah yank bukan saja hanya nafsu biasa tapi juga nafsu yang lainnya, bahkan dengan perempuan lain pun aku juga nafsu kok karena aku normal." Ujarku, Sari melotot menatapku.
"Kenapa yank?" Tanyaku bingung
"Awas saja kalo kamu mengumbar nafsumu dengan setiap perempuan mas !!!" Ancamnya padaku dengan tatapan penuh intimidasi.
"Ya enggak lah, cukup kamu saja satu satunya bagiku yank smoga awet sampai akhir waktuku." Ujarku sedikit modus.
"Ya sudah trus ngapain kita di sini ?" Tanyanya.
"Ya udah tiduran saja, pacaran biasa saja kan bisa daripada babar blas sama sekali." Ujarku membuatnya tertawa ngakak.
Akhirnya kami mengenakan kembali pakaian dalam kami dan rebahan sambil berpelukan dan sesekali ngobrol dan bercumbu.
__ADS_1
"Pokoknya begitu sudah dapat surat cerai, aku ingin kamu segera menikahi aku mas." Ujar Sari.
"Tentu saja sayank itu gampang kok." Jawabku ringan.
"Gimana kalo Pak Joyo dan Mak Marni tidak menyetujuinya mas?" Tanyanya lagi.
"Bodo amat, salah sendiri sudah dapat mantu begini sempurna kok di sia siakan." Ujarku sambil ******* bibir Sari.
"Mas aku ingin ziarah dulu ke makam bapakku, bisa nggak kamu nganterin ?" Ucapnya.
"Tentu saja bisa sayank, aku mau banget mudah mudahan dengan begitu kamu jadi semakin dekat denganku kan karena direstui oleh leluhur." Jawabku.
"Baiklah mas ayo sekarang saja mas sudah jam dua ini !" Ajaknya.
"Masih terlalu siang yank...masih panas kan.." Jawabku.
"Tapi kan kita harus cari kembang dulu mas lagian aku juga perlu mandi dulu kan." Ujarnya.
"Kenapa nggak mandi di sini saja yank." Ujarku.
"Enggak ah males ga ada peralatannya." Jawabnya memberi alasan yang masuk akal.
Akhirnya setelah kembali merapikan diri, kami bergegas turun dari kamar yang ada di lantai dua ini. Dan setelah mengembalikan kunci dan berpamitan pada penjaga kami check out dari hotel kecil itu.
"Tuh kan macet...!" Ujar Sari mengeluh ketika kami sudah sampai di jalan raya yang membujur ke utara selatan dengan dua ruas jalan dimana ruas jalan arah ke selatan macet panjang dengan penuh kendaraan yang berjejal.
"Mungkin ada lakalantas di Bawen yank." Ujarku, lalu mengarahkan mobil kembali ke utara dengan tujuan jalan tol.
Meski harus memutar bahkan sampai Salatiga demi membeli peralatan ziarah tapi melihat senyum semringah di wajah cantik Sari, hatiku pun ikut bahagia.
"Yank yang tadi tolong benar benar di rahasiakan yah !" Ujarku mengingatkan.
"Iya sayank asal kamu berjanji tujuanmu melakukan itu untuk menjagaku." Jawabnya.
"Iya sayank, tanpa di minta begitu juga aku pasti akan menjagamu yank yah meski hanya dengan segenap kemampuan ku yang serba terbatas ini." Jawabku, Sari hanya mengangguk.
Ternyata sampai di rumah, Ibu Lastri langsung menyetujui keinginan kami untuk ziarah ke makam almarhum suaminya, bahkan beliau bersikeras untuk ikut.
__ADS_1
Kami berjalan saja bertiga menyusuri jalanan yang menuju tempat pemakaman umum desa itu yang ternyata dekat saja dari rumah Sari.
Lalu dengan takzim kami bersimpuh di depan sebuah pusara yang masih gundukan tanah dan belum di nisan.